Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
0330.
“Adrian.”
Suara itu datang begitu dekat, begitu jelas, seolah berbisik tepat di telinganya. Adrian berdiri di tengah jalanan London yang disinari matahari pucat, napasnya tertahan saat menatap sosok di depannya. Seraphina berdiri beberapa langkah darinya, rambut cokelat keemasan itu bergerak pelan tertiup angin musim semi, sementara senyumnya..., senyum yang dulu terlihat begitu hangat hingga terasa tidak nyata.
Untuk sesaat, semua terasa normal, seolah waktu tidak pernah bergerak maju, seolah tidak ada jarak yang pernah tercipta di antara mereka.
“Kamu datang,” ucap Seraphina lembut, suaranya ringan namun cukup untuk membuat dada Adrian mengencang tanpa alasan yang bisa ia jelaskan.
Adrian mengerutkan kening tipis, langkahnya bergerak mendekat tanpa ia sadari. “Aku tidak pernah pergi,” jawabnya pelan, meski di dalam dirinya ada sesuatu yang terasa ganjil, seperti ia sendiri tidak sepenuhnya percaya pada kalimat itu. Seraphina tertawa kecil, suara tawanya bercampur dengan hiruk-pikuk kota yang terasa terlalu damai untuk menjadi kenyataan.
Ia berjalan mendekat, jarak di antara mereka memendek, dan untuk pertama kalinya sejak sekian lama, Adrian merasa hangat itu kembali..., rapuh, namun nyata.
“Kamu tahu?” lanjut Seraphina sambil memiringkan kepala, menatapnya dengan sorot mata yang sulit ditebak. “Aku pikir kita akan selalu seperti ini.”
Adrian berhenti tepat di depannya, menahan napas tanpa sadar. “Seperti apa?” tanyanya, suaranya lebih rendah dari biasanya.
Seraphina tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya bahagia, namun juga tidak menyakitkan.
“Tidak bersama,” katanya pelan, lalu jeda sejenak sebelum melanjutkan, “tapi juga tidak benar-benar berpisah.” Kalimat itu jatuh begitu ringan, namun terasa berat di dada Adrian, seolah sesuatu di dalam dirinya ditarik perlahan ke arah yang tidak ia mengerti.
“Seraphina—” ia mencoba mengatakan sesuatu, mencoba menahan momen itu agar tidak berlalu begitu saja, namun kata-katanya terhenti ketika suasana di sekeliling mereka berubah tanpa peringatan.
Langit yang tadi cerah mendadak meredup, warna-warnanya memudar seperti lukisan yang ditarik dari kanvas. Angin berhenti berembus, suara langkah kaki orang-orang menghilang, dan dunia yang tadinya terasa hidup kini menjadi terlalu sunyi. Adrian menatap Seraphina, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
Wajah wanita itu perlahan memudar.
Bukan menjauh. Bukan berbalik.
Melainkan menghilang.
“Jangan—” tangan Adrian terulur cepat, mencoba meraih, namun yang disentuhnya hanyalah udara kosong. Tidak ada hangat, tidak ada nyata, hanya kehampaan yang langsung menelan segalanya dalam sekejap.
Gelap.
Sunyi.
Kosong.
“Direktur!”
Suara itu tiba-tiba memecah kegelapan, begitu keras dan tidak pada tempatnya hingga membuat Adrian tersentak. “Direktur, bangun!” Suara itu terdengar lagi, penuh energi, terlalu hidup untuk berada di dunia yang barusan runtuh di hadapannya.
Adrian membuka mata dengan napas tersengal, tubuhnya langsung menegang saat kesadaran kembali menghantamnya. Ia duduk di tempat tidur, tangan refleks mengusap wajah, mencoba menenangkan detak jantung yang masih terlalu cepat.
Ruangan masih gelap, hanya cahaya redup dari lampu samping yang memantulkan bayangan samar di dinding, sementara suara AC berdengung pelan seolah tidak peduli pada kekacauan yang baru saja ia alami.
Matanya bergerak ke arah jam digital di samping tempat tidur.
03:30.
Ia terdiam beberapa detik, mencoba menata napasnya yang belum sepenuhnya stabil. Mimpi itu masih terasa jelas, terlalu jelas, seolah ia benar-benar baru saja kehilangan sesuatu untuk kedua kalinya. Namun di antara sisa-sisa bayangan itu, suara lain justru lebih menonjol, suara yang heboh, ceroboh, dan… sangat familiar.
Alya.
Adrian menghela napas panjang, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di meja samping. Ia menatap layar beberapa saat, ibu jarinya berhenti tepat di atas satu nama, seolah ada pertimbangan yang tidak sepenuhnya ia sadari. Namun pada akhirnya, tanpa benar-benar memikirkan alasannya, ia menekan nama itu dan mengangkat ponsel ke telinga.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Hingga akhirnya panggilan itu terangkat, menampilkan langit-langit kamar yang gelap dan sedikit buram.
“Hallo…” suara di seberang terdengar berantakan, berat, jelas milik seseorang yang baru saja ditarik paksa dari tidur nyenyak.
