NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DISINI CUMA ADA SAYA DAN KAMU

Tawa Suster Winda yang renyah dan candaan santun dari Dokter Arga di dalam ruang periksa itu sebenarnya terdengar seperti musik latar yang jauh bagi Dina. Di permukaan, ia tersenyum. Ia menimpali setiap gurauan tentang "piagam pasien favorit" dengan cukup fasih hingga membuat kedua tenaga medis itu percaya bahwa Dina baik-baik saja. Namun, di balik binar matanya yang dipaksakan, ada ruang hampa yang tak terjangkau oleh stetoskop mana pun.

Suara-suara itu belum pergi. Gemeresik angin yang menyerupai bisikan, langkah sepatu bot di koridor yang ia kenali sebagai irama langkah Adrian, hingga rasa hangat yang tiba-tiba menjalar di jemarinya—seolah pria itu sedang menggenggam tangannya agar ia tidak gemetar.

Di kantin, kepulan asap dari teh hangat yang dipesannya menari-nari di udara. Uap itu seakan menjadi kanvas alami bagi ingatannya. Wajah Adrian muncul di sana, di antara uap tipis yang membuat garis wajahnya sedikit buram, namun senyumnya—senyum gagah yang selalu membuat Dina merasa aman—tetap terlihat begitu nyata.

Dina menunduk, menatap cangkir tehnya dengan saksama, seolah sedang berbicara langsung dengan bayangan itu.

"Aku sakit karena aku, Mas. Bukan karena kamu... jadi jangan khawatir," bisik Dina sangat pelan, nyaris tertelan suara denting sendok di sekitarnya.

"Kamu selalu bilang begitu," suara Adrian seolah menggema di batinnya, begitu jernih hingga Dina memejamkan mata. "Padahal aku sudah janji akan menjagamu, tapi malah aku yang membuatmu harus ke rumah sakit terus seperti ini."

Dina menggeleng kecil, jemarinya meremas pinggiran meja. "Nggak, Yan. Ini bukan salahmu. Ini karena aku yang terlalu lemah menjaga titipanmu—yaitu diriku sendiri. Tapi hari ini aku sudah ke dokter. Dokter Arga... kamu ingat dia, kan? Dia yang dulu merawatku di kota kecil kita. Dia baik, Yan. Dia bilang aku harus disiplin makan."

Bayangan Adrian di matanya tampak terkekeh, jenis tawa tanpa suara yang biasanya membuat bahunya naik sedikit. "Bagus kalau begitu. Turuti kata dokternya, Din. Jangan biarkan lambungmu luka lagi. Aku nggak suka melihatmu menahan sakit sambil memegang perut seperti tadi."

"Ibu juga telepon tadi," lanjut Dina, air matanya mulai menggenang namun ia tahan agar tidak jatuh. "Ibu bilang aku tetap anaknya. Mereka sangat kehilanganmu, Yan. Sama sepertiku. Rasanya... rasanya aku ingin pulang saja ke sana, tapi aku takut melihat kamarmu yang kosong."

"Pulanglah saat kamu sudah siap, bukan saat kamu sedang terluka," suara itu kembali menenangkan, terasa seperti usapan lembut di puncak kepalanya. "Bandung itu indah, Din. Cobalah lihat bunganya, jangan cuma lihat aspal jalanannya. Aku akan tetap di sini, di sampingmu, sampai kamu benar-benar bisa membawa motor itu lagi sendiri."

Dina tersenyum getir. "Satu tahun, Yan... dan aku masih takut menyentuh kunci motor itu. Rasanya kalau aku naik motor tanpa kamu di spion, aku akan tersesat."

"Kamu nggak akan tersesat. Kamu itu perempuan kuat yang pernah aku temui," bayangan itu perlahan mulai memudar seiring dinginnya teh di cangkir. "Sekarang, habiskan makanmu. Jangan biarkan Dokter Arga itu kecewa pada 'pasien favoritnya', ya?"

Dina menghela napas panjang, menyesap tehnya yang kini mendingin. Ia tahu, percakapan ini mungkin hanya cara otaknya bertahan hidup, tapi baginya, itu adalah satu-satunya oksigen yang membuatnya bisa melangkah keluar dari kantin itu dengan kaki yang tidak lagi gemetar.

Dari ambang pintu kantin, Dokter Arga mematung. Matanya yang tajam dan terlatih untuk membaca gestur pasien, kini menangkap sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa sakit fisik. Ia melihat Dina duduk sendirian, namun bibirnya bergerak pelan, seolah sedang terlibat dalam percakapan yang sangat intim dengan kursi kosong di hadapannya.

"Dia seperti bicara sendiri..." gumam Arga pelan. Dadanya terasa sesak melihat pemandangan itu. Ia tahu, secara medis, itu adalah mekanisme pertahanan jiwa yang sedang hancur.

Arga melangkah mendekat. Langkah kakinya yang berat di atas lantai kantin membawanya tepat ke kursi yang dalam imajinasi Dina sedang diduduki oleh Adrian. Arga menarik kursi itu, duduk di sana—memecah bayangan pria berseragam itu dan menggantikannya dengan sosok dokter yang nyata.

