Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengawasan Bayangan
Pagi itu, langit di atas Universitas Nusantara tampak abu-abu, seolah-olah awan sengaja menumpuk untuk menutupi matahari yang enggan bersinar. Bagi Leah Ramiro, perasaan tenang yang ia dapatkan dari percakapannya dengan Denzel kemarin sore mulai memudar saat kakinya melangkah memasuki koridor gedung Fakultas Ekonomi. Ia merasa seolah ada ribuan jarum yang menusuk tengkuknya—sebuah perasaan diawasi yang sangat akrab, namun kali ini terasa lebih intens.
Leah mencoba fokus pada ponselnya, mencari jadwal ruang kuliah pengganti, namun bayangan seseorang yang berdiri di balik pilar besar di ujung koridor membuatnya menghentikan langkah.
Jeff Chevalier.
Pria itu tidak mengenakan jas dosennya yang biasa. Ia memakai kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, menampakkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia tidak menyapa, tidak pula memanggil. Ia hanya berdiri di sana, menyandar pada tembok dengan tangan bersedekap, matanya yang tajam menatap Leah seolah-olah gadis itu adalah target buruan yang sedang ia pelajari pola gerakannya.
Leah mempercepat langkah, berusaha mengabaikan keberadaan Jeff. Namun, saat ia melewati pria itu, sebuah suara rendah dan dingin menghentikannya.
"Kau pulang terlalu cepat kemarin, Leah. Dan kau pulang dengan orang yang salah."
Leah berhenti, namun ia tidak menoleh. Ia mengepalkan tangannya di samping tubuh. "Aku pulang dengan Denzel. Dia asisten kakakku. Itu bukan 'orang yang salah', Jeff."
Jeff melangkah mendekat, pelan namun pasti, hingga aroma parfum sandalwood-nya yang berat mulai menginvasi ruang pribadi Leah. "Asisten tetaplah asisten. Dia hanya seorang pelayan yang dibayar untuk mengemudi. Kau tidak seharusnya memberikan ruang di kursi belakangmu untuk seseorang yang statusnya bahkan tidak setara dengan debu di sepatumu."
"Cukup, Jeff!" Leah berbalik, matanya berkilat marah. "Berhenti menghina Denzel. Dia jauh lebih sopan dan menghargaiku daripada kau!"
Seringai tipis muncul di sudut bibir Jeff. Bukan seringai ramah, melainkan sebuah ekspresi kemenangan yang gelap. "Sopan? Atau hanya pengecut? Dia diam karena dia tahu posisinya, Leah. Dan kau... kau terlalu naif untuk melihat bahwa kelembutannya hanyalah topeng dari ketidakberdayaan. Jangan biarkan dirimu merasa nyaman dengan seseorang yang tidak punya kuasa untuk melindungimu saat dunia ini benar-benar runtuh."
Leah ingin membalas, namun Jeff sudah berbalik dan berjalan pergi tanpa memberikan kesempatan baginya untuk bicara. Jeff selalu melakukan itu—melemparkan racun ke dalam pikiran Leah, lalu meninggalkannya agar racun itu bekerja dengan sendirinya.
Di kejauhan, di balik kaca jendela lobi yang menghadap ke arah koridor terbuka, sesosok pria lain sedang berdiri mematung. Denzel Shaquille telah berada di sana sejak ia menurunkan Leah di depan gerbang. Sesuai perintah Zefan yang mulai khawatir dengan situasi perusahaan, Denzel tidak langsung pergi. Ia diminta untuk tetap memantau Leah dari jarak yang aman.
Denzel melihat semuanya. Ia melihat bagaimana Jeff memojokkan Leah. Ia melihat bahu Leah yang bergetar menahan tangis. Dan yang paling menyakitkan, ia melihat tangannya sendiri yang terkepal kuat di balik saku jas, tidak berdaya untuk melakukan apa pun.
Setiap kali Jeff mendekati Leah, Denzel merasa seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya. Ia ingin berlari ke sana, menarik Leah menjauh, dan mungkin mendaratkan satu pukulan di wajah angkuh sang dosen. Namun, suara Zefan Ramiro bergema di kepalanya: "Denzel, kau adalah tangan kananku. Tugasmu adalah menjaga stabilitas, bukan menciptakan keributan baru."
Denzel menarik napas dalam, berusaha meredam badai di dalam dadanya. Ia kembali menjadi bayangan. Ia mengikuti langkah Leah dari kejauhan saat gadis itu berjalan menuju kelasnya. Ia memastikan tidak ada mahasiswa lain yang mengganggu Leah, namun ia sendiri tidak berani menampakkan diri. Ia tahu, kehadirannya saat ini hanya akan membuat Leah semakin merasa terjepit di antara dua pria yang memperebutkan perhatiannya dengan cara yang sangat berbeda.
Sepanjang jam kuliah, Leah tidak bisa berkonsentrasi. Ia terus-menerus melirik ke arah jendela kelas yang menghadap ke taman. Ia tahu Denzel ada di sekitar sana. Ia bisa merasakan keberadaan pria itu—kehadiran yang seperti angin sepoi-sepoi, ada namun tak terlihat. Namun, ia juga tahu Jeff sedang mengawasinya dari suatu tempat yang tidak ia ketahui.
