NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:852
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Kamu Sakit, Aku Ada

Cahaya matahari pagi yang lembut mulai menembus tirai tipis kamar, namun Nara masih enggan membuka mata. Tubuhnya terasa berat, dan kepalanya sedikit berdenyut—sisa dari badai emosi dan tangisan semalam. Namun, ada sesuatu yang berbeda pagi ini. Ia tidak merasa kedinginan. Kehangatan yang ia rasakan semalam masih ada di sana, melingkupinya seperti pelindung yang tak terlihat.

Saat ia perlahan menggerakkan tangannya, ia menyadari bahwa ranjang di sampingnya sudah kosong. Genggaman tangan Arga yang menemaninya sepanjang malam telah terlepas. Ada secercah rasa kehilangan yang aneh menyelinap di dada Nara, namun rasa itu segera buyar saat pintu kamar terbuka dengan dorongan pelan yang sangat hati-hati.

Arga masuk. Ia tidak lagi memakai setelan jas lengkapnya, melainkan hanya kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan kayu berisi semangkuk bubur ayam hangat, segelas air putih, dan beberapa butir obat.

"Sudah bangun?" tanya Arga, suaranya terdengar jauh lebih lembut daripada biasanya.

Nara mencoba duduk, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. "Sudah. Kamu... kamu beneran bawa sarapan ke sini?"

Arga meletakkan nampan itu di atas pangkuan Nara. "Saya sudah bilang semalam, kan? Ibu tadi sempat ingin memaksa masuk untuk menyuapimu, tapi saya bilang kamu butuh ketenangan. Beliau sangat senang melihat saya yang turun tangan."

Nara menatap bubur di depannya. Uap hangatnya membawa aroma kaldu yang menggugah selera. "Terima kasih, Arga. Kamu nggak perlu repot sampai begini."

"Makanlah. Setelah itu minum obatnya," Arga duduk di kursi di samping tempat tidur, membuka laptopnya seolah-olah ingin bekerja, namun perhatiannya jelas tidak tertuju pada layar. Matanya terus melirik ke arah Nara setiap kali wanita itu menyuapkan bubur ke mulutnya.

Suasana hening sejenak, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan mangkuk keramik.

"Kenapa kamu membatalkan rapatmu hanya untuk menungguku makan?" tanya Nara pelan.

Arga menghentikan ketikannya. Ia menatap Nara dengan tatapan yang sulit diartikan. "Karena saat kamu sakit, saya tidak ingin kamu merasa sendirian menghadapi pikiranmu sendiri. Pria dari masa lalu itu... dia menyerangmu saat kamu sedang bekerja sendirian. Itu tidak akan terjadi lagi."

Nara tertegun. Ia menyadari bahwa perhatian Arga bukan sekadar soal fisik yang sedang sakit, tapi soal perlindungan mental. Arga tahu bahwa luka lama Nara sedang meradang, dan ia memilih untuk ada di sana sebagai penawarnya.

"Aku merasa lebih baik sekarang," ujar Nara setelah menghabiskan setengah porsinya. "Mungkin siang nanti aku sudah bisa ke kantor."

"Tidak," sahut Arga tegas, kembali ke nada otoriter namun kali ini terasa protektif. "Hari ini kamu tetap di sini. Saya akan bekerja dari rumah menemani kamu. Bayu akan mengirimkan semua dokumen ke sini."

Nara ingin membantah, namun ia melihat keseriusan di mata Arga. Pria ini tidak sedang memberikan perintah bisnis; ia sedang memberikan janjinya yang semalam. Saat kamu sakit, aku ada.

"Arga," panggil Nara.

"Ya?"

"Kamu benar-benar bukan robot, ya?" Nara mencoba bercanda untuk mencairkan suasana.

Arga menutup laptopnya, lalu berdiri untuk mengambil mangkuk kosong dari tangan Nara. Ia membungkuk sedikit, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. "Mungkin. Tapi robot pun punya protokol prioritas. Dan hari ini, prioritas saya adalah memastikan desainer saya—dan istri saya—kembali tersenyum."

