NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:292
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Sinar matahari pagi yang cerah di langit pinggiran Bogor mulai menerobos celah tirai jendela ruang makan, menyinari permukaan meja kayu yang telah menemani sebuah keluarga selama bertahun-tahun. Meja itu tidak besar, hanya cukup untuk empat orang, namun setiap sudutnya menyimpan ribuan cerita tentang pertemuan keluarga, mulai dari makan malam rutin hingga momen-momen penting yang membentuk dan mewarnai hidup mereka. Laura duduk di kursi yang sama seperti saat ia kecil, tempat kesukaannya, selalu dan sampai hari ini; tangan kanannya menggenggam cangkir teh hangat yang diberikan ibunya, sementara matanya melihat ayahnya yang sedang memotong roti dengan gerakan yang terbiasa.

Ayahnya adalah pria Kanada yang telah menetap dan berbisnis di Bogor selama lebih dari dua puluh lima tahun. Wajahnya yang bertulang kuat kini mulai menunjukkan garis-garis usia di sekitar mata dan dahinya, namun tatapannya tetap hangat dan penuh pengertian. Rambutnya yang dulunya pirang kemerahan kini telah bercampur dengan uban yang banyak, sebuah bukti dari perjuangan dan kebahagiaan yang ia lalui bersama keluarga. Ibunya adalah wanita Sunda yang sederhana dan penuh kasih, dengan senyuman yang selalu mampu menghangatkan hati siapa pun yang melihatnya.

“Kamu sudah mulai keluar rumah lagi ya, nak?” ibunya bertanya sambil menyajikan telur mata sapi yang sudah matang di piring Laura. Suaranya lembut namun jelas, dengan logat Sunda yang masih terasa dalam setiap kata yang diucapkannya.

Laura mengangguk sambil mengambil satu suap telur. Rasanya yang gurih membuatnya teringat akan masa kecilnya, ketika ibunya selalu memasak makanan kesukaannya setiap kali ia merasa sedih atau lelah. “Ya, Bu. Kemarin aku pergi ke pusat seni bareng Ariana, melihat pameran fotografi lokal,” jawabnya dengan nada yang lebih ceria dibandingkan beberapa hari yang lalu.

Ayahnya mengangkat pandangannya dari piringnya, senyum tipis muncul di wajahnya. “Itu bagus sekali, Laura. Ayah ingat kamu selalu suka menghabiskan waktu di sana saat masih kecil, mengamati setiap karya seni dengan mata yang penuh kagum.” Ia mengambil tegukan kopi hitamnya, kemudian melanjutkan bicara dengan nada yang sedikit lebih dalam. “Kamu tahu tidak, ketika ayah pertama kali datang dan menginjakkan kaki di kota ini, ayah benar-benar tersesat, tidak hanya dalam hal bahasa dan budaya, tetapi juga dalam mencari arah hidup.”

Laura menoleh ke arah ayahnya dengan rasa ingin tahu. Meskipun telah hidup bersama selama puluhan tahun, cerita tentang masa muda ayahnya adalah hal yang jarang ia dengar.

“Ayah berasal dari sebuah kota kecil di Kanada, di mana kehidupan di sana sangat terstruktur dan penuh dengan aturan,” lanjut ayahnya. “Ayah bekerja di sebuah perusahaan besar, memiliki gaji yang baik dan masa depan yang tampak jelas. Namun di dalam hati, selalu ada rasa tidak puas yang terus mengganggu. Ayah merasa bahwa ada sesuatu yang kurang dalam hidup, sesuatu yang membuat hati ayah berdetak dengan lebih penuh semangat.”

Ia terdiam sejenak, melihat ke arah jendela yang menghadap ke kebun belakang di mana beberapa tanaman bunga sedang mekar dengan indah. “Saat itu ayah memutuskan untuk mengambil cuti panjang dan bepergian ke Asia. Ayah tidak punya tujuan yang pasti, hanya ingin melihat dunia dan mencari jawaban atas pertanyaan yang selalu menggangguku. Ketika ayah tiba di Jakarta, cuaca yang panas dan padatnya orang-orang membuat ayah terkejut. Namun di tengah keramaian itu, ayah menemukan sesuatu yang ayah cari, kehangatan manusia yang tulus dan semangat hidup yang tak pernah padam.”

Ibunya tersenyum saat mendengar cerita itu, kemudian menggenggam tangan ayahnya yang berada di atas meja. “Ketika ibu pertama kali bertemu dengan ayahmu, dia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang budaya kita,” ujarnya sambil tertawa lembut. “Dia bahkan tidak tahu cara makan dengan tangan kanan, dan selalu salah memahami ucapan kita yang penuh dengan makna tersirat.”

