Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
“Jeni!”
“Budi!”
Seseorang berteriak memanggil mereka. Budi dan Mbak Jeni langsung kaget. Mereka buru-buru menjauh satu sama lain dan berdiri tegak sebelum keluar dari balik pohon.
“Itu dia. Kalian berdua lagi ngapain di situ?” Bang Zain menyeringai dengan ekspresi penuh arti. Di wajahnya masih ada bekas darah.
Mbak Jeni langsung merah padam.
Budi lebih cuek. Dengan ekspresi tetap tenang, dia langsung mengganti topik.
“Kaki aku masih lemes. Ularnya gimana?”
“Udah mati. Mana mungkin nggak mati setelah ditembak berkali-kali? Tapi gila sih. Kalau dia nggak lagi kekenyangan, mungkin kita yang mati duluan,” Bang Zain menyeringai lebar.
Tiba-tiba Budi teringat sesuatu. Diam-diam dia membuka panel atribut. Misinya ternyata belum selesai. Dia bingung. Apa Mas Joko bukan dibunuh ular ini, atau masih hidup?
Lalu dia sadar panel atributnya berubah sedikit. Begitu dicek detailnya, dia langsung senang.
Dia mendapat tambahan poin untuk Kemauan, sekarang menjadi 12 atribut terbaik kedua setelah Kecerdasan.
Dia teringat ekspresi ketakutannya saat menghadapi ular raksasa tadi, lalu berpikir, “Ternyata Kemauan berhubungan dengan kondisi mental.”
Sejujurnya, dia sebelumnya tidak terlalu memperhatikan atribut ini. Kalau bukan karena kejadian barusan, mungkin dia akan terus mengabaikannya.
Seorang pria pemberani seharusnya tidak mudah gentar. Kekuatan bukan hanya soal tubuh yang kuat dan otak yang cerdas, tetapi juga mental yang tangguh. Meski Kemauan tidak langsung meningkatkan atribut lain, tetap saja penting.
Saat konfrontasi tadi, Kemauan 11 poinnya sebenarnya sudah di atas rata-rata orang. Namun dia tetap merasa sangat takut hingga tubuhnya sempat lemas. Dia tidak bisa memaksimalkan kekuatannya saat menghadapi bahaya yang jauh lebih besar dari perkiraannya.
Kalau tidak memaksakan diri, mungkin dia akan sama lumpuhnya seperti Mbak Jeni saat itu. Dalam hal keberanian, dia harus mengakui masih kalah dari Bang Zain dan Kapten Andi dua polisi berpengalaman.
“Budi, kasih parangnya. Aku mau belah perut ularnya. Aku sudah telepon pos, sebentar lagi orang datang buat mengurus,” kata Kapten Andi sambil berjalan mendekat. Dia juga menatap bagian perut ular itu, yakin korban yang hilang ada di dalamnya.
Budi menyerahkan parang dan ikut mendekat.
Pemandangan di sekitar sangat berantakan. Banyak pohon roboh atau miring, tanah pun berubah seperti baru saja dilanda badai.
Ular raksasa itu tergeletak tak bergerak di depan mereka. Mulutnya tertutup rapat, lidah bercabangnya menjulur keluar. Sesekali tubuhnya masih berkedut, seperti reaksi saraf terakhir.
Mbak Jeni melihat dari jauh. Wajahnya pucat, tubuhnya sedikit gemetar, seolah masih syok.
“Belum mati ya?” tanya Budi.
“Udah hampir pasti mati. Itu cuma reaksi saraf,” jawab Kapten Andi singkat.
“Biar aman, aku tembak sekali lagi!” Bang Zain mengangkat pistolnya.
Dor!
Peluru mengenai tubuh ular. Tubuh besar itu berkedut sebentar sebelum akhirnya benar-benar diam.
“Harusnya sekarang aman. Ayo,” kata Kapten Andi lega.
“Mas Aji mana?” tanya Budi karena tidak melihatnya di sekitar.
“Lagi sial. Dia ketimpa batu besar waktu tadi berlindung. Kakinya patah,” kata Bang Zain dengan nada tidak suka.
Budi diam saja, tapi dalam hati dia merasa puas. Dia bukan orang suci. Kalau seseorang memperlakukannya buruk, sulit baginya untuk bersimpati. Meski sedikit kecewa tidak bisa membalas sendiri, kabar ini tetap membuatnya lega.
Ular raksasa itu tampak benar-benar mati sekarang. Namun saat mereka hendak membelah perutnya, tubuhnya sempat berkedut lagi sehingga mereka memutuskan menunggu sekitar setengah jam sampai benar-benar kaku.
Beberapa sisik besar sebesar telapak tangan dilepas untuk membuka bagian bawah tubuhnya yang lebih lembut. Kapten Andi mengangkat parang, bersiap memotong.
