Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Tangisnya
Alawiyah merasakan kantuk yang luar biasa saat setelah melahirkan.
suara bayinya mulai terdengar samar, dan ia seperti mengalami effek melayang.
Saat ini, Alawiyah sedang dalam masa perjuangan seorang diri, menghindari rasa kantuk, serta menolong bayinya.
Sementara itu, di sebuah alam yang lain, jiwa Bayu sedang berjuang—mengejar titik cahaya yang tampak seperti pintu untuk keluar.
Ia juga berjuang, untuk dapat bebas dari penyanderaan sekapan para iblis—yang sedang mengejarnya.
"Itu pintu keluarnya, aku harus cepat!" Bayu merasakan, jika awal kebebasannya sudah berada di depan mata.
Selama ini, ia dalam kondisi di rantai, dan diberi pemberat berupa bola besi—yang membuatnya kesulitan bergerak, dan tak dapat melepaskan diri..
Akan tetapi, selama Alawiyah menghadiahkan surah Yasin untuknya, bola besi itu perlahan mengecil, dan saat malam terakhir menghilang.
Hingga ketika saat rumah Novita dan Sarina terbakar, rantai besi yang selama ini mengikatnya—terbuka dengan cepat.
"Alhamdulillah, akhirnya aku akan bebas." Bayu berlari kencang, dan saat mendengar suara langkah dua sosok bertubuh tinggi, berbulu lebat dan bermata merah sedang mengejarnya, Bayu semakin mempercepat larinya.
"Berhenti! Jangan pergi!"
Suara teriakan itu semakin berat, dan mereka tak akan membiarkan Bayu lolos begitu saja.
Lubang cahaya keperakan itu semakin mengecil, dan Bayu semakin mempercepat larinya.
Ia merasakan seolah tubuhnya mendapatkan energi yang cukup besar, membuatnya menjadi lebih kuat dan bersemangat.
Bayu tak ingin melihat ke arah belakang, sebab itu sangat dilarang.
"Allahu Akbar!" ia melompat, saat sumber cahaya itu seolah hendak menghilang.
Wuuuussssh
Sreeeep
Cahaya itu menghilang bersama jiwa Bayu yang melesat, dan masuk ke dalamnya.
Ia seperti merasa sedang dihisap oleh sebuah vacum waktu—yang menghubungkan antara dunia ghaib dan alam nyata.
"Allah!" pekik Bayu, saat jiwanya kembali ke raganya yang sudah lama tertidur dan ia tinggalkan..
Kedua matanya mengerjap dan melihat dalam samar.
Perlahan ia mengamati ruang kamarnya, masih sama seperti dulu, hanya saja, sepasang mukena tergantung di paku, membuatnya merasa sangat dekat dengan pemiliknya.
"Mengapa aku seperti mengenali mukena itu? Aku sebenarnya ada dimana?" ia berguman, seolah sedang bermimpi.
Belum sempat ia menemukan jawabannya, tiba-tiba saja ....,
"Hoeeeek, hoooek ...."
Suara tangisan dari seorang bayi laki-laki yang melengking dari arah dapur.
"Bayi siapa itu?"
Bayu beranjak bangkit dari ranjangnya, memegangi kepalanya yang masih sakit, dan saat melihat Dalli di ranjang yang sama.dengannya, ia semakin bingung dengan semua situasinya.
"Dalli, kenapa dia ada disini?" kepalanya semakin sakit.
Dan diluar sana, suara teriakan Novita dan Sarina saling bersahutan, dan itu juga mengganggunya.
Tampak cahaya kobaran api melalui ventilasi udara—menjadi penerangan malam yang gelap.
"Apa yang terjadi? Mengapa orang-orang begitu sibuk?"
Bayu masih menekan kepalanya—dengan kedua jempol tangannya, kesadarannya belum benar pulih.
"Hooooeek ... Hoooeeeek ...."
"Astaghfirullah, suara bayi itu lagi," gumamnya. Ia berusaha mengumpulkan semua tenaganya.
Akan tetapi, suara tangisan bayi itu terus saja berulang tanpa henti— membuatnya bergegas keluar, dan dengan langkah sempoyongan, ia menuju dapur.
Saat tiba diambang pintu, ia membelalakkan matanya.
"Astaghfirullah, bayi siapa ini?"
Ia menyambar bayi yang menangis kedinginan—dengan tali pusat yang tersambung bersama plasentanya.
Bayu mendekapnya, memberikan rasa nyaman, dan saat melihat wajah wanita yang tergeletak tak sadarkan diri—adalah Alawiyah—istrinya, Bayu tersentak kaget, dan menepuk pipi wanita tersebut.