“…Alya,” panggil Adrian pelan, suaranya lebih rendah dan serak dari biasanya.
Di layar, terdengar suara gesekan kain sebelum wajah Alya akhirnya muncul. Rambutnya benar-benar berantakan ke segala arah, matanya setengah terbuka, namun dalam hitungan detik ekspresinya berubah drastis menjadi panik.
“DIREKTUR?!” serunya sambil langsung duduk tegak. “Ada apa?!”
Adrian berkedip pelan, sedikit terdiam oleh reaksi yang terlalu dramatis itu. “Tidak… ada apa-apa,” jawabnya jujur, meski bahkan dirinya sendiri merasa kalimat itu terdengar aneh.
Alya menatapnya dengan mata membesar, seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
“Kamu tahu ini jam berapa?!” tanyanya tajam sambil menunjuk layar.
Adrian melirik jam di sampingnya sekilas. “03.30.”
“TERUS KAMU TELEPON AKU JAM 03.30 DAN BILANG TIDAK ADA APA-APA?!” suara Alya hampir meledak, membuat Adrian terdiam beberapa detik tanpa jawaban.
Ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti kenapa ia menelepon. Namun setelah jeda singkat, ia akhirnya berkata pelan, “Aku… tidak bisa tidur.”
Reaksi Alya langsung berubah. Wajahnya yang tadi panik kini berganti menjadi bingung, matanya berkedip beberapa kali seolah sedang memproses informasi itu.
“Oh,” gumamnya, lalu menyipit sedikit. “Cuma itu?”
Adrian mengangguk kecil.
Alya menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas panjang sebelum menjatuhkan tubuhnya kembali ke bantal. “Ya ampun, aku kira kamu kenapa,” katanya sambil menutup mata sejenak, meski masih memegang ponsel di depan wajahnya.
“Direktur, kamu hampir bikin aku serangan jantung.”
Adrian tidak menanggapi, namun suasana di antara mereka mulai terasa lebih ringan. “Alya,” panggilnya lagi.
“Iya?” jawab Alya tanpa membuka mata sepenuhnya.
“Kamu… tidur?” tanya Adrian dengan nada datar.
Alya langsung membuka satu mata, menatapnya dengan ekspresi datar yang penuh penilaian. “Ya iya,” katanya sambil menunjuk rambutnya yang berantakan. “Menurut kamu ini gaya rambut pesta?”
Sudut bibir Adrian hampir bergerak, namun ia menahannya, menjaga wajahnya tetap setenang mungkin. Beberapa detik mereka hanya saling diam, sebelum Alya tiba-tiba membuka kedua matanya lebar dan mendekatkan wajahnya ke kamera.
“Tunggu,” katanya curiga.
Adrian sedikit mengangkat alis.
Alya menyipitkan mata, menatapnya dengan fokus berlebihan. “Kamu kenapa?” tanyanya, nada suaranya berubah lebih serius meski masih terdengar mengantuk.
Adrian mengalihkan pandangan sejenak sebelum menjawab, “Hanya tidak bisa tidur.”
“Serius?” Alya menyilangkan tangan, meski posisi tubuhnya masih setengah tenggelam di bantal.
“Direktur yang biasanya kayak robot ini tiba-tiba insomnia? Ini berita besar, loh.”
“Robot?” ulang Adrian datar.
“Iya, robot,” jawab Alya mantap. “Tenang, dingin, teratur, tidak terguncang oleh apa pun. Sekarang kamu nelpon aku jam tiga pagi dengan suara kayak habis dikejar hantu. Itu upgrade atau downgrade sih?”
Adrian terdiam, namun kali ini bukan karena tidak punya jawaban. Alya memperhatikan wajahnya beberapa detik, lalu ekspresinya perlahan berubah, lebih lembut, lebih memahami.
“Direktur..., Kamu mimpi buruk ya?” tanyanya pelan.
Adrian tidak menjawab, namun diamnya sudah cukup jelas. Alya menghela napas panjang, mengusap wajahnya sebentar sebelum akhirnya duduk lebih tegak, seolah benar-benar bersiap melakukan sesuatu yang penting.
“Oke,” katanya tegas.
Adrian menatapnya dengan alis terangkat sedikit.
“Aku akan membantu,” lanjut Alya sambil menunjuk dirinya sendiri dengan penuh percaya diri.
“Membantu?” ulang Adrian, nada suaranya sedikit skeptis.
“Iya,” jawab Alya tanpa ragu, lalu tiba-tiba menarik napas dalam-dalam. “Sekarang, tarik napas!”
Adrian sedikit terkejut dengan perubahan nada yang mendadak itu, sementara Alya sudah lebih dulu memberi contoh dengan serius.
“Tarik napas… hembuskan…” katanya perlahan, matanya menatap layar seolah memastikan Adrian mengikuti instruksinya.
Setelah beberapa detik ragu, Adrian akhirnya menurut. Ia menarik napas perlahan, lalu menghembuskannya, mengikuti ritme yang diberikan Alya.
“Nah, gitu,” kata Alya puas, senyum kecil mulai muncul di wajahnya.
Namun tanpa memberi