NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 - Sakit Tanpa Peduli

Pintu gudang itu akhirnya dibuka keesokan harinya, ketika pagi sudah berjalan cukup jauh dan cahaya matahari mulai terasa hangat di halaman belakang. Cahaya yang masuk dari celah pintu terasa terlalu terang bagi mata Alyssa yang semalaman tidak benar-benar beristirahat, membuatnya refleks menyipitkan mata sambil menahan rasa perih yang muncul tiba-tiba.

“Keluar.”

Suara itu singkat dan tanpa nada.

Alyssa mengangkat wajahnya perlahan, butuh beberapa detik sebelum pandangannya bisa menyesuaikan diri dengan cahaya di luar. Dua pelayan berdiri di depan pintu dengan sikap ragu, seolah ingin membantu tetapi tertahan oleh aturan yang tidak tertulis di rumah itu.

Ia mencoba bangkit dengan menumpukan tangannya pada lantai yang dingin, namun kakinya gemetar ketika harus menopang tubuhnya sendiri. Tubuhnya sempat oleng ke depan, hampir kehilangan keseimbangan, sebelum akhirnya ia berhasil berdiri dengan napas yang sedikit tertahan.

“Cepat,” ujar salah satu pelayan, kali ini dengan suara yang lebih pelan dan tidak setegas sebelumnya.

Alyssa mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa, lalu melangkah keluar dari ruangan itu dengan gerakan yang tidak lagi mantap. Udara di luar terasa lebih segar dibandingkan di dalam gudang, tetapi tidak cukup untuk menghilangkan rasa lemah yang mulai menjalar dari perut hingga ke seluruh tubuhnya.

Ia belum makan sejak kemarin, dan tubuhnya mulai menunjukkan dampaknya dengan jelas, meski ia berusaha mengabaikan semua itu. Namun belum sempat ia menarik napas lebih lama, seorang pelayan lain sudah mendekat dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa ia hanya menyampaikan perintah.

“Ibu memanggil Anda ke ruang makan.”

Alyssa tidak bertanya alasan di balik panggilan itu, karena ia tahu jawabannya tidak akan mengubah apa pun. Ia hanya mengangguk pelan dan berjalan ke arah ruang makan dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya, setiap gerakan terasa membutuhkan tenaga yang lebih besar.

Saat ia masuk, seluruh anggota keluarga sudah duduk di tempat masing-masing dengan suasana yang tampak biasa saja, seolah tidak ada kejadian apa pun sebelumnya. Ibu Daren duduk di kursi utama dengan sikap yang tetap tegas, Cassandra berada di sampingnya dengan ekspresi yang terlihat tenang, sementara Daren duduk tidak jauh dari sana sambil menatap layar tabletnya.

Tidak ada yang berdiri menyambut kedatangannya, dan tidak ada yang menanyakan keadaannya setelah semalaman dikurung di tempat yang tidak layak. Kehadirannya terasa seperti bagian kecil yang tidak perlu diperhatikan, sekadar pelengkap yang ada karena memang harus ada.

“Kamu datang,” ucap ibu Daren tanpa mengalihkan pandangannya.

“Iya, Bu.”

“Mulai hari ini, kamu kembali menjalankan tugasmu seperti biasa,” lanjutnya dengan nada yang tidak berubah. “Hukumanmu belum selesai, jadi jangan berharap mendapat perlakuan berbeda.”

Alyssa menunduk sedikit sebagai tanda bahwa ia mendengar dan menerima perintah itu tanpa keberatan.

“Saya mengerti.”

“Layani sarapan.”

Perintah itu datang begitu saja tanpa jeda, seolah kondisi Alyssa tidak perlu dipertimbangkan sama sekali.

Alyssa berjalan mendekat ke meja makan, tangannya mengambil teko teh dengan hati-hati meski jemarinya terasa sedikit kaku. Saat ia mulai menuangkan teh ke dalam cangkir, tangannya tidak sepenuhnya stabil dan cairan di dalam teko sempat bergoyang mendekati bibir cangkir.

Ia menahan napas sejenak, berusaha menenangkan diri dan mengatur kembali gerakannya agar tidak terlihat mencolok. Dari tempat duduknya, Cassandra memperhatikan dengan sorot mata yang sulit dibaca sepenuhnya.

“Sepertinya kamu masih lelah,” katanya dengan suara lembut yang terdengar penuh perhatian. “Kalau memang tidak sanggup, tidak perlu dipaksakan.”

