"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: PELARIAN SANG DEWI GEMBLUNG
"Alurra! Jangan lari kau, Gadis Nakal!"
Suara menggelegar itu membuat awan-awan di Kerajaan Langit bergetar. Tapi Alurra, bidadari dengan kecantikan yang bisa membuat bulan iri, justru menjulurkan lidahnya ke belakang.
"Coba saja tangkap aku, Dewa Matahari Tua yang Membosankan!" teriak Alurra sembari mengangkat gaun sutra putihnya tinggi-tihi agar bisa berlari lebih cepat. Gaun itu indah, berhias permata surgawi, tapi bagi Alurra, itu hanyalah pakaian penjara.
Dewa Matahari, calon suaminya yang dipaksakan oleh Tetua Langit, mengejarnya dengan kereta kencana api. Wajahnya merah padam, bukan karena romantis, tapi karena murka. Dia adalah dewa paling berkuasa, paling tampan (menurut dirinya sendiri), dan tidak pernah ditolak. Tapi bidadari di depannya ini? Dia baru saja melempar kue pernikahan ke wajahnya dan melarikan diri di hari H!
"Alurra! Pernikahan ini adalah takdirmu!"
"Takdir kepalamu botak!" umpat Alurra tanpa beban. "Aku lebih baik jadi batu daripada jadi istrimu dan mendengarkan celotehanmu tentang betapa hebatnya sinarmu setiap hari! Blereng, tahu!"
Di depannya, terbentang Jurang Dimensi—batas antara alam langit dan bumi. Alurra berhenti sejenak, menatap kegelapan tak berdasar di bawahnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena excited.
"Alurra! Menyerahlah!" Kereta api Dewa Matahari semakin dekat. Hawa panas mulai membakar ujung rambut emas Alurra.
Alurra berbalik, mengedipkan satu matanya yang jernih, lalu memberikan kecupan jauh yang mengejek. "Selamat tinggal, Tuanku yang Membosankan! Cari saja dewi lain yang mau mendengarkan dongengmu!"
Tanpa ragu sedikit pun, Alurra melompat.
"TIDAKKKKK!" Jeritan Dewa Matahari perlahan memudar, tergantikan oleh siulan angin yang kencang saat tubuh Alurra meluncur bebas menembus atmosfer bumi.
...****************...
Bruk! Gedebuk! Plak!
Pendaratan Alurra sama sekali tidak estetis. Dia tidak jatuh perlahan dengan kelopak bunga bermekaran seperti di lukisan legendaris. Tubuhnya menghantam dahan pohon ek tua, berputar-putar seperti gasing, lalu jatuh tersungkur di atas tumpukan daun kering yang lembap.
"Aduh... aduh... punggungku..." gumam Alurra parau. Dia berusaha duduk, memijat pinggangnya yang terasa encok. Sutra putihnya robek di sana-sini, rambut emasnya penuh ranting dan daun mati. Wajah cantiknya kotor terkena tanah.
Dia mendongak, menatap langit malam yang gelap dan asing. Tidak ada cahaya keemasan Kerajaan Langit. Hanya ada ribuan bintang kecil dan aroma tanah yang pekat.
Alurra menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan lega. Sebuah senyum lebar, tulus, dan sedikit gila terukir di bibirnya yang kotor.
"Hahaha! Aku berhasil! Aku bebas!" teriaknya girang, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya. Dia berguling di atas daun-daun kering, tertawa lepas seperti anak kecil yang baru saja mencuri permen. "Dewa Matahari Tua itu pasti sedang menangis bombay sekarang! Rasakan!"
Setelah puas merayakan kebebasannya, Alurra bangkit berdiri. Dia mengibas-ngibaskan gaunnya yang compang-camping. "Oke, Alurra. Sekarang kau ada di bumi. Tempat para manusia yang lemah dan menyedihkan itu hidup."
Dia menatap sekeliling. Hutan belantara ini sangat gelap, sunyi, dan menyeramkan. Pohon-pohon raksasa dengan dahan seperti cakar iblis menjulang tinggi. Suara jangkrik dan burung hantu bersahutan, menambah kesan angker.
