NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:987
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Bunga

“Gue suka cowok yang namanya Darren.”

“Darren? Siapa lagi itu?” ucap Rania yang memang belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.

“Makanya bergaul, Ran. Jangan di kelas mulu,” sindir Bunga.

“Belajar, Bel. Supaya pintar,” balas Rania tanpa kalah santai.

“Hahaha..." Freya dan Balqis langsung tertawa melihat Bunga dibalas sindirannya.

“Makanya kalau nyindir itu lihat orangnya, Bun. Lo tahu kan Rania kalau nyindir pedas banget,” ucap Freya yang masih tertawa sambil memegang perutnya.

“Nyata pula,” tambah Balqis yang juga masih tertawa.

Bunga hanya menggaruk kepalanya. Ia sadar sudah salah menyindir orang.

“Hehe… peace, Rania.”

“Udah, terus siapa Darren?” ucap Rania penasaran.

Bunga langsung tersenyum lebar sebelum menjawab.

“Dia sahabatnya Revano, Ran.”

“Sahabat Revano?” ulang Rania.

Bunga mengangguk.

“Yang gue tahu, sahabat Revano pacarnya Clara, teman kelas gue,” sambung Rania.

“Oh, itu namanya Reyhan. Mereka itu sahabatan bertiga—Revano, Reyhan, dan Darren,” jelas Bunga.

“Terus gimana lo bisa dekat sama dia?” tanya Freya penasaran.

Bunga tersenyum kecil, lalu mulai menceritakan semuanya.

Flashback

Saat itu Bunga sedang sangat apes. Ban motornya tiba-tiba bocor di tengah jalan saat pulang sekolah.

“Apes banget,” ucap Bunga kesal sambil melihat ban motornya.

Ia lalu melirik langit yang awalnya biru perlahan berubah menjadi abu-abu.

“Mana mau hujan lagi.”

Bunga menghela napas berat. Ponselnya juga hampir kehabisan baterai.

Beberapa saat kemudian, suara motor berhenti tepat di sampingnya.

Bunga menoleh dan melihat seorang pria yang tidak ia kenal. Namun ia yakin pria itu satu sekolah dengannya karena seragamnya sama.

“Lo Bunga, kan?” ucap pria itu sambil turun dari motor.

Bunga mengangguk. “Iya. Lo siapa?” tanyanya balik.

Pria itu berjalan mendekat.

“Gue Darren. Kita pernah ketemu sebelumnya.”

“Ketemu? Di mana? Gue gak ingat,” ucap Bunga bingung.

Darren terkekeh melihat ekspresi Bunga.

“Sudah gue duga lo lupa gue. Waktu itu gue ikut mami gue arisan. Di sana gue ketemu lo. Kayaknya mami gue satu arisan sama nyokap lo. Lo sempat nyenggol gue pas keluar dari toilet, terus langsung minta maaf. Habis itu lo balik ke tempat duduk sambil kelihatan bete, main ponsel terus," jelas Darren.

Bunga langsung melebarkan matanya.

“Gue udah ingat! Terus lo tahu nama gue dari mana?” tanyanya.

“Waktu itu lo pakai seragam sekolah. Jadi gue lihat papan nama lo,” jawab Darren. “Lo kenapa bete waktu itu?”

“Gue bete, mama gue langsung ngajak gue ke arisan, mana belum ganti baju lagi,” jawab Bunga.

Darren mengangguk-angguk.

“Sama. Gue juga gitu. Eh, ngapain lo berhenti di sini?” tanyanya.

“Ban motor gue bocor nih,” jawab Bunga sambil menunjuk motornya. “Mana mau hujan lagi.”

“Tunggu bentar, gue panggil montir di dekat sini,” ucap Darren sambil langsung mengambil ponselnya.

Bunga hanya berdiri di samping motornya sambil memperhatikan Darren menelepon seseorang. Tanpa sadar, ia menatap Darren beberapa detik.

Udah ganteng, baik pula, batinnya.

“Tunggu bentar. Montirnya bakal ke sini sebentar lagi,” ucap Darren setelah menutup telepon.

Bunga mengangguk. “Terima kasih, Darren.”

“Iya, sama-sama.”

Tiba-tiba…

Jgerrrr!

Jgerrrr!

Suara petir dan kilat menggelegar di langit.

Bunga langsung menutup telinganya dan memejamkan mata.

“Mama!” teriaknya ketakutan.

