NovelToon NovelToon
Mirasih

Mirasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Horor / Tumbal
Popularitas:66.4k
Nilai: 5
Nama Author: novita jungkook

"Cepat tutup pintu dan jendela, jangan sampai terbuka!"

Semua warga yang ada di desa Bondowoso tidak ada yang pernah berani keluar bila sudah Maghrib datang, mereka hanya berdiam diri dalam rumah sampai nanti pagi menyapa.

Dulu desa ini tidak seperti itu, namun sejak beberapa bulan terakhir maka mereka mendapat teror yang begitu mengerikan sekali, semua ini akibat kematian dari seorang gadis bernama Mirasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. kesedihan Narti

"Kamu dengar apa yang orang kampung katakan, Mas?" Narti bertanya pada Hamdan.

"Ada apa memang nya?" Hamdan bertanya karena dia memang sama sekali tidak tahu tentang kabar itu.

"Maka nya kau itu keluar dan melihat apa saja yang mereka katakan tentang keluarga kita!" Narti berteriak dengan penuh emosi saat ini.

Akibat kesedihan setelah kematian Mirasih maka emosi Narti menjadi tidak terkendali seperti ini, padahal selama ini dia tidak pernah membentak sang suami untuk alasan apa saja dan baru sekarang dia menjadi meluap karena kesedihan yang begitu besar timbul di dalam hati ini, belum lagi para warga yang tidak pernah mau diam.

Jadi sudah hati sedih karena kehilangan anak lalu timbul juga rasa sedih fitnah yang telah mereka timbulkan semua atas kematian Laila, para warga sekarang mulai percaya bahwa yang membunuh Laila itu adalah Mirasih karena gadis itu mati dengan cara tidak benar dan dia datang untuk membalas dendam kepada mereka semua.

Tentu sebagai Ibu Dia sangat tidak terima dengan ini semua namun untuk memprotes kepada para warga tentu dia tidak memiliki kekuatan, dia hanya seorang diri dan belum tentu ada warga lain yang mau membela Narti karena mereka semua terkadang bersatu dengan pikiran yang begitu mantap untuk menyalahkan orang lain.

Yang paling jelas lagi selama ini keluarga Narti memang tak pernah di anggap oleh para warga kampung, itu semua karena keuangan mereka yang sangat menurun dan tidak pernah memiliki kehormatan sama sekali di mata para warga, sehingga ketika akan berbicara pun sama sekali tidak di dengar oleh mereka semua yang ada di sini.

Ada di posisi nanti tentu saja menjadi begitu sedih dan dia bingung harus berbuat apa untuk membuktikan bahwa ini semua bukan ulah Mirasih, lagi pula dia juga belum tahu secara pasti apa memang ini Mirasih atau ada orang lain yang telah membuat ulah dan bahkan mungkin saja pelaku ini sama dengan yang membunuh Mirasih.

Namun untuk menyuarakan hal tersebut dia masih sama sekali tidak memiliki nyali, karena nanti tahu ketika nanti dia berbicara maka tidak akan ada yang pernah mendengarkan ucapan dia tentang hal itu, malah yang ada semua warga akan menganggap dia telah membela sang anak yang telah berada di jalan yang salah.

"Aku tidak mau tahu pokoknya aku harus membersihkan nama Mirasih di kampung ini." Narti berkata dengan suara menggebu.

"Kamu jangan terlalu emosi seperti itu, ini semua karena kamu sedang bersedih." Hamdan berkata dengan lemah lembut.

"Siapa yang tidak sedih bila melihat keadaan sang anak meninggal Dengan cara demikian, kalau sekarang malah tambah lagi omongan para warga menyalahkan Mirasih seperti itu." tangis Narti pecah juga.

"Mereka hanya asal bicara saja karena rasa takut yang timbul di dalam hati." Hamdan berkata sambil mendekati sang istri.

"Ya kamu keluar sana dan jelaskan kepada seluruh warga bahwa anak kita bukan pembunuh, anak kita adalah korban!" Narti berteriak keras.

"Aku akan berbicara nanti kepada Pak RT dan meminta penjelasan kepada mereka, sekarang kamu tenang dulu dan banyak baca doa biar anak kita mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan." hibur Hamdan dengan perasaan yang cukup kacau juga karena pun dia kepikiran.

Narti menarik nafas panjang dan mengusap air mata yang terus meluncur sejak tadi karena dia memang begitu sedih setelah mendengar omongan dari para warga yang menurut dia begitu menyakitkan, sebab Dia merasa bahwa dirinya adalah korban dan Mirasih itu adalah korban pembunuhan dari orang yang tidak bertanggung jawab.