“Aku merasa sangat konyol saat itu,” tambah ayahnya dengan senyum malu. “Namun ibumu tidak pernah menyalahkan atau merendahkan. Dia dengan sabar mengajarkan tentang bahasa, budaya, dan cara hidup yang penuh rasa hormat terhadap orang lain. Pada awalnya, banyak orang yang tidak menyetujui hubungan kami, orang Kanada yang tidak tahu apa-apa dan wanita Sunda yang dianggap telah melangkah terlalu jauh. Ada banyak kata-kata pedas yang kami terima, banyak rintangan yang harus kami lalui.”

Laura mendengarkan dengan seksama, hatinya merasa semakin hangat mendengar cerita perjuangan orang tuanya. Ia tidak pernah menyadari bahwa orang tuanya juga telah menghadapi masa-masa sulit yang tidak kalah berat dari yang ia alami sekarang.

“Kita pernah hampir menyerah, nak,” ujar ibunya dengan nada yang sedikit serius. “Ada saat-saat di mana ibu merasa sangat kesal dan sedih, bertanya-tanya mengapa kami harus menjalani hidup yang begitu sulit. Namun ayahmu selalu mengatakan bahwa cinta yang sesungguhnya tidak akan pernah mudah, karena yang berharga selalu membutuhkan perjuangan.”

“Ayah ingat pada saat yang paling sulit, ketika ayah menulis surat panjang untuk orang tua ayah di Kanada,” kata ayahnya. “Saat itu ayah memberi tahu mereka bahwa ayah telah menemukan tempat di mana hati ini merasa berada di rumah, dan menemukan orang yang membuat hidup memiliki makna. Akhirnya mereka mengerti, bahkan datang mengunjungi kami beberapa tahun kemudian. Mereka melihat betapa bahagianya kami dan bagaimana ayah telah menemukan kedamaian yang tidak pernah ayah dapatkan sebelumnya.”

Laura menurunkan pandangannya ke cangkir teh yang hampir kosong. Cerita orang tuanya membuatnya menyadari bahwa hidup memang selalu penuh dengan liku-liku dan kesulitan, tetapi setiap pahitnya pengalaman hidup selalu ada rasa manis yang menyertainya, rasa cinta, rasa persahabatan, dan rasa harapan yang tidak pernah padam.

“Bu, Ayah… aku masih sering merindukan Doni,” ujar Laura dengan suara yang lembut. “Terkadang aku merasa bersalah karena mulai merasa sedikit lebih baik, seolah aku telah melupakannya.”

Ibunya mendekat dan mencium dahinya dengan lembut. “Itu memang terdengar sulit di hatimu, nak. Tapi itu tidak berarti kamu tidak berhak bahagia lagi. Doni pasti ingin kamu hidup dengan penuh makna, bukan hanya hidup untuk mengenang dan mengenang tanpa menatap ke depan.”

“Kamu tahu tidak, Laura,” ujar ayahnya sambil menepuk bahunya. “Saat ayah menghadapi masa-masa sulit, ayah selalu ingat kata-kata kakekmu yang bilang bahwa setiap luka di hati kita akan sembuh dengan sendirinya seiring waktu. Tidak akan hilang sama sekali, tetapi akan menjadi bagian dari kita yang membuat kita lebih kuat dan lebih memahami arti kehidupan.”

“Di Sunda, kita punya pepatah yang bilang ‘bagean badag, bagean encing’,” tambah ibunya. “Artinya, hidup itu ada yang pahit dan ada yang manis. Kita tidak bisa memilih hanya untuk merasakan yang manis, karena pahitnya itulah yang membuat kita menghargai setiap rasa manis yang datang.”

Laura mengangguk, merasakan bahwa setiap kata yang keluar dari mulut orang tuanya seperti obat yang menyembuhkan luka di hatinya. Ia mengambil buku catatan kecil yang selalu ia bawa kemana-mana dari tasnya, kemudian menuliskan beberapa kata dengan cepat: “Hari ke-5. Bertemu dengan Ayah dan Ibu di meja makan pagi ini, mendengar cerita tentang perjuangan mereka yang penuh dengan cinta dan keteguhan hati. Aku menyadari bahwa rasa sakit yang kuhadapi bukanlah sesuatu yang baru di dunia ini. Setiap orang pernah merasakan pahitnya hidup, tetapi yang penting adalah bagaimana kita tetap berdiri tegak dan saling menguatkan satu sama lain.”

