Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Patah Tak Terlihat
Jakarta menyambut Adnan dengan langit pucat dan udara yang terasa lebih padat daripada Surabaya. Sejak pagi, jadwalnya nyaris tak memberi jeda.
Dari bandara ia langsung menuju gedung pertemuan di kawasan pusat bisnis. Menghadiri rapat tertutup dengan dua investor lama dan satu calon mitra baru yang ingin masuk ke proyek pembangunan mixed-use premium di kawasan pesisir. Presentasi berjalan lancar. Angka-angka dipaparkan, revisi desain dibahas, proyeksi keuntungan dibentangkan dengan rinci. Semua bergerak sesuai ritme yang ia kuasai dengan sangat baik.
Di ruang rapat berpendingin itu, Adnan kembali menjadi dirinya yang paling kuat, tenang, presisi, dan sulit ditebak. Ia duduk di ujung meja oval dengan setelan gelap yang tetap rapi meski waktu sudah melewati pukul tiga sore.
Layar presentasi di belakangnya menampilkan desain fasad kaca dan panel batu alam, sementara suara salah satu investor masih terdengar menjelaskan soal penyesuaian anggaran tahap dua. Adnan mendengarkan tanpa benar-benar kehilangan satu kata pun.
Jemarinya bertumpu ringan di atas meja, sesekali mengetuk permukaan kayu dengan ritme pelan. Wajahnya tenang, tatapannya fokus. Bahkan ketika orang lain mulai lelah, nada bicaranya tetap stabil, seolah dunia hanya terdiri dari hal-hal yang bisa dihitung, diukur, lalu diselesaikan.
Ia menyukai dunia seperti itu. Dunia yang tidak menuntutnya menebak isi hati orang. Rapat berakhir hampir pukul empat lewat.
Para peserta saling berjabat tangan, bertukar kalimat sopan, dan bergerak keluar ruangan satu per satu. Adnan tetap berdiri tegak, membalas ucapan mereka dengan senyum tipis yang pantas. Setelah pintu tertutup, ia membuka kancing jasnya dan berjalan ke dekat jendela besar yang menghadap deretan gedung tinggi.
Ponselnya bergetar di tangan, satu pesan masuk. Bukan dari klien, bukan dari sekretaris. Dari Bima, nama itu hanya tersimpan pendek, tanpa embel-embel apa pun.
Orang luar mungkin akan mengira ia hanya salah satu staf lapangan, padahal Bima adalah orang yang selama tiga tahun terakhir diam-diam ditugasi Adnan untuk memantau Arini dari jarak aman. Bukan untuk mengekang, bukan karena curiga, setidaknya bukan pada awalnya.
Adnan masih ingat betul alasan pertama ia melakukan itu, beberapa bulan setelah pernikahan mereka. Saat itu Arini pernah hampir menjadi korban penjambretan ketika mobilnya terjebak macet di sebuah lampu merah. Tidak terjadi apa-apa yang fatal, hanya tas yang sempat ditarik paksa sebelum sopir bertindak cepat. Namun sejak hari itu, Adnan tak pernah benar-benar tenang membiarkan istrinya bergerak tanpa perlindungan.
Ia tahu Surabaya bukan kota yang selalu ramah. Ia tahu nama besar, uang, dan koneksi tak pernah otomatis membuat seseorang aman. Jadi ia menempatkan satu orang untuk berjaga dari jauh.
Mengawasi rute, memastikan tak ada yang mencurigakan, kadang mengikuti mobil Arini tanpa sepengetahuannya. Batasnya jelas, tidak mengganggu, tidak mendekat, hanya menjaga. Selama ini laporan yang masuk selalu biasa.
Ibu ke salon,
Ibu ke galeri,
Ibu makan siang dengan teman,
Ibu pulang pukul sekian,
Tidak pernah ada hal yang membuat alis Adnan bergerak sedikit pun, Sampai sore ini. Ia membuka pesan itu, ada tiga foto, pada foto pertama, Arini tampak berdiri di salah satu lorong mal. Mengenakan blouse terang dan membawa tas kecil di lengan.
Di depannya, seorang pria berkaus gelap menatapnya. Sudut pengambilan gambar agak jauh, tapi cukup jelas untuk memperlihatkan bahwa mereka tidak tampak seperti dua orang asing yang baru sekadar bertanya arah.
Foto kedua memperlihatkan mereka berjalan berdampingan menuju sebuah restoran. Foto ketiga yang paling membuat tubuh Adnan membeku. Arini dan pria itu duduk berhadapan di dalam restoran, saling menatap dengan ekspresi yang terlalu serius untuk ukuran obrolan basa-basi.
Tak ada suara di ruangan itu. Tak ada siapa pun yang melihat perubahan pada wajah Adnan. Namun sesuatu di dalam dirinya seperti ditarik keras dari tengah dada. Ia memperbesar foto terakhir.