Senyum tipis Arga muncul kembali, dan kali ini, Nara tidak bisa menahan detak jantungnya yang menggila. Di bawah satu atap yang sama, di tengah rasa sakit yang mulai pudar, Nara menyadari bahwa perhatian kecil Arga telah mengubah segalanya. Ia tidak lagi takut pada hantu masa lalu, karena sekarang, ia tahu ada seseorang yang siap berdiri di depannya, menahan badai apa pun yang datang.

---

Nara terdiam, matanya terpaku pada jemari Arga yang kini dengan telaten merapikan letak obat di atas nampan. Kalimat "prioritas saya" masih bergema di kepalanya, menciptakan sebuah ritme baru yang lebih tenang di dalam dadanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa perhatian dari seseorang yang biasanya hanya peduli pada efisiensi bisa terasa begitu... menyembuhkan.

"Minum obatnya sekarang," ujar Arga, menyodorkan gelas air putih.

Nara menurut. Setelah menelan obat itu, ia merasa tubuhnya sedikit lebih rileks, namun rasa kantuk mulai menyerang kembali—mungkin efek dari obat tersebut. Arga yang menyadari mata Nara mulai sayu, segera mengambil nampan dari pangkuannya dan meletakkannya di meja nakas.

"Tidurlah lagi. Saya akan di sini," kata Arga. Ia tidak pergi, melainkan kembali duduk di kursi samping ranjang, membuka laptopnya, namun kali ini ia mematikan suara keyboard-nya agar tidak berisik.

"Kamu beneran mau kerja dari sini?" bisik Nara, suaranya mulai berat karena kantuk.

"Iya. Meja di ruangan saya terlalu besar dan sepi hari ini," sahut Arga tanpa menoleh dari layar, namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

Nara merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga ke dagu. Ia memperhatikan Arga yang tampak fokus menatap layar laptop, namun sesekali tangan pria itu bergerak memperbaiki letak selimut Nara yang sedikit merosot tanpa perlu diminta. Perhatian-perhatian kecil yang tidak pernah diucapkan ini justru terasa lebih lantang daripada janji manis mana pun.

Tak lama kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu. Widya menyembulkan kepalanya dengan wajah penuh senyum. Melihat Arga yang sedang duduk menjaga Nara yang setengah terlelap, Widya tampak sangat tersentuh. Ia tidak masuk, hanya memberikan isyarat jempol pada Arga sebelum menutup pintu kembali dengan sangat hati-hati.

Di dalam kamar yang tenang itu, Nara merasa dunianya yang sempat hancur kemarin sore kini sedang disusun kembali keping demi keping. Ia menyadari bahwa kehadiran Arga bukan hanya untuk memenuhi tuntutan kontrak atau menyenangkan Ibu mereka. Arga ada di sana karena ia memilih untuk ada.

"Arga..." gumam Nara pelan, hampir di ambang tidur.

"Hmm?"

"Jangan... jangan pindahkan mejaku terlalu jauh nanti di ruanganmu."

Arga menghentikan pergerakan tangannya di atas laptop. Ia menoleh, menatap Nara yang kini sudah memejamkan mata dengan napas yang mulai teratur. Ia mengulurkan tangannya, mengusap dahi Nara dengan sangat lembut, menyingkirkan sehelai rambut yang menempel di sana.

"Saya akan meletakkannya tepat di depan meja saya, Nara. Supaya saya bisa melihatmu setiap kali saya merasa dunia ini terlalu kaku," bisik Arga sangat pelan, memastikan Nara tidak mendengarnya agar ia tidak perlu merasa canggung lagi.

Malam berganti pagi, dan rasa sakit itu kini telah menemukan obatnya. Bukan pada butiran kimia yang ditelan Nara, melainkan pada kehadiran sosok yang selama ini ia kira adalah robot dingin, namun ternyata adalah pelindung yang paling hangat. Di bawah satu atap yang sama, mereka belajar bahwa terkadang, obat terbaik untuk luka lama adalah keberanian untuk mengakui bahwa kita tidak harus menghadapinya sendirian.

