Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.
Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.
Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STILL ME CHAPTER 14: Strategi Jangka Panjang
"Kamu gila."
Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Sari.
Ia tidak berteriak, tapi desisannya cukup keras untuk membuat barista di balik meja kasir menoleh sekilas ke arah meja kami. Gelas americano dingin di tangannya membeku di udara, berjarak dua sentimeter dari bibirnya yang sedikit terbuka.
"Sari, kecilin suaramu," tegurku pelan, mengaduk caramel macchiato-ku dengan sedotan.
"Kecilin suaraku kamu bilang?" Sari meletakkan gelasnya dengan bantingan kecil. Matanya membulat sempurna, nyaris melompat keluar dari rongganya. "Nara, kamu baru aja ngaku kalau kamu tanda tangan kontrak pernikahan palsu sama CEO perusahaan raksasa, dan kamu nyuruh aku ngecilin suara?!"
"Ini bukan pernikahan, Sar. Ini transaksi B2B. Business to Business."
"Kamu bukan business, Nara! Kamu manusia!" Sari memijat pangkal hidungnya dengan dramatis, seolah ia yang baru saja menandatangani kontrak itu. "Satu miliar... Ya Tuhan. Satu miliar. Orang itu siapa namanya? Rayan Adristo? dia pasti psikopat. Atau punya fetish aneh. Atau dia anggota sekte iluminati yang butuh tumbal sarjana untuk pesugihan gedungnya!"
"Dia cuma pria kaya yang butuh tameng dari keluarganya. Dan aku butuh uangnya," pangkasku cepat, memotong semua teori konspirasi Sari sebelum merambat ke invasi alien.
Aku mengeluarkan ponselku, membuka aplikasi m-Banking, lalu menggeser layarnya ke seberang meja agar Sari bisa melihatnya sendiri.
Mata Sari tertuju pada deretan angka mutasi masuk sebesar lima ratus juta rupiah. Napasnya tercekat. Rahangnya benar-benar jatuh ke lantai.
"Ini... ini beneran?" bisiknya horor. Tangannya gemetar saat menunjuk layar HP-ku. "Dia langsung transfer setengahnya? Di muka? Tanpa minta jaminan apa-apa?"
"Jaminannya adalah identitasku di atas materai, Sar. Kalau aku kabur bawa uang ini, tim legalnya bakal melacakku dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam dan menjebloskanku ke penjara atas tuduhan penipuan, penggelapan, dan pelanggaran Non-Disclosure Agreement." Aku menarik kembali ponselku. "Tapi aku nggak akan kabur. Aku akan kerjakan tugasku. Enam bulan. Duduk cantik, diam, senyum di depan keluarganya, lalu cerai."
Sari menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. Perlahan, ekspresi histerisnya memudar, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih emosional.
"Terus sekarang gimana?" tanyanya pelan. "Kamu bakal langsung transfer uang ini ke ibumu buat lunasin buku merah sialan itu?"
"Tidak."
Jawabanku yang cepat dan absolut membuat Sari mengerutkan kening.
"Loh? Bukannya itu tujuan utamamu nyari uang ini?"
Aku menyandarkan punggungku ke kursi kafe, menatap jalanan di luar jendela.
"Sar, ibuku itu ibarat lintah di atas luka. Kalau aku tiba-tiba pulang dan melempar tiga ratus juta ke wajahnya, dia nggak akan berpikir 'Oh, anakku hebat, hutangnya lunas'. Dia akan berpikir, 'Dari mana anakku dapat uang sebanyak ini dalam sehari?'"
Aku menatap mata Sari lekat-lekat.
"Dia akan curiga. Dia akan menyelidiki. Dan kalau dia tahu aku menikah dengan seorang miliarder, buku catatan merah itu tidak akan mati. Buku itu hanya akan berevolusi menjadi naga. Dia bakal menuntut dibelikan rumah, mobil, modal toko, dan menjadikan Rayan sebagai sapi perahnya. Aku nggak akan membiarkan itu terjadi."
