NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesepakatan

Bayangan yang selama ini selalu ada di sekelilingnya. Bayangan yang bergelantungan di pohon beringin, yang duduk di sudut-sudut rumahnya, yang mengikutinya ke mana pun ia pergi. Bayangan yang dulu hanya terlihat oleh matanya yang terbuka. Sekarang, bayangan itu menjadi nyata.

Ia keluar dari bayangan Rafiq di lantai. Ia keluar seperti air yang merembes dari tanah, seperti asap yang keluar dari retakan.

Gumpalan hitam pekat membentuk sesuatu di samping Rafiq. Tinggi. Lebih tinggi dari penguasa Kalimantan. Lebih gelap. Lebih pekat.

Dua titik merah menyala di bagian atas gumpalan itu. Mata. Mata yang sama seperti yang selalu Rafiq lihat di cermin ketika tiga huruf di dahinya menyala. Dua tanduk melengkung menjulur ke atas dari gumpalan hitam itu, lebih panjang dari tanduk penguasa Kalimantan, lebih hitam, lebih mengancam.

Penguasa Kalimantan mundur selangkah. Matanya yang merah menyala menyipit. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu di wajahnya yang bukan kepercayaan diri. Kewaspadaan. Mungkin juga... ketakutan.

"Kau sudah bisa keluar dari wadah manusia?" suaranya tidak lagi berat dan mantap. Ada getaran di dalamnya. "Belum waktunya. Masih terlalu cepat."

Bayangan hitam itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menatap penguasa Kalimantan dengan mata merahnya yang dingin. Rafiq bisa merasakan sesuatu dari bayangan itu. Bukan amarah. Bukan kebencian. Tapi ketidaksabaran. Seperti orang dewasa yang diganggu oleh anak kecil yang mengaku kuat.

"Kenapa kau datang ke sini?" suara bayangan hitam itu keluar tidak dari mulut—karena ia tidak memiliki mulut. Suara itu keluar dari udara di sekelilingnya, dari getaran di ruangan itu, dari dalam kepala Rafiq sendiri. Suara yang dalam, berat, seperti suara ribuan orang berbicara bersamaan.

Penguasa Kalimantan menegakkan tubuhnya. Sayapnya terbentang lebih lebar, meskipun terhalang dinding.

"Kau mengganggu keseimbangan, sesepuh. Aksi-aksimu terlalu keras. Manusia-manusia di sana mulai takut. Mereka mulai memanggilku untuk melindungi mereka. Aku tidak suka diganggu di waktuku sendiri."

Bayangan hitam itu mendekat. Satu langkah. Tanah tidak bergetar. Tidak ada retakan. Tapi udara di sekelilingnya berubah—menjadi dingin, dingin yang membekukan, dingin yang membuat napas Rafiq berubah menjadi uap putih.

"Jadi kau datang ke sini untuk menantangku?" suara bayangan itu tenang, terlalu tenang.

"Kau pikir kau bisa?"

"Aku hanya ingin tahu," penguasa Kalimantan mencoba terdengar tegas, tapi suaranya meninggi di akhir kalimat. "Siapa yang lebih kuat. Tidak ada salahnya kita adu."

Bayangan hitam itu terdiam sesaat. Kemudian ia bergerak. Tidak seperti manusia bergerak. Ia mengalir, seperti asap, seperti air, seperti kegelapan yang berpindah tempat dalam sekejap. Dalam sepersekian detik, ia sudah berada di depan penguasa Kalimantan, jarak hanya satu meter.

"Baik," katanya. "Kita Adu Kekuatan."

Pertarungan itu tidak seperti pertarungan manusia. Tidak ada pukulan. Tidak ada tendangan. Tidak ada suara benturan. Yang ada hanya getaran.

Getaran yang begitu kuat, begitu dalam, hingga dinding-dinding rumah Rafiq bergetar seperti akan roboh. Atap seng bergoyang, bunyinya seperti genderang perang. Tanah di bawah rumah berguncang, retakan-retakan merambat ke segala arah seperti gempa kecil.