Alyssa tidak menjawab dan tetap melanjutkan pekerjaannya, seolah kata-kata itu tidak ditujukan kepadanya. Ia memindahkan teko ke cangkir berikutnya, berusaha menjaga agar gerakannya tetap rapi meski tubuhnya mulai terasa semakin berat.

“Aku hanya khawatir kalau nanti terjadi kesalahan lagi,” tambah Cassandra pelan, kali ini dengan maksud yang lebih jelas tersirat di balik kalimatnya.

Beberapa anggota keluarga saling bertukar pandang, namun tidak ada yang benar-benar menanggapi secara langsung. Alyssa tetap diam dan menyelesaikan tugasnya satu per satu, meski kepalanya mulai terasa ringan dan pandangannya tidak lagi setajam sebelumnya.

Ia sempat berhenti sejenak dengan satu tangan memegang sisi meja, mencoba menstabilkan dirinya sebelum melanjutkan. Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian ibu Daren.

“Kenapa berhenti?” tanyanya dengan nada yang menunjukkan ketidaksabaran.

Alyssa menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa.”

Ia kembali bergerak, tetapi langkahnya kini sedikit goyah dan tidak lagi seimbang. Daren yang sejak tadi tidak banyak berbicara akhirnya mengalihkan perhatiannya dari layar tablet ke arah Alyssa, memperhatikan perubahan kecil yang terjadi pada setiap gerakan wanita itu.

Cara Alyssa berjalan tidak lagi secepat biasanya, dan tangannya tidak setenang sebelumnya saat memegang benda. Ia tidak langsung bereaksi, tetapi tatapannya tidak lagi berpindah ke layar di tangannya.

Alyssa mencoba mengangkat piring berikutnya, namun saat ia melangkah, pandangannya tiba-tiba terasa berputar dan membuatnya kehilangan fokus. Ia menarik napas perlahan, mencoba bertahan setidaknya untuk satu langkah lagi, tetapi tubuhnya tidak lagi mengikuti keinginannya.

Piring di tangannya hampir terlepas ketika keseimbangannya hilang.

“Alyssa.”

Suara itu terdengar lebih tegas dari sebelumnya.

Alyssa menoleh sedikit ke arah sumber suara, tetapi gerakan itu justru membuat pandangannya semakin kabur dan kakinya kehilangan kekuatan. Tubuhnya condong ke depan, dan sebelum ia benar-benar jatuh, sebuah tangan lebih dulu menahan lengannya.

Daren sudah berdiri di sampingnya, satu tangan menahan bahunya agar tidak terjatuh.

“Duduk.”

Nada suaranya berubah menjadi lebih cepat dan tidak memberi ruang untuk penolakan.

Alyssa mencoba menggeleng.

“Saya masih bisa—”

“Kamu tidak bisa.”

Daren menarik kursi terdekat dan memaksa Alyssa untuk duduk, tidak peduli dengan pandangan semua orang yang kini tertuju pada mereka. Suasana di ruang makan berubah seketika menjadi lebih sunyi, seolah semua orang menahan reaksi masing-masing.

“Kenapa jadi seperti ini?” tanya ibu Daren dengan nada yang tidak menunjukkan kekhawatiran.

“Dia hanya lemah,” jawab Daren singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari Alyssa.

Cassandra sedikit berdiri dari kursinya sebelum kembali duduk dengan gerakan yang halus.

“Sepertinya dia memang belum pulih,” katanya dengan suara yang tetap tenang. “Mungkin lebih baik dia beristirahat dulu.”

Kalimat itu terdengar masuk akal, tetapi waktunya terasa seperti sekadar pelengkap setelah keadaan menjadi jelas di depan semua orang.

Alyssa duduk dengan napas yang tidak sepenuhnya teratur, tangannya masih gemetar meski ia berusaha menyembunyikannya. Ia menunduk sedikit, mencoba mengendalikan rasa pusing yang belum sepenuhnya hilang.

“Saya bisa melanjutkan,” katanya pelan, meski suaranya tidak sekuat sebelumnya.

Daren menatapnya lebih lama dari biasanya, memperhatikan wajah pucat dan bibir yang kehilangan warna, serta cara ia duduk yang menunjukkan bahwa tubuhnya tidak dalam kondisi baik. Semua itu tidak sejalan dengan kata-kata yang baru saja diucapkan.

