NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Pengembara

Pendekar Naga Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.

Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.

Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.

Mampukah sang legenda menggapai impiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Tian Feng dan Tian Mei

Langkah kaki Tian Shan terhenti di tengah jalan setapak yang membelah hutan bambu.

Angin berdesir, membawa aroma yang sangat ia kenali—aroma dupa khas kediaman Klan Tian yang sudah tiga tahun tidak ia hirup.

Di depannya, dua sosok berdiri dengan pakaian zirah ringan berwarna perak, lambang harimau putih terukir jelas di dada mereka.

​"Tian Shan!" teriak pemuda itu, suaranya penuh dengan amarah yang tertahan.

​"K-kakak ..." desis gadis di sampingnya, matanya membelalak tak percaya.

​Mereka adalah Tian Feng dan Tian Mei, adik-adik kandung Tian Shan.

Tiga tahun lalu, mereka memandang rendah kakak mereka sebagai "sampah" yang tidak bisa berkultivasi.

Namun kini, tekanan Qi yang terpancar dari tubuh Tian Shan membuat bulu kuduk mereka berdiri.

​"Ranah Pendekar Bumi Tahap Menengah?" gumam Tian Feng, wajahnya memucat namun matanya dipenuhi api kebencian. "Bagaimana mungkin sampah sepertimu bisa mencapai level itu hanya dalam tiga tahun?!"

​Tian Feng bergetar hebat. Ingatannya melayang pada hari di mana Tian Shan membunuh Tian Yu lalu menghilang begitu saja.

Bagi Tian Feng, ini bukan sekadar pertemuan kembali; ini adalah kesempatan untuk membalas dendam.

​"Akhirnya aku menemukanmu, sialan! Kau telah membunuh Kakak Yu lalu pergi melarikan diri! Dasar pengkhianat klan!"

​Tanpa peringatan, Tian Feng menarik pedangnya. Cahaya biru gelap menyelimuti bilahnya saat ia melesat ke arah Tian Shan dengan niat membunuh yang murni.

​Tian Shan tetap diam, berdiri setegak gunung. Ia tidak menggunakan kecapi atau serulingnya. Tangannya bergerak ke hulu Pedang Penjaga Langit, artefak rohani yang baru saja ia dapatkan.

​SYUT!

​Gerakan Tian Shan terlalu cepat untuk ditangkap mata telanjang. Hanya terdengar suara dentingan logam yang halus, diikuti oleh serangkaian tebasan udara yang membelah kabut.

​Tian Feng mematung di tempatnya. Ia tidak sempat mengeluarkan satu serangan pun.

Detik berikutnya, pakaian zirahnya robek berkeping-keping, dan puluhan luka sayatan dangkal muncul di sekujur tubuhnya.

​BRUK!

​Tian Feng ambruk, seluruh tenaganya seolah-olah tersedot habis ke dalam bumi. "A-apa ... yang ... kau lakukan ... kepadaku?" rintihnya, menatap kakaknya dengan horor.

​Tian Shan tidak menjawab. Ia berjalan perlahan ke arah Tian Mei yang kini menggigil ketakutan.

Gadis itu mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya membentur batang bambu.

Saat ia melihat tangan Tian Shan bergerak ke arah hulu pedangnya, Tian Mei jatuh terduduk dan memejamkan mata rapat-rapat, menunggu ajal menjemput.

​Hening.

​Satu detik, dua detik ... ia masih merasakan napasnya sendiri.

​Tian Mei membuka matanya perlahan. Ia melihat Tian Shan sudah berdiri tepat di hadapannya, menyarungkan kembali pedangnya dengan gerakan yang sangat tenang.

​"K-kakak ... tidak membunuhku?" tanya Tian Mei, suaranya nyaris hilang.

​"Untuk apa?" sahut Tian Shan datar. "Membunuhmu tidak akan memberiku keuntungan apa pun."

​Mendengar itu, mereka berdua tertegun. Selama bertahun-tahun mereka telah bersikap buruk dan menghina Tian Shan, namun sekarang, saat Tian Shan memiliki kekuatan untuk melenyapkan mereka dalam sekejap, ia justru memilih untuk tidak melakukannya.

​Tian Shan mengulurkan tangannya ke arah Tian Mei, membantunya berdiri. "Katakan padaku, kenapa keluarga Tian tidak memburuku secara besar-besaran selama tiga tahun ini?"

​Tian Mei sempat ragu, tangannya gemetar saat menyentuh tangan kakaknya. "I-ini semua berkat Ibu. Ibu memohon kepada tetua agar tidak mengirim pembunuh bayaran. Ia tidak ingin melihat kakak dibunuh. Walaupun begitu ... Klan tetap menuntut agar kau dihukum karena kematian Kakak Yu."