Darren yang melihat itu refleks langsung memeluknya.

“Lo tenang ya. Gak apa-apa,” ucap Darren menenangkan.

“Gue takut,” ucap Bunga dengan suara gemetar.

“Ada gue.”

Jgerrrr!

Petir kembali menyambar. Bunga semakin menguatkan pelukannya pada Darren.

Tak lama kemudian, hujan mulai turun. Awalnya hanya rintik kecil, namun tiba-tiba berubah menjadi hujan deras.

Mereka akhirnya menepi di halte dekat situ. Bunga masih berada dalam pelukan Darren sampai akhirnya ia tersadar.

“Eh, sorry… gue gak ada maksud,” ucap Bunga cepat sambil melepaskan pelukannya.

“Gue yang harusnya minta maaf. Refleks peluk lo,” balas Darren.

“Gue yang salah. Soalnya takut petir,” ucap Bunga.

“Gini aja deh, kita sama-sama salah. Jadi gak usah diperdebatkan lagi,” ucap Darren yang tidak ingin memperpanjang masalah.

Bunga tercengir. “Baiklah.”

Ia lalu menatap hujan yang semakin deras.

“Hujannya makin deras.”

“Kita tunggu aja sampai reda,” ucap Darren.

“Iya,” balas Bunga berharap.

Melihat Bunga mulai kedinginan, Darren langsung membuka hoodie miliknya lalu memakaikannya pada Bunga.

Bunga sedikit terkejut.

“Eh, gak usah Darren.”

“Gak apa-apa. Lo kedinginan, kan.”

“Terus lo gimana?”

“Tenang aja. Gue gak akan kenapa-napa kok.”

Beberapa saat kemudian, hujan mulai mereda.

Tak lama, seorang montir datang dengan motornya.

“Darren,” ucap montir itu menyapa.

“Iya, Bang. Maaf ya saya panggil abang pas hujan begini,” ucap Darren.

“Iya gak apa-apa. Saya juga kebetulan lagi lewat depan sana. Mana motor yang bocor?”

“Ini, Bang. Motor teman saya,” ucap Darren.

Montir itu langsung mengeluarkan alat-alatnya dan mulai memperbaiki motor Bunga.

Namun setelah beberapa saat memeriksa…

“Sepertinya ada kerusakan lain di motor ini. Walaupun bannya sudah tidak bocor, motornya tetap tidak bisa nyala,” ucap montir itu.

“Bagaimana, Bel? Bawa saja ke bengkel ya. Lo gak perlu khawatir. Gue kenal kok sama abang ini,” ucap Darren menatap Bunga.

“Ya sudah gak apa-apa. Maaf merepotkan ya, Darren,” ucap Bunga.

“Santai aja, Bun. Gue akan antar lo pulang,” jawab Darren.

“Gak usah, gue pesan taksi online aja.”

“Gak apa-apa. Gue tetap anterin lo pulang,” ucap Darren sambil tertawa kecil.

“Ya sudah deh kalau lo maksa. Maaf ya merepotkan lo lagi,” ucap Bunga.

“Santai aja, Bun,” balas Darren lalu menatap montir itu. “Bang, bawa aja motornya. Kalau sudah selesai hubungi gue.”

“Siap,” jawab montir.

Flashback Off

“Begitulah ceritanya. Kami juga tukaran nomor ponsel, jadi bisa chat-chat sama dia,” ucap Bunga sambil tersenyum. “Sampai sekarang hoodie Darren belum gue balikin. Sengaja, hehe.”

“Lo ini ada-ada aja, Bel,” ucap Rania sambil menggelengkan kepala melihat tingkah unik sahabatnya.

“Semoga lo bahagia deh,” ujar Balqis.

“Makasih, Qis,” ucap Bunga lalu langsung memeluk Balqis.

“Gak usah meluk juga kali,” ucap Balqis sambil melepaskan pelukan manja Bunga.

“Lo belum jadian?” tanya Rania.

Bunga menggeleng.

“Belum.”

“Suruh dia kasih kejelasan hubungan kalian. Masa HTS sih,” ucap Rania.

“Iya deh, nanti gue bikin peka Darren,” ucap Bunga.

“Guys, balik yuk. Hampir dua jam kita di sini. Udah mau Maghrib lagi,” ucap Freya sambil melihat jam tangannya.

“Gak kerasa ya,” ucap Bunga sambil meregangkan tubuhnya sebelum berdiri dari kursinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!