"Bagus kalau sudah mau makan. Obatnya sudah diminum?" tanya Arga, suaranya diatur sedemikian rupa agar tetap lembut dan tidak mengejutkan.

Dina mendongak. Untuk sesaat, ia tampak linglung. Matanya bergerak liar, mencari-cari ke mana perginya pria gagah yang tadi tersenyum di balik uap tehnya. Ia melihat ke arah samping, lalu ke arah pintu, sebelum akhirnya pandangannya jatuh pada wajah Arga yang menatapnya penuh keprihatinan.

"Sudah, Dokter..." jawab Dina lirih. Ia menarik napas panjang, mencoba menelan kekecewaan karena "kehadiran" Adrian baru saja buyar oleh realita.

Arga sangat memahami apa yang sedang terjadi. Ia tidak ingin menghakimi atau menganggap Dina aneh. Sebagai dokter yang sudah mengenal sejarah luka Dina sejak di kota kecil dulu, Arga tahu bahwa wanita di depannya ini sedang bertarung dengan bayangan yang ia ciptakan sendiri agar tidak gila.

Arga kemudian mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Dina yang terasa dingin di atas meja. Sebuah sentuhan hangat yang bertujuan untuk menarik Dina kembali ke masa kini.

"Kamu sendirian, Mbak," ucap Arga dengan nada yang sangat pelan, hampir seperti sebuah bisikan pengingat. "Kamu ada di Bandung sekarang. Di sini, cuma ada saya dan kamu."

Dina tersentak kecil saat merasakan hangatnya tangan Arga. Sentuhan itu seperti sentruman yang menyadarkannya bahwa ia sedang berada di ruang publik, di sebuah kantin rumah sakit, bukan di masa lalu. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang dipaksakan namun mengandung rasa terima kasih, meski matanya masih terlihat bingung dan berkaca-kaca.

"Saya tahu, Dok," jawab Dina singkat. Ia menarik tangannya pelan, lalu meremas jemarinya sendiri. "Saya cuma... kadang lupa kalau dunia ini sudah sepi."

Arga mengangguk pelan, ia tidak melepaskan tatapannya. "Dunia nggak sepi, Mbak. Dunia hanya sedang berubah. Dan saya ada di sini untuk memastikan Mbak nggak jalan sendirian di dunia yang baru ini."

Dina merapikan bungkusan makanannya dengan gerakan yang sedikit terburu-buru. Sentuhan tangan Arga tadi seolah menariknya paksa dari dunia rekaan yang ia ciptakan bersama Adrian, dan ia butuh ruang untuk bernapas sendirian.

"Terima kasih, Dok. Kebetulan makan saya juga sudah selesai, saya permisi dulu," ucap Dina sambil bangkit dari duduknya.

Arga menatap piring di depan Dina yang isinya masih terlihat banyak. Dahinya berkerut khawatir. "Tapi Mbak Dina baru makan sedikit sekali. Nanti lemas di jalan."

Dina memberikan senyum tipis, jenis senyum yang digunakan untuk menenangkan orang lain padahal dirinya sendiri sedang goyah. "Lambung saya belum kuat kalau makan banyak, Dok. Malah jadi mual nanti."

Ia mengangguk sopan, mencoba menjaga jarak profesional yang seharusnya. "Terima kasih banyak, Dokter Arga. Selamat siang menjelang sore."

Arga membalas dengan anggukan ramah, tangannya melambai kecil saat Dina mulai melangkah menjauh, melewati deretan kursi kantin yang mulai sepi. Saat punggung Dina sudah berada beberapa meter di depannya, Arga menggumamkan sebuah kalimat yang terdengar seperti doa sekaligus harapan seorang dokter.

"Semoga kita nggak ketemu lagi di sini ya, Mbak," seru Arga sedikit keras agar terdengar oleh Dina.

Langkah Dina terhenti sejenak. Ia menengok ke belakang, menyadari maksud Arga adalah agar ia tidak perlu kembali ke rumah sakit karena sakit lagi. Dina mengangguk pelan, memberikan lambaian tangan perpisahan yang tulus sebelum benar-benar hilang di balik pintu otomatis.

Arga masih terpaku di kursinya, menatap pintu yang tertutup itu dengan tatapan kosong. Kopi yang ia pesan tadi kini sudah mendingin, sama seperti suasana hatinya yang mendadak sepi.

"Tapi kalau bertemunya di situasi lain... di luar jas putih ini... aku siap, Dina," bisik Arga sangat lirih, hanya untuk didengarnya sendiri.

1
Ratih Tupperware Denpasar
astaga knp adriqn dibuat meninggal
nanuna26: karena dina itu selalu ditinggalkan ka
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
semoga adrian bener2 tulus ga kayak si rama.namanya rama tqpi tingkahnya ga sesuai namanya
Ratih Tupperware Denpasar
semoga ditempat baru dina bener2 bs tenang
Ratih Tupperware Denpasar
kukasi juga secangkir kopi supaya dina tetep semangat
nanuna26: kakk cantik terimakasih sudah support terua😍
total 1 replies
Ara putri
Hay kak. jika berkenan saling dukung yuk. mampir keceritaku.

-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib
Ratih Tupperware Denpasar: astga part awao sdh mewek
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!