​Tian Shan terdiam sejenak. Tatapannya melembut sesaat sebelum kembali dingin. "Ternyata dia tetap seorang ibu," gumamnya pelan.

​Tian Shan melepaskan tangan Tian Mei dan mulai berjalan pergi, tidak ingin terikat lebih jauh dengan bayang-bayang masa lalu yang menyesakkan.

​"Bakat kalian memang luar biasa," ucap Tian Shan tanpa menoleh. "Sebentar lagi kalian akan mencapai ranah Pendekar Bumi Tahap Menengah. Orang tua kalian pasti sangat bangga memiliki anak-anak jenius seperti kalian."

​"Mereka kan orang tuamu juga, keparat!" teriak Tian Feng dari tanah, mencoba bangkit meskipun tubuhnya masih lemah.

​Langkah kaki Tian Shan terhenti sejenak, namun ia tidak berbalik. "Ya, secara darah. Tapi dibandingkan dengan kalian yang dimanja, aku diperlakukan lebih buruk dari anak tiri."

​Tian Shan terus berjalan, jubahnya berkibar ditiup angin hutan. Namun, ia menyadari sesuatu yang aneh.

Suara langkah kaki kecil terus mengikuti di belakangnya. Tian Feng dan Tian Mei, meski terluka secara fisik dan mental, tetap mengikutinya dari kejauhan.

Rasa penasaran dan keheranan atas perubahan drastis kakaknya mengalahkan rasa takut dan benci mereka.

​Tian Shan menghela napas panjang. Sepertinya, perjalanannya kali ini tidak akan sesunyi yang ia bayangkan.

​Tian Shan melangkah dengan ritme yang konsisten, seolah setiap detak jantungnya selaras dengan rotasi bumi di bawah kakinya.

Meskipun di belakangnya terdengar langkah kaki yang terseok-seok dan napas yang memburu, ia tidak menoleh, namun ia juga tidak mempercepat langkah untuk meninggalkan mereka.

​"Kakak, tolong berhenti sebentar. Kak Tian Feng ... dia butuh istirahat," suara Tian Mei memecah kesunyian hutan bambu, penuh nada memohon.

​Tian Shan berhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Tian Feng yang wajahnya meringis menahan perih dari luka sayatan yang ia berikan tadi.

Luka itu memang sengaja tidak ia buat dalam, namun energi Qi yang tertinggal di sana terus berdenyut, mengganggu aliran tenaga dalam adiknya.

​"Apa kalian punya tungku alkimia?" tanya Tian Shan datar.

​Tian Mei berkedip bingung, namun tangannya segera bergerak menuju kantong penyimpanan di pinggangnya.

Sebuah tungku kecil berbahan tembaga kuno muncul di telapak tangannya. "Ini ... Kakak bisa melakukan alkimia?"

​Tanpa menjawab, Tian Shan menggerakkan jari telunjuknya. Dengan kendali gravitasi yang halus, tungku itu melayang dari tangan Tian Mei dan mendarat dengan anggun di hadapan Tian Shan.

Ia kemudian mengeluarkan beberapa helai daun berurat emas dan akar pohon yang tampak biasa saja, yang sempat ia petik di pinggir jalan selama perjalanannya.

​Tian Shan mulai bekerja. Ia tidak membutuhkan api unggun.

Ia menggosokkan telapak tangannya, menciptakan panas dari gesekan Qi murni yang ia miliki.

Tangannya bergerak sangat telaten, memasukkan bahan-bahan satu per satu dengan urutan yang sangat presisi.

​Tian Feng dan Tian Mei hanya bisa mematung. Di mata mereka, kakaknya yang dulu dianggap "cacat kultivasi" kini melakukan teknik pemurnian bahan yang bahkan hanya bisa dilakukan oleh alkemis tingkat lanjut di klan mereka.

​BOOM!

​Suara dentuman kecil keluar dari dalam tungku, diikuti aroma herbal yang sangat kuat dan segar.

Tian Shan membuka tutupnya, lalu menuangkan cairan berwarna hijau bening ke dalam sebuah mangkuk kayu kecil.

​"Minumlah itu. Aku membuatnya dalam bentuk cair agar tubuhmu yang lemah itu mudah mencernanya," ucap Tian Shan sembari menyerahkan mangkuk tersebut.

​Tian Feng berdecak kesal, gengsinya masih setinggi langit. Namun, melihat tatapan dingin kakaknya, ia terpaksa menelannya habis. "Pahit sekali!" keluhnya, namun dalam hitungan detik, matanya membelalak. Rasa perih di lukanya mereda, dan aliran tenaga dalamnya yang sempat macet kini kembali mengalir deras.

