Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏
Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.
Happy Reading Dear 🤗🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Lantai rumah sakit yang dingin seolah menyedot seluruh kehangatan dari telapak kaki Gus Azlan. Di balik tembok beton itu, dunia Azlan jungkir balik. Suara tawa getir Azalea yang menyebut dirinya "Noda yang tak akan dirindukan" terus bergema, menghantam dinding-dinding kesadarannya. Penyakit gagal hati, sirosis stadium lanjut, dua bulan—kata-kata itu bagaikan vonis pancung yang dijatuhkan tepat di atas leher cintanya yang sekarat.
Azlan memejamkan mata rapat-rapat. Logikanya, sebagai seorang Gus, seorang pengajar kitab, dan pilar pesantren, berteriak kencang: Tinggalkan dia! Dia sudah memilih jalannya. Dia bukan lagi tanggung jawabmu. Menjaga marwah keluarga jauh lebih penting daripada mengejar wanita yang sudah merusak fitrahnya sendiri!
Namun, nuraninya, bagian terdalam dari ruhnya yang diciptakan dari kasih sayang Sang Khaliq, merintih: Jika kau membiarkannya mati dalam keadaan membenci Tuhannya, maka ilmu yang kau pelajari selama belasan tahun di Mesir hanyalah tumpukan kertas tak bermakna.
Dengan napas yang berat, Azlan akhirnya melangkah. Langkahnya tidak ragu, namun sarat dengan beban. Ia keluar dari balik bayang-bayang tembok, menembus area merokok yang pengap itu.
Azalea masih duduk di sana, menyesap rokoknya dengan mata terpejam, menikmati racun yang pelan-pelan menghancurkan organ dalamnya yang sudah rusak. Temannya yang berjilbab panjang tersentak melihat kehadiran Azlan, namun Azalea tetap bergeming sampai ia merasakan sebuah tangan besar dan kokoh bergerak di depan wajahnya.
Tanpa sepatah kata pun, Azlan meraih batang rokok yang masih menyala itu dari jemari kurus Azalea. Ia tidak membuangnya ke asbak. Ia mematikan bara api itu langsung di telapak tangannya sendiri.
Cisss...
Aroma kulit yang terbakar menyeruak, namun Azlan bahkan tidak mengedipkan mata. Ia seolah ingin merasakan sedikit saja perih yang dirasakan Lea di dalam jiwanya.
Azalea tersentak, matanya terbuka lebar. Ia menatap telapak tangan Azlan yang memerah, lalu beralih menatap wajah pria itu. "Gus... apa yang kau lakukan?! Kau gila?!"
Azlan menatap dalam ke netra Azalea yang mulai menguning akibat kegagalan fungsi hati. Sorot matanya tidak lagi menghakimi, melainkan penuh dengan luka yang sangat dalam.
"Pulanglah ke pesantren, Lea," suara Azlan rendah, bergetar oleh emosi yang ia tahan di pangkal tenggorokan. "Pulanglah... Biarkan aku menemanimu di sisa waktu ini."
Azalea tertawa. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa histeris yang diiringi air mata yang mendadak tumpah. Ia berdiri, meski tubuhnya goyah. "Pulang? Ke mana? Ke tempat di mana setiap sudutnya akan meneriakiku sebagai pendosa? Ke tempat di mana kau berdiri sebagai simbol kesucian sementara aku adalah kotoran di bawah sepatumu?"
"Pesantren adalah rumah bagi siapa saja yang ingin kembali, Lea," bantah Azlan.
"Kembali untuk apa, Gus?!" Lea berteriak, menarik perhatian beberapa orang di sekitar, namun ia tidak peduli. "Dua bulan! Dokter bilang aku punya dua bulan! Kau ingin aku menghabiskan sisa waktuku dengan menghafal ayat-ayat yang dulu aku khianati? Kau ingin aku sujud dengan tubuh yang penuh gambar ini?!" Lea menunjuk tato-tato di tangannya dengan liar.
Azlan melangkah maju, memperpendek jarak yang selama ini ia jaga demi hukum khalwat. "Allah tidak melihat gambar di kulitmu, Lea! Innalillaha la yandzuru ila suwarikum... Allah tidak melihat rupamu, tapi Dia melihat hatimu! Jika di sisa napas mu kau hanya mampu mengucap satu kali asma-Nya dengan tulus, itu jauh lebih berharga daripada seribu tahun ibadahku yang mungkin terselip riya!"
"Jangan berceramah padaku!" Lea memukul dada Azlan, namun kali ini Azlan menangkap kedua tangan kurus itu. Ia tidak memegangnya dengan nafsu, melainkan dengan kekuatan seorang pelindung.
"Ini bukan ceramah! Ini adalah permintaan seorang pria yang pernah menjanjikan mu Ar-Rahman!" Azlan berseru, air matanya kini mengalir deras, membasahi pipinya.
"Kau bilang tidak ada yang akan merindukanmu? Kau salah! Aku merindukanmu setiap detik dalam sujudku! Aku merindukanmu hingga aku meminta Allah menghapus namamu karena aku tidak kuat menahan perihnya!"
Lea tertegun. Genggaman Azlan terasa panas di kulitnya yang dingin.
"Kau bicara soal marwah? Soal aturan?" Lea bertanya dengan suara parau. "Jika kau membawaku pulang, kau menghancurkan dirimu sendiri, Azlan. Kau seorang Gus! Bagaimana kau menjelaskan pada santri-santrimu tentang wanita bertato dan berpenyakit yang kau bawa ke dalam ndalem? Kau akan kehilangan kehormatanmu!"
