NovelToon NovelToon
Takdirku Yang Tak Terduga

Takdirku Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:566
Nilai: 5
Nama Author: Veela_

Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 3

Hubungan persahabatan kami tidak selalu berjalan dengan mulus. Seperti persahabatan pada umumnya. Ada kalanya kami bertengkar. Namun pertengkaran itu yang membuat hubungan persahabatan kami semakin kuat. Perbedaan pendapat juga sering terjadi. Itu hal yang wajar. Sesekali kami melakukan deep talk untuk meluruskan sesuatu atau ada hal-hal mengganjal di hati kami.

Namun sehari sebelum keberangkatanku ke negara P, kami bertengkar hebat untuk pertama kalinya. Saat aku dengan mendadak memberitahu mereka bahwa aku akan pergi ke negara P. Ara dan Karin sampai tidak mau menemuiku dan menghubungiku. Sampai pada akhirnya, setengah jam sebelum keberangkatanku, mereka datang sambil berlari dengan air mata yang berlinang dan berteriak memanggil-manggil namaku. Waktu itu bandara sangat ramai. Sehingga kami menjadi pusat perhatian.

"Carmila!"

Teriak mereka berdua lagi.

Mereka memelukku dengan erat sampai aku kesulitan bernapas. Kemudian mereka menangis sejadi-jadinya sampai ingus mereka hampir keluar dari hidung. Haha. Aku sangat senang mereka akhirnya mau menemuiku. Aku mengerti, mereka marah karena mereka tidak mau aku pergi. Dan salahku juga. Karena aku memberitahu mereka secara mendadak. Aku hanya ingin mencari waktu yang tepat, namun akhirnya aku selalu menundanya hanya karena aku takut menyakiti mereka. Namun nyatanya, apapun yang aku lakukan berakhir menyakiti juga.

"Ara, Karin, aku pergi ya. Kalian jaga diri baik-baik. Ingat semua apa yang aku katakan. Kalian tidak boleh terlihat lemah, kalian harus selalu kuat. Jadilah wanita tangguh. Jangan sampai aku melihat kalian berpenampilan seperti pertama kali kita bertemu. Dengan bela diri yang kita pelajari bersama, aku harap kalian bisa menjaga diri kalian sendiri dengan baik. Hati-hati dalam mempercayai seseorang. Hati-hati dalam berteman juga ya. Dan khususnya hati-hati dalam berpacaran nantinya!"

"Carmila! Kamu tampak seperti orang tua jika mengatakan itu!"

Ucap Karin.

"Saat aku tidak ada, kalian harus tetap ceria dan jangan bersedih ya! Kita hanya dipisahkan oleh jarak. Aku benar-benar menyayangi kalian."

Aku memeluk mereka dengan erat dan ikut menangis juga. Ayah ikut terharu menyaksikan perpisahan kami.

"Harusnya kamu sadar, sekarang justru yang bersedih itu kamu. Dan malah tangisanmu itu yang paling keras diantara kita bertiga, Mila!"

Ucap Ara yang membuatku kini tertawa.

"Bukankah kamu bisa tinggal disini? Biasanya tidak ikut dengan ayahmu? Kamu benar-benar harus pergi?"

Tanya Karin.

"Aku... Aku terpaksa melakukannya. Ada hal yang tidak bisa aku jelaskan sehingga aku melakukan ini. Mungkin aku adalah teman yang jahat karena meninggalkan kalian demi kepentinganku sendiri. Tapi..."

"Sudah cukup!"

Ara memelukku lagi.

"Aku tidak tahu apa yang kamu alami sebelum pertemuan kita. Aku harap dengan kepergianmu kali ini, apa yang selama ini kamu inginkan terkabul, Mila. Aku dan Karin mengerti."

"Iya, Mila! Kami selalu mendoakan kebahagiaanmu!"

"Aku harus pergi sekarang. Pesawat akan terbang sebentar lagi. Sampai bertemu lagi ya."

Aku melepaskan pelukan mereka. Aku pergi meninggalkan mereka. Ara dan Karin berusaha tersenyum dengan wajah sedihnya sambil melihatku berjalan pergi menuju pintu pesawat.

Kejadian itu adalah kejadian yang akan selalu aku ingat. Aku menyeka air mataku.

"Aku rindu kalian."

Tulisku digrup persahabatan kami.

