NovelToon NovelToon
Darah Di Atas Putih

Darah Di Atas Putih

Status: tamat
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
​Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Terakhir di Ambang Fajar

Kemenangan di Mahkamah Konstitusi kemarin terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata. Media massa di seluruh negeri meledak; nama Senator Bramantyo terseret dalam pusaran skandal pencucian uang terbesar dalam dekade ini, sementara sosok Liana dan Arkan digambarkan sebagai anomali—dua jiwa yang bangkit dari abu masa lalu untuk menumbangkan raksasa korup.

​Namun, di dalam sebuah safehouse tersembunyi milik Unit 9 di pinggiran kota yang sunyi, Arkan tidak bisa memejamkan mata.

Ia berdiri di dekat jendela yang tertutup tirai rapat, jemarinya terus memainkan pemantik perak tua yang sudah tidak berfungsi—benda yang selalu mengingatkannya pada malam di mana segalanya hancur.

Instingnya sebagai mantan predator bawah tanah berteriak bahwa ini belum berakhir. Kekuasaan setingkat Baskoro dan Bramantyo memiliki akar yang menjalar hingga ke luar negeri, ke tangan investor gelap yang tidak akan membiarkan kerugian triliunan rupiah menguap begitu saja.

Liana terbangun dari sofa, menyelimuti bahunya dengan jaket Arkan yang kebesaran. Aroma kayu cendana dan sedikit sisa mesiu masih menempel di sana.

"Arkan, kau harus istirahat. Pengawalan Unit 9 ada di setiap sudut gedung ini.

Kita aman."

​Arkan berbalik, menatap Liana dengan mata yang sayu namun waspada.

"Bramantyo hanyalah wajah dari sistem ini, Liana. Tapi jantungnya masih berdetak di tempat lain. Baskoro punya kontrak dengan konsorsium internasional bernama The Scorpion. Mereka adalah tentara bayaran profesional yang tidak peduli pada hukum atau pengadilan. Bagi mereka, kita hanyalah 'aset yang rusak' yang harus dimusnahkan agar jejak mereka bersih."

​Tepat saat Arkan menyelesaikan kalimatnya, lampu di dalam safehouse berkedip sekali, lalu mati total. Kesunyian yang mencekam menyelimuti ruangan. Unit cadangan listrik tidak menyala.

​"Arkan?" bisik Liana, tangannya meraba kegelapan mencari Glock-nya.

​"Jangan bergerak," Arkan menarik Liana ke balik meja dapur yang tebal.

Suara thud pelan terdengar dari arah balkon—suara sepatu bot taktis yang mendarat dengan halus di atas lantai kayu.

Itu bukan Unit 9. Para pengawal di luar tidak memberikan peringatan, yang berarti mereka sudah dilumpuhkan dengan senjata peredam suara dalam keheningan yang sempurna.

​Tiba-tiba, sebuah granat kejut (flashbang) dilemparkan ke tengah ruangan.

​BANG!

​Cahaya putih membutakan dan suara berdenging tinggi menghantam indra mereka. Liana memejamkan mata rapat-rapat, namun ia merasakan tangan Arkan yang kuat menariknya merangkak menuju koridor belakang.

​"Mereka menggunakan penglihatan malam! Jangan nyalakan senter!" perintah Arkan di tengah dengingan telinga.

Tiga sosok bayangan dengan goggle night-vision merangsek masuk melalui jendela. Mereka bergerak dengan sinkronisasi militer, memegang senapan serbu pendek dengan peredam. Tanpa ragu, mereka menghujani ruang tamu dengan peluru.

Kayu-kayu beterbangan, kaca jendela pecah berkeping-keping.

​Arkan membalas tembakan dari balik pilar, memberikan waktu bagi Liana untuk mencapai pintu darurat menuju basemen.

"Liana, ke mobil! Sekarang!"

​"Tidak tanpa kau!" balas Liana, ia melepaskan dua tembakan akurat ke arah salah satu penyusup, memaksa mereka mencari perlindungan.