Namun sekarang malah seluruh warga mengatakan bahwa Mirasih adalah arwah gentayangan dan dia membunuh Laila, sedangkan Laila ini ada lah saudara mereka sendiri dan tentu saja itu sangat menyakitkan untuk mereka semua, lalu bagaimana nanti juga bila Arifin percaya bahwa itu semua memang ulah Mirasih yang gentayangan untuk membalas dendam.

"Aku rasa nya sedih sekali ketika mendengar mereka dengan enteng mengatakan bahwa Mirasih yang sudah membunuh Laila." isak Narti.

"Ini hanya kebetulan saja dan mereka berbicara seperti itu karena memang selama ini tidak pernah baik kepada kita." jawab Hamdan sambil mengelus punggung sang istri.

"Ya maksud ku itu coba lah untuk berbicara baik, ini bersangkutan dengan kematian sehingga tidak bisa kalau mau berbicara sesuka hati mereka." Narti tetap saja tidak terima.

Hamdan terdiam karena sebenarnya di dalam hati dia juga tidak bisa menerima ini semua, namun dia hanya bisa pasrah dan tidak banyak berbicara kepada semua orang, dan bahkan ketika Narti menangis seperti ini HAM dan menjadi bingung serta di dalam hati dia mengatakan bahwa dirinya adalah suami yang tidak berguna.

"Anak ku mati dengan cara seperti itu dan mereka malah dengan gampang mengatakan sekarang Mirasih jadi arwah gentayangan lalu membunuh orang lain." Narti berkata dengan nada begitu pilu.

"Semoga ketabahan kita menghadapi ini semua akan mendapat kebaikan dari Allah nanti." harap Hamdan.

"Aku mungkin dulu masih bisa tabah mendengar apa saja yang mereka katakan tentang kehidupan ini, tapi kalau sudah bersangkutan dengan anak yang meninggal seperti ini aku juga tidak bisa." teriak Narti sambil menutup wajah.

"Iya aku tau kamu sangat sedih." Hamdan mengusap air mata sang istri.

Bila sudah begini maka Hamdan merasa sebagai suami yang sama sekali tidak bisa berguna, hanya bisa menenangkan sang istri tanpa melakukan tindakan apa-apa karena dirinya adalah pria yang lemah dan tidak pernah bisa memenuhi kebutuhan untuk sang istri, mungkin karena itu nanti harus mendapat banyak hinaan dari para warga.

Selamat malam Besti, jangan lupa like dan komen nya ya.

1
neni nuraeni
lnjuut
neni nuraeni
kan... kan... kan...
neni nuraeni
si Rejo.... Rejo... nyao modar sia teh
Ayuk Witanto
apa sarbeni yang bunuh
Ayuk Witanto
sepertinya bapak sama anak sama bejatnya...dari ngomong gan Sarmini emang si Jarwo ini bersalah.tapi gak pernah merasa bersalah.tunggu purnama bertindak
FiaNasa
belum tau mereka dg purnama,,kalian gibah gitu klau kedengeran para member,,habis kalian
FiaNasa
mau bantuin mikir aq juga bingung Lo pur
Ayuk Witanto
kasian juga si Mbah dukun ..kesitu cuma nganterin nyawa
FiaNasa
sampai ngompol.gitu si mansur
FiaNasa
ternyata ulah dwo Kunti koplak yg nyesatin
Mala Mala
lihat mereka jd kangen kopsah and the gank🤭
FiaNasa
mana ada Arya naksir si Kinan kalian ini ada²saj lah,,cinta Arya udah metok Sama Fatma gak ada yg bisa gantiin
FiaNasa
tamatlah sudah alkisah fitri
Betri Betmawati
pasti terlibat ni si Sabeni ini atas kmtian Mirasih
anak nya slah masih ja di bela
Eli Rahma
lanjuutt
Ayu Putri
hei sarbeni tunggu lah kau didatengin setan itu,coba masih bisa ngomong bgtu gak
Raffaza Direzky87
begaya pank sok bisa dan sok kuat, akhirnya tumbang seketika
Raffaza Direzky87
mbah rejo kan sdh tua, sekalian mengantar nyawa...
Ela Jutek
ikut andil pasti itu si Sarben
Alissia
jangan Mirasih di bunuh siapa ya kok jadi misteri🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!