Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 - Pernikahan Tanpa Pilihan
Pagi datang terlalu cepat bagi Alyssa, seolah malam bahkan tidak sempat benar-benar terjadi untuknya. Ia terjaga sejak sebelum matahari terbit, duduk diam di tepi ranjang dengan mata yang berat dan pikiran yang tidak pernah benar-benar beristirahat. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan tentang hari ini selalu kembali, memaksanya terjaga dalam kecemasan yang tidak kunjung reda.
Gaun pengantin yang bukan miliknya, pria asing yang akan menjadi suaminya, dan keputusan yang terasa seperti jebakan terus berputar di kepalanya. Semuanya terasa terlalu nyata untuk diabaikan, tetapi juga terlalu asing untuk diterima. Ia bahkan tidak yakin apakah dirinya masih memiliki kendali atas hidupnya sendiri.
Ketukan di pintu terdengar pelan, namun cukup untuk menariknya kembali ke kenyataan. Suara ibunya mengikuti, terdengar lebih kaku dibanding biasanya, seolah berusaha terdengar normal meskipun gagal sepenuhnya.
“Alyssa, cepat keluar. Waktunya bersiap.”
Alyssa menarik napas panjang sebelum berdiri. Kakinya terasa berat, seperti menolak melangkah menuju sesuatu yang tidak ia inginkan, tetapi ia tetap berjalan. Tidak ada pilihan lain yang tersisa untuknya sekarang.
Hari ini, ia akan menikah. Bukan karena cinta, bukan karena keinginannya sendiri, melainkan karena keadaan yang memaksanya tunduk tanpa ruang untuk melawan.
Begitu pintu dibuka, dua wanita asing sudah berdiri di ruang tengah dengan koper besar di samping mereka. Mereka terlihat terbiasa dengan situasi seperti ini, bergerak cepat tanpa banyak bicara, seolah waktu adalah sesuatu yang tidak boleh disia-siakan.
“Cepat duduk, waktunya mepet,” kata salah satu dari mereka dengan nada profesional.
Alyssa hanya mengangguk dan menurut. Ia duduk di kursi yang sudah disiapkan, membiarkan mereka mulai bekerja tanpa perlawanan. Sentuhan kuas, bedak, dan berbagai alat rias terasa dingin di kulitnya, seperti mengubah wajahnya menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Ibunya berdiri di samping, memperhatikan dengan saksama. Sesekali ia memberi komentar kecil, lebih banyak pada hasil riasan daripada pada Alyssa sendiri.
“Kalau Arin yang pakai gaun ini pasti lebih cocok,” gumamnya tanpa sadar.
Tangan Alyssa yang berada di pangkuannya perlahan mengepal. Ia menahan diri untuk tidak bereaksi, meskipun kata-kata itu terasa seperti tusukan kecil yang terus berulang.
Salah satu perias tersenyum canggung, mencoba mencairkan suasana. “Sebenarnya Nona Alyssa juga cantik, Bu. Tinggal disesuaikan saja riasannya.”
“Iya, tapi Arin itu beda,” jawab ibunya ringan. “Aura-nya lebih elegan.”
Alyssa menatap bayangannya di cermin. Wajah itu tampak rapi, bahkan cantik dengan cara yang tidak biasa baginya, tetapi tidak ada kehangatan di sana. Yang ia lihat hanyalah seseorang yang sedang dipersiapkan untuk menjalani peran, bukan hidupnya sendiri.
Gaun putih yang ia kenakan jatuh pas di tubuhnya, kainnya halus dan detailnya indah. Namun, semua itu terasa asing, seperti sesuatu yang hanya dipinjam sementara. Sejak awal, semua ini memang bukan miliknya.
“Aku cuma pengganti,” bisiknya pelan.
Salah satu perias sempat berhenti, lalu melanjutkan pekerjaannya tanpa komentar. Mungkin ia mendengar, mungkin juga memilih untuk tidak terlibat.
Di luar, suasana rumah tetap sunyi. Tidak ada dekorasi yang berlebihan, tidak ada tanda-tanda perayaan, hanya kesibukan yang berjalan cepat dan efisien. Segalanya terasa seperti kewajiban yang harus segera diselesaikan, bukan momen yang dinantikan.
“Alyssa, sudah siap?” suara ayahnya terdengar dari pintu.
Ia mengangguk pelan tanpa benar-benar menatap. Ia tidak yakin apa arti siap dalam situasi seperti ini, tetapi ia tidak punya energi untuk menjelaskan.
Ayahnya menatapnya beberapa detik sebelum berkata, “Ingat, jangan membuat masalah di sana.”
Kalimat itu terasa lebih seperti peringatan daripada nasihat. Alyssa hanya menunduk, menyimpan semua reaksi yang ingin ia keluarkan.
Perjalanan menuju gedung berlangsung dalam diam yang menekan. Mobil terasa sesak meskipun hanya diisi tiga orang, seolah udara di dalamnya ikut membeku bersama suasana. Tidak ada yang mencoba berbicara, tidak ada yang berusaha mengubah keadaan.
Alyssa duduk di kursi belakang, menatap keluar jendela. Jalanan tampak normal, orang-orang menjalani hari mereka seperti biasa, tidak ada yang tahu bahwa hidup seseorang sedang berubah secara paksa di balik kaca mobil itu.
Langit terlihat cerah, kontras dengan perasaannya yang semakin gelap. Ia merasa seperti sedang menuju sesuatu yang tidak bisa ia hindari.
Saat mobil berhenti di depan gedung, perbedaan langsung terasa. Bangunan itu besar dan megah, dengan lantai marmer yang mengkilap dan dekorasi bunga yang tertata sempurna. Lampu gantung besar menggantung di langit-langit, menciptakan kesan mewah yang sulit diabaikan.
Ini bukan sekadar pernikahan biasa. Ini pernikahan yang dirancang untuk menunjukkan status dan kekuasaan.
Begitu mereka masuk, tatapan orang-orang langsung tertuju. Alyssa bisa merasakan bisikan yang beredar di antara para tamu, meskipun tidak semua kata terdengar jelas.
“Bukannya ini bukan Arin?”
“Kenapa pengantinnya beda?”
“Katanya yang menikah putri sulung…”
Setiap tatapan terasa menekan. Alyssa menundukkan kepala, berusaha menghindari pandangan mereka, tetapi tetap merasakannya seperti beban di punggungnya.
Ibunya menggenggam lengannya lebih erat dari sebelumnya. Sentuhan itu bukan memberikan kenyamanan, melainkan memastikan bahwa ia tidak akan pergi ke mana-mana.
“Kamu harus kuat,” bisik ibunya.
Alyssa tidak menjawab. Ia tidak yakin apakah kuat masih menjadi pilihan atau sekadar kata yang diucapkan tanpa makna.
Di ruang tunggu, ia kembali duduk di depan cermin. Kali ini, bayangan itu terasa semakin jauh dari dirinya sendiri. Gaun putih, riasan sempurna, semuanya membentuk sosok yang tampak siap menikah, tetapi hatinya kosong.
Pintu terbuka pelan, dan seorang wanita elegan masuk dengan langkah percaya diri. Cara ia berdiri dan menatap menunjukkan bahwa ia terbiasa berada di posisi atas, menilai tanpa perlu menyembunyikan apa pun.
“Jadi ini penggantinya?” katanya tanpa basa-basi.
Ibunya langsung berdiri. “Iya, Bu. Ini Alyssa.”
Wanita itu mendekat, mengamati Alyssa dari atas sampai bawah dengan tatapan yang tajam. Tidak ada usaha untuk bersikap ramah, hanya penilaian yang terang-terangan.
“Jauh sekali dibanding Arin,” ucapnya datar.
Alyssa merasakan dadanya menegang. Ia tidak membalas, tetapi kata-kata itu tetap meninggalkan bekas.
“Saya tidak punya banyak waktu,” lanjut wanita itu. “Pastikan dia tidak membuat masalah.”
Ibunya mengangguk cepat, hampir terlalu cepat. “Tentu.”
Wanita itu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban. Kehadirannya singkat, tetapi cukup untuk meninggalkan kesan yang tidak menyenangkan.
Alyssa tersenyum kecil pada bayangannya sendiri. “Semua orang terus membandingkan,” katanya pelan. “Seolah aku ini cuma bayangan.”
Ibunya tetap diam. Tidak ada pembelaan, tidak ada bantahan.
Ketika panggilan untuk memulai acara terdengar, Alyssa berdiri. Kakinya terasa berat, tetapi tetap melangkah. Setiap langkah menuju altar terasa seperti berjalan menuju sesuatu yang tidak bisa dibatalkan.
Di ujung sana, seorang pria berdiri.
Tinggi, tegap, mengenakan jas hitam yang pas di tubuhnya. Wajahnya tampan dengan garis tegas, tetapi tidak ada kehangatan di sana. Tatapannya dingin, penuh jarak, seolah dunia di sekitarnya tidak pernah benar-benar menyentuhnya.
Itulah Daren Wijaya.
Semakin dekat, aura pria itu terasa semakin jelas. Ada sesuatu yang kaku dan tertutup, seperti tembok yang tidak mudah ditembus oleh siapa pun.
Ketika Alyssa berdiri di sampingnya, Daren menoleh. Tatapan mereka bertemu, tetapi tidak ada sapaan atau senyum. Hanya keheningan yang terasa lebih berat daripada kata-kata.
Upacara berlangsung cepat. Suara penghulu terdengar samar di telinga Alyssa, seolah datang dari jauh. Ia hanya mengikuti instruksi, mengucapkan jawaban yang diminta, menjalani semuanya seperti seseorang yang sedang memainkan peran.
Ketika ijab kabul selesai, tepuk tangan terdengar. Namun Alyssa tidak merasakan apa-apa selain kehampaan yang semakin luas di dalam dirinya.
Setelah itu, mereka diberi waktu di ruangan terpisah sebelum resepsi dimulai. Begitu pintu tertutup, hanya ada mereka berdua dalam keheningan yang canggung.
Alyssa berdiri beberapa langkah dari Daren. Ia tidak tahu harus memulai dari mana, atau apakah memang perlu memulai sesuatu.
Daren melepas jasnya dengan santai, lalu menatapnya. Tatapannya tetap sama, dingin dan menilai, seolah ia sedang mengamati sesuatu yang tidak terlalu penting.
“Aku tidak peduli siapa kamu,” katanya akhirnya. “Mau kamu Alyssa, Arin, atau siapa pun.”
Kalimat itu menghantam tanpa peringatan. Alyssa menahan napas, merasakan kata-kata itu menetap di pikirannya.
“Jangan berharap apa pun dariku,” lanjutnya. “Pernikahan ini hanya formalitas.”
Setiap kata terasa seperti memperjelas posisi mereka. Tidak ada ruang untuk harapan, tidak ada ilusi yang perlu dipertahankan.
Alyssa mengangkat wajahnya sedikit. Ia ingin marah, ingin melawan, tetapi yang muncul justru rasa lelah yang dalam.
“Aku juga tidak berharap apa-apa,” jawabnya tenang.
Daren sedikit mengangkat alis, seolah tidak menyangka jawaban itu. Ia menatap Alyssa beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya berkata singkat, “Bagus.”
Keheningan kembali mengambil alih. Alyssa memalingkan wajah, menatap ke arah jendela. Dari sana terlihat para tamu yang mulai berdatangan, tersenyum dan berbincang, merayakan sesuatu yang tidak ia rasakan.
“Aku hanya ingin satu hal,” katanya pelan.
Daren menatapnya. “Apa?”
“Jangan membuat hidupku lebih sulit dari ini.”
Pria itu terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. Senyum itu tidak sampai ke matanya, membuatnya terasa lebih dingin daripada ekspresi tanpa senyum.
“Itu tergantung kamu.”
Jawaban itu menggantung, penuh makna yang tidak jelas. Alyssa tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu beberapa hal tidak perlu dijelaskan untuk bisa dipahami.
Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya sendiri. Sesuatu di dalam dirinya mulai berubah, perlahan tetapi pasti.
Ia memang tidak memilih semua ini. Namun ia sudah berada di dalamnya, dan tidak ada jalan untuk kembali.
Di hadapannya, Daren Wijaya berdiri dengan sikap yang tidak berubah. Pria yang tidak berusaha berpura-pura peduli, dan mungkin tidak pernah berniat untuk melakukannya.
Alyssa menutup matanya sejenak, lalu membukanya kembali. Hari ini mungkin awal dari penderitaan, atau sesuatu yang lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Yang jelas, ini bukan akhir.
Ini baru permulaan.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