Rafiq yang duduk di lantai merasakan getaran itu di sekujur tubuhnya. Tiga huruf di dahinya terasa panas—panas yang luar biasa, seperti ada api yang membakar kulitnya dari dalam. Ia menahan. Ia tidak bergerak. Ia membiarkan getaran itu melewati tubuhnya, membiarkan panas itu membakar.

Ia bisa melihat pertarungan itu. Tidak dengan mata kepalanya. Tapi dengan sesuatu yang lain. Ia melihat gelombang energi hitam keluar dari tubuh bayangan itu, melesat menuju penguasa Kalimantan.

Ia melihat penguasa Kalimantan membalas dengan gelombang energi merah. Di tengah ruangan, kedua gelombang itu bertabrakan. Ledakan bisu terjadi—tidak bersuara, tapi Rafiq merasakannya di tulang-tulangnya.

Penguasa Kalimantan terhuyung ke belakang. Tapi ia tidak jatuh. Ia menahan, mengangkat kedua tangannya, dan mengirimkan gelombang yang lebih besar.

Rafiq tidak tahu berapa lama pertarungan itu berlangsung. Detik? Menit? Mungkin hanya sekejap, mungkin sudah berjam-jam. Yang ia tahu, tiba-tiba tubuhnya terlempar ke belakang.

Punggungnya membentur dinding kayu dengan keras. Dadanya terasa seperti dihantam palu godam. Sesuatu yang hangat dan asing memenuhi mulutnya—darah. Ia memuntahkan darah merah segar ke lantai kayu.

Penguasa Kalimantan tertawa. "Kau lihat? Wadahmu lemah. Tubuh manusia ini tidak bisa menahan kekuatan kita. Dia akan hancur sebelum kau bisa mengalahkanku."

Bayangan hitam itu tidak bergerak. Tapi Rafiq merasakan sesuatu. Kemarahan. Bukan kemarahan yang meledak-ledak, tapi kemarahan yang dingin. Kemarahan yang membuat udara di sekelilingnya semakin dingin, semakin membekukan.

Tiga huruf di dahi Rafiq menyala begitu terang hingga cahaya merahnya memenuhi seluruh ruangan. Dan bayangan hitam itu mengangkat tangannya.

Hanya mengangkat. Tidak ada gerakan lain. Tidak ada mantra. Tidak ada gelombang energi yang terlihat.

Tapi penguasa Kalimantan terlempar.

Ia terbang di udara, tubuh besarnya yang merah terpental ke belakang seperti boneka kain yang dilempar oleh tangan raksasa.

Tubuhnya membentur dinding rumah—dinding kayu yang rapuh itu seharusnya hancur, tapi tidak. Ada sesuatu yang melindungi rumah itu. Kekuatan bayangan hitam yang membuat rumahnya tetap utuh meskipun pertarungan dahsyat terjadi di dalamnya.

Penguasa Kalimantan jatuh ke lantai. Tubuhnya yang besar terguling, menghantam rak buku usang di sudut ruangan, membuat buku-buku berdebu berserakan. Ia bangkit dengan susah payah, satu tangannya memegang dada kirinya.

Matanya yang merah menyala tidak lagi terlihat angkuh. Yang tersisa hanya keterkejutan. Dan rasa sakit.

"Kau..." suaranya serak. "Kau lebih kuat dari yang aku kira."

Bayangan hitam itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri di tempatnya, tangan masih terangkat. Tidak terengah-engah. Tidak kelelahan. Seperti tidak terjadi apa-apa.

Penguasa Kalimantan menunduk. Untuk pertama kalinya, ia mengakui kekalahannya. Atau setidaknya, ia tidak ingin melanjutkan pertarungan yang akan membuatnya semakin terluka.

