NovelToon NovelToon
Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta - Part:2

Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta - Part:2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Playboy / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Harem
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!

SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA

Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?

Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.

Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?

Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Asisten Ke-tiga dan Tagihan Makan 35 Miliar

"Ya, uang bukan masalah."

Raka memutar kursinya, ekspresi wajahnya seolah memancarkan tulisan 'Sultan Bebas' yang terukir jelas.

"Baiklah, kalau begitu... pekerjaan spesifik apa yang Anda harapkan dari para asisten ini, Pak Raka?" Headhunter itu kembali mencecar untuk memastikan.

Raka merenung sejenak, lalu tersenyum miring yang memancarkan aura dominan. "Saya ingin mereka... menyelesaikan SEMUA pekerjaan saya."

"Oke, sangat bisa dimengerti. Anda benar-benar memiliki visi yang luar biasa jauh ke depan, Pak Raka."

Meskipun di dalam kepala Satria Widodo si headhunter sedang berlarian puluhan ribu ekor alpaca yang mengumpat saking speechless-nya, tapi di permukaan dia tetap mempertahankan senyum profesionalnya yang hangat. Ya iyalah, siapa juga yang mau cari masalah dengan uang?

"Terakhir, Pak Raka. Apakah Anda memiliki kriteria atau persyaratan khusus untuk posisi spesialis penerima telepon ini?"

"Harus cantik... perempuan, usia antara 18 sampai 28 tahun. Karena yang masih muda... otaknya biasanya lebih encer dan responsif kalau angkat telepon."

Sang headhunter tersenyum dan mengangguk. "Dimengerti."

"Oh iya, Pak Satria. Kalau nanti kandidat yang kamu bawa ternyata kinerjanya nggak memuaskan, bisa ditukar tambah nggak?" tanya Raka tepat sebelum pria itu melangkah pergi.

"Tentu saja bisa." Satria langsung memutar balik tubuhnya, padahal satu kakinya sudah melangkah melewati ambang pintu. "Layanan garansi tukar kandidat adalah fitur eksklusif pemegang 'VIP Black Card' kami. Anda hanya perlu membayar membership fee sebesar Rp 48.888.000 , dan Anda bisa menikmati layanan bebas tukar ganti asisten tanpa batas selama satu bulan penuh."

Raka merasa tawaran itu lumayan worth it. Dia langsung mengeluarkan ponsel, men- scan barcode, dan menyelesaikan pembayaran dalam satu tarikan napas.

"Oke, udah masuk ya. Kapan mereka bisa mulai kerja?"

"Segera, Pak Raka. Saya akan langsung mengurus screening akhirnya sekarang juga. Para kandidat yang lolos akan datang ke kantor Anda di jam yang berbeda-beda siang ini untuk tahap wawancara face-to-face dengan Bapak."

Setelah sang headhunter pamit, Raka merasa sangat puas dengan kualitas layanan yang diberikan. Dia langsung menyuruh sekretarisnya untuk memberikan rating bintang lima di formulir feedback perusahaan headhunter tersebut.

"Bos, emangnya ini beneran perlu ya?" Risa memutar bola matanya diam-diam saat Raka tidak melihat, merasa bosnya ini melakukan hal yang berlebihan dan kurang kerjaan.

"Sangat perlu," jawab Raka santai. "Dengan adanya perusahaan headhunter se-efisien ini, gue jadi punya back-up buat mecat dan gantiin lo kapan aja kalau lo mulai males."

"Eh?! Jangan, Bos, jangan gitu dong... Saya ini kan loyal banget sama Bapak! Pengabdian saya bisa disaksikan oleh langit dan bumi! Tolong jangan pecat saya ya, Pak Raka yang ganteng," rajuk Risa panik.

Raka tertawa. Tentu saja dia cuma bercanda.

"Kalau gitu... Mbak Sekretaris, mau nemenin saya makan siang bareng nggak?" Raka dengan gaya gentleman mengulurkan tangannya.

Risa langsung kegirangan. "Pasti mau dong! Makasih banyak lho, Bos!"

Saat jam makan siang tiba, nafsu makan Raka sedang sangat bagus. Sudah lama dia tidak makan sepuas dan sebebas ini (tanpa perlu memikirkan misi sistem atau drama).

Sebaliknya, sang sekretaris wanita justru ragu-ragu dan tak kunjung menyentuh alat makannya setelah melihat deretan harga yang tak masuk akal di buku menu restoran VVIP tersebut.

"Risa, kok nggak dimakan?" Raka merasa heran. "Makanannya nggak cocok ya di lidah lo?"

"Enggak, nggak kok, Bos. Cuma... saya kan lagi program diet, jadi nggak boleh makan terlalu banyak."

"Oh." Raka mengangguk paham, lalu kembali menundukkan kepalanya dan fokus menghabiskan makanannya. Sambil mengunyah, dia sempat berkomentar santai, "Cewek zaman now emang aneh. Dikit-dikit diet. Padahal kurus kering juga nggak bagus diliat."