Pria itu tinggi, berbahu lebar, dan memiliki kamera yang tergantung di salah satu sisi kursi. Rambutnya gelap, wajahnya tegas dalam cara yang terlalu santai untuk seorang rekan bisnis. Bukan tipe pria dari lingkungan mereka. Bukan pengusaha, bukan relasi keluarga, bukan nama yang pernah disebut Arini di meja makan atau dalam acara-acara sosial.
Seseorang yang lain, jemari Adnan berhenti di tepi layar. Untuk sesaat, kemarahan datang begitu cepat, begitu panas, sampai hampir menembus kontrol yang bertahun-tahun dibangunnya sendiri. Bukan kemarahan meledak yang membuat orang ingin melempar benda.
Tidak, pada pria seperti Adnan, marah justru datang dalam bentuk yang jauh lebih sunyi—lebih dingin, lebih berbahaya, karena seluruh tubuhnya terlihat tetap tenang saat pikirannya mulai bekerja seperti pisau.
Ia menatap kembali tiga foto itu satu per satu. Posisi tubuh Arini, cara perempuan itu menoleh dan ekspresi matanya. Jarak di antara mereka.
Adnan mengenal istrinya lebih baik daripada siapa pun. Mungkin tidak dalam hal-hal lembut, tetapi ia sangat paham detail. Bahasa tubuh Arini di foto itu tidak menunjukkan kecanggungan kepada orang asing. Ada keterkejutan, iya. Ada tegangan juga. Namun di bawah semua itu, ada sesuatu yang lebih dalam.
Pengakuan diam yang tak butuh sentuhan. Mereka saling kenal, rahang Adnan mengeras. Ia menutup foto itu, lalu langsung membuka ruang chat dengan Arini. Jemarinya bergerak cepat, presisi, nyaris tak bergetar.
Sedang di mana?
Pesan terkirim.
Tak lama kemudian, sebuah panggilan dari salah satu investor masuk. Adnan menolak panggilan itu tanpa ragu. Ia tidak sedang punya ruang untuk membicarakan anggaran atau tender. Matanya tetap tertuju ke layar ponsel, menunggu dua centang biru itu berubah menjadi jawaban.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Akhirnya balasan muncul.
Di rumah, lagi istirahat, badanku enggak enak, dari tadi tidur di kamar. Adnan membaca pesan itu sekali. Lalu sekali lagi dan sekali lagi.
Tak ada perubahan di wajahnya. Hanya matanya yang perlahan mengeras, seperti kaca yang membeku dari dalam.
Berbohong,
Begitu mudah,
Begitu halus,
Seolah tak ada apa-apa,
Adnan mengangkat tangan kirinya, melonggarkan sedikit simpul dasi yang sejak tadi terasa menekan leher. Ia berjalan menjauh dari jendela, lalu duduk di sofa kecil dekat sudut ruangan. Ponsel masih di tangan. Pesan Arini masih terbuka, Ia membalas dengan sangat tenang.
Kalau sakit, suruh Bu Sum buatkan sup. Jangan lupa minum obat.
Terkirim.
Tak lama, Arini membalas lagi.
Iya. Makasih. Kamu sudah selesai meeting?
Adnan menatap kalimat itu beberapa detik. Ia bisa membayangkan wajah istrinya saat mengetik pesan tersebut. Mungkin santai. Mungkin sedikit waspada. Mungkin masih duduk di restoran itu, atau sudah keluar bersama pria tadi. Apa pun itu, Arini cukup tenang untuk berbohong dan melanjutkan percakapan seolah semuanya biasa.
Hal itu justru lebih melukai daripada yang ingin ia akui. Selama tiga tahun, Adnan tidak pernah memberi alasan nyata bagi istrinya untuk takut pulang, takut bicara, atau takut hidup bersamanya. Ia memang dingin. Sibuk. Tidak pandai menunjukkan kasih sayang dengan cara yang mudah dibaca. Namun satu hal yang tak pernah ia lakukan adalah mengkhianati komitmen mereka.
Dan sekarang, justru Arini yang mulai menarik garis pertama ke arah itu. Bukan, koreksi Adnan dalam hati, mungkin bukan mulai, mungkin ia hanya baru tahu.
Ia keluar dari ruang chat Arini dan membuka pesan dari Bima lagi. Kali ini ia mengetik dengan lebih singkat. Siapa pria itu?
Balasan datang nyaris seketika. Belum tahu, Pak. Ibu bertemu spontan di mal. Setelah itu mereka masuk restoran. Saya masih pantau. Adnan menatap layar tanpa berkedip.
Spontan, kata yang menarik. Pertemuan spontan tidak menjelaskan mengapa seorang perempuan yang sudah menikah memilih duduk makan berdua dengan seorang pria asing, lalu berbohong pada suaminya beberapa menit kemudian.
Adnan mengetik lagi, jangan sampai dia sadar kamu mengikuti, cari identitas lengkapnya. Saya mau tahu nama, pekerjaan, alamat, dan hubungannya dengan Ibu.
Ia berhenti sepersekian detik, lalu menambahkan satu kalimat terakhir, lapor ke saya segera. Pesan terkirim.