---

Nara sudah benar-benar terlelap, tetapi tangannya masih menggenggam ujung selimut, seolah sedang mencari pegangan di tengah sisa-sisa mimpi buruknya. Arga menutup laptopnya pelan. Ia tidak bisa benar-benar fokus pada laporan keuangan di depannya ketika suara napas halus Nara adalah satu-satunya hal yang ingin ia dengar.

Ia berdiri, melangkah mendekat ke sisi ranjang. Di bawah cahaya pagi yang semakin terang, ia bisa melihat gurat kelelahan yang mulai memudar dari wajah wanita itu. Arga teringat bagaimana tatapan tajam Rio Pratama semalam mencoba menguliti harga diri Nara. Kemarahan itu kembali membuncah di dadanya, namun kali ini ia menekannya dalam-dalam. Ia tidak ingin aura negatif itu mengganggu kedamaian yang baru saja tercipta di kamar ini.

Perlahan, Arga berlutut di samping ranjang, menyejajarkan wajahnya dengan Nara yang tertidur. Ia menatap cincin di jari manis Nara yang berkilau terkena pantulan cahaya matahari.

"Kamu tidak perlu membuktikan apa pun pada pria itu, Nara," bisik Arga, suaranya serendah angin. "Kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuat ruangan ini terasa seperti rumah bagi saya. Dan itu lebih dari cukup."

Tiba-tiba, Nara bergerak sedikit dalam tidurnya, tangannya terulur dan tanpa sadar menyentuh telapak tangan Arga yang bersandar di tepi kasur. Arga membeku, namun ia tidak menarik tangannya. Ia justru membiarkan jemari Nara meraba punggung tangannya, seolah sedang memastikan bahwa sosok pelindung itu masih ada di sana.

Di luar kamar, terdengar suara Tante Sarah yang tertawa kecil bersama Widya. Mereka pasti sedang merencanakan menu makan siang yang "menyehatkan" untuk Nara. Arga tersenyum tipis. Ia menyadari bahwa sandiwara ini telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit, namun di saat yang sama, jauh lebih berharga.

Arga kembali duduk dan membuka laptopnya. Ia mulai mengetik sebuah pesan singkat kepada Bayu, asistennya.

> Kepada: Bayu

> Subjek: Pengaturan Ruang Kerja

> Bayu, kosongkan area di depan meja utama saya pagi ini. Pindahkan meja kerja Bu Nara ke sana lengkap dengan semua peralatan drafnya. Pastikan pencahayaannya sesuai dengan preferensinya. Mulai besok, dia akan bekerja langsung di bawah pengawasan saya.

Setelah menekan tombol send, Arga menghela napas lega. Ia merasa sebuah beban terangkat dari bahunya. Dengan Nara berada di dekatnya, ia tidak perlu lagi khawatir tentang gangguan dari luar. Ia akan menjadi benteng hidup bagi wanita itu.

Siang mulai merangkak naik, dan kamar itu tetap menjadi saksi bisu dari perhatian-perhatian kecil yang terus mengalir. Arga tetap di posisinya, menjaga tidur Nara, sesekali menyesap teh jahe yang sudah mendingin, dan menyadari bahwa dalam setiap baris kode dan angka yang ia kerjakan, bayangan Nara telah menjadi variabel permanen yang tidak ingin ia hapus.

Saat kamu sakit, aku ada. Dan Arga berjanji pada dirinya sendiri, bahwa kehadirannya tidak hanya akan ada saat Nara sakit, tapi dalam setiap detak waktu yang akan mereka lalui bersama di bawah atap yang sama.

---

Nara mulai terusik dari tidurnya saat cahaya matahari berpindah posisi, menyinari kelopak matanya yang masih terasa berat. Ia mengerang kecil, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat tercecer di alam mimpi. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma kopi hitam yang kuat—kopi khas Arga—bercampur dengan harum jahe yang masih tersisa di udara.

