Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Bab 20
Pesawat kapsul itu meluncur stabil di atas hutan, pepohonan, tanah lapang, kota yang terbengkalai dan lautan yang luas, memantulkan cahaya matahari sore yang mulai condong ke barat. Awan-awan tipis menggantung seperti sisa kabut yang belum sempat menghilang, sementara di bawahnya, garis pantai mulai terlihat—retak, kusam, dan tidak lagi ramah seperti yang mungkin pernah ada di masa lalu.
Di dalam kabin, suasana terasa lebih padat dari biasanya.
Hanoon duduk membungkuk, bahunya yang besar hampir menyentuh dinding pesawat. Jubah yang dikenakannya sedikit terlipat, dan sesekali ia menggeser posisi, mencoba mencari ruang yang lebih nyaman di tempat yang jelas tidak dirancang untuk tubuh sebesar miliknya.
“Berapa lama lagi kita sampai?” tanyanya, suaranya berat tapi penuh rasa ingin tahu.
Bumi yang duduk di kursi depan menoleh sedikit, lalu melirik Pam di sebelahnya. Pam duduk dengan santai, mengenakan kain yang diikat sebagai bandana di kepalanya, membuat rambutnya yang lurus tidak lagi mengganggu pandangan.
“Sebentar lagi,” jawab Pam, matanya fokus ke luar jendela. “Sekitar sepuluh menit.”
Namun sebelum Bumi sempat menanggapi, suara Emma terdengar dari seluruh kabin—tenang, datar, tapi tetap memiliki nada yang hampir terasa hidup.
“Salah. Jika tujuan kita adalah jantung kota California, maka estimasi waktu tempuh masih tiga puluh menit lagi.”
Pam langsung menoleh ke arah speaker.
“Kita nggak turun di pusat kota,” katanya tegas. “Kita turun di Los Angeles.”
Bumi mengangguk kecil, lalu berbicara ke arah panel kontrol. “Emma, ubah tujuan. Kita turun di Los Angeles.”
“Baik,” jawab Emma. “Silakan masukkan koordinat lokasi pendaratan.”
Pam segera mencondongkan tubuh ke depan, jari-jarinya bergerak cepat di atas layar peta digital. Cahaya biru dari monitor memantul di wajahnya, menyoroti ekspresi serius yang jarang terlihat sebelumnya.
Bumi memperhatikan tangan Pam. Ada sesuatu dalam cara Pam bergerak—tenang, terlatih, seperti seseorang yang sudah terlalu sering harus mengambil keputusan sendiri.
“Di sini,” kata Pam akhirnya, menunjuk satu titik di layar.
Bumi mengangguk, lalu memasukkan koordinat itu dengan hati-hati.
“Koordinat diterima. Estimasi waktu tiba delapan menit,” kata Emma.
Pam bersandar ke kursinya, menghembuskan napas panjang. Wajahnya tampak lega… tapi juga ada bayangan kecemasan yang belum sepenuhnya hilang.
Bumi meliriknya.
“Kenapa kita turun di sana?”
Pam tidak langsung menjawab. Matanya kembali ke jendela.
Sebelum ia sempat berkata apa-apa, Nuri menyela dari kursi belakang.
“Udah, kita turuti saja Pam,” katanya santai. “Dia lebih tahu.”
Bumi memutar matanya, sedikit kesal.
Ia tidak bilang apa-apa lagi, tapi jelas ia tidak suka selalu dianggap yang paling tidak tahu.
Delapan menit kemudian, pesawat mulai menurunkan ketinggian.
Pantai Los Angeles terlihat seperti bayangan dari masa lalu yang sudah rusak. Tidak ada keramaian, tidak ada suara tawa, tidak ada jejak kehidupan yang dulu mungkin pernah memenuhi tempat itu. Pasirnya keras, bercampur dengan puing-puing kecil yang terbawa waktu. Lautnya tenang… terlalu tenang.
Pesawat mendarat dengan lembut di tepi pantai.
Begitu pintu terbuka, udara asin langsung menyambut.
Bumi turun lebih dulu, diikuti Pam, Nuri, dan terakhir Hanoon yang keluar dengan gerakan hati-hati. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung meregangkan tubuhnya.
“Aaah… pegal sekali,” keluhnya, suaranya terdengar seperti kayu besar yang digeser.
Pam langsung berjalan ke depan.
“Ayo ikut aku—”
Namun langkahnya terhenti saat kakinya tersandung batu.
Tubuhnya hampir jatuh, tapi Bumi dengan cepat menangkap lengannya.
“Makasih,” kata Pam sambil tersenyum kecil.
Bumi mengangguk, sedikit kaku.
Dari belakang, Nuri memperhatikan.
Ia melihat pipi Bumi yang sedikit memerah.
Dan ia tidak mengatakan apa-apa.
Mereka berjalan menyusuri pantai.
Pasir yang keras di bawah kaki mereka terasa seperti tanah yang sudah lama tidak disentuh kehidupan. Puing-puing kecil tersebar di mana-mana—potongan kayu, logam, bahkan sisa-sisa benda yang tidak lagi bisa dikenali.
