UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.
Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.
Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.
Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.
Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.
Namanya Raka.
Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.
Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melodi yang Mendahului Waktu
Nara terus berjalan tanpa arah.
Ia tidak tahu sudah berapa blok ia lewati sejak meninggalkan Kedai Kopi Kampus.
Terik matahari tengah hari menyengat kulitnya, tetapi ia tidak peduli. Kakinya melangkah secara mekanis, membawa tubuhnya menjauh dari kafe, menjauh dari Sinta, dan yang paling penting... menjauh dari Raka.
Raka adalah ayahnya.
Pikiran itu terus berulang di kepalanya seperti kaset rusak.
Rasa mual kembali menyerang perutnya setiap kali bayangan senyum pemuda itu melintas.
Nara akhirnya berhenti di sebuah taman kota yang rindang.
Pohon-pohon mahoni besar memberikan kanopi alami, menghalangi cahaya matahari. Ia menjatuhkan dirinya di salah satu bangku kayu panjang, membiarkan kepalanya bersandar lemas pada sandaran bangku. Ia memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu.
"Bagaimana aku bisa memperbaiki ini?" bisiknya pada kehampaan.
Dunia di sekelilingnya terasa bergerak terlalu cepat.
Ia datang ke masa lalu secara tidak sengaja.
Ia mengganggu keseimbangan takdir.
Jika Raka sibuk menemaninya berkeliling Bandung, pemuda itu tidak akan punya waktu untuk mendekati Sinta.
Dan jika Raka dan Sinta tidak pernah bersama, Nara akan terhapus dari eksistensi.
Menghilang.
Lenyap seolah tidak pernah dilahirkan.
Di tengah keheningan taman yang hanya disela oleh suara daun bergesekan, telinga Nara menangkap sebuah suara.
Petikan gitar akustik.
Nada-nadanya mengalun dari arah air mancur di tengah taman.
Awalnya, Nara tidak terlalu mempedulikannya.
Kota ini memang dipenuhi musisi jalanan, sama seperti Raka.
Namun, beberapa detik kemudian, mata Nara terbuka lebar.
Tubuhnya menegang.
Ia mengenali melodi itu.
Bukan karena itu adalah lagu klasik dari tahun 80-an atau awal 90-an yang sering diputar ayahnya.
Ia mengenali melodi itu karena itu adalah lagu dari band indie asal Jakarta yang baru akan dirilis pada tahun 2018, dua puluh tiga tahun dari sekarang.
Nara bangkit berdiri perlahan.
Jantungnya berdebar kencang, kali ini didorong oleh rasa penasaran yang luar biasa.
Ia melangkah mendekati sumber suara, berjalan mengitari semak-semak pangkas yang mengelilingi air mancur.
Di tepi air mancur yang airnya sudah mengering, duduk seorang perempuan.
Perempuan itu mungkin berusia akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan, Ia mengenakan jaket kanvas berwarna hijau lumut yang sudah sangat usang, dipadukan dengan celana jeans yang sobek di bagian lutut.
Rambut hitamnya dipotong pendek sebahu dan terlihat berantakan, seolah ia sering meremasnya saat sedang frustrasi.
Di pangkuannya, sebuah gitar akustik tua yang penuh goresan sedang dipetik dengan jari-jari yang terampil namun terlihat lelah.
Nara berhenti sekitar dua meter darinya.
Perempuan itu tidak melihat ke arah Nara.
Matanya terpejam, menikmati melodi dari masa depan yang mengalir dari ujung jarinya.
"Lagu itu..." suara Nara keluar sedikit bergetar, Ia menelan ludah. "Itu seharusnya belum diciptakan."
Jari-jari perempuan itu berhenti memetik senar.
Suara musik lenyap, menyisakan keheningan yang terasa berat di antara mereka.
Perempuan itu perlahan membuka matanya dan menoleh.
Mata cokelatnya menatap Nara lurus-lurus.
Ada kedalaman yang mengerikan di dalam tatapan itu.
Sebuah kepahitan, kelelahan yang luar biasa, dan... rasa familiar yang membuat bulu kuduk Nara berdiri.
Perempuan itu tersenyum miring.
Senyum yang sinis namun menyimpan luka.
"Memang belum," jawab perempuan itu.
Suaranya serak, seperti seseorang yang terlalu banyak bernyanyi, atau terlalu banyak menangis. "Sama sepertimu, kan? Kamu juga belum diciptakan di tahun ini."
Nara mundur satu langkah.
Napasnya tercekat. "S-siapa kamu? Bagaimana kamu tahu?"
Perempuan itu tidak langsung menjawab.
Ia memangku gitarnya, merogoh saku jaketnya yang usang, dan mengeluarkan sebatang rokok yang tidak dinyalakan, hanya diputar-putar di sela jarinya.