"Hiii... tempat apa ini? Gelap sekali," gumam Alurra, sedikit bergidik. Kebar-barannya sedikit surut saat dihadapkan pada kegelapan total. "Hutannya jelek. Tidak ada estetikanya sama sekali. Bagaimana aku bisa tinggal di tempat seperti ini?"
Alurra mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Tapi aku tidak mungkin kembali ke langit. Itu sama saja dengan menyerahkan leherku pada si Dewa Membosankan."
Dia terdiam sejenak, lalu matanya berbinar. Sebuah ide "ajaib" muncul di kepalanya yang sedikit gesrek itu.
"Ah! Kenapa aku bodoh? Aku kan bidadari paling sakti! Bukankah tugasku adalah healing? Menyembuhkan yang sakit, memperbaiki yang rusak?" Alurra tersenyum licik. "Hutan ini... dia sedang sakit. Dia butuh sentuhan 'Dokter Langit' sepertiku!"
Alurra merentangkan kedua tangannya. Dia memejamkan mata, memusatkan sisa-sisa kekuatan bidadarinya yang terkuras akibat pelarian tadi.
"Dengan kekuatanku, Bidadari Alurra yang Paling Cantik dan Tidak Ada Duanya..." gumamnya mulai merapalkan mantra dengan gaya percaya diri yang berlebihan. "...Hutan Jelek, Sembuhlah!"
Cahaya kehijauan yang lembut mulai memancar dari telapak tangannya. Cahaya itu murni, hangat, dan penuh kehidupan. Alurra menggerakkan tangannya seperti seorang konduktor orkestra, menyebarkan cahaya itu ke sekelilingnya.
Wusss!
Keajaiban terjadi.
Sentuhan cahaya bidadari itu bagaikan air segar di padang pasir. Rumput-rumput liar yang tadinya kering dan tajam perlahan berubah menjadi hamparan lumut lembut berwarna hijau zamrud. Pohon-pohon raksasa yang menyeramkan melembutkan dahan-dahannya, daun-daunnya berkilau terkena cahaya mistis.
Aroma tanah yang pekat berganti dengan wangi bunga melati dan mawar surgawi yang merekah seketika. Kunang-kunang ajaib, jauh lebih besar dan terang dari kunang-kunang bumi, mulai bermunculan dari semak-semak, menari-nari seperti bintang-bintang kecil yang jatuh.
Alurra membuka matanya, terperangah menatap hasil karyanya. "Wah... aku memang hebat!" puji dirinya sendiri tanpa malu.
Di tengah-tengah hutan yang kini berkilau itu, Alurra menggunakan kekuatannya untuk mengubah sebuah pohon ek raksasa menjadi sebuah pondok kayu yang artistik dan nyaman. Dinding-dindingnya berhias tanaman rambat berbunga, dan atapnya terbuat dari daun-daun emas yang berkilau di bawah sinar bulan.
Dia melangkah masuk ke pondok barunya. Interiornya sederhana, tapi nyaman. Ada tempat tidur empuk yang terbuat dari jalinan akar dan bunga, sebuah meja kayu kecil, dan sebuah perapian yang apinya menyala lembut tanpa perlu kayu bakar.
Alurra menjatuhkan diri ke atas tempat tidur barunya. "Ini... jauh lebih baik daripada Istana Langit yang membosankan itu!" gumamnya puas.
Dia memejamkan mata, bersyukur atas nasibnya. Meskipun dia ceroboh, meskipun dia harus jatuh tersungkur di tanah, yang penting dia bebas. Dia bebas untuk menjadi dirinya sendiri, bidadari bar-bar yang menyukai keindahan dan kebebasan.
Dan di tengah kesunyian hutan ajaib buatannya, Alurra tidak pernah tahu, bahwa pelariannya ini baru saja dimulai. Dan "takdir" yang sesungguhnya sedang berjalan mendekat, bersimbah darah dan tanpa suara, menembus kegelapan malam.
...****************...
aku suka namanya Nael ....