NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Bayangan yang Menjauh

Suasana di Glanzwald mendadak berubah. Bukan lagi dingin yang tajam seperti es, melainkan sunyi yang berat dan menyesakkan, seperti udara sebelum badai besar melanda.

Perubahan itu dimulai sejak Matthew kembali dari markas militer tiga hari yang lalu. Biasanya, meski kaku dan menyebalkan, Matthew selalu punya cara untuk menginterupsi dunia Daisy—entah itu dengan komentar teknis soal anatomi komik, perintah makan yang otoriter, atau sekadar berdiri diam seperti patung di dekat studio Daisy hingga istrinya itu merasa risih.

Namun kali ini, Matthew berubah menjadi hantu.

Di markas militer, sebuah laporan intelijen rahasia mendarat di meja Matthew. Laporan itu bukan tentang pergerakan musuh di perbatasan, melainkan tentang jejak seorang wanita dari masa lalu yang selama tiga tahun ini ia coba hapus dari ingatannya: Maira.

Informasi itu menyebutkan bahwa Maira terlihat di sebuah kota pelabuhan kecil, hidup dalam kondisi yang jauh dari kemewahan yang pernah ia miliki saat bersama Matthew. Ada kabar bahwa kesehatan mental wanita itu belum sepenuhnya pulih. Bagi pria lain, mungkin ini adalah momen untuk merasa iba, tapi bagi Matthew von Eisenberg, kabar tentang Maira adalah pengingat akan monster yang ada di dalam dirinya—monster posesif yang hampir menghancurkan hidup seseorang.

Kabar itu menghantam Matthew tepat di ulu hatinya. Ia takut. Bukan takut pada Maira, tapi takut bahwa sejarah akan berulang pada Daisy. Ia melihat Daisy yang semakin bersinar, semakin mandiri, dan ia merasa jika ia melangkah satu inci saja lebih dekat, ia akan mencekik kebebasan Daisy seperti yang ia lakukan pada Maira dulu.

Maka, Matthew memilih untuk menarik diri sepenuhnya.

Sore itu di paviliun, Daisy sedang duduk di ruang tengah, mencoba memfokuskan diri pada tabletnya. Namun, ia merasa ada yang aneh. Sudah dua jam ia duduk di sana, dan Matthew—yang biasanya akan lewat setidaknya tiga kali hanya untuk mengecek apakah Daisy sudah minum air—sama sekali tidak terlihat.

Daisy melirik ke arah lorong menuju ruang kerja Matthew. Pintu kayu ek yang berat itu tertutup rapat. Tidak ada suara langkah kaki bot militer yang berat. Tidak ada aroma cendana yang biasanya tertinggal di udara.

"Dia kenapa?" Gumam Daisy pada dirinya sendiri.

Gengsi Daisy setinggi langit melarangnya untuk pergi mengetuk pintu itu dan bertanya. Baguslah kalau dia tidak mengganggu, batin Daisy. Aku jadi bisa bekerja dengan tenang.

Namun, ketenangan itu justru terasa hambar. Saat makan malam tiba, suasana semakin aneh. Matthew duduk di hadapannya, namun matanya tidak sekali pun menatap Daisy. Ia makan dengan gerakan mekanis, menatap piringnya seolah-olah itu adalah peta strategi yang sangat membosankan.

"Jenderal," panggil Daisy akhirnya. Suaranya datar, namun ada nada penasaran yang terselip.

Matthew mendongak perlahan. Matanya yang dark blue tampak sangat lelah, ada lingkaran hitam tipis di bawahnya. "Ya, Daisy?"

"Anda lebih banyak diam sejak pulang dari markas. Apakah ada masalah di perbatasan? Atau... pasokan senjata Anda kurang?" Daisy bertanya dengan nada sarkasme khasnya, mencoba memancing reaksi Matthew yang biasanya akan membalas dengan penjelasan teknis yang panjang.

Matthew hanya meletakkan garpunya. "Semuanya terkendali, Daisy. Hanya ada beberapa urusan administratif yang melelahkan. Aku permisi lebih dulu, aku harus menyelesaikan laporan di ruang kerja."

Matthew bangkit, membungkuk kaku—sangat kaku, bahkan untuk ukuran dirinya—lalu melangkah pergi.

Daisy terpaku. Tidak ada perintah untuk menghabiskan sayur. Tidak ada komentar soal gaunnya yang sedikit tipis untuk cuaca malam. Matthew benar-benar memberinya kebebasan yang selama ini ia minta, tapi kenapa rasanya justru seperti diabaikan?

Daisy tidak peduli soal Maira. Ia bahkan tidak tahu bahwa nama itu kembali menghantui suaminya. Baginya, Matthew adalah pria yang tidak bisa ditebak. Namun, sifat cuek Daisy mulai terusik. Selama dua tahun Matthew di medan perang, mereka terhubung lewat surat dan pesan singkat melalui ponsel. Sekarang, pria itu ada di depannya, tapi rasanya lebih jauh daripada saat dia berada di perbatasan.

