Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah aku salah?
Hari kedua kami habiskan dengan berjalan menyusuri pantai, mencicipi makanan laut, dan tertawa kecil ketika ombak hampir menyeret sandal jepitku.
Ashar tidak dingin. Ia perhatian. Ia menggenggam tanganku saat menyeberang.
Ia membelikanku kelapa muda tanpa kuminta.
Tapi setiap kali aku berharap sentuhan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih intim, ia selalu menjaga jarak dengan cara yang halus.
Malam kedua.
Aku kembali menunggu.
Dan akhirnya kami kembali tertidur dengan jarak beberapa senti di antara tubuh kami.
Hari ketiga pun sama.
Sampai akhirnya, rencana bulan madu seminggu harus dipersingkat.
“Ada urusan mendadak,” katanya pagi itu. “Kita harus pulang.”
Aku tidak protes. Aku istri. Aku harus mengerti.
Namun ada bagian kecil dalam diriku yang merasa kecewa.
Bukan karena Pangandaran yang singkat.
Tapi karena sesuatu yang belum terjadi.
Sesaat setelah kami kembali, Ashar menerima telepon panjang di ruang kerja kecil di rumah kami.
Wajahnya serius.
“Ke Kalimantan?” tanyaku ketika ia keluar dari ruangan.
Ia mengangguk.
“Dua minggu.”
“Tidak bisa ditunda?”
“Tidak.”
Jawabannya singkat. Tegas. Seperti biasanya.
“Bolehkah aku ikut?”
Pertanyaan itu keluar sebelum sempat kupikirkan.
Ia menatapku beberapa detik. Tatapan yang sulit kuterjemahkan.
“Di sana aku akan sangat sibuk. Banyak perjalanan darat. Bertemu klien. Aku tidak ingin kamu kelelahan.”
“Aku tidak keberatan.”
“Aku yang keberatan,” potongnya lembut.
Bukan marah. Tapi final.
Aku terdiam.
Aku tahu tugasku adalah taat. Tapi sebagai istri yang bahkan belum pernah merasakan sepenuhnya menjadi istri, kepergian ini terasa seperti jarak yang semakin melebar.
Pagi keberangkatannya, aku menyiapkan sarapan lebih awal.
Ia mengenakan kemeja putih dan jas tipis. Wangi parfumnya samar tapi khas.
“Jaga diri baik-baik,” katanya.
Aku mengangguk, lalu mencium punggung tangannya.
Ia mengecup keningku.
Hanya itu.
Tidak ada pelukan panjang. Tidak ada bisikan mesra.
Dan sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, mobilnya sudah menghilang di ujung jalan.
Aku berdiri cukup lama di depan pagar.
Rumah terasa sunyi.
Terlalu sunyi untuk seorang pengantin baru.
Hari-hari berikutnya terasa berjalan lambat.
Kami tetap berkirim pesan, meski tidak terlalu intens.
“Aku sudah sampai.”
“Meeting selesai.”
“Jangan lupa makan.”
Kalimat-kalimat sederhana.
Tidak ada “aku rindu”.
Tidak ada “aku tak sabar pulang”.
Aku mulai membandingkan diriku dengan cerita-cerita teman.
Mereka mengeluh suaminya terlalu manja.
Aku bahkan belum tahu seperti apa rasanya dimanja.
Apakah ada yang salah denganku?
Aku bercermin lebih lama dari biasanya. Kulitku tidak terlalu putih, tapi bersih.
Tubuhku tidak terlalu tinggi, tapi proporsional. Aku menjaga diriku. Menjaga sikapku.
Aku bahkan belum pernah disentuh.
Lalu mengapa suamiku seolah tidak tergesa dan bahkan seperti tidak tertarik untuk melakukannya denganku istri sah nya?
Apakah ia benar-benar tidak tertarik?
Atau... apakah ia menikahiku karena alasan lain?
Suatu malam, hampir tengah malam, ponselku bergetar.
Nama Ashar muncul di layar.
Aku langsung mengangkatnya.
“Halo?”
Di seberang sana terdengar suara bising, seperti suara kendaraan dan orang berbicara.
“Mala.”
Hanya satu kata, tapi nadanya berbeda. Lelah.
“Kamu baik-baik saja?”
“Iya.”
Ada jeda cukup lama.
“Ashar…”
“Hm?”
Aku ingin bertanya.
Tentang kami.
Tentang malam itu.
Tentang kenapa dan bagaimana.
Tapi kata-kata itu terasa begitu berat untuk keluar.
“Aku… menunggumu pulang,” akhirnya hanya itu yang mampu kukatakan.
Ia terdiam beberapa detik.
“Aku juga ingin cepat pulang.”
Kalimat itu seharusnya membuatku tenang.
Namun entah kenapa, ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatku semakin penasaran.
Seperti ada bagian dari dirinya yang belum pernah ia tunjukkan padaku.
Pertanyaan itu mulai mengganggu tidurku.