NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta Sahabat Suamiku

Terbelenggu Cinta Sahabat Suamiku

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 4.8
Nama Author: Red_Purple

‎Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.

‎Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.

‎Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.

‎"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.

‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

‎Nara baru saja keluar dari pintu toilet wanita. Wajahnya masih sedikit basah, baru saja selesai membasuh diri dan menenangkan diri setelah merasa pusing dan panas melihat pemandangan tadi.

‎‎Dia menarik napas panjang, berusaha memasang ekspresi datar kembali. "Aku tidak boleh lemah," bisiknya dalam hati. "Aku tidak boleh marah hanya karena melihat dia dekat dengan wanita lain,"

‎‎Namun, baru saja dia melangkah beberapa langkah menuju arah ballroom, langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat di kejauhan Rendra sedang berlari kecil ke arahnya.

‎‎Pria itu tampak panik, napasnya memburu, dan rambutnya sedikit berantakan. Matanya yang tajam kini memancarkan kekhawatiran yang tak terhingga saat melihat sosok Nara.

‎‎Jantung Nara serasa mau lepas. Kakinya seakan tertancap paku di lantai marmer yang dingin. Dia tidak bergerak, tidak bisa bergerak. Hanya terpaku memandang pria yang berlari menghampirinya itu dengan napas yang terengah-engah.

‎‎Rendra berhenti tepat di hadapannya. Wajahnya tampak lelah namun matanya menatap Nara dengan intensitas yang begitu kuat, seolah takut jika berkedip sedikit saja wanita itu akan menghilang.

‎‎"Nara..." panggil Rendra parau, suaranya terdengar berat dan bergetar. Tangannya terulur seakan ingin menyentuh, tapi ragu-ragu.

‎‎Nara refleks mundur selangkah, menjaga jarak. Dadanya naik turun menahan emosi yang campur aduk antara rindu, marah, cemburu, dan sakit hati.

‎‎"Kamu... kenapa ke sini?" tanya Nara dingin, berusaha menyembunyikan getar suaranya. Matanya memicing tajam, menatap wajah pria itu dengan penuh sindiran. "Disini banyak orang, sebaiknya kamu jangan dekat-dekat denganku, Ren. Aku tidak ingin ada yang melihat kita bersama,"

‎‎Rendra mengernyitkan kening. Kata-kata dingin Nara bagai pisau yang menyayat hatinya.

‎‎"Jangan dorong aku pergi, Nara..." suara Rendra terdengar parau dan memohon. Matanya yang tajam menatap manik mata wanita itu, mencoba mencari celah untuk masuk kembali. "Apa kamu marah karena melihat aku dengan Zoya tadi? Tolong dengarkan penjelasanku dul---"

‎‎‎"Apa yang perlu dijelaskan?!" potong Nara cepat, suaranya mulai bergetar menahan tangis yang siap meledak. "Aku tidak berhak marah melihatmu dekat dengan wanita manapun. Aku masih berstatus istri orang, istri dari sahabatmu!"

‎‎Air mata akhirnya jatuh membasahi pipi Nara. Dadanya terasa sesak, seakan ada batu besar yang menimpanya.

‎‎"Wanita tadi sangat cantik dan sempurna, sangat cocok buat kamu, Ren. Dan yang paling penting... dia lajang. Dia bisa berdiri di sampingmu, memegang tanganmu di depan umum tanpa perlu takut dan sembunyi-sembunyi seperti aku!" Nara tertawa miris, suara tangisnya bercampur rasa sakit yang luar biasa.

‎‎"Kenapa kamu harus repot-repot mengejarku? Kenapa harus mempertahankan hubungan yang tidak jelas arahnya ini? Aku lelah. Aku lelah cemburu tapi aku tidak punya hak. Aku lelah merasa berdosa setiap kali berada di dekatmu!"

‎‎Rendra memejamkan matanya erat-erat, mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut Nara terasa seperti pisau yang mengiris-iris jantungnya. Dia tidak tahan lagi mendengar wanita itu merendahkan dirinya sendiri dan memisahkan jarak di antara mereka.