Adnan menyandarkan punggungnya ke sofa. Kepalanya sedikit menengadah, menatap langit-langit ruangan yang putih bersih. Dingin AC menusuk tengkuknya, tapi tak cukup untuk meredakan panas yang menjalar pelan dari dada ke tenggorokan.
Ia memejamkan mata sejenak. Potongan-potongan kecil dari beberapa bulan terakhir mulai muncul, satu demi satu, seperti gambar teknik yang ditumpuk di meja kerja lalu tiba-tiba memperlihatkan pola baru.
Arini yang lebih sering diam. Arini yang beberapa kali tampak seperti ingin mengatakan sesuatu namun mengurungkannya. Arini yang sempat mengeluh soal rumah yang terlalu sepi.
Arini yang menatapnya terlalu lama di meja makan, seolah berharap ia menangkap sesuatu tanpa perlu dijelaskan. Dan ia, seperti biasa, selalu memilih pekerjaan lebih dulu. Sebuah rasa getir melintas cepat.
Namun hanya sebentar, karena Adnan bukan tipe pria yang membiarkan rasa bersalah melemahkan pikirannya. Ia bisa menyesali sesuatu nanti. Sekarang, yang lebih penting adalah memahami masalahnya dengan utuh.
Fakta pertama Arini bertemu pria tak dikenal secara diam-diam. Fakta kedua Arini berbohong tentang keberadaannya. Fakta ketiga ekspresi mereka di foto menunjukkan bahwa ini bukan interaksi biasa.
Adnan membuka kembali salah satu foto, memperbesar wajah pria itu. Ada sesuatu yang mengganggu. Bukan karena ia mengenal sosok itu, melainkan karena ada kesan tertentu yang sulit dijelaskan—terlalu nyaman, terlalu berani. Seolah lelaki itu merasa punya hak untuk berdiri sedekat itu dengan Arini.
Adnan menatap lebih lama. Lalu ponselnya kembali bergetar. Bima mengirim satu pesan baru. Mereka keluar dari restoran, Pak. Sekarang berdiri di dekat pintu lobby mal. Belum ada kontak fisik, tapi sepertinya obrolan mereka serius.
Adnan membaca laporan itu tanpa ekspresi. Tak ada kontak fisik, aneh. Justru kalimat itu sedikit menenangkan dan sekaligus memperparah semuanya. Karena kalau mereka belum menyentuh, berarti hubungan ini mungkin masih berada di ambang.
Masih bisa dibentuk, masih bisa digagalkan. Namun itu juga berarti Arini sedang membuat pilihan-pilihan kecil yang berpotensi menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Dan Adnan membenci kemungkinan, Ia menyukai kepastian.
Ia berdiri, mengambil jasnya yang tadi diletakkan di sandaran sofa. Lalu berjalan kembali ke meja rapat yang sudah kosong, menatap pemandangan gedung-gedung Jakarta di balik kaca. Wajahnya terpantul samar di sana—tenang, rapi, hampir tak berubah.
Hanya matanya yang tampak lebih gelap. Ponselnya ia genggam erat, dalam pantulan itu. Adnan mendadak menyadari satu hal yang selama ini tak pernah ia beri ruang untuk dipikirkan terlalu jauh. Ia mencintai Arini jauh lebih dalam daripada yang pernah bisa ia ucapkan.
Bukan dengan kata-kata, bukan dengan perhatian yang manis. Melainkan dengan caranya sendiri yang kaku, keras, dan sering kali salah dipahami. Ia menjaga Arini, menyediakan hidup yang aman baginya.
Membangun rumah, kenyamanan, perlindungan, semua yang ia pikir dibutuhkan seorang istri untuk hidup tenang. Tapi mungkin semua itu tidak pernah benar-benar menjawab apa yang dibutuhkan Arini sebagai seorang perempuan.
Pikirannya terhenti sampai di sana. Karena sekarang bukan saatnya mengurai kegagalan. Sekarang saatnya bertindak. Adnan membuka layar ponsel sekali lagi dan mengetik pesan baru untuk Bima.
Apa pun hubungan mereka, saya ingin tahu dari awal. Kalau perlu, gali masa lalu pria itu. Secepatnya dan selengkapnya. Ia menekan kirim. Beberapa detik kemudian, balasan masuk. Siap, Pak.
Adnan memasukkan ponselnya ke saku celana. Tatapannya tetap lurus ke luar jendela, tetapi pikirannya sudah bergerak jauh ke depan, menyusun kemungkinan-kemungkinan dengan ketelitian seorang perancang bangunan yang sedang memeriksa retak pertama pada fondasi.
Retak kecil selalu terlihat sepele, hampir tak berarti. Namun Adnan tahu, dari semua hal yang pernah ia bangun dalam hidupnya, kehancuran besar selalu dimulai dari garis patah yang nyaris tak terlihat. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, ia melihat garis itu muncul di dalam rumah tangganya sendiri.
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...