Namun kulitnya sangat keras dan licin. Parang beberapa kali terpeleset. Karena sebelumnya dipakai menebas semak, ujungnya juga sudah agak tumpul. Kapten Andi hanya mampu membuat sayatan kecil meski sudah menggunakan tenaga penuh.
“Biar saya coba,” kata Budi.
“Silakan.” Kapten Andi menyerahkan parang sambil menggeleng.
“Kulitnya keras sekali. Kalau disusun beberapa lapis, mungkin bisa jadi rompi pelindung.”
Budi langsung tertarik.
“Aku boleh minta beberapa sisiknya?”
“Ambil saja. Kamu juga ikut membantu membunuhnya. Nanti kita bagi rata,” jawab Kapten Andi santai.
“Sayangnya dagingnya pasti nggak enak. Membayangkan apa saja yang ada di dalam perutnya saja sudah bikin nggak selera,” kata Bang Zain sambil meringis.
Budi tersenyum kecil lalu memegang parang erat. Dia mengecek ujungnya, lalu berdiri dengan posisi stabil.
Parang itu diayunkan cepat.
Kilatan cahaya putih melintas sesaat.
Jika dilihat perlahan, ujung parang sebenarnya hanya menyentuh kulitnya sangat tipis. Namun gerakannya begitu cepat hingga hanya terdengar suara singkat.
Sebuah garis potongan tipis muncul di kulit keras ular itu.
Semua orang terkejut melihatnya.
Budi menarik napas perlahan. Kelihatannya mengesankan, tapi sebenarnya itu hanya hasil kontrol tenaga yang baik dan ayunan yang sangat cepat. Dengan latihan bertahun-tahun, orang biasa pun bisa melakukannya.
Kontrol tenaga sangat penting saat menggunakan pisau. Namun skill pisau level 5 miliknya masih jauh dari sempurna.
Budi terus membuat sayatan sedikit demi sedikit hingga akhirnya kulit keras itu terbuka.
Bau menyengat segera menyebar saat bagian dalamnya terlihat.
Kapten Andi mengangguk pelan.
Budi menarik napas dalam lalu membuka bagian itu perlahan.
Beberapa tubuh manusia yang sudah rusak parah jatuh keluar bersama cairan asam. Budi segera melompat mundur.
Kondisinya sudah terlalu rusak untuk dikenali. Identitas mereka tidak bisa dipastikan.
Budi hanya melihat sekilas sebelum rasa mual datang.
Dua orang lainnya juga tampak sama tidak nyamannya.
Tiba-tiba sebuah suara mekanis terdengar di kepala Budi.
[Ding!!]
[Misi Selesai]
Misi Level F+ “Selidiki Penyebab Hilangnya Joko Santoso” telah diselesaikan.
Waktu Penyelesaian: 19 jam 35 menit
Evaluasi: Bagus
[Hadiah]
Pengalaman Dasar: +400
Bonus Evaluasi: +200
Level Naik!
Level Saat Ini: 4
Poin Atribut: +1
Poin Keterampilan: +5
Status:
Energi dan seluruh cedera telah pulih sepenuhnya.
“Akhirnya naik level,” gumam Budi.
Namun perasaan itu cepat berubah. Meski tidak terlalu dekat dengan Mas Joko, mereka tetap pernah tinggal serumah. Jika misi ini selesai, berarti salah satu tubuh tadi kemungkinan miliknya.
Dia membuka panel atributnya.
Budi biasanya membagi atribut menjadi tiga kategori:
Susah naik: Kecerdasan, Ketangkasan.
Agak susah: Kekuatan, Fisik.
Relatif mudah: Kemauan, Sensitivitas.
Poin atribut dari naik level sangat berharga. Dia harus memikirkan penggunaannya dengan matang.
Sebelum kejadian hari ini, dia pasti akan menambah Kecerdasan, karena atribut itu paling berguna dalam kehidupan normal.
Namun pengalaman barusan mengubah pikirannya.
Dunia sepertinya sedang berubah. Bahaya bisa muncul kapan saja.
Kemampuan fisik mungkin akan jauh lebih penting untuk bertahan hidup.
Setelah berpikir sebentar, dia akhirnya menambahkan satu-satunya poin atribut itu ke Ketangkasan.
Tubuhnya langsung terasa hangat sesaat, lalu kembali normal.
Dia merasakan perubahan halus seolah dunia di sekitarnya bergerak sedikit lebih lambat. Suara serangga dan burung terdengar lebih jelas.
Karena sudah pernah merasakan peningkatan sebelumnya, dia tahu ini akibat refleks sarafnya menjadi lebih cepat.
Dia melihat poin keterampilan yang tersisa, lalu memutuskan menundanya dulu.
Untuk melatih skill pisau, dia butuh pisau yang benar-benar tajam. Tapi di Indonesia, senjata tajam cukup dibatasi. Selain itu, dia juga belum yakin apakah akan terus mengembangkan kemampuan itu atau tidak.