"Aku akan mundur," katanya. Suaranya pelan, nyaris berbisik. "Aku akan kembali ke Kalimantan. Aku tidak akan mengganggu urusanmu lagi."

Bayangan hitam itu menurunkan tangannya. "Ada syarat."

Penguasa Kalimantan mengangkat kepalanya. Matanya yang merah menyala menatap bayangan hitam itu dengan hati-hati.

"Apa?"

Bayangan hitam itu menoleh ke arah Rafiq. Rafiq yang masih duduk di dekat dinding, dadanya sakit, darah masih menetes dari sudut bibirnya. Tiga huruf di dahinya masih menyala, tapi mulai meredup.

"Kau sudah mengambil sesuatu dari wanita itu," kata bayangan hitam itu. "Dari Aisyah. Kau mengambil janin di rahimnya. Aku tahu. Aku bisa merasakannya."

Penguasa Kalimantan terdiam. Ia tidak menyangkal.

"Aku ingin jiwa wanita itu. Dan rahimnya. Biarkan dia hidup, tapi jiwanya menjadi milikku. Rahimnya tidak akan pernah bisa mengandung lagi. Itu harga yang harus dia bayar untuk memanggilku."

Bayangan hitam itu tidak menjawab. Ia menatap Rafiq, seperti meminta pendapat.

Rafiq menggeleng.

"Tidak. Wanita itu milikku. Aku yang akan menghancurkannya. Aku yang akan membuatnya menderita. Aku—"

"Kau tidak akan kehilangan apa-apa," potong bayangan hitam itu. Suaranya tenang, tapi ada nada di dalamnya yang tidak bisa dibantah.

"Dia akan tetap menderita. Mungkin lebih menderita. Hidup tanpa jiwa. Hidup tanpa bisa memiliki anak lagi. Itu lebih berat dari kematian."

Rafiq terdiam. Ia menatap bayangan hitam itu lama. Lalu ia menunduk. Ia tersenyum.

"Baik. Bawa dia. Tapi janinnya?"

"Janinnya akan menjadi milikku," kata penguasa Kalimantan. "Sebagai imbalan atas bantuanku. Itu sudah disepakati."

Bayangan hitam itu mengangguk. "Kau dengar, Rafiq? Janin itu sudah bukan milikmu lagi. Tapi kau bisa mencari yang lain. Masih ada enam yang harus kau kumpulkan"

Rafiq menghela napas panjang. Ia menatap telapak tangannya yang berlumuran darah—darahnya sendiri.

"Baik. Tapi aku ingin Tono tahu. Aku ingin dia tahu bahwa istrinya diperkosa oleh dukun yang dipanggil ibunya sendiri. Aku ingin dia tahu bahwa janin anaknya telah diambil oleh iblis dari Kalimantan. Aku ingin dia hancur. Hancur seperti aku dulu."

Bayangan hitam itu tidak menjawab. Tapi Rafiq merasakan persetujuan. Getaran hangat di tiga huruf di dahinya.

Penguasa Kalimantan mengangguk. "Baik. Aku akan lakukan. Wanita itu akan hidup tanpa jiwa. Tubuhnya akan tetap berfungsi—dia bisa makan, bisa minum, bisa berjalan, bisa berbicara.

Tapi di dalamnya, hanya ada kekosongan. Dan rahimnya akan mati. Tidak akan pernah bisa mengandung lagi. Itu lebih dari cukup."

Ia melangkah mundur. Tubuhnya mulai berubah menjadi asap merah kehitaman. Asap itu berputar, membentuk pusaran, semakin kecil, semakin tipis.

"Kita tidak akan bertemu lagi, sesepuh," katanya dari dalam pusaran asap yang mulai menghilang. "Jaga wilayahmu. Jangan terlalu berisik. Suatu hari nanti, jika kita bertemu lagi. Dan saat itu..."

Asap itu lenyap. Penguasa Kalimantan tidak menyelesaikan kalimatnya. Mungkin karena ia tidak tahu akan seperti apa pertemuan itu. Mungkin karena ia takut untuk menyelesaikannya.

