Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Salah Ukuran
Di kamar hotelnya di Bangkok, Dewa duduk termenung sambil memegang kepalanya yang terasa pening. Gejolak batinnya berperang hebat antara harga diri untuk tetap diam atau menuruti keinginan hatinya menelepon sang istri.
"Gisel... kamu kok bisa seberani itu?" gumam Dewa sendirian. "Ini baru mau dua bulan kita satu atap, bagaimana nanti? Aku takut tidak bisa menahannya lebih lama lagi."
Dua minggu berlalu. Dewa akhirnya kembali ke Jakarta dengan membawa tumpukan oleh-oleh. Suasana rumah mendadak ramai, semua anak bahagia mendapatkan hadiah masing-masing. Di antara barang-barang itu, terdapat satu handbag dari merek terkenal yang membuat Alya penasaran.
Alya langsung membuka kotaknya tanpa menunggu lama. "Pah, ini apa?"
Mata Dewa membelalak. Ia seketika menarik sepotong baju lingerie bodysuit yang benar-benar tipis dan seksi dari dalam kotak sebelum anak-anak melihatnya lebih jelas.
"Anak-anak, ini bukan apa-apa! Sepertinya Papa salah bawa handbag ini," ucap Dewa gugup sambil menyembunyikan pakaian itu di balik punggungnya.
Gisel membulatkan matanya, terkejut sekaligus ingin tertawa melihat wajah kaku suaminya yang memerah. Raka yang paling peka segera menutup mata adik bungsunya, Diego, lalu mengajak semua adiknya pergi dari sana.
Begitu mereka tinggal berdua, Gisel langsung mendekat dan menggoda Dewa dengan nada ceplas-ceplosnya. "Wih, Mr. CEO diam-diam mesum juga ya? Oke, aku terima. Nanti malam aku coba," ucap Gisel sambil mengerling nakal.
"Jangan! Jangan pernah memakainya!" seru Dewa panik, lalu ia bergegas meninggalkan Gisel yang hanya tersenyum nakal melihat tingkah suaminya yang salah tingkah.
Dewa segera masuk ke ruang ke kamar
dan menelepon Rio dengan penuh emosi. "Kenapa kamu beli baju kurang bahan begini sih?!"
"Ketuker ya?" jawab Rio di seberang telepon dengan nada santai tanpa dosa. "Pantesan istriku marah-marah gara-gara bagian ukurannya terlalu longgar di dia. Dia sampai nyangka aku punya simpanan. Istrimu nggak marah, kan?"
"Dia..."
Suara Dewa terputus. Di balkon kamar itu, dia melihat gadis nakal itu sudah memakai lingerie seksi itu. Baju yang bukan ukurannya membuat dada gadis itu menonjol keluar. "Mas, kayaknya kamu salah ukuran deh," ucap Gisel pelan.
Dewa seperti tersihir, suara telepon tak lagi didengar. Dewa berjalan menuju Gisel, tangannya mulai memegang wajah Gisel. Wajahnya mulai mendekati wajah Gisel. Bibir itu mulai menciumi bibir Gisel lembut, menyusuri leher jenjang Gisel, menciumi setiap incinya.
Dewa menggendongnya dan merebahkan Gisel di ranjang. Dewa terbawa suasana, membuatnya seperti sangat bersemangat. Namun, saat puncaknya, tiba-tiba Dewa terhenti saat melihat wajah Gisel. Wajah Dewa tampak kebingungan. Ia beranjak bangun dari atas tubuh Gisel.
"Maafkan aku, Gisel," ucap Dewa sambil berjalan keluar pintu, meninggalkan Gisel yang terpaku sendirian.
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa sangat berbeda. Jika biasanya Gisel akan sibuk menyapa semua orang dengan suara cemprengnya, pagi ini ia hanya diam seribu bahasa. Ia bergerak lincah di dapur, tangannya dengan cekatan memotong roti gandum, mengolesi mayones, dan menata lembaran daging asap serta sayuran segar menjadi tumpukan sandwich yang rapi.
Dewa turun dengan wajah yang tampak lelah—jelas ia tidak tidur semalaman karena rasa bersalah. Ia duduk di kursi utama, menunggu Gisel menyapanya atau setidaknya menyindirnya seperti biasa.
"Gisel, sandwich-nya—"
"Ambil sendiri, Mas. Tangannya nggak lumpuh, kan?" potong Gisel tanpa sedikit pun menoleh. Suaranya datar, sedingin es, tanpa nada ceria yang biasanya meledak-ledak.