Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback
Sutra mencengkeram lantai dengan jemarinya yang kurus, menatap Sebastian dengan tatapan tidak benci.
"Kau sudah janji padaku kalau kau hanya akan membiarkan putriku membusuk di penjara! Tapi kenapa... kenapa kau ingkar dan malah menyerahkan putriku pada putra Erlangga?!"
Napasnya tersengal-sengal, matanya yang cekung membelalak menuntut penjelasan. Pengkhianatan ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada rantai yang membelenggu tangannya selama delapan tahun.
"Kau tahu siapa mereka! Kau tahu apa yang akan dilakukan putra Erlangga padanya! Kenapa kau melanggar janji kita?!" teriaknya dengan sisa tenaga yang tertahan oleh kondisinya yang memprihatinkan.
"Dasar bodoh! Apa aku kurang kerjaan sampai mau melakukan hal sia-sia seperti itu?" cibir Sebastian seraya bangkit berdiri.
"Kau pikir mengeluarkan putrimu dari penjara hanya butuh uang sedikit? Tidak! Butuh uang yang sangat banyak untuk menariknya keluar dari sana, dan aku tidak akan sudi membuang waktuku untuk hal semacam itu," lanjutnya.
Ia menatap rendah pria paruh baya itu. "Tanyakan saja pada menantumu. Arlan-lah yang sudah mengeluarkan putrimu dari penjara dan langsung menikahinya. Dan sebentar lagi, mungkin putrimu akan segera hamil. Arlan sudah membawanya ke rumah sakit untuk menjalani prosedur kehamilan demi melahirkan keturunannya."
Sebastian mendengus kasar. "Bukan aku yang ingkar janji, tapi Arlan yang mengacaukan rencanaku!"
Tanpa belas kasihan, Sebastian melayangkan tendangan keras ke tubuh pria yang sudah tidak berdaya itu. Sutra mengerang kesakitan, tubuhnya meringkuk di lantai yang dingin saat rasa perih menjalar di seluruh tubuhnya yang tinggal tulang.
Setelah mengucapkan kata-kata berbisa itu, Sebastian langsung melangkah keluar dari ruang bawah tanah tanpa menoleh lagi. Ia membiarkan pintu besi itu tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Sutra yang menangis tersedu-sedu dalam kegelapan.
Suara tangis pria tua itu terdengar pilu, meratapi nasib putrinya yang kini terjerat dalam dekapan orang yang sangat membencinya. Di tengah isak tangis yang sesak, bayangan masa lalu mulai menghantui pikirannya. Ingatannya terseret kembali ke delapan tahun yang lalu... ke sebuah kejadian berdarah tepat sebelum Anisa tewas.
Flashback
Sutra mengerutkan keningnya saat melihat Sebastian tiba-tiba muncul di kantornya tanpa janji temu. Saat itu, Sutra masih sibuk bergelut dengan tumpukan berkas di meja kerjanya.
"Ada perlu apa kau datang kemari?" tanya Sutra dingin, merasa terganggu dengan kehadiran adik tirinya itu.
Hubungan mereka memang tidak pernah stabil sejak kedua orang tua mereka meninggal. Sebastian selalu menjadi duri dalam hidup Sutra.
"Aku membawa sebuah penawaran menarik untukmu, Kakakku," jawab Sebastian dengan senyum penuh rahasia.
"Penawaran? Aku tidak tertarik!" tolak Sutra mentah-mentah.
"Bunuh Anisa."
Sutra tersentak hebat hingga ia hampir terloncat dari kursi kerjanya. Jantungnya berdegup kencang karena terkejut. "Apa kau sedang bercanda?! Jika kau sedang bermasalah dengan keluarga Erlangga, jangan bawa-bawa aku ke dalamnya! Apalagi kau memintaku untuk membunuh Anisa!"
Sutra menatap Sebastian dengan tatapan tidak percaya. "Kau memang sudah tidak waras, Sebastian! Anisa itu sudah seperti putri kandungku sendiri. Mana mungkin aku membunuhnya? Aku tidak menerima tamu gila seperti kau!"
"Tolong keluar dari kantorku sekarang!" tegas Sutra, mengusir Sebastian tanpa ingin berbasa-basi lebih lama lagi.
Sebastian bukannya takut atau gentar diusir, ia justru tetap berdiri di sana dengan senyum miring. Tatapannya semakin sulit diartikan, penuh dengan kelicikan yang tersembunyi.
"Kau benar-benar tidak ingin melakukannya, Kak?" tanya Sebastian dengan nada meremehkan.
"Tidak usah mengatakan apa pun lagi jika itu yang kau minta! Dan ingat, jangan sekali-kali kau berani menyentuh Anisa! Kalau kau menyentuh Anisa, itu sama saja kau menyentuh putri kandungku sendiri!" tegas Sutra dengan suara yang menggelegar penuh ancaman.
Sebastian tertawa pelan, suara tawa yang terdengar hambar namun tajam. "Hahaha! Apa aku terlihat takut dengan ancamanmu itu, Kak?"
"Keluar dari sini sekarang!" bentak Sutra, telunjuknya mengarah lurus ke pintu kantor.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sebastian melangkah pergi dengan santai. Sutra menatap punggung pria itu hingga menghilang di balik pintu, napasnya memburu karena emosi yang meluap.
"Dia benar-benar sudah tidak waras," gumam Sutra lirih sambil memijat pelipisnya.
BERSAMBUNG............