"Kami juga."

Ditengah percakapan grup ponselku, tiba-tiba suara pantulan bola terdengar bersamaan dengan suara letupan permen karet. Aku menoleh kearah suara itu berasal. Di ujung jalan tak jauh dari tempat aku berdiri, terlihat seseorang sedang berjalan ke arahku. Aku menyipitkan mataku untuk mencoba melihatnya dengan jelas.

"Pria itu..."

Pria itu sepertinya menyadari keberadaanku sehingga ia berhenti dan berdiri diam. Dengan masih menggunakan seragam sekolah dia menatap tajam ke arahku. Aku sedikit terganggu akan tatapan itu.

"Menyebalkan!"

Ucapku pelan dengan kesal.

Aku pun membalikkan badanku kemudian pergi meninggalkannya. Aku pikir sudah cukup bagiku mencari udara segar malam ini. Pertemuan kedua kita. Si pria dingin yang misterius.

...----------------...

Point of view Mark

Menurutku dunia ini begitu menjijikan. Melihat manusia-manusia bermuka dua yang saling menjilat. Tapi malah saling menjelekkan juga di belakang. Namun hal menjijikan yang paling sering aku lihat dengan mataku adalah mereka yang mencintai seseorang entah itu karena wajah, harta atau kepopulerannya saja. Rela melakukan ini dan itu pada seseorang yang tidak tahu bagaimana sifat dan karakter sesungguhnya tanpa takut resiko yang akan mereka ambil.

Hidup di dunia di mana kamu hanya bisa menjadi istimewa hanya jika kamu melakukan hal yang menakjubkan menurut mereka. Dan akan menjadi pecundang seketika jika kamu tidak melakukan apapun untuk mereka. Jika kamu tidak bisa memenuhi kehendak mereka, bahkan mereka tidak segan merundung seseorang hanya karena berbeda dari mereka. Bahkan bisa sampai mencelakai juga, itu memuakkan. Aku tidak ingin ikut campur di dunia yang seperti itu. Dan hanya jadi penonton saja.

"Mark! Mark!! "

Sorak sorai wanita dipinggir lapangan saat aku mencetak skor.

Teriakan yang membuat telingaku sakit. Saat itu pertandingan basket antar sekolah. Aku mewakili sekolah untuk membawa tim basket ini menjadi juara.

Namaku Mark. Saat ini aku duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah. Aku berterimakasih pada tuhan karena telah memberikanku wajah tampan, kecerdasan, dan kemampuan dalam segala bidang. Walaupun hidup didunia yang menjijikan dan dengan orang tua yang gila akan bekerja, aku tetap berterimakasih. Aku tinggal disebuah kamar sewa khusus mahasiswa. Alasan mengapa aku tinggal seorang diri di kamar sewa bukan karena jarak antara rumah dan sekolah yang jauh. Namun rumah orang tuaku yang begitu besar malah membuatku merasa sesak saat tinggal disana seorang diri. Setiap dua minggu sekali pekerja rumah akan datang untuk membersihkan rumah. Terkadang langkah kaki itu menggangguku.

Aku sudah tidak pernah mengeluh lagi akan kepedulian yang tidak aku dapatkan dari orang tuaku. Aku bahkan lelah untuk meminta mereka tinggal. Sikap masa bodo adalah jurus terakhirku kini untuk melupakan perasaan ditinggalkan ini. Kesepian ini membuatku menjadi pribadi yang dingin seiring berjalannya waktu. Dan entah sejak kapan keramaian dan perhatian orang lain membuatku terganggu. Tapi bukan berarti aku anti sosial. Sesekali aku berinteraksi untuk sekedar keperluanku. Sebenernya kalau bukan karena Yuga, aku tidak akan mengikuti pertandingan basket itu.

Yuga adalah sahabatku sejak kecil. Karakter kami yang berkebalikan malah membuat kami menjadi sahabat. Sebenarnya aku juga tidak tahu kapan hubungan kami bisa jadi sedekat itu. Sifat keras kepalanya sangat menjengkelkan. Namun satu-satunya yang mengerti aku hanyalah dia. Untuk sekarang ini.

"Mark! Oper bolanya!"

Teriak Yuga padaku.

