NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:329
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan yang Belum Diketahui

Pertanyaan itu masih menggantung di udara.

Liam masih berdiri terlalu dekat dengan kedua tangannya bertumpu di dinding di sisi tubuh Rachel—mengurung tanpa menyentuhnya. Tatapannya tajam, seolah menunggu jawaban yang sudah ia perkirakan akan Rachel berikan.

“Sekarang,” katanya rendah. “Bagaimana kau akan membayar semua ini?”

Rachel menarik napas. Dadanya mendadak terasa sempit, tapi ia tidak menunduk, tidak juga memalingkan wajah. Ia sudah terlalu sering berada di posisi ini—di hadapan pria yang menagih sesuatu darinya. Hanya saja, kali ini rasanya ia tidak ingin runtuh.

Alih-alih menjawab, ia membuka mulut dan melontarkan sebuah pernyataan yang tanpa ia sadari cukup berbahaya. “Apapun yang Anda inginkan, Tuan Smith.”

Suaranya terdengar lirih dan sedikit bergetar, tapi kalimat itu keluar utuh dari bibirnya. Pernyataan itu tidak terdengar menantang, dan tidak juga terdengar seperti rayuan. Itu adalah sebuah pernyataan seseorang yang sudah kehilangan hampir segalanya, namun masih berusaha memegang satu sisa kendali, sekecil apa pun.

Liam pun membeku. Bukan karena marah, bukan juga karena tersinggung. Ia hanya diam dan menatap Rachel tajam. Ini pertama kalinya seseorang tidak langsung menawar dengan tubuhnya, tidak memohon dengan suara pecah, dan tidak menunduk seolah sudah kalah sebelum permainan dimulai. Rachel berdiri di depannya dengan ketakutan yang jelas terlihat, tapi juga dengan keberanian yang tidak ia duga.

Liam menarik tubuhnya mundur selangkah. Jarak yang tercipta terasa nyata dan hampir mengganggu. Dan udara akhirnya kembali masuk ke paru-paru Rachel dengan lebih leluasa, meski jantungnya masih berdegup keras.

“Kita putuskan nanti,” kata Liam akhirnya. Suaranya tenang dan terkendali, seperti biasa. “Setelah permintaanmu terpenuhi.”, lanjutnya.

Itu bukan jawaban, tapi sebuah penangguhan. Sebab, sejujurnya Liam sendiri juga bingung akan memberi jawaban seperti apa. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Rachel akan membalas pertanyaannya seberani itu.

Liam berbalik ke meja kecil di samping sofa, mengambil sebuah kotak hitam ramping, lalu kembali mendekat ke tempat Rachel masih berdiri.

“Kau akan membutuhkannya,” katanya sambil menyerahkan kotak itu. “Untuk tahu kabar adikmu.”

Rachel membuka kotak itu perlahan. Sebuah ponsel baru terbaring rapi di dalamnya. Ia terdiam sejenak, tidak menyangka bahwa Liam memiliki sedikit kepedulian tentang dirinya untuk menghubungi Anna.

“Gunakan dengan bijak,” tambahnya singkat. Peringatan itu tidak perlu diperjelas. Rachel jelas memahaminya dengan jelas.

Liam mengambil ponsel itu kembali sebentar, menekan beberapa tombol. “Nomorku,” katanya, lalu menyerahkannya lagi pada Rachel.

Di layar ponsel yang menyala cukup terang, sebuah kontak baru saja tersimpan. Liam menyimpan nomornya dengan sebuah nama, yaitu 'L'.

“Aku tidak selalu ada,” lanjutnya. “Kalau kau perlu bicara… hubungi aku.”

Nada suaranya tetap dingin dan singkat. Tapi di balik itu, terselip sesuatu yang tidak diucapkannya, yakni sebuah perlindungan. Bahwa selama Rachel tetap berada dalam batas yang ia tentukan, makan ia akan aman bersamanya.

"Kembalilah ke kamarmu. Pastikan tetap berada di dalam rumah ini,"

"Baiklah. Aku mengerti."

Beberapa menit kemudian, Rachel kembali ke kamar yang sudah ia tempati sejak semalam. Ia duduk di tepi ranjang, dengan ponsel itu masih berada di genggamannya. Jarinya menutup layar, seolah takut cahaya kecil itu akan membuka sesuatu yang belum siap ia hadapi.

Kini pikirannya berlari ke Tom. Tangan kasar, cengkeraman di lengan, napas bau alkohol di wajahnya, dan ancaman yang selalu berujung pada satu nama yaitu Anna. Lalu, pikirannya bergeser ke Liam. Sosoknya yang dingin dan mengontrol, tapi setidaknya ia tidak pernah berbuat kasar padanya, tidak pernah berbicara dengan nada tinggi dan tidak pernah menggunakan Anna sebagai alat untuk mengendalikannya.

Liam memang baru saja memanfaatkannya, Rachel tidak naif soal itu. Tapi caranya berbeda. Dan perbedaan kecil itu membuat Rachel tanpa sadar, memiliki sedikit kepercayaan padanya.

Ponsel pemberian Liam itu berdering ketika matahari sudah condong ke barat. Rachel tersentak dan duduk tegak di tepi ranjang, seolah suara itu bisa menyeretnya kembali ke pagi yang penuh ancaman. Layar ponsel menyala dengan nomor tidak dikenal terlihat di sana. Jantungnya berdebar keras sebelum ia menjawabnya.

“Halo?” Suaranya lebih serak dari yang ia kira.

“Nona,” suara di seberang terdengar datar, profesional. “Kami menghubungi Anda sesuai perintah Tuan Smith.”