Risa speechless. Dia tidak berani mengaku bahwa sebenarnya perutnya sangat lapar, hanya saja dia merasa tidak pantas menyantap hidangan yang harganya semahal ini. Seumur hidup, dia belum pernah melihat, apalagi menyentuh, masakan semewah ini.

"Halo, Tuan. Total tagihan makan Anda hari ini adalah Rp 35.800.000. Anda ingin membayar dengan kartu atau tunai?"

"Kartu lah. Lo pikir gue mau mati punggung bawa duit cash segitu banyak ke mana-mana?" Raka memutar bola matanya pasrah. Pelayan kelas atas begini kadang-kadang suka nggak pakai logika ya kalau nanya.

"Baik, Tuan," pelayan itu tidak memasukkan sindiran Raka ke hati, dan dengan sigap memproses pembayarannya.

"Mohon maaf, Tuan. Sepertinya Anda tidak sengaja memasukkan nominal yang lebih."

Raka yang sudah berdiri dan menarik lengan Risa untuk pergi, menjawab tanpa menoleh ke belakang: "Itu bukan kelebihan bayar. Sisa 15%-nya itu buat uang tips elo. Ambil aja."

Mendengar itu, Risa sampai melongo dengan otak yang blank.

Bos gue sekali makan ngabisin 35 Miliar?! Uang segitu, biarpun Risa kerja banting tulang sampai reinkarnasi lagi pun belum tentu bisa kekumpul! Dan yang lebih gila, Bos ngasih uang tips ratusan juta perak gitu aja?! Itu mah lebih gede dari gaji tahunan Risa! Bos gue ini bener-bener level Sultannya udah nembus stratosfer!

"Bos... Bos Raka... kapan nih Bos mau ngasih uang tips juga ke saya?" Risa menatap Raka dengan tatapan memelas penuh harap, sedikit memasang gaya manja.

Raka menaikkan sebelah alisnya. "Sekarang!"

Lima menit kemudian, mobil sport Raka sudah terparkir rapi di depan butik Louis Vuitton (LV) yang megah.

"Bukannya lo dari dulu pengen banget punya tas mahal? Hari ini lo bebas pilih mana aja yang lo suka, gue yang bayar!"

"AAAAAAAA! Seriusan nih, Bos?!" Risa memekik histeris saking girangnya, dan tanpa sadar langsung menerjang memeluk Raka. "Aduh, maaf, Bos! Saya kelepasan saking senengnya!"

Risa langsung ngacir masuk ke dalam butik dengan semangat 45, sementara Raka hanya mengekor dari belakang dengan langkah santai.

Begitu melangkah masuk, Risa langsung menyadari bahwa sorot mata para pramuniaga (SA/Sales Assistant) di sana langsung menembak lurus ke arahnya bagaikan rentetan peluru.

"Ngapain mereka semua ngeliatin gue gitu amat?" batin Risa. Namun dia juga merasakan bahwa tatapan wanita-wanita berseragam rapi itu sama sekali tidak ramah.

Karena merasa sedikit terintimidasi, Risa buru-buru menundukkan kepalanya dan fokus melihat-lihat koleksi tas di etalase.

Ada satu tas berwarna hitam elegan yang modelnya sangat sesuai dengan seleranya. Risa mengulurkan tangannya, berniat mengambil tas itu untuk dicoba dan dilihat di depan cermin.

"Eits." Sebelum tangan Risa menyentuh tas itu, tangan seorang pramuniaga sudah lebih dulu melesat dan memblokir gerakannya. "Maaf ya, Mbak. Kalau nggak mampu beli, tolong jangan disentuh barangnya~"

Risa terlonjak kaget dan refleks menarik tangannya kembali. Rasa sedih, malu, dan terhina seketika meledak di dadanya, membuat air mata langsung menggenang di pelupuk matanya.

Kebetulan butik saat itu sedang sepi pelanggan, jadi beberapa pramuniaga lain yang kurang kerjaan ikut berkerumun mendekat untuk menonton "pertunjukan" itu.

"Bener tuh. Kalau kere dan nggak mampu beli, mending nggak usah sok-sokan megang. Kalau sampe kulitnya lecet atau kotor, emangnya situ bisa ganti rugi?"

"Gue paling eneg ngelayanin cewek-cewek miskin modelan begini. Dateng ke butik elit pake baju gembel diskonan tanah abang, cuma buat nyari tas puluhan juta. Bener-bener gila gengsi dan haus validasi! Udah tau miskin, masih aja sok gaya! Emangnya kalau lo cobain nyandang tas itu 5 menit, hidup lo bakal berubah? Palingan juga ujung-ujungnya minta fotoin doang buat diposting pamer di IG Story!"