​"Lukamu akan menutup dalam beberapa hari. Jangan banyak mengeluh," sahut Tian Shan.

​Tian Shan kemudian berjalan menuju sebuah pohon tua yang akarnya menonjol keluar.

Ia duduk bersandar di sana, lalu melepaskan Kecapi Perunggu Kuno dari punggungnya.

Suasana hutan mendadak berubah menjadi sunyi, seolah alam sedang menahan napas menunggu sesuatu.

​Tian Shan meletakkan jari-jarinya di atas senar logam tersebut. Dengan satu petikan lembut, sebuah nada rendah bergema, menyebar melintasi pepohonan bambu seperti riak air di danau yang tenang.

​JREEENG ...

​Nada berikutnya mengikuti dengan ritme yang lebih cepat, namun tetap lembut. Musik itu tidak seperti lagu-lagu istana yang kaku; itu adalah suara bumi.

Ada suara gemericik air yang jernih, suara angin yang berbisik di antara daun, dan kekuatan gunung yang kokoh di dalam setiap nadanya.

​Keajaiban dimulai.

​Dari balik semak-semak, seekor kelinci hutan keluar dengan ragu-ragu, lalu mendekat dan duduk diam di dekat kaki Tian Shan.

Di atas dahan pohon, kawanan burung dengan bulu warna-warni hinggap secara bersamaan, mereka tidak berkicau, melainkan menundukkan kepala seolah sedang memberi hormat pada sang pemusik.

​Tian Feng dan Tian Mei terpesona. Mereka belum pernah mendengar melodi seindah ini.

Setiap nada yang dipetik Tian Shan seolah-olah menyentuh jiwa mereka, membersihkan sisa-sisa amarah dan kebencian yang selama ini mereka simpan.

Tian Feng, yang tadinya penuh dendam, kini menatap kakaknya dengan pandangan yang sulit diartikan—ada kekaguman yang mulai tumbuh di balik rasa irinya.

​Seekor rusa spiritual dengan tanduk yang bercahaya kebiruan muncul dari kegelapan hutan.

Hewan langka itu biasanya akan lari jika melihat manusia, namun kali ini, ia berjalan tenang dan meletakkan kepalanya di bahu Tian Shan.

​Tian Shan terus bermain, matanya terpejam. Di dalam pikirannya, ia tidak hanya sedang bermain musik; ia sedang berkomunikasi dengan setiap helai rumput dan setiap makhluk hidup di sana.

Melodi itu menjadi jembatan antara dirinya yang dingin dan dunia yang luas ini.

​Cahaya matahari yang menembus celah daun bambu tampak menari-nari mengikuti irama kecapi. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti.

Tidak ada lagi dendam keluarga Tian, tidak ada lagi pengkhianatan, yang ada hanyalah harmoni antara seorang pendekar dan alam.

​Setelah beberapa waktu yang terasa seperti keabadian, Tian Shan menghentikan petikannya.

Senar kecapi itu masih bergetar halus, menyisakan gema yang menenangkan di udara.

Hewan-hewan tersebut tidak langsung pergi; mereka tetap diam sejenak sebelum perlahan kembali ke dalam hutan, seolah-olah berat untuk meninggalkan kehadiran Tian Shan.

​Tian Shan membuka matanya, menyarungkan kembali kecapinya. Ia menatap kedua adiknya yang masih terpaku.

​"Sudah cukup istirahatnya? Jalan masih jauh," ucapnya datar, kembali ke pribadinya yang semula.

1
Aisyah Suyuti
bagus
Nanik S
NEXT 💪💪💪
Nanik S
Shiiiiip
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Mengenang mas lalu Lewat Kua
✞👁️👁️✞
lanjit thor💪
Nanik S
Satu satunya orang yang tidak dibunuh oleh Tian Shan di Alam Abadi
✞👁️👁️✞
/Pray/
✞👁️👁️✞
pecahan jiwa
✞👁️👁️✞
lanjut💪
Nanik S
cuuuuuuust👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor🙏🙏
Nanik S
Bai Yaoju bukankah dulu kekasih Tian Shan dimasa lalu sebelum rekarnasi
Kenaya: Iya/Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
pendekar tersantuy tian shen🔥
Kenaya: /Ok//Pray//Pray//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
apa trio Tian akan berkelana bersama?
✞👁️👁️✞
🔥🔥
✞👁️👁️✞
mantap
lanjut thor💪
✞👁️👁️✞
🐬🐬semangat
✞👁️👁️✞
tian shan!! kau pergi tanpa berpamitan😁
Kenaya: ketemu lagi kok nanti/Grievance//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
kontrak darah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!