Napas Rachel tertahan mendengar suara seorang pria dari balik telepon, yang ternyata adalah orang suruhan Liam.

“Kami sudah mengevakuasi adik Anda dan Mrs. Portman.”

Kata-kata itu menghantamnya seperti udara setelah lama tenggelam. Bahunya melemas dan punggungnya bersandar ke sandaran ranjang. Untuk sesaat, dunia terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.

“Mereka… mereka aman?” tanyanya, hampir berbisik.

“Aman,” jawab pria itu tanpa jeda. “Saat ini mereka berada di salah satu apartemen milik Tuan Smith. Lokasinya aman dan dijaga dengan ketat.”

Rachel menutup mata, dan tangannya yang sedang menggenggam ponsel bergetar. Ia mengangguk kecil meski tahu pria di balik panggilan telepon itu tidak bisa melihatnya. “Terima kasih,” katanya lirih. “Lalu—Sam?”

Ada jeda singkat setelahnya. Terlalu singkat untuk membuat Rachel ragu, tapi cukup untuk membuat perut Rachel mengencang.

“Pria itu melarikan diri.”

Rachel membuka mata. “Dia kabur?”

“Ya.”

Satu kata itu cukup untuk merusak rasa lega yang baru saja ia rasakan. Sam yang kabur berarti ancaman yang belum selesai. Bayangan wajahnya, suaranya di telepon, dan ancamannya—semuanya kembali menyeruak memenuhi udara di ruangan itu.

“Kami akan memastikan adik Anda dan Mrs. Portman tetap aman,” lanjut suara itu dingin.

"Baiklah, Tuan. Terimakasih."

Panggilan itu terputus beberapa detik kemudian. Rachel menurunkan ponsel perlahan dan dadanya naik turun. Anna aman, begitu juga dengan Mrs. Portman. Itu seharusnya cukup untuk membuatnya tenang. Tapi dunia Liam bukan dunia yang memberikan rasa aman tanpa syarat, dan ia tahu itu sekarang.

Lalu sore merambat menjadi senja. Rachel keluar dari kamarnya dengan langkah ragu. Ia merasa perlu mengucapkan terima kasih, bukan lewat telepon. Ia ingin mengatakannya langsung pada Liam. Apa pun niatnya, apa pun harga yang akan ia tagih nanti, ia telah menyelamatkan nyawa Anna.

Di lorong lantai atas yang begitu luas, suasana terasa lebih sunyi. Bahkan rasanya terlalu sunyi untuk ukuran tempat sebesar ini. Lalu, seorang pelayan menyapanya dengan anggukan singkat.

“Dimana Tuan Smith?” tanya Rachel.

“Beliau sedang tidak di rumah, Nona,” jawab pelayan itu sopan, tanpa penjelasan tambahan.

Rachel sontak mengangguk. Ia tidak tahu harus menunggu di mana, jadi ia duduk di salah satu sofa yang ada di lorong itu dengan ponsel berada di genggamannya. Waktu pun seolah berjalan lambat—setiap menit terasa panjang, diisi pikiran tentang Anna, tentang Sam yang menghilang, dan tentang transaksi yang belum ia ketahui harganya.

Langit di luar menggelap ketika suara mobil akhirnya terdengar dari halaman depan. Rachel berdiri refleks, mempersiapkan diri untuk berbicara dengan Liam.

Tidak lama setelah itu pintu utama terbuka. Liam masuk dengan langkah tenang, mantel berwarna gelap di bahunya, dan wajahnya kembali pada ekspresi yang sulit dibaca. Ia menaiki tangga dan hendak bergegas menuju kamarnya. Namun ia berhenti sejenak ketika melihat Rachel berdiri di dekat sofa untuk menunggunya.

“Aku—” Rachel ragu sesaat, lalu memaksakan suaranya tetap stabil. “Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.”

Ia tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan rasa lega yang bercampur takut itu. Jadi ia tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum orang yang baru saja lolos dari sesuatu yang hampir menghancurkannya.

Liam terdiam. Kini ekspresinya tampak goyah, meski hanya sesaat dan nyaris tak terlihat. Senyuman Rachel itu cukup untuk membuat dadanya terasa sesak. Sebuah senyuman yang tampak rapuh itu menyalakan sesuatu yang berbahaya di dalam dirinya, yakni keinginan. Bukan sekadar melindungi, bukan sekadar membayar hutang lama, tapi juga memilikinya.

Kesadaran itu membuatnya berdehem pelan, menarik dirinya perlahan sebelum perasaannya terlihat di wajah. “Kalau kau ingin berterima kasih,” katanya akhirnya, suaranya kembali dingin dan terkontrol, “datanglah ke ruanganku malam ini.”

Rachel terdiam. “Malam ini?”

Liam tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya menatapnya sebentar—tatapan yang tidak menjanjikan apa pun, tapi juga tidak menutup kemungkinan apa pun lalu, ia melangkah pergi. Ia tidak menunggu persetujuan dari Rachel, tidak juga memberi penjelasan apapun padanya.

Rachel berdiri membeku di ruang yang kembali sunyi. Kata-kata Liam bergaung di kepalanya, bercampur dengan detak jantungnya sendiri. Ia tidak tahu apa yang menantinya malam ini. Tidak tahu apakah ini bagian dari transaksi, ujian, atau sesuatu yang lebih berbahaya.

Yang ia tahu hanya satu, bahwa ia sudah selamat dari Tom. Ia sudah berhasil menyelamatkan Anna. Tapi mungkin, ia baru saja melangkah masuk ke dalam permainan yang jauh lebih gelap, dengan aturan yang belum ia pahami.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!