Ia membuka mata dan mendapati Arga masih di sana, duduk di kursi yang sama, namun kali ini ia sedang mengenakan headset nirkabel. Arga tampak sedang berbicara dengan suara yang sangat rendah, nyaris berbisik, sambil matanya terpaku pada layar laptop.

"Ya, Bayu. Pastikan saja semua sampel marmernya sudah ada di sana sebelum jam sepuluh pagi esok. Saya tidak mau ada penundaan lagi karena alasan logistik." Arga menjeda kalimatnya, lalu melirik ke arah ranjang. Begitu menyadari Nara sudah terjaga dan sedang memperhatikannya, raut wajahnya yang serius seketika melunak.

"Saya hubungi lagi nanti," ucap Arga singkat, lalu memutuskan sambungan rapatnya.

"Aku membangunkanmu?" tanya Arga sambil melepas headset-nya.

Nara menggeleng pelan, ia berusaha bangkit untuk duduk tegak. "Enggak. Suaramu pelan banget, malah kayak suara radio di latar belakang. Jam berapa sekarang?"

"Hampir jam sebelas siang. Kamu tidur cukup lama, itu bagus," Arga berdiri, mendekat ke arah ranjang dan secara alami menempelkan punggung tangannya ke kening Nara untuk mengecek suhu tubuhnya. "Panasnya sudah turun. Pusingnya?"

"Jauh lebih mendingan," Nara tersipu karena jarak mereka yang kembali menipis. "Kamu... benar-benar nggak ke kantor hari ini?"

"Saya CEO-nya, Nara. Saya bisa menentukan di mana kantor saya berada hari ini," sahut Arga dengan nada yang sedikit sombong namun jenaka. Ia kemudian mengambil botol minyak kayu putih yang semalam ia gunakan, lalu meletakkannya di telapak tangan Nara. "Ibu tadi datang lagi saat kamu tidur. Beliau bilang kalau kamu sudah bangun, saya harus memastikan kamu diolesi lagi agar 'anginnya' benar-benar hilang."

Nara tertawa kecil, tawa pertama yang terdengar tulus sejak kejadian semalam. "Ibu memang nggak ada duanya kalau soal perhatian."

"Bukan cuma Ibu," gumam Arga pelan, nyaris tak terdengar.

"Apa?"

"Bukan apa-apa," Arga berdeham, mencoba menutupi kegugupannya. "Saya sudah minta Mbok Sum menyiapkan sup ayam untuk makan siangmu. Setelah ini kita turun, atau kamu mau saya bawakan ke sini lagi?"

"Aku turun saja. Aku butuh bergerak sedikit supaya nggak kaku," Nara mulai menyibak selimutnya. Saat kakinya menyentuh lantai, ia merasakan sedikit limbung, namun tangan Arga dengan sigap langsung menahan sikunya.

"Pelan-pelan," peringat Arga.

Nara menatap tangan Arga yang memegang lengannya, lalu beralih menatap wajah pria itu. Di bawah sorot lampu kamar dan sinar matahari siang, ia melihat Arga bukan lagi sebagai bos yang kaku atau rekan kontrak yang dingin. Ia melihat seorang pria yang rela menghabiskan paginya di sudut kamar hanya untuk memastikan ia tidak terbangun dalam ketakutan.

"Terima kasih untuk perhatian kecilnya, Arga. Itu benar-benar mengagetkan buatku," ucap Nara tulus.

Arga menatapnya dalam, genggamannya di siku Nara sedikit mengerat namun tetap lembut. "Bagi saya, itu bukan perhatian kecil, Nara. Itu keharusan. Selama kamu di bawah perlindungan saya, tidak akan ada luka lama yang boleh berdenyut lagi."

Malam yang penuh air mata telah berganti menjadi siang yang penuh kepastian. Di bawah satu atap itu, janji Arga untuk selalu ada saat Nara sakit telah terpatri, bukan di atas kertas kontrak, melainkan di dalam setiap gerak-gerik pelindungnya yang tak lagi bisa disembunyikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!