"Sayang, sayang bangunlah."
Bayu berusaha membangunkan Alawiyah, agar tetap tersadar. Penurunan hormon endorfin, mendorong rasa kantuk yang cukup berlebihan.
Bayu terus saja menepuk pipi Alawiyah, mencoba membuatnya merespon, sebab takut, mengalami komplikasi, seperti perdarahan pascapersalinan.
Akan tetapi, Alawiyah masih tak sadarkan diri.
Disatu sisi, bayinya terus menangis, dan membuat Bayu mengambil keputusan untuk mengambil gunting, lalu membakar ujungnya dengan pemantik api, dan memotong tali pusar tersebut, kemudian mengikatnya dengan benang jahit.
Semua itu, ia pelajari secara otodidak, sebab dahulu, sewaktu kecil sering melihat ibunya menolong orang melahirkan, dan ia selalu menemaninya, saat pasien melahirkan malam hari.
"Kamu yang tenang ya, Sayang." Bayu membersihkan darah dan kotoran yang menempel, lalu mem—bedong bayinya, dan meletakkannya di dalam kamar.
Hal itu berhasil membuat malaikat kecilnya diam, sebab merasa hangat.
Setelah membereskan sang bayi, ia kemudian membopong tubuh sang istri, dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Sementara itu, Kuntilanak Putih dan Sundel Bolong yang sedang nongkrong di pos ronda, merasakan sesuatu yang berbeda malam ini.
Mereka sedang asyik menonton kobaran api yang melahap dua rumah warga, mulai terusik dengan wangi darah.
"Heeemmmm, aroma apa ini? Sangat lezat sekali."
Kuntilanak Putih menggerakkan ujung hidungnya, mencari sumber bau kenikmatan yang sangat lezat.
"Cari sampai dapat!"
Sundel Bolong menyahut, dan melompat turun dari atap pos ronda.
"Bau-bau seperti MBG," Kuntilanak Putih semakin meyakininya.
"Bayi baru lahir, dan juga Plasenta!" Sundel Bolong menebaknya dengan sangat yakin.
Kuntilanak Putih menganggukkan kepalanya.
"Ya, arahnya dari rumah Ratih." Tunjuk Kuntilanak Putih ke arah sana.
Sundel Bolong mengikuti arah yang di tunjuk oleh rekannya.
"Kali ini, kau sangat benar. Kuy—lah."
Sundel Bolong menarik tangan Kuntilanak, lalu membawanya kesana.
Setibanya di depan rumah, Kuntilanak itu menahan Sundel Bolong. "Ratih dan Bagas tidak ada dirumah. Sebaiknya kita merubah wujud menjadi mereka berdua, aku jadi Ratih, kau jadi Bagas."
"Apa si Bayu yang ada di dalam?"
Kuntilanak Putih menganggukkan kepalanya. "Iya, dia sudah bebas, makanya rumah si Novita dan Sarinah terbakar."
"Oh, begitu. Aku tidak tahu gosipnya."
"—tapi ...."
"Tapi apa lagi?"
"Aku tidak sanggup melihat wajah Bayu. Dia terlalu tampan."
Kuntilanak Putih tersipu malu-malu.
"Kau ini, mau jadi jin Ba'al, atau jin Asyiqol?"
"Aku belum tahu kemana arah tujuanku, hany saja, aku tidak tahan saat melihat pria tampan, apalagi ia lahir dengan weton tulang wangi."
"Itu mah, kamu aja yang ganjen," sahut Sundel Bolong.
Kuntilanak Putih tiba-tiba terdiam. "Kau tau ini malam apa? Rabu Pahing, weton tulang wangi, dan .... Ah, nikmat sekali aromanya," Kuntilanak Putih terasa seperti tak sabar untuk melihat sosok bayi tersebut.
"Aku mau plasentanya." sahut Sundel Bolong, membuyarkan lamunan Kuntilanak Putih.
"Ya, sudah, ayo kita merubah wujud." ucap Kuntilanak.
Sundel Bolong menyetujui usul dari rekannya. Kemudian mereka mengubah wujud menjadi sosok Ratih dan Bagas.
Setelah berhasil, Ratih palsu mengetuk pintu dengan sangat keras, sebab suara teriakan Novita yang sedang kebakaran rumahnya—sangat mendominasi malam ini.
"Siapa itu? Apakah si Mbok dan Mas Bagas? Kemana mereka pergi?" Bayu bergumam, lalu beranjak keluar dari kamarnya, ingin melihat siapa datang.
waduhhh gaaas jagan itu istri adik mu lho
Ya allah, kasihan banget keluarganya mbok Ratih.. 😓