“Bukannya pantai itu harusnya ramai?” tanya Nuri sambil melihat sekeliling.
Ia berjalan di samping Hanoon, yang secara tidak sengaja memberikan bayangan teduh dari matahari sore yang mulai terasa hangat.
Pam menjawab tanpa menoleh.
“Itu dulu. Seribu tahun yang lalu.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
“Sekarang nggak ada yang berani tinggal di pantai. Terlalu banyak ikan mutan.”
Bumi menelan ludah.
Ia tidak ingin membayangkan seperti apa ikan mutan itu.
Mereka berhenti di depan sebuah rumah beton.
Bangunannya sederhana, tapi kokoh. Terlihat seperti bunker kecil yang sengaja dibuat untuk bertahan, bukan untuk nyaman.
“Ini tempat siapa?” tanya Bumi.
Pam tidak menjawab.
Ia justru menatap ke atas, ke arah kamera kecil yang terpasang di atas pintu.
“Halo! Nash! Aku Pam!” katanya sambil melambaikan tangan.
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Pam mengerutkan kening, lalu berjalan ke belakang rumah.
Di sana ada tanah lapang yang luas, kosong, hanya ditumbuhi rumput kering.
“NAAASH!” teriaknya lebih keras.
Bumi dan Nuri saling berpandangan.
Pam kembali, wajahnya sedikit kecewa.
“Kayaknya dia nggak ada…”
Namun tiba-tiba—
Suara logam bergeser terdengar dari depan.
Mereka semua langsung berbalik.
Pintu rumah terbuka perlahan.
Tanpa ragu, mereka masuk.
Di dalam, mereka menemukan sebuah ruangan kecil tanpa jendela. Dindingnya halus, dingin, seperti ruang tertutup yang tidak memberi pilihan selain maju.
Pintu di belakang mereka tertutup.
Lalu—
Ruangan itu bergerak turun.
Seperti lift.
Tidak lama kemudian, pintu di depan terbuka.
Dan mereka masuk ke dunia lain.
Sebuah ruangan besar terbentang di hadapan mereka—gabungan antara laboratorium, ruang keluarga, dan dapur. Monitor besar mengelilingi dinding, menampilkan berbagai hal: rekaman CCTV, pemandangan laut dari berbagai sudut, dan data-data kompleks yang bahkan tidak bisa dimengerti oleh Bumi.
Di tengah ruangan, berdiri seorang pria.
Kulitnya gelap. Rambutnya putih, tapi bagian atas kepalanya botak. Ia memakai kacamata tebal yang membuat matanya tampak lebih besar. Tingginya hampir menyamai Hanoon.
Pam langsung berlari.
“Nash!”
Ia memeluk pria itu erat.
“Pam?” Nash tampak terkejut. Ia menepuk punggung Pam pelan, lalu menatap ke arah yang lain.
Matanya berhenti pada Bumi.
Lalu Hanoon.
“Siapa mereka?”
Pam melepaskan pelukannya.
“Teman-teman baruku,” katanya dengan senyum kecil.
Ia menunjuk satu per satu.
“Ini Hanoon. Manusia mutan yang lagi cari keluarganya. Ini Nuri, ratu adil dari kerajaan Arbuck. Dan ini Bumi, adiknya Nuri. Mereka dari tahun 2026.”
Nash melepas kacamatanya.
Menatap lebih tajam.
“Mereka… dari 2026?”
Bumi dan Nuri mengangguk.
“Dan ini,” lanjut Pam sambil tersenyum, “Nash. Teman lama yang selalu nyuruh aku berhenti cari tempat aman di timur selatan.”
Nash menggeleng kecil, setengah tersenyum.
“Teman-teman kamu yang lain mana?”
Pam terdiam sejenak.
“Sebagian… nggak tahu ke mana,” katanya pelan. “Sebagian lagi… dimakan nenek-nenek suku immortal.”
Nash membeku.
“Terus kamu bisa selamat?”
Pam menunjuk ke Bumi.
“Dia yang nolong aku.”
Bumi mengangkat bahu.
“Sebenernya… Pam juga nolong aku.”
“Dari nenek-nenek yang mau menidurinya,” tambah Pam sambil terkekeh.
Bumi menghela napas panjang, menatap langit-langit.
Pam kemudian kembali serius.
“Kamu bisa bantu aku ketemu Prof Keiko?”
Nash mengerutkan kening.
“Buat apa?”
Pam menatap Bumi dan Nuri.
“Buat bantu mereka pulang ke 2026. Prof Keiko punya mesin time travel, kan?”
Nash berjalan pelan ke kursinya, lalu duduk.
Ekspresinya berubah.
Lebih berat.
Lebih ragu.
“Kamu tahu sendiri…” katanya pelan. “Dia pakai mesin itu buat anaknya.”
Ia menatap Pam.
“Dan anaknya… belum kembali.”
Hening menyelimuti ruangan.
“Mesin itu belum sempurna, Pam.”