Ruang tamu kembali sunyi. Api lilin yang tadi berubah biru kehijauan kini kembali jingga normal. Dinding-dinding rumah yang tadinya bergetar kini diam. Tanah yang tadinya retak kini kembali padat, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Bayangan hitam itu mulai mencair, meresap ke dalam bayangan Rafiq di lantai. Tiga huruf di dahi Rafiq meredup, redup, sampai akhirnya hanya menyisakan goresan hitam seperti bekas terbakar.

Rafiq duduk di lantai, menatap titik kosong di depannya. Ia tersenyum.

"Tono," bisiknya. "Sekarang kau akan tahu rasanya. Kehilangan. Dikhianati. Dihancurkan. Tidak hanya oleh musuh, tapi oleh orang yang paling kau percaya."

Ia tertawa. Tertawa pelan, panjang, di ruang tamu yang sunyi dengan lilin yang menyala di depannya.

1
Afri
bagus .. saya suka
Afri
d terpa badai yg terus menerus .. akhirnya .. iman pun terkikis
sakit yg d luar batas merengut akal nya
kuat ya Rafiq💪💪💪
La Rue
aku bacanya siang hari karena kalau malam hih jadi merinding ,seram
Mila helsa
mntappp bget ceritanya,.byk pljrnbyg bisa d ambil..
mmng sgt sulit utk ikhlas pasrah PD ujian yg bertubi tubi,.melawan RS sakit hati,mnhdpi runtuhnya dunia,.dendam dn kecewa mengambil alih😭
tp utk mngmbil jln sesat jg akibatnya g main main,.yg ad hidup sudah hancur mlh mkin hancur,rugi dn menderita dunia akhirat, astaghfirullah
Mila helsa
wah kerasukan th c Tono
Mila helsa
penasaran siapa sbnernya mbh jaya ini,dn py hubungan AP SM kluarga c Rafiq ini,.kt nya dia mmng udh d tunggu.,ahh seruu penasarn
Mila helsa
astaghfirullah,itu berani muncul sndiri,.pasti jdi buronan itu lma²,d luar prediksi bmkg🤣kirain ngambilnya dr jarak jauh,busyett deh g main2 ini setan kerjanya terang²n🤭
La Rue
semakin mengerikan 😱
Mila helsa
merindinggg
Mila helsa
seru bget kl d ank ke luar lbar
Mila helsa
ceritanya seruu bget,.ayo kawan² baca,.byk hikmah yg bisa kita ambil d kisah ini,.ayo Thor .promosiin cerita ini,biar mkin rame
Bp. Juenk: gak tau cara promosi nya kk 🤭
total 1 replies
Tamirah
Cerita awal yg menyedihkan, dikala anaknya demam tinggi kok tega tega berbagi keringat dgn sahabat suami.bahkan putranya dititipkan pada mertua nya.istri model begini baik' nya diceraikan saja dan ambil hak asuh nya. karena gak layak jadi seorang ibu.
Rani Saraswaty
swkaranh kamu sudah tahu, nak
ini dunia yg sesungguhnya, yg menghujat karna matanya masih tertutup, skarang matamu sdh terbuka dan kamu tdk takut, itu yg jd kekuatanmu
Rani Saraswaty
tutup pintunya
Rani Saraswaty
kamu tidak bisa kembali seperti dulu
Rani Saraswaty
tidak ada jalan mundur, setelah ini
Rani Saraswaty
jadi, kamu sudah yakin?
Rani Saraswaty
sholat iku yang menghubungkan kamu dan tuhan mu, sholat itu yg menjagamu. selama kamu sholat kamu dalam lindunganNya. caraku tidak bisa jalan apabila kamu masih sholat, kamu hrs memilih Alloh atau balas dendam
Rani Saraswaty
sholat itu gerbang nak
Rani Saraswaty
kamu harus meninggalkan sholat 5 waktu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!