Aku gagal mengoper bola itu karena fokusku teralihkan. Seorang wanita asing yang bukan berasal dari negaraku mengalihkan fokusku. Wanita itu terlihat sedang berbicara dengan salah satu murid di sekolahku. Aku mungkin menatapnya sangat lama tanpa aku sadari sambil tanganku men-dribbling bola basket. Matanya begitu jeli memperhatikan setiap sudut area halaman sekolah. Entah kenapa tatapan itu mencuri perhatianku. Tatapan yang hanya dimiliki olehnya. Wajah asing yang begitu khas terlihat cantik dan memiliki aura yang misterius. Tubuhnya terlihat lemah namun aku tidak tahu seberapa kuat karakter dirinya itu. Dingin, namun dalam beberapa detik kemudian terlihat hangat. Senyum mendadak yang terukir diwajahnya itu membuat hatiku bergetar untuk pertama kalinya. Sampai akhirnya Yuga membuatku tersadar. Mengapa hanya dengan memandangnya saja seperti aku terhanyut olehnya? Pertama kali dalam hidupku aku merasakan hal aneh itu. Entah ekspresi apa yang aku buat sekarang ini. Aku tak tahu.

Sampai pertandingan selesai aku masih memikirkan wanita itu. Dari tote bag berlambangkan simbol sekolah ini yang dibawa seorang pria yang datang setelah dirinya dari luar gedung olahraga, sepertinya wanita itu akan bersekolah disekolah ini. Mungkin kah?

"Mark!! Kenapa kamu tidak fokus! Kita hampir kalah! Untung saja kita menang."

Yuga melampiaskan kekesalannya padaku.

"Kita sudah pasti menang."

"Haha kamu benar. Selagi ada Mark di tim kita, tim kita pasti akan menang."

Ucap rekan timku menenangkan Yuga.

"Bukankah perkataanmu barusan terlalu berlebihan?"

Ejekku.

Lalu dipertengahan obrolan kami, segerombol wanita yang sedari tadi membuat telingaku sakit menghampiri dan mulai mengerumuni kami.

"Mark! "

"Senior! "

"Mark, bisakah kita pulang bersama? "

Wanita-wanita itu mulai berdesakkan. Mereka sibuk memberikan barang ini dan itu. Namun aku enggan menerimanya dan membuat Yuga menerimanya untukku. Entah kenapa, aku tidak pernah tertarik dengan wanita yang tertarik padaku. Apalagi sampai seperti itu. Aku pikir itu mengganggu bagiku.

"Yuga, aku harus pergi. Sampai jumpa besok disekolah."

"Okay! "

Aku menghiraukan ajakan wanita-wanita itu dan terlihat dari raut wajah mereka, mereka tampak kecewa. Tapi aku tidak perduli.

Dipikiranku hanya penuh dengan wajah wanita asing tadi. Entah mengapa aku merasa malu dan berdebar sesaat ketika aku memikirkannya. Hal tidak terduga pun terjadi saat aku pulang sekolah. Malam itu, saat aku hendak pulang ke kamar sewaanku, aku berpapasan dengannya tanpa sengaja. Senyumnya terukir sangat manis saat memandangi pemandangan kota.

"Dia bisa tersenyum seperti itu juga rupanya."

Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan sampai membuat dirinya tersenyum hangat seperti itu. Namun raut wajahnya pun berubah sedih. Aku memainkan bola basket yang ada ditanganku. Aku mengunyah-ngunyah permen karet dan membuat balon dari mulutku mencoba mencuri perhatiannya. Entah apa yang aku lakukan. Saat dia tersadar, aku mencoba bersikap seperti biasanya. Gadis itu menoleh kearahku. Ketika dia menyadari keberadaanku, seketika aku terdiam membeku. Aku tidak bisa membiarkannya tau apa yang aku rasakan saat ini kan? Bisa-bisa dia kabur. Aku berusaha merubah ekspresiku. Namun dia menatapku dengan tatapan tajam kemudian. Diapun pergi.

"Apasih yang sebenarnya aku lakukan?

Ucapku sambil menepak pelan kepalaku sendiri.

Namun aku terlambat menyadari, bahwa bukan hanya kami yang berada ditempat itu. Aku tidak menyangka ketidak pedulianku saat disekolah tadi, akan membuat bencana pada wanita asing itu dihari pertamanya sekolah. Kalau saja aku tidak diikuti, mungkin hal itu tidak akan terjadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!