Azlan tersenyum getir, sebuah senyuman yang mengandung kepasrahan total. "Jika kehormatanku adalah penghalang untuk membawamu kembali pada Rabb-ku, maka biarlah kehormatan itu hancur berkeping-keping. Aku lebih takut ditanya oleh Allah di akhirat nanti: 'Ke mana ilmu yang kau pelajari saat hamba-Ku yang terluka butuh pegangan?'"
Teman Lea yang berjilbab panjang, yang sedari tadi terdiam, akhirnya berbisik, "Lea... mungkin ini cara Allah menjawab doa-doamu yang kau sembunyikan. Gus Azlan benar. Kau tidak bisa melewati ini sendirian."
Azalea menggeleng lemah, ia melepaskan tangannya dari cengkeraman Azlan. Ia merasa mual, perutnya terasa kram—gejala dari penyakitnya yang kian mengganas. "Ini tidak sinkron, Gus. Pikirkan Abi, pikirkan Umi. Mereka baru saja merayakan kehamilan Zaheera. Jangan bawa kegelapan ke tengah cahaya mereka."
"Zaheera adalah cahaya, dan kau adalah bagian dari cerita itu," Azlan bersikeras. "Zaheera bisa bertaubat, kenapa kau menutup pintu itu untuk dirimu sendiri? Apa kau merasa dosamu lebih besar daripada ampunan-Nya? Itu adalah kesombongan yang paling nyata, Lea. Merasa ampunan Allah tidak cukup untukmu."
Lea terdiam. Kalimat Azlan menghantam ulu hatinya. Ia merasa sangat kecil di depan pria ini. Bukan karena Azlan lebih suci, tapi karena Azlan bersedia terjun ke dalam lumpur bersamanya hanya untuk membasuh lukanya.
"Aku... aku tidak punya banyak waktu, Azlan," bisik Lea, suaranya nyaris hilang ditelan angin. "Aku akan mati dalam kesakitan. Aku tidak mau kau melihatku saat aku benar-benar hancur nanti. Biarkan aku pergi dengan sisa harga diri yang aku punya."
"Harga diri tidak ada artinya di depan sakaratul maut," Azlan mendekat lagi, kali ini suaranya melembut, penuh permohonan. "Biarkan aku menjadi wasilahmu. Biarkan aku membacakan Surah Ar-Rahman itu di telingamu, bukan sebagai mahar pernikahan, tapi sebagai pengantar jiwamu kembali ke haribaan-Nya. Aku mohon, Lea... jangan mati sebagai orang asing bagi-Nya."
...****************...
Langit mulai berubah warna menjadi merah darah. Di lorong rumah sakit, Zavier sedang mendekap Zaheera yang baru saja siuman dengan penuh syukur. Namun di area merokok ini, sebuah drama keimanan sedang dipertaruhkan.
Azlan menatap telapak tangannya yang melepuh bekas api rokok tadi. Ia merasa sakitnya tidak seberapa dibanding rasa syukur jika ia bisa membawa Lea pulang. Tindakannya membawa Lea ke pesantren memang tidak sinkron dengan logika kepemimpinan pesantrennya, namun sangat sinkron dengan jiwanya yang haus akan hidayah untuk orang yang dicintainya.
"Apa kau benar-benar tidak malu membawaku?" tanya Lea sekali lagi, menatap tato di lengannya.
"Aku lebih malu jika aku membiarkanmu sendirian," jawab Azlan mantap.
Lea menutup wajahnya, bahunya terguncang hebat. Ia menangis sejadi-jadinya, melepaskan segala beban, amarah, dan dendam pada takdir yang selama ini ia pikul.
Di tengah tangisan itu, ia merasakan sebuah tangan menepuk pundaknya dengan sangat hormat—sebuah sentuhan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak ia meninggalkan "dunia cahaya".
"Ayo pulang, Lea. Abi dan Umi pasti menunggumu. Mereka masih mengingatmu sebagai putri mereka," ucap Azlan.
Malam itu, Gus Azlan membuat keputusan paling berani dalam hidupnya. Ia tidak lagi peduli pada bisik-bisik santri atau pandangan miring masyarakat. Baginya, satu nyawa yang kembali pada fitrahnya lebih berharga daripada seluruh dunia dan isinya.
Ia berjalan di samping Azalea menuju tempat parkir. Lea berjalan dengan langkah gontai, namun ia merasa seolah ada beban yang terangkat dari dadanya.
Di kejauhan, menara masjid pesantren tampak menjulang, seolah-olah tangan langit sedang terbuka lebar menyambut kembalinya sang kupu-kupu yang sayapnya telah patah, untuk beristirahat di dahan yang paling tenang sebelum terbang menuju keabadian.
Azlan tahu, dua bulan ke depan akan menjadi masa yang paling berat dalam hidupnya. Ia akan menyaksikan orang yang dicintainya meredup setiap harinya. Namun, ia berjanji pada dirinya sendiri: jika Lea harus pergi, ia harus pergi dalam keadaan tersenyum, dalam keadaan mencintai Tuhannya, dan dalam keadaan tahu bahwa ia pernah dicintai dengan sangat tulus oleh seorang pria bernama Azlan.
Pagi itu di pemakaman, mereka saling melepaskan. Sore ini di rumah sakit, mereka saling menggenggam dalam iman. Takdir memang tak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi takdir selalu memberikan apa yang kita butuhkan untuk pulang.