‎‎"CUKUP!!" seru Rendra rendah namun penuh penekanan, memotong ucapan Nara dengan suara yang bergetar hebat.

‎‎Dengan langkah cepat dan tegas, Rendra melangkah maju. Sebelum Nara sempat mundur atau menghindar, tangan kekar pria itu langsung mencengkeram kedua bahu wanita itu, lalu dengan satu tarikan kuat dia menarik tubuh Nara hingga terbentur keras ke dada bidangnya.

‎‎"Jangan bicara seperti itu lagi." desis Rendra tepat di wajah Nara, matanya menatap tajam dan intens, memancarkan cinta dan amarah yang bercampur menjadi satu. "Jangan pernah bandingkan dirimu dengan wanita manapun! Bagiku, seluruh wanita di dunia ini tidak ada artinya selain kamu!"

‎‎"Ren... tolong lepaskan, nanti ada yang lihat..." Nara mencoba mendorong dada pria itu, tapi tangannya terlalu lemah, atau mungkin hatinya yang sebenarnya tidak ingin melepaskan.

‎‎"Biarkan!" bentak Rendra, namun suaranya tetap ditahan agar tidak terlalu keras. "Biarkan mereka lihat! Aku tidak peduli!"

‎‎"Selama ini aku sudah cukup sabar menyembunyikan perasaanku terhadapmu, Nara. Aku sudah cukup sakit melihatmu bersama pria lain." Suara Rendra terdengar parau dan berat, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Nara, memancarkan keputusasaan yang mendalam.

‎‎"Aku menahan diri karena dia sahabatku. Aku menghormati ikatan pernikahan kalian. Tapi malam ini... melihatmu berdiri disana, cantik luar biasa dengan gaun yang aku pilihkan sendiri, tapi harus tersenyum dan digandeng oleh orang lain... rasanya aku hampir gila!"

‎‎Rendra mengeratkan pelukannya, membuat Nara tak bisa bergerak sedikitpun. Wajahnya mendekat sangat dekat, hingga hidung mereka hampir bersentuhan.

‎‎"Jangan suruh aku pergi. Jangan suruh aku cari orang lain. Karena bagiku... tidak ada yang lebih pantas, tidak ada yang lebih berharga, dan tidak ada yang aku cintai selain kamu. Bahkan jika harus melanggar segalanya, bahkan jika harus kehilangan segalanya... aku tetap memilih kamu!"

‎‎Tanpa menunggu jawaban, tanpa memberi waktu bagi Nara untuk berpikir logis lagi, Rendra langsung menunduk dan mendaratkan ciumannya. Ciuman itu panas dan penuh gairah yang tak terbendung. Ciuman yang penuh rindu, cemburu, dan cinta yang meledak-ledak. Rendra memeluk pinggang Nara erat-erat, menempelkan tubuh mereka seolah ingin menyatu.

‎‎Nara yang tadinya mencoba menolak, kini tubuhnya lemas seketika. Kakinya gemetar, pertahanannya runtuh total. Matanya terpejam, air mata masih mengalir, tapi tangannya kini justru naik mencengkeram kerah jas Rendra, menarik pria itu semakin dekat, membalas ciuman itu dengan segala cinta dan rasa sakit yang dia punya.

‎‎Di koridor yang sepi itu, dunia seakan lenyap. Hanya ada detak jantung mereka yang berpacu menjadi satu, dan cinta terlarang yang semakin membara tak terbendung.

‎‎Ciuman itu dalam, mendesak, dan penuh kepemilikan. Rendra menuntut setiap inci dari bibir Nara, seolah ingin menghapus jejak siapa pun yang pernah menyentuh wanita itu selain dirinya. Tangannya bergerak liar membelai punggung dan pinggang Nara, membuat wanita itu semakin lemas dan tak berdaya di dalam pelukannya.

‎‎Nara membalas ciuman itu dengan putus asa. Air matanya masih mengalir, bercampur rasa manis dan pahit di antara bibir mereka. Dia tahu ini salah. Dia tahu dia sedang mengkhianati suaminya, menginjak-injak harga dirinya sendiri, tapi dia tidak bisa berhenti. Tubuh dan hatinya sudah tertawan sepenuhnya oleh pria di hadapannya ini.

‎‎"Ren... Ren..." Nara mengerang pelan di sela-sela ciuman, tangannya mencengkeram leher pria itu semakin erat.

‎‎Rendra sedikit melepaskan ciumannya, namun hanya untuk memindahkan serangannya ke leher putih mulus Nara. Dia mencium, menghisap, dan memberi tanda kepemilikan di sana dengan ganas, membuat Nara mendesah halus.

‎‎"Kamu milikku, Nara... Hanya milikku," desis Rendra parau di telinga wanita itu, napasnya panas dan memburu.

‎‎Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah ballroom. Seseorang sedang berjalan menuju koridor itu. Nara tersentak kaget, refleks mendorong dada Rendra dengan kuat.

‎‎"Ada orang datang, lepasin aku, Ren. Tolong..." bisiknya panik, wajahnya memerah padam, napasnya tersengal hebat.

‎‎Rendra menggeram kesal, tapi sadar situasi. Dengan cepat dia menarik tangan Nara, lalu dengan sigap menyeret wanita itu masuk ke dalam ruangan kecil di samping koridor, ruang penyimpanan barang atau storage room yang gelap dan sepi.

‎‎Pintu ditutup rapat dan dikunci dari dalam. Gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari celah pintu. Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara napas mereka berdua yang memburu karena adrenalin dan gairah yang belum reda.

‎‎Rendra langsung menekan tubuh Nara ke dinding dingin di belakang pintu. Dia kembali mendekap wajah wanita itu, menatap manik mata yang berbinar di kegelapan.

‎‎"Jangan bergerak..." bisik Rendra parau, suaranya terdengar serak dan berat. Matanya menyala di kegelapan, menatap Nara dengan intensitas yang membakar.

‎‎Namun, sebelum sempat terjadi apa-apa, suara yang sangat mereka kenal terdengar jelas dari balik pintu kayu itu.

‎‎"Nara... Nara, kamu di dalam sana?!"

‎‎Jantung Nara serasa berhenti berdetak. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar. Dia bisa mendengar suara langkah kaki suaminya yang berhenti tepat di depan pintu ruangan kecil tempat mereka bersembunyi.

‎‎"Sayang, kamu kenapa lama sekali di toilet? Aku mencarimu dari tadi," suara Arga terdengar khawatir, namun masih terdengar lembut. "Ayo balik ke dalam, acaranya sebentar lagi mau di mulai."

‎‎Nara menutup matanya kuat-kuat, air mata kembali menggenang. Rasa takut, panik, dan bersalah bercampur menjadi satu. Dia ingin menjawab, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Dia takut jika sedikit saja mengeluarkan suara, Arga akan tahu bahwa dia tidak sendirian di sana.

‎‎Rendra melihat betapa ketakutannya wanita di hadapannya. Tatapannya berubah dingin dan tajam menatap pintu, seakan ingin menembus kayu itu dan menatap sahabatnya sendiri dengan penuh kebencian karena telah mengganggu momen mereka.

‎‎Tangan Rendra semakin erat mencengkeram pinggang Nara, menahan wanita itu agar tidak bergerak dan tidak bisa menjawab panggilan suaminya. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Nara, berbisik dengan napas panas yang membuat bulu kuduk wanita itu meremang.

‎‎"Diamlah... biarkan dia memanggilmu semau dia. Biarkan dia sadar, bahwa saat ini, istrinya ada di dalam pelukanku."

-

-

-

Bersambung...

1
Farida Dalle
Nah lho... hmn Nara, sekarang kamu bilng benci pd Rendra, pdhl kalian sdh saling berbagi peluh... itulh kamu tetlalu yakin dg Rendra, nyesal jg kan??? iya psti nyesal lh, masak nggak🤣
Farida Dalle
Ayo Zoya, kamu hrs menceritakan semua yg km dengar... semoga ada peluang utk kamu dan Rendra
Farida Dalle
Kamu tdk mau baikan lg sm Arga krn km sdh
terpuaskan dg "barang " yg ada pd Rendra
🤭
Farida Dalle
Bongkar sekalian kebusujan Nara di depan orang tuanya, biar semua tahu bukan hanya Arga yg busuk
tp Nara jg...
Farida Dalle
Kamu yg lbh berengsek, Rendra... km tega menghancurkan rumah tangga sahabatmu😡
Farida Dalle
Kamu yg lbh berengsek, Rendra... km tega menghancurkan rumah tangga sahabatmu😡
Farida Dalle
Knp yah dlm novel ini semua tokoh2nya tdk ada yg akhlaknya baik... heran
Farida Dalle
Dasar si Nara,sama yg halal tdk mau tp giliran sm si Rendra dg suka rela ngangkang,dasar....
😡
Farida Dalle
lakukanlh Arga sesukamu, dia itu msh istrimu, yg tdk sah sj bisa dg bebas keluar masuk tanpa hambatan apalgi km yg msh berstatus suami... puaskan si gatal itu biar tdk mencari barang yg lain garuk smpe puas, wkwk
Farida Dalle
Rendra.... plis deh kamu itu sakit jiwa, tdk ada seorng sahabat yg menusuk sahabatnya dg pisau berkarat... kewarasan km benar2 dipertanyakan, mmngnya tdk ada wanita lain, sehingga hrs mengganggu istri orng, ini jg si Nara moralnya sdh rusak, mau2 aja dipeluk2dan dibawa tidur sm laki2 sementara msh jd istri, hadeuhhhh 🤭🤮🙏🙏
Farida Dalle
Kamu curhat pd orng yang salah Ga, dia itu bukan sahabatnu, tp dia adlh iblis... boleh gak thor klu aq nampar si Rendra, biar puas hati ini, sumpah thor aq sebel sampe ubun2😡😡😡
🔥Violetta🔥: Tampar aja kak 🤣🤣🤣✌️✌️
total 1 replies
Farida Dalle
pusing aq tuh.... jd nda bisa ngomong, kedua2nya bikin sebel, iya gak sih.... 🤭🤮
Farida Dalle
Jadi penasaran thor, gmn reaksi Arga klu Nara tiba2 hamil??? 🤔
Farida Dalle
Memangnya Arga ank kcl yg bisa dibohongi, klu itu adlh digigit binatang, Arga jg pengalaman keles🤭🤣
Farida Dalle
Hubungan yg sangat menjijikkan, Rendra adalh iblis berkedok sahabat😡
Farida Dalle
Mending kamu sm Zoya aja tuh Ren, jangan ganggu rumah tangga sahabatmu
Farida Dalle
Nara sdh tdk mau memperbaiki hubungannya dgnmu Arga, krn sdh candu dg yg lbh hot dn lbh beeeesaaaar🤣🤣🤣
Farida Dalle
Thor, biasanya klu tokoh utama itu sifat dn prilakunya baik, tp ini koq sangat2 menyebalkan yah... maaf🙏
🔥Violetta🔥: Yang ini emng dibuat agak laen kak 🤭🤭✌️✌️🤣🤣
total 1 replies
Farida Dalle
Seharudnya klu mmng Rendra sangat mr cintai Nara, dia tdk akan tega melakukan semua itu ke Nara, Rendra tega merisak rumah tangga sahabatnya dg dalih cinta... yuhhhh gak banged deh, dan dg seenak2nya menikmati tubuh si Nara... itukh yg disebut cinta? atau perusak???
Farida Dalle
Gak banged deh ini Rendra, egois ... trus si Nara nya jg, mau2 sj ditidurin sm si Rendra, klu mmng lbh suka ke Rendra, mending minta cerai dulu lah, setelhnya teserah.... mau tidur, mau tengkurap, atau apa aja serah deh..... 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!