Setelah selesai makan, ayahnya mengajak Laura berjalan-jalan ke kebun belakang. Mereka berdua berjalan perlahan di antara tanaman bunga yang telah ditanam ibunya dengan penuh cinta. “Kamu tahu tidak, Laura? Doni pernah datang bertemu kami beberapa bulan sebelum kejadian itu,” ujar ayahnya dengan nada yang lembut. “Dia ingin bertanya izin untuk menikahimu, mengatakan bahwa kamu adalah orang yang paling penting dalam hidupnya.”

Laura merasa mata mulai berkaca-kaca mendengar kata-kata itu, tetapi kali ini tidak ada rasa sakit yang menusuk, hanya rasa sayang yang mendalam terhadap pria yang telah mencintainya dengan sepenuh hati. “Iya ayah. Dia selalu bilang bahwa keluarga itu adalah hal yang paling berharga,” ujar Laura dengan suara yang sedikit bergetar.

“Ya, dan dia juga bilang bahwa kamu adalah orang yang paling ceria yang pernah dia kenal,” tambah ayahnya. “Jangan pernah lupa itu, nak. Kamu memiliki kekuatan yang luar biasa di dalam dirimu, kekuatan yang telah kamu dapatkan dari darah kita yang berasal dari dua dunia berbeda, namun disatukan oleh cinta yang sama kuatnya.”

Setelah mendengar kisah dan nasehat kedua orang tuanya, hati Luara merasa seperti kembali dicuci oleh embun penyejuk. Setiap kehidupan memiliki bentuk tantangannya masing-masing, ia hanya perlu bersabar dan tetap berusaha sebaik mungkin dalam menapak.

Awal malam yang tenang, Laura tampak duduk di meja tulis kecilnya. Di sana terdapat beberapa buku, sebuah laptop, boneka beruang kecil, dan sebuah buku catatan bersampul kulit. Tangannya meraih benda yang selalu menjadi teman tempat ia berbagi isi hati, lalu mengambil sebuah pena yang tampak bersejarah di jemarinya. Ia duduk beberapa waktu memandang halaman kertas putih yang masih kosong, seakan sedang berpikir apa yang kini harus ia tulis.

Raut wajahnya tampak mengingat sesuatu, sorot lampu meja yang cukup tajam namun hanya menerangi satu bagian lingkaran kemudian di arahkan mendekat ke arah kertas, Laura dengan jari cekatannya mulai menuangkan deretan kalimat yang akhirnya tertumpah melalui goresan pena dan tinta:

Bogor, 12 Maret, 2026

"Kadang aku bertanya, mengapa sebuah kisah bisa begitu menyakitkan, mengapa yang dulunya hangat kini menjadi sangat dingin, apakah semua yang dijalani hanya sebuah mimpi yang indah tapi sementara, ataukah cinta itu memang hanya sebuah perjalanan yang tak selalu memiliki tujuan yang sama?"

"Aku Laura, yang telah menyelami jurang kisah cinta, kini belajar untuk berdiri kembali, meskipun hati masih penuh dengan kesedihan yang belum sembuh sempurna, aku tahu waktu akan perlahan menyembuhkan rasa sakit ini, dan mungkin suatu hari nanti, aku akan menemukan cinta yang sesungguhnya, yang benar-benar dapat bertahan abadi."

"Sekarang aku membayangkan sedang berdiri di sebuah tempat penuh kenangan, tempat dulu menyaksikan janji sebuah ikatan cinta, anginnya masih mengusap dengan lembut seperti dulu, hanya saja kini tak ada lagi tangan yang menyulam jari-jariku dalam kehangatan itu."

"Aku membawa buku catatan yang dulu disi bersama, setiap halaman penuh dengan puisi dan cerita tentang kami, kata-kata manis yang pernah membuat hatiku berdebar kencang, kini hanya menjadi bekas luka yang membuat tangisku kembali mengalir deras tanpa henti."

"Di sudut buku itu, ada foto kecil yang tertempel rapi, senyum yang begitu lebar, wajah yang penuh dengan kebahagiaan yang tulus murni, aku menyentuhnya dengan jari yang gemetar, merasa seperti ingin kembali ke waktu itu, ketika cinta kami masih dapat saling bersentuhan."

"Aku coba tersenyum, menyembunyikan rasa sakit yang masih dalam, berusaha menerima bahwa cerita kami telah berakhir dengan lembaran baru yang terbuka di antara alam yang berlainan, meskipun hatiku masih terus memikirkan, aku tahu aku harus melepaskanmu, membiarkanmu terbang bebas menuju kebahagiaanmu yang baru."