Malam itu, di kamar tidur mereka, Matthew sudah berada di tempat tidur lebih dulu. Ia membelakangi sisi tempat tidur Daisy, meringkuk sedikit seolah-olah ingin mengecilkan keberadaannya di ruangan itu.

Daisy masuk ke kamar, sengaja menjatuhkan buku di meja dengan suara keras. Matthew tidak bergerak.

Daisy naik ke tempat tidur, menarik selimutnya dengan kasar. Matthew tetap diam.

"Matthew," panggil Daisy. Kali ini tanpa panggilan Jenderal.

Hening.

"Saya tahu Anda belum tidur. Napas Anda tidak teratur," ucap Daisy ketus.

Matthew berbalik perlahan. Di bawah cahaya lampu tidur yang remang-remang, wajahnya tampak sangat tersiksa. "Ada apa, Daisy? Apakah suhunya terlalu dingin? Kau ingin aku menjauh?"

Daisy mengernyit. "Menjauh? Anda sudah menjauh sejak tiga hari lalu. Anda tidak mengganggu saya, Anda tidak mengomentari pekerjaan saya, bahkan Anda tidak menyuruh saya makan tadi siang. Apakah ini strategi perang baru Anda? Mengabaikan saya hingga saya merasa bersalah?"

Matthew menatap Daisy dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia ingin meraih tangan Daisy, ingin mengatakan bahwa ia merasa sangat takut menjadi monster lagi setelah mendengar kabar tentang Maira. Tapi yang keluar dari mulutnya justru kalimat yang sangat kaku.

"Aku hanya memberikan ruang yang kau minta, Daisy. Bukankah kau mengatakan bahwa kehadiranku terasa seperti pengurungan? Aku hanya berusaha menjadi suami yang lebih... tidak mengganggu."

Daisy terdiam. Ia melihat tangan Matthew yang mengepal kuat di atas selimut. Gengsi Daisy menahannya untuk bertanya lebih jauh, tapi instingnya sebagai penulis lagu yang peka terhadap emosi memberitahunya bahwa ada sesuatu yang hancur di dalam diri suaminya.

"Anda pria yang sangat aneh, Jenderal," bisik Daisy. "Anda pikir dengan menjadi hantu, Anda menjadi suami yang baik? Itu konyol."

"Bagiku, itu adalah cara paling aman untuk menjagamu," sahut Matthew pelan, hampir tak terdengar.

Daisy memutar tubuhnya, membelakangi Matthew. Ia merasa kesal, tapi juga ada rasa hampa yang aneh. Ia tidak peduli apa yang terjadi di markas, ia tidak peduli siapa yang ditemui Matthew di sana. Tapi ia benci melihat Matthew yang biasanya dominan dan menyebalkan, kini tampak seperti prajurit yang kalah perang sebelum bertempur.

Keesokan harinya, rutinitas itu berlanjut. Matthew pulang sore hari, tapi ia tidak langsung mencari Daisy. Ia langsung masuk ke ruang kerjanya dan mengunci pintu.

Daisy, yang biasanya merasa bangga dengan kebebasannya, kini merasa terprovokasi. Ia memutuskan untuk pergi ke pohon ek favoritnya. Ia sengaja membawa tabletnya dan duduk di sana, menunggu apakah Matthew akan datang untuk menertawakannya lagi atau setidaknya berdiri di kejauhan dengan laporan intelijennya.

Satu jam berlalu. Hanya ada suara aliran sungai. Matthew tidak datang.

Daisy menatap dahan pohon tempat ia bergelantungan tempo hari. Ia teringat betapa hangatnya lengan Matthew saat menangkapnya. Ia teringat tawa Matthew yang jarang terdengar itu.

"Dia benar-benar mengabaikanku," gumam Daisy. Ia merasa sedikit sakit hati, sebuah perasaan yang segera ia tepis dengan gengsinya. "Bagus. Aku tidak butuh dia."

Namun, di balik jendela ruang kerjanya yang tinggi, Matthew sebenarnya sedang berdiri di balik tirai. Ia melihat Daisy dari kejauhan. Tangannya menyentuh kaca jendela yang dingin.

Ia melihat Daisy yang tampak kesepian di bawah pohon itu, dan hatinya hancur. Ia ingin lari ke sana, menggendong Daisy, dan membawanya pulang. Tapi bayangan Maira yang hancur karena obsesinya terus berputar di kepalanya seperti film horor.

Daisy tidak tahu soal ketakutan Matthew. Ia hanya tahu bahwa suaminya berubah menjadi orang asing lagi. Dan bagi Daisy, pengabaian Matthew terasa lebih menyakitkan daripada perintah kasarnya.

Sore itu di Glanzwald, bayangan Matthew yang menjauh menciptakan jurang yang lebih dalam daripada jarak ribuan mil saat perang dulu. Dua manusia itu kini terjebak dalam dilema masing-masing: Matthew yang takut menjadi monster, dan Daisy yang gengsinya terlalu besar untuk mengakui bahwa ia merindukan gangguan suaminya yang menyebalkan itu.

1
Nia Nara
Kalau aku jadi daisy, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua.
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!