Jeff Chevalier bukan tipe pria yang hanya mengandalkan kebetulan. Ia memiliki akses ke kamera pengawas kampus, ia memiliki asisten dosen yang bisa diperintah untuk melaporkan setiap gerak-gerik Leah, dan ia memiliki pengaruh yang cukup besar untuk membuat hidup siapa pun di kampus ini menjadi neraka.
Saat kelas berakhir, Leah keluar dengan terburu-buru. Ia ingin segera pulang. Ia ingin kembali ke dalam mobil hitam itu, di mana ia bisa menutup mata dan berpura-pura bahwa dunia ini aman.
Namun, di tengah jalan menuju gerbang, ia melihat Denzel sedang berbicara dengan seorang satpam kampus. Denzel tampak sangat serius, ia sedang menunjukkan sesuatu di ponselnya. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat tegang.
"Denzel?" panggil Leah.
Denzel menoleh dengan cepat. Ekspresinya segera melunak saat melihat Leah. "Sudah selesai kelasnya, Leah?"
"Ada apa? Kenapa kau terlihat... khawatir?"
Denzel terdiam sejenak. Ia melirik ke arah gedung fakultas hukum, di mana kantor Jeff berada. "Hanya masalah teknis kecil, Leah. Mari, saya antar Anda ke mobil."
Saat mereka berjalan menuju area parkir, Leah merasa atmosfer di sekitarnya berubah. Orang-orang mulai berbisik-bisik. Beberapa mahasiswi menunjuk-nunjuk ke arah Denzel dengan tatapan sinis.
"Itu kan asistennya yang kemarin?"
"Kasihan ya, ganteng-ganteng cuma jadi pengawal."
"Kabarnya dia yang bikin Pak Jeff marah kemarin di kantin."
Denzel mendengar itu semua, namun ia tetap berjalan dengan kepala tegak. Ia tidak membiarkan satu kata pun dari orang-orang itu merusak harga dirinya. Namun Leah berbeda. Ia merasakan sakit hati yang luar biasa bagi Denzel.
"Jangan dengarkan mereka, Denzel," bisik Leah saat mereka sudah berada di dekat mobil.
"Saya tidak punya waktu untuk mendengarkan mereka, Leah," jawab Denzel tanpa nada emosi. Ia membukakan pintu mobil untuk Leah. "Fokus saya hanya pada keselamatan Anda."
Leah masuk ke dalam mobil, namun ia tidak langsung duduk dengan tenang. Ia menatap Denzel melalui kaca jendela yang masih terbuka. "Jeff tadi menemuiku lagi. Dia menghinamu lagi."
Tangan Denzel yang sedang memegang gagang pintu mobil sedikit bergetar, namun ia segera mengendalikannya. "Tuan Chevalier bebas mengatakan apa pun yang dia mau, Leah. Kata-katanya tidak mengubah kenyataan tentang siapa saya."
"Tapi itu mengubah kenyataan tentang bagaimana perasaanku!" seru Leah pelan, suaranya sarat dengan frustrasi. "Aku benci saat dia merendahkanmu seolah-olah kau tidak punya arti apa-apa."
Denzel menatap mata Leah dalam-dalam. Untuk sesaat, topeng profesionalnya retak. Ada kilatan luka yang sangat dalam di matanya, sebuah pengakuan tanpa kata bahwa penghinaan itu memang menyakitkan. Namun, retakan itu hanya bertahan sedetik.
"Selama Anda tidak memandang saya seperti itu, Leah, maka kata-kata Tuan Chevalier tidak ada artinya," ucap Denzel dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti sebuah janji rahasia.
Denzel menutup pintu mobil dan berjalan menuju kursi kemudi. Ia tidak menyadari bahwa di lantai tiga gedung fakultas, Jeff Chevalier berdiri di balkon, memegang segelas kopi pahit sambil memperhatikan sedan hitam itu bergerak meninggalkan area parkir.
Jeff menyesap kopinya, matanya menyipit mengikuti jejak mobil itu. Ia menarik ponsel dari saku celananya dan mendial sebuah nomor.
"Zefan? Ini Jeff," ucapnya saat telepon diangkat. "Aku ingin bicara soal asisten pribadimu, Denzel. Sepertinya dia sudah mulai melupakan batasan tugasnya terhadap adikmu. Kurasa kau perlu mempertimbangkan untuk menempatkan pengawal lain... seseorang yang lebih 'tahu diri'."
Di dalam mobil, Denzel melirik spion tengah. Ia melihat Leah yang kini menyandarkan kepalanya, mencoba mencari ketenangan di tengah badai yang baru saja dimulai. Denzel tahu, bayangan Jeff tidak akan pernah benar-benar pergi. Ia tahu bahwa pengawasan ini bukan hanya sekadar kecemburuan, melainkan awal dari sebuah rencana besar untuk menyingkirkannya dari sisi Leah.
Dan Denzel bersumpah, ia akan tetap menjadi bayangan yang paling setia, bahkan jika ia harus hancur dalam prosesnya.