NovelToon NovelToon
JALAN PENDEKAR NAGA

JALAN PENDEKAR NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Hamtaro Dasha

Seri Kedua dari Lahirnya Pendekar Naga!

___
Kemunculan Pendekar Naga telah mengguncang keseimbangan dunia—membangunkan makhluk kuno dan menarik perhatian kekuatan yang telah lama menunggu dalam bayang-bayang.

Dunia berubah.

Sekte-sekte hancur tanpa sisa. Jejak kehancuran menyebar tanpa arah… dan pelakunya adalah sosok yang tidak pernah dibayangkan oleh Wei Zhang Zihan.

Chu Kai.

Sebagai Pendekar Suci, Wei Zhang Zihan tidak punya pilihan selain menelusuri jejak itu—mengungkap kebenaran yang tersembunyi, dan menghadapi satu kenyataan yang tidak ingin ia percayai:

Mungkin, orang yang harus ia hentikan… adalah orang yang seharusnya menjadi pelindung dunia.

Pendekar Naga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamtaro Dasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16 - Ibu Long Yang Wang

Meninggalkan kekacauan yang terus berkecamuk di bawah—Wei Zhang Zihan sendiri melintas tanpa suara di sisi tebing.

Pedang terbangnya melaju rendah, menempel pada dinding batu yang curam. Aura tubuhnya sepenuhnya tersembunyi oleh kekuatan Wei Shezi, dan membuat keberadaannya seolah lenyap dari dunia.

Tidak ada yang menyadari ataupun melihat Wei Zhang Zihan, termasuk ketika ia melewati sebuah jalur sempit yang terbuka di antara tebing dan mengarah menuju puncak—tempat penjara yang mengurung ibu Long Yang Wang berada.

Angin di sini terasa berbeda. Lebih dingin dan berat ketika menyentuh wajah Wei Zhang Zihan. Ada bau besi yang semakin kuat, disertai aroma darah yang kemungkinan telah mengering selama bertahun-tahun.

Tap.

Wei Zhang Zihan mendarat di sebuah dataran batu. Di depannya berdiri gerbang besar dari besi hitam, tertanam langsung di dinding tebing.

Permukaan gerbang itu dipenuhi ukiran segel yang berdenyut samar, menandakan kekuatan penahan yang tidak biasa. Ini jelas bukan sekadar penjara—tetapi tempat penyegelan.

Wei Zhang Zihan menyipitkan matanya dan tanpa ragu mengangkat tangan. Energi spiritualnya mengalir halus, menyentuh permukaan segel itu dan riak kecil muncul.

Kening Wei Zhang Zihan mengerut. Dia hanya memeriksa gerbang tersebut namun bisa merasakan segelnya melemah—seolah tempat ini telah diganggu hingga menjadi rusak.

Wei Zhang Zihan bernapas pelan sebelum mulai mendorong gerbang itu dengan ringan.

!

Sesuatu yang mengejutkan adalah gerbang tersebut terbuka dengan suara gesekan besi yang menggema pelan, menusuk kesunyian.

Di dalam gerbang itu Wei Zhang Zihan melihat ada lorong panjang yang terbentang, diterangi obor-obor redup yang hampir padam. Saat ia berjalan, dinding yang ia perhatikan lembap dan dipenuhi noda asing yang sulit dikenali.

Wei Zhang Zihan melangkah masuk dengan tetap waspada. Setiap langkahnya bergema, pelan, namun terukur.

Semakin dalam jauh ia berjalan—semakin kuat tekanan yang dirasakannya. Ini jelas bukan tekanan dari luar, tetapi dari dalam penjara itu sendiri—Seolah-olah sesuatu memang sedang menunggunya.

Langkah Wei Zhang Zihan akhirnya terhenti.

Di ujung lorong, terlihat sebuah ruangan yang terbuka. Di dalam ruangan itu ada rantai-rantai besar yang menjuntai dari dinding dan langit-langit—berkilau samar dengan segel yang menahan kekuatan di dalamnya.

Di tengah ruangan itu—ada satu sosok yang terikat. Rantai panjang melilit kakinya. Namun, sosok itu duduk tenang di atas dipan giok. Pakaian putihnya rapi dan rambut panjangnya terurai lembut.

Tempat ini seharusnya penjara. Namun dari apa yang dilihat Wei Zhang Zihan—justru tempat ini tidak terlihat seperti tempat penyiksaan.

Wei Zhang Zihan terdiam sejenak. Tatapannya menyapu ruangan itu—di mana tanaman hias tertata rapi dan batu bercahaya tertanam di dinding sebagai penerang.