"Malam itu aku datang lagi ke tepi ingatan, membawa semua kenangan tentangmu, buku catatan, foto kita, dan setiap barang kecil yang pernah kamu berikan padaku, aku meletakkan semuanya di atas pasir, di tempat yang dulu kita jadikan saksi cinta kita, dan membiarkan ombak penyapu memori datang perlahan membawa semuanya pergi, hilang bersama dengan arus maut yang mengalir jauh."

"Aku Laura, yang telah tenggelam dalam lautan kesedihan, kini mulai belajar berenang kembali, mencari permukaan untuk bernapas bebas, aku mulai menata hidupku sendiri, merawat hati yang bersedih dengan lembut, berusaha keras membuat mimpi baru yang tak lagi melibatkan dirimu dalam setiap detailnya."

"Aku menanam bunga di halaman rumahku sendiri, membuat teh hangat dan membaca buku di sore hari yang tenang, kadang ingatan tentangmu datang seperti angin yang lembut menyentuh wajahku, tapi kini aku bisa menerimanya dengan hati yang lebih tenang dan damai."

"Aku tahu cinta itu bukan hanya tentang kebahagiaan dan kedekatan, tetapi tentang melepaskan dengan ikhlas ketika waktu telah berkata berhenti, aku telah menyelami kisah cinta dengan segala kedalaman yang ada, dan kini aku siap untuk menulis bab baru dalam hidupku, dengan hati yang sudah belajar kuat dan sabar."

"Aku Laura, tubuhku terkoyak oleh beban yang tak terkira, hati ini seperti kertas yang sobek tak bisa disambung lagi, langit tampak selalu kelabu, tak pernah ada sinar matahari, setiap langkahku seperti menapak di atas tanah yang licin dan gelap gulita."

"Maut itu sangat tajam.. Lebih tajam dari silet. Maut itu sangat tebal.. Lebih tebal dari benteng paling kokoh. Maut itu juga sangat tipis.. Lebih tipis dari kulit apel. Maut itu datang seperti lesatan anak tombak yang dilempar ke tenggorokan.. Dan tak ada perisai apapun yang mampu membendung, menangkis atau menghalanginya."

"Kematian datang seperti kilat yang tiba-tiba, menggoyahkan fondasi hidup yang dulu kukira kuat dan stabil, jatuh sakit karena kehilangan yang terlalu dalam, aku harus menjadi tunggangan sebuah hati yang berduka, meskipun jiwa ini sendiri masih penuh dengan kelemahan yang rentan."

'Tetapi di suatu malam aku merasa ada tangan yang lembut menyentuh pundakku, meskipun tak ada seorang pun di sekelilingku yang bisa melihatnya, suara tenang terdengar dalam hatiku, seolah angin yang menyapa, "Jangan takut anakku, aku selalu ada di sisimu. Percayalah pada jalan yang kuhasilkan..."

"Aku Laura, yang dulu merasa sendiri dalam kegelapan, kini lebih banyak merasakan kehadiran Yang Maha Kuasa yang selalu membimbing langkahku, aku bangkit kembali, meskipun tubuhku masih lemah dan lelah, setiap pagi aku berdoa sebelum memulai hari, mempercayakan segalanya pada-Nya."

"Aku Laura, yang telah melalui lautan kesedihan dan ujian yang berat, kini tahu bahwa Yang Maha Kuasa adalah penolongku yang sejati, dia tidak selalu menghilangkan ujian dariku, tapi memberikan kekuatan untuk menghadapinya, dan setiap langkah ku kini penuh dengan harapan, karena aku tahu aku tidak pernah sendirian."

Aku merawat jiwaku dengan cinta dan perhatian, mengurus hati dengan penuh kasih sayang yang tulus, setiap pagi aku menyemprotkan bunga di halaman depan, dan berdoa agar semua orang yang sedang dalam kesusahan bisa merasakan kebaikan-Nya seperti yang kudapatkan di tengah badai."

"Aku Laura, perempuan yang pernah hampir menyerah pada pendakian cinta, kini berdiri tegak dengan keyakinan yang kuat, hidup masih penuh dengan tantangan yang tak terduga, tapi aku tahu bahwa dengan doa dan kepercayaan pada Yang Maha Kuasa, aku akan selalu bisa bertahan, bahkan sampai napas terakhirku."

- Aishah Laura Metzinger

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!