​"Pergi, Liana! Ini bukan tentang dokumen lagi, ini tentang nyawamu!" Arkan berteriak sembari mengganti magazin.

​Namun, dari kegelapan di atas tangga, muncul sosok pria jangkung dengan tato kalajengking di punggung tangannya. Ia tidak membawa senjata api, melainkan sepasah pisau tempur panjang. Pria itu bergerak lebih cepat dari manusia biasa. Dengan satu tendangan, ia menjatuhkan senjata Arkan hingga terpental ke ujung ruangan.

Arkan tidak punya pilihan selain bertarung dengan tangan kosong. Duel itu pecah di ruang sempit. Pukulan dan tangkisan bergema di antara deru napas yang memburu.

Arkan terkena sayatan di lengannya, namun ia berhasil menghantam rahang pria tato itu dengan sikunya.

​Liana melihat Arkan terdesak. Ia membidik pria tato itu, namun salah satu penyusup lain menembaki posisinya, membuatnya terpaksa merunduk kembali.

"Arkan, di bawah kakimu!" teriak Liana.

​Arkan melihat sebuah tabung pemadam api yang terjatuh. Ia menendang tabung itu ke arah pria tato, lalu menembaknya dengan pistol cadangan di kakinya. Tabung itu meledak, menciptakan kabut putih tebal yang membutakan sensor penglihatan malam para penyusup.

​Dalam kekacauan itu, Arkan menyambar tangan Liana dan mereka melompat ke saluran pembuangan sampah yang menuju langsung ke garasi bawah tanah. Mereka mendarat dengan keras di atas tumpukan kardus. Arkan segera menghidupkan mesin SUV miliknya yang sudah disiapkan untuk keadaan darurat.

Mobil itu melesat keluar, menabrak pintu gerbang besi safehouse tepat saat tim pembersih The Scorpion meledakkan bagian atas gedung tersebut. Ledakan hebat itu menerangi langit malam, menciptakan bola api raksasa yang menelan tempat perlindungan mereka.

​"Mereka tidak akan berhenti," ucap Liana sembari mengisi ulang senjatanya dengan tangan gemetar.

Ia menatap Arkan yang wajahnya bersimbah darah namun matanya berkilat dengan amarah yang dingin.

​"Aku tahu," jawab Arkan, menginjak pedal gas hingga maksimal menuju arah pusat kota.

"Jika mereka ingin bermain dengan cara ini, kita akan membawa perang ini ke tempat di mana mereka merasa paling aman."

​"Ke mana?"

​"Ke rumah utama Baskoro. Tempat di mana server pusat The Scorpion disembunyikan. Jika kita menghancurkan server itu, seluruh kontrak mereka di seluruh dunia akan terhapus, dan mereka tidak akan punya alasan lagi untuk mengejar kita."

Liana menatap jalanan yang membentang di depan mereka. Fajar mulai menyingsing, namun ini bukan fajar yang penuh kedamaian seperti yang mereka bayangkan di pengadilan. Ini adalah fajar yang berdarah.

​"Satu perjalanan terakhir, Arkan?" Liana bertanya, mengulurkan tangannya yang kecil namun kuat.

​Arkan menggenggam tangan itu, lalu menciumnya di tengah kecepatan mobil yang menggila. "Satu perjalanan terakhir, Liana. Setelah ini, hanya akan ada bunga, atau hanya akan ada debu."

​Mereka menuju jantung kegelapan yang dulu melahirkan mereka, siap untuk mematikan apinya selamanya.

1
SILVA Nur LABIBAH
Masyaallah sungguh bagus cerita novelnya kak
inna Mardiana: membuat saya makin semangat menulis💪
total 2 replies
Dian
lanjutt
SILVA Nur LABIBAH
rahasia sudah terbuka,,,ayo Arkan & liana bangun kembali srmua yg telah hilang.
SILVA Nur LABIBAH
maaf baru bisa koment, bagus kisah novelnya. bisa mengambil hikmah dendam bisa melukai diri kira sendiri
inna Mardiana: makasih banyak yah Kak udah mampir😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!