"Panggil saja aku Aruna," katanya pelan. "Dan aku tahu banyak hal tentangmu, Nara. Aku tahu dari mana asalmu, Aku tahu jam saku tua siapa yang membawamu kemari. Dan yang paling penting..."
Aruna mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke manik mata Nara.
"...aku tahu apa yang baru saja kamu sadari di kafe tadi."
Nara merasa seperti disiram air es, kakinya terpaku ke tanah. Perempuan ini, Aruna, bukan sekadar orang asing.
Ia adalah bagian dari anomali waktu ini.
"Kamu dari masa depan?" tanya Nara setengah berbisik.
"Sesuatu seperti itu," jawab Aruna diplomatis.
Ia menyandarkan punggungnya kembali, menatap langit-langit daun mahoni di atas mereka. "Sakit rasanya, kan? Menyadari bahwa satu-satunya orang yang membuatmu merasa aman di kota asing ini, adalah orang yang sama sekali tidak boleh kamu sentuh."
Nara menggigit bibir bawahnya, menahan rasa panas yang kembali menjalar di matanya. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."
Aruna tertawa hambar. "Tidak perlu berbohong padaku, Nara. Dinding yang baru saja kamu bangun untuk mendorong Raka menjauh... itu dinding yang bagus. Tapi itu belum cukup."
"Apa maksudmu belum cukup?"
Aruna menunjuk ke arah udara kosong, seolah sedang menggambar peta di sana.
"Waktu itu seperti aliran sungai, kalau kamu melempar batu besar ke dalamnya, arusnya akan mencari jalan baru, kehadiranmu di sini adalah batu besar itu."
Aruna menatap Nara dengan ekspresi yang tiba-tiba mengeras, sangat serius. "Kalau kamu hanya diam dan menjauh, Raka dan Sinta tidak akan bersatu secara ajaib. Takdir mereka sudah terganggu karena Raka menghabiskan semalaman menemanimu di terminal dan taman bahkan di tempat peristirahatannya."
"Lalu apa yang harus kulakukan?!" sergah Nara, suaranya sedikit meninggi karena frustrasi yang memuncak. "Aku sudah meninggalkannya! Aku menyuruhnya kembali pada Sinta!"
"Menyuruhnya kembali tidak sama dengan memastikan mereka jatuh cinta," balas Aruna tajam.
"Raka adalah pemuda yang keras kepala, dan Sinta adalah benteng es yang susah ditembus. Dulu, alam semesta butuh waktu berbulan-bulan untuk membuat mereka saling bicara. Sekarang, karena kamu membuat Raka penasaran padamu, alam semesta kehilangan momentum itu."
Nara terdiam.
Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.
"Kalau begitu... aku harus membuat mereka bersama, Aku akan menjadi jembatan untuk mereka."
Aruna menatap Nara dalam diam untuk waktu yang lama.
Ada sorot kasihan yang aneh di mata perempuan berjaket usang itu, seolah ia sedang melihat seekor burung yang dengan sukarela terbang masuk ke dalam sangkar.
"Itu jalan yang sangat menyakitkan, Nara," bisik Aruna.
Suaranya kini lebih lembut. "Kamu harus tersenyum melihat pria yang mulai kamu sukai, mengejar perempuan lain di depan matamu. Kamu harus mendorongnya, merangkainya, sampai ia tidak lagi melihatmu, melainkan hanya melihat ibumu."
Nara menelan ludah.
Rasa sesak itu kembali mencengkeram dadanya, tapi kali ini ia tidak membiarkannya menang.
Ia mengingat wajah ayahnya yang dingin di masa depan.
Ia mengingat wajah Sinta yang lelah.
Jika ia bisa membuat mereka bersama dari awal dengan cara yang benar, mungkin masa depan keluarganya tidak akan sehancur yang ia alami.
"Aku akan melakukannya," kata Nara. "Apa pun yang terjadi, agar aku bisa lahir dan agar aku bisa pulang."
Aruna tersenyum tipis, Ia perlahan bangkit berdiri, menyandarkan gitarnya ke bahu.
"Semoga berhasil Nara, tapi ingat satu hal..." Aruna berjalan melewati Nara, langkahnya pelan dan berat.
Ia berhenti sejenak tepat di samping telinga Nara. "...jangan pernah mencoba menyelamatkan Raka dari takdirnya, biarkan dia patah hati, biarkan dia gagal. Karena jika kamu mencoba mengubah inti dari siapa dia, kamu akan menghancurkan seluruh dunia ini."
Sebelum Nara sempat bertanya apa maksud dari kalimat mengerikan itu, Aruna sudah berjalan menjauh, menghilang di balik pepohonan taman kota, menyisakan Nara yang kini berdiri sendirian dengan sebuah misi baru yang mustahil.