NovelToon NovelToon
Istri Nakal Dari Pesantren

Istri Nakal Dari Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mystique17

Raina Azzahra, gadis tomboy berusia 20 tahun dari Surabaya yang dikenal sebagai preman kecil — bandel mulut, keras kepala, dan suka melawan aturan agar disegani. Dipaksa mondok di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah di Pasuruan, ia bertemu Gus Haris, ustadz muda tampan yang sabar dan lemah lembut.
Tanpa diduga, Raina dijodohkan dan dinikahkan dengan Gus Haris. Awalnya Raina memberontak habis-habisan dengan sikap nakalnya, tapi kesabaran dan kelembutan Gus Haris perlahan meluluhkan hatinya yang keras.
Cerita slow-burn tentang seorang gadis nakal yang berubah menjadi istri di pelukan ustadz saleh, penuh momen manis seperti anak kecil sekaligus dewasa penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mystique17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sentuhan Hangat

Hari ketiga sebagai istri Gus Haris, hujan deras turun sejak subuh.

Raina terbangun dengan tubuh yang hangat. Lengan suaminya masih melingkar longgar di pinggangnya, napasnya pelan dan tenang di belakang lehernya. Kali ini ia tidak langsung menjauh. Ia diam sebentar, merasakan kehangatan pelukan itu sebelum pelan-pelan bergerak.

Gus Haris ikut terbangun. Ia membuka mata dan menatap Raina dengan sorot yang lembut.

“Masih hujan,” katanya pelan.

Raina mengangguk kecil.

“Iya… sejuk.”

Mereka bangun bersama. Raina ikut ke dapur tanpa banyak kata. Kali ini ia berdiri di samping Gus Haris, membantu mengiris bawang dan cabai untuk sarapan. Tangan mereka sesekali bersentuhan, dan Raina tidak lagi menarik diri dengan cepat.

Sarapan pagi itu ditemani suara hujan yang deras di atap rumah kecil mereka. Raina makan dengan lebih lahap daripada hari-hari sebelumnya. Sesekali ia melirik suaminya, lalu cepat-cepat menunduk lagi ketika mata mereka bertemu.

“Haris,” panggilnya pelan di tengah suara hujan.

“Ya?”

“Gue… suka masak bareng lo. Rasanya nggak bosan.”

Gus Haris tersenyum lembut.

“Aku juga senang. Kamu mulai terbiasa ya?”

Raina hanya mengangguk malu-malu, pipinya yang agak bulat sedikit memerah.

Karena hujan deras, kegiatan di luar rumah hampir terhenti. Raina menghabiskan waktu siang dengan membersihkan rumah kecil mereka. Ia menyapu lantai, membersihkan meja, dan mencoba merapikan lemari pakaian. Gus Haris membantu tanpa memaksa, hanya sesekali memberi petunjuk kecil dengan suara tenang.

Sore harinya, hujan mulai reda menjadi gerimis halus. Raina dan Gus Haris duduk di teras kecil, memandang halaman yang basah. Lila datang berkunjung sebentar, membawa kue dari dapur umum.

“Mbak Raina kelihatan lebih cerah hari ini,” goda Lila sambil tersenyum.

Raina mencubit lengan Lila pelan, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.

“Lo jangan mulai lagi.”

Setelah Lila pulang, suasana kembali hanya berdua. Gerimis masih turun pelan. Raina menyandarkan kepalanya di bahu Gus Haris tanpa diminta. Suaminya langsung melingkarkan tangan di pundaknya dengan lembut.

“Gue suka hujan,” kata Raina pelan. “Dulu di Surabaya gue sering duduk di teras warung pas hujan. Sekarang… gue suka duduk di sini sama lo.”

Gus Haris mengusap lengan Raina pelan.

“Aku juga suka. Apalagi kalau sama kamu.”

Mereka diam cukup lama, hanya mendengarkan suara gerimis. Raina merasa dadanya penuh dengan sesuatu yang lembut.

“Haris…” panggilnya lagi.

“Ya?”

Raina menggigit bibir bawahnya sebentar.

“Gue… mulai suka dipeluk sama lo. Mulai suka kalau lo pegang tangan gue. Mulai suka denger suara lo pas ngajar. Gue… mulai suka lo sebagai suami.”

Gus Haris diam sejenak. Lalu ia memeluk Raina lebih erat, mencium puncak kepala istrinya dengan sangat lembut.

“Aku senang sekali mendengarnya,” bisiknya. “Aku juga semakin jatuh cinta sama kamu setiap hari, Raina.”

Raina menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Air mata bahagia menggenang di mata birunya.

“Jangan buru-buru… gue masih belajar.”

“Pelan-pelan saja,” jawab Gus Haris lembut. “Aku akan selalu ada di sampingmu.”

Malam harinya, setelah shalat Isya, mereka berbaring di kasur. Raina langsung mendekat dan meletakkan kepalanya di dada Gus Haris. Suaminya memeluknya erat, tangannya mengusap punggung Raina dengan gerakan yang menenangkan.

Hujan di luar semakin reda, tapi kehangatan di dalam dada Raina justru semakin bertambah.

Ia masih belum bilang “aku cinta kamu”.

Tapi ia sudah mulai merasakan bahwa ia sedang jatuh cinta pada suaminya yang sabar itu.

1
Ibad Real
Semangat Thorr
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!