"Iya bener banget! Jangan-jangan dia ini selebgram bodong yang suka pansos nyewa barang KW itu lagi?"

Rentetan komentar nyinyir nan pedas dari mulut para pramuniaga itu langsung disambut dengan tawa mengejek yang membahana di area butik.

"Eh, Lita, udah jangan ketawa terus. Itu ada tamu cowok baru masuk tuh, cepetan gih lo samperin dan layanin," tegur salah satu dari mereka.

"Siap." Pramuniaga bernama Lita itu langsung memperbaiki posturnya dan bergegas berjalan menuju pintu masuk.

"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Lita seketika menunduk hormat dengan senyum manis yang dipaksakan. Sikapnya yang merendah dan menjilat ini benar-benar berbanding terbalik 180 derajat dengan kelakuan arogan dan congkaknya beberapa detik yang lalu. "Dari pakaian mahal dan jam tangan yang Anda kenakan, saya sudah bisa menebak kalau Anda ini pasti sosok yang sangat sukses. Apakah Tuan ke sini untuk mencarikan kado tas mewah untuk pacar Anda?"

"Iya, bener."

Suara bariton Raka yang berat dan manly tiba-tiba menggema tepat di belakang Risa. Mendengar suara yang sangat familiar itu, Risa tanpa sadar menoleh ke belakang.

Sementara itu, pramuniaga yang berdiri di belakang Risa masih tidak mau berhenti melontarkan komentar sinisnya: "Ngapain lo liat-liat ke belakang? Baru pertama kali ya liat cowok tajir aslinya? Sumpah, kelakuan lo lucu banget deh!"

Mendengar hinaan itu, Risa yang merasa semakin tersudut dan tak berdaya hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Namun Raka justru melangkah maju dengan pasti, dan langsung memposisikan dirinya berdiri melindungi Risa.

Melihat pria kaya itu mendekat, pramuniaga Lita buru-buru membuntutinya dengan antusias. "Tuan? Bukannya Anda bilang mau milihin tas buat pacar Anda?"

Raka menatap wanita itu dengan sorot mata sedingin es kutub. "Cewek yang lagi lo hina-hina ini... DIA PACAR GUE!"

"HAH?!"

Seketika, seluruh pramuniaga di butik itu ternganga shock seakan baru saja tersambar petir. Keterkejutan di wajah mereka dengan cepat memudar, berganti menjadi tatapan iri, dengki, dan kebencian tingkat dewa melihat kenyataan bahwa "Gadis Miskin Gembel ini berhasil menggaet Pangeran Sultan dan berubah jadi Ratu".

"Kenapa? Ada masalah?" Raka menaikkan dagunya menantang mereka. "Bungkusin semua koleksi tas yang ada di deretan rak ini buat pacar gue sekarang juga!"

"B-Baik... Siap, Tuan."

"Dan buat lo," Raka menuding langsung tepat ke wajah pramuniaga yang sejak awal terus-terusan mengolok-olok Risa. "Lo nggak usah ikut ngebungkus tas. Sini lo, bawain sepatu ini dan tolong pakaikan langsung ke kaki pacar gue sekarang."

"...B-Baik, Tuan."

Pramuniaga itu mengertakkan gigi, namun karena terikat SOP dan dihadapkan pada sosok pelanggan VVIP yang sanggup memborong setengah butik, ia dengan sangat enggan dan terpaksa berjongkok di lantai, melayani Risa mengganti sepatu.

Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama dan menghebohkan seisi mal di sore itu, hampir semua koleksi barang-barang top tier di butik tersebut sudah berhasil disapu bersih oleh kekuatan gesekan kartu Raka.

"Jadi, totalnya berapa?"

"Halo, Tuan. Untuk keseluruhan barang yang Anda beli, totalnya adalah Rp 35.420.000.000. Silakan untuk proses pembayarannya."

Raka menyunggingkan senyum sinis dan dingin saat ia menggesek Black Card-nya. Setelah transaksi sukses, dia langsung berbalik dan melangkah keluar butik tanpa sudi menoleh ke belakang sedikit pun.

Sementara dari dalam butik, gerombolan pramuniaga itu masih membungkuk hormat dan menyerukan, "Terima kasih banyak atas kunjungannya, Tuan! Kami tunggu kedatangan Anda selanjutnya!"

1
Jaka
harus kuat💪💪
Oppie Abdurahman
raka² hanya bisa menghindari masalah, bukannya dihadapin satu² sama fakta yang ada, padahal masalah akan membuatmu semakin kuat mentalnya.
Oppie Abdurahman
yahh plot wist kecelakaan disini
Lilia_safira
aku udah nungguin sampe nge cek berkali kali dan akhirnya 😄😄
Lilia_safira
jadwalin dong update kapan 😄!!
Oppie Abdurahman
akhirnya rilis
Oppie Abdurahman
mungkin bagi pecinta fiksi ini lumayan menarik, tapi tergantung selera juga sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!