“Kamu tidak akan melakukan apa pun sekarang,” ucap Daren dengan nada yang tegas.

Alyssa terdiam dan tidak mencoba membantah, seolah ia tahu bahwa kondisinya memang tidak memungkinkan untuk berdebat. Ia hanya duduk dengan tenang, membiarkan keheningan menggantikan semua yang sebelumnya ingin ia katakan.

Perubahan sikap itu kembali terasa dan kali ini lebih jelas di mata Daren, karena biasanya Alyssa tidak akan menyerah begitu saja tanpa mencoba bertahan. Ia akan tetap bersikeras dan mencari cara untuk membuktikan dirinya mampu, tetapi sekarang ia hanya diam tanpa usaha lebih lanjut.

“Kamu sakit?” tanya Daren akhirnya.

Alyssa menggeleng kecil.

“Tidak.”

Jawaban itu terdengar otomatis, seolah keluar tanpa dipikirkan lebih dulu, sementara tubuhnya menunjukkan hal yang berbeda.

Daren menghela napas pelan, merasa situasi ini tidak berjalan seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Ia tidak menyukai perasaan yang muncul di dalam dirinya, karena itu membuatnya mempertanyakan banyak hal yang sebelumnya ia anggap sudah jelas.

“Bawa dia ke kamar,” katanya kepada pelayan yang berdiri tidak jauh dari sana.

“Tidak perlu,” potong ibu Daren dengan nada tegas. “Dia masih dalam masa hukuman.”

Daren menoleh dan menatap ibunya, kali ini dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya sama seperti sebelumnya.

“Hukuman tidak berarti membuatnya jatuh di depan kita,” jawabnya singkat.

Kalimat itu membuat suasana kembali berubah, dan untuk beberapa detik tidak ada yang langsung menanggapi. Ibu Daren menatapnya dengan sorot mata yang dalam, seolah menimbang apakah akan melanjutkan perdebatan atau tidak.

Cassandra tetap duduk dengan tenang, meski ada sedikit perubahan pada ekspresinya yang tidak terlalu jelas bagi orang lain.

Alyssa mengangkat wajahnya dan menatap Daren dengan pandangan yang menunjukkan kebingungan, karena ia tidak menyangka akan mendapatkan respons seperti itu. Namun ia tidak mengatakan apa pun, hanya memperhatikan dalam diam.

Daren kembali menatapnya, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi di hadapannya. Semakin ia memperhatikan, semakin jelas bahwa kondisi Alyssa bukan sesuatu yang dibuat-buat, dan reaksi yang ia lihat tidak memiliki tanda-tanda kepura-puraan.

“Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?” tanyanya dengan suara yang lebih pelan.

Alyssa terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada yang tetap tenang.

“Tidak ada yang bertanya.”

Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Daren kehilangan respons selama beberapa saat. Ia menatap Alyssa lebih lama, mencoba mencerna makna di balik kalimat yang tidak panjang itu.

Ruangan kembali sunyi, tetapi kali ini bukan karena ketegangan yang sama seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang berubah secara perlahan, sesuatu yang tidak langsung terlihat namun cukup terasa bagi mereka yang memperhatikan.

Daren berdiri di tempatnya dengan pikiran yang tidak lagi setenang tadi, sementara pandangannya masih tertuju pada Alyssa yang duduk dalam keadaan lemah. Perasaan yang muncul tidak ia harapkan, dan itu membuatnya harus menahan diri agar tidak menunjukkan terlalu banyak di depan orang lain.

Sementara itu, Alyssa tetap duduk tanpa banyak bergerak, berusaha mengatur napasnya dan mengembalikan kesadarannya yang sempat goyah. Ia tidak berharap apa pun dari situasi ini, tetapi perubahan kecil yang terjadi tetap ia rasakan, meski ia tidak ingin terlalu memikirkannya.

Di sudut ruangan, Cassandra memperhatikan semuanya tanpa berkata apa-apa, matanya menyimpan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dari ekspresi luarnya. Ia tahu keadaan mulai bergeser sedikit demi sedikit, dan itu bukan sesuatu yang ia rencanakan sejak awal.

Suasana sarapan yang seharusnya biasa berubah menjadi lebih berat dari sebelumnya, karena ada hal yang tidak lagi bisa diabaikan begitu saja. Dan di tengah semua itu, Daren mulai menyadari bahwa apa yang terjadi tidak sesederhana yang selama ini ia percayai.

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!