Sari menelan ludah, perlahan menyadari kengerian dari logikaku. "Terus... apa rencanamu?"
"Bermain sesuai aturannya," jawabku dingin. "Ibu minta kontribusi tiga juta sebulan saat aku dapat kerja, kan? Maka aku akan memberinya persis tiga juta sebulan. Tidak lebih seratus perak pun. Aku akan bilang ke Ibu kalau aku diterima sebagai staf di Adristo Group dan diwajibkan tinggal di mess karyawan."
"Sinting," gumam Sari, menggelengkan kepalanya takjub. "Kamu bener-bener kalkulator berjalan, Ra."
"Aku sedang mengamankan hidupku, Sar. Sisa uang setengah miliar ini akan kusimpan rapat-rapat sebagai dana darurat dan modal hidupku setelah masa kontrak habis."
Sari mengusap wajahnya, lalu mencondongkan badan ke seberang meja, merangkum kedua tanganku. Bau parfum vanila dan kopi menguar dari tubuhnya.
"Jangan sampai kamu lupa siapa kamu di sana, Ra," bisik Sari di dekat telingaku, matanya berkaca-kaca. "Jangan biarkan kemewahannya, atau gilanya keluarga itu bikin kamu merasa kecil. Kamu harus janji sama aku."
Aku membalas genggaman tangannya. "Aku nggak akan lupa diri, Sar. Aku tahu persis batasanku."
Malam itu, di kamarku yang sempit, aku mengepak seluruh dua puluh dua tahun kehidupanku ke dalam satu koper kain berukuran sedang.
Pakaian sehari-hari, beberapa buku catatan, map dokumen penting, dan laptop tuaku. Hanya itu. Tidak ada barang mewah, tidak ada perhiasan, tidak ada tumpukan album kenangan. Ketika aku menarik resleting koper itu hingga tertutup, aku menyadari betapa sedikitnya jejak eksistensiku di ruangan ini.
Pukul setengah delapan malam, aku melangkah keluar dari kamar, menyeret koperku di atas lantai ubin rumah yang dingin. Suara roda koper berderak memecah kesunyian.
Ibu sedang duduk di ruang TV, melipat tumpukan daster baru yang akan dibawa ke toko besok pagi. Ia menoleh saat mendengar suara roda koperku. Keningnya langsung berkerut tajam.
"Loh? Kamu mau ke mana malam-malam bawa koper, Nara?" tanya Ibu, meletakkan daster yang sedang dilipatnya.
Aku menghentikan langkahku di ruang tengah. Ini dia. Panggung sandiwara pertamaku sebelum aku benar-benar berhadapan dengan keluarga Adristo.
"Nara mau berangkat sekarang, Bu," kataku dengan ekspresi datar yang sudah kulatih semalaman. "Tadi siang, HRD dari Adristo Group menelepon. Nara diterima masuk."
Mata Ibu langsung membulat lebar. Wajah lelahnya seketika menyala terang benderang. "Diterima?! Langsung hari ini?! Ya Allah, Nara! Tuh kan, doa Ibu nggak pernah putus!" serunya antusias, nyaris melompat berdiri dari karpet. "Gajinya gimana? Posisinya apa?"
"Staf Administrasi Eksekutif, Bu. Tapi ada syarat mutlaknya." Aku memotong eforianya dengan cepat agar ia tidak banyak bertanya soal nominal gaji. "Perusahaan ini sangat ketat. Mereka mewajibkan staf khusus seperti Nara untuk stand by penuh. Jadi, Nara harus pindah dan tinggal di mess karyawan eksekutif mereka. Malam ini juga. Besok pagi jam lima sudah harus ada orientasi."
Ibu terdiam sebentar. Matanya menatap koperku, lalu menatapku. Ada sedikit keraguan di sana, tapi bayangan tentang prestisenya perusahaan raksasa itu jelas lebih menggoda logikanya.
"Malam ini juga? Kok mendadak banget? Ibu belum siapin bekal apa-apa," gumamnya, meski ia tidak terdengar terlalu keberatan. Ia lalu membetulkan letak kerudungnya, berjalan mendekatiku. Suaranya menurun satu oktaf, masuk ke frekuensi kalkulatif yang paling kubenci.
"Terus... soal yang kita obrolkan kemarin-kemarin itu gimana, Ra? Kamu kan udah resmi kerja di perusahaan besar. Kapan Ibu mulai bisa terima bagian yang tiga juta itu?"
Tanganku yang memegang gagang koper mengerat hingga buku-buku jariku memutih.
Inilah momennya. Penebusan dosa yang tidak pernah kulakukan.
Tanpa banyak bicara, aku mengeluarkan ponselku dari saku celana. Aku membuka aplikasi m-Banking. Mataku menatap lurus ke arah mata Ibu saat ibu jariku menavigasi menu transfer.
Aku mengetikkan nominal tepat di angka Rp 3.000.000.
Klik. Transfer berhasil.
Tiga detik kemudian, ponsel usang milik Ibu yang tergeletak di atas meja TV berbunyi 'ting'. Ada notifikasi SMS masuk.
"Ibu buka HP Ibu sekarang," perintahku datar.
Ibu menatapku heran, tapi ia segera berbalik, berjalan ke meja TV, dan meraih ponselnya. Ia membuka pesan tersebut.
Aku berdiri mematung, menatap punggungnya. Bahu Ibu mendadak tegap. Ia berbalik menatapku, matanya memancarkan kepuasan yang luar biasa.
"Tiga juta?" Suara Ibu bergetar senang. "Kamu baru masuk udah langsung gajian, Ra?"
"Itu signing bonus, Bu. Uang saku awal dari perusahaan untuk karyawan yang bersedia masuk mess malam ini juga," jelasku dengan kebohongan yang dirangkai sesempurna mungkin. "Dan mulai bulan depan, setiap tanggal satu, uang tiga juta itu akan otomatis masuk ke rekening Ibu sebagai bentuk kontribusi Nara."
Ibu tersenyum lebar. Sangat lebar. Senyum yang jarang sekali kulihat kecuali saat aku membawa pulang piala juara umum atau nilai ujian sempurna.
"Alhamdulillah. Kamu memang anak yang pinter, Nara. Ibu bangga sama kamu," ucap Ibu, mengusap lenganku dengan lembut. Sebuah sentuhan transaksional yang sudah kubayar lunas dengan uang muka dari seorang CEO.
"Nara pamit ya, Bu. Jaga kesehatan. Kalau Bapak pulang dari sawah, tolong sampaikan salam Nara," kataku, menarik pelan lenganku dari usapannya.
Aku meraih tangan kanannya yang sedikit kasar, lalu mencium punggung tangannya dengan hormat. Sebuah ciuman perpisahan yang sangat formal dan sama sekali tidak memiliki nyawa.
"Iya, hati-hati di jalan. Ingat, nurut sama atasan. Jangan bikin malu Ibu," pesannya.
Aku membalikkan badan, menyeret koperku menuju pintu depan.
Aku membuka pintu kayu rumahku, melangkah keluar ke beranda yang gelap, dan menutup pintu rumah itu di belakangku tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
Di luar, angin malam kota Jakarta menyapu wajahku.
Secara harfiah, aku baru saja menyelesaikan transaksi pembebasan diriku. Aku berhasil membeli jarak dari ibuku dengan harga tiga juta rupiah per bulan. Seharusnya aku merasa lega. Seharusnya aku bisa tersenyum.
Namun, saat aku berjalan menyusuri gang sempit menuju jalan raya di mana taksi online pesananku sudah menunggu... aku hanya merasakan kehampaan yang luar biasa luas di dalam dadaku.
Sangkar besiku yang penuh karat akhirnya sudah terbuka. Tapi burung yang ada di dalamnya, baru menyadari bahwa ia tidak pernah diajari cara untuk terbang bebas.
Malam ini, aku hanya berpindah kandang. Dari sangkar besi yang mencekik, menuju sangkar emas di lantai empat puluh Menara Adristo yang belum kuketahui seperti apa bentuk rantainya.