Sekarang semakin jelas bahwa tidak ada kesan penderitaan apa pun di tempat ini. Bahkan ia merasa bahwa sosok yang terikat rantai tersebut—menjalani hidup yang cukup baik, nyaris mendamaikan.

Sosok itu sendiri menyadari keberadaan Wei Zhang Zihan dan perlahan kepalanya pun terangkat. Sepasang mata itu terbuka, jernih, dengan pupil mata yang tidak ada bedanya dengan milik manusia—menatap langsung ke arah pemuda yang ada di hadapannya.

"... Manusia?"

Wei Zhang Zihan menarik napas pelan. Dia pun melangkah mendekat. "Aku datang untuk membawa Anda keluar."

Sosok itu terdiam. Tatapannya menelusuri wajah Wei Zhang Zihan, seakan mencari sesuatu.

"Kau bukan putraku."

Wei Zhang Zihan tersentak. Untuk sejenak, napasnya tertahan—bukan karena ucapan yang ia dengar barusan, tetapi dari cara wanita itu mengatakannya dan nada suara yang begitu tenang tersebut—terasa seperti sosok yang ia lihat sebenarnya tidak benar-benar kehilangan kebebasannya.

Wanita di hadapannya memiliki ketegasan dengan suara dan juga sikapnya. Bahkan sosok itu menatapnya cukup tajam, nyaris membahayakan.

"Putraku seharusnya yang ada di sini. Jadi... siapa kau?"

Wei Zhang Zihan menarik napas. Dia pun menyatukan tangan dan memberi hormat. Nada suaranya pelan, "Aku Wei Zhang Zihan, pendekar dari Sekte Gunung Wushi. Putramu—Long Yang Wang... saat ini sedang bertarung dengan para penjaga."

Wanita itu menyipitkan matanya. "Apa kau... teman putraku?"

"Aku... pernah menyelamatkannya." Wei Zhang Zihan dengan jujur berkata. "Kami bukan teman, tapi juga bukan musuh. Aku sebenarnya membutuhkan bantuan Long Yang Wang."

Wanita berambut panjang itu memperhatikan Wei Zhang Zihan dengan saksama. Tidak ada tanda bahwa pemuda tersebut mempunyai niat yang buruk—bahkan sejujurnya ia melihat orang ini memiliki karakter yang murni dan bijaksana.

"Aku melemahkan segel pada gerbang penjara ini, dan rantai besi muncul—mengikatku sebelum gerbangnya hancur." wanita itu buka suara. Ia sedikit menggerakkan kakinya dan rantai itu pun bergetar untuk sesaat. "Jika kau dapat membantuku melemahkan rantai ini... Aku akan bisa membebaskan diri."

Wei Zhang Zihan memperhatikan rantai yang melilit kaki wanita di hadapannya. Dia pun mengarahkan pandangan pada ujung rantai yang terpaku di dinding sebelum akhirnya mengeluarkan pedang pusakanya.

"Aku akan mulai."

Wei Zhang Zihan mengalirkan energi spiritual ke dalam pedangnya. Kekuatan itu berkumpul di ujung bilah, berputar perlahan sebelum membentuk pusaran angin yang semakin membesar. Udara di sekitarnya ikut tertarik, bergetar halus seolah tidak mampu menahan tekanan yang terkumpul.

******

1
enda harahap
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Indah Hidayat
roh pedangnya cantik
Alw
orang tidak waras itu kembali
Nanik S
Kong Yang akhirnya bisa melihat ibunya
Nanik S
Ibunya mengenali Aura dari Anaknya
Nanik S
Keren dan keren
Nanik S
Ling Yang
Nanik S
Shen Quyang apakah juga akan mati ditangan Kai
Nanik S
Musuh baru Kai
Nanik S
NEXT
Hydro7
Shuxiang! Kau pikir Chu Kai adalah leluhur Bocah pengemis gila....?
Nanik S
Untung Wei Zhang Zihan dibawa melesat oleh sicantuk agar kepalanya tidak meledak
Nanik S
Cuuuuuust
Nanik S
Roh Pedang Cantik dan genit tapi bisa bermain usil juga
Nanik S
Long Wang Yang dikurung Ayahnya sendiri
Nanik S
apakah Wei Zhesi masih mengikuti Wei Zhang Zihan
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Wei Zhise... roh pedang bisa suka dengan ketampanan Roh Pedang milik Kai🤣🤣🤣
Nanik S
Ternyata benar pembantaian dilakukan oleh Chu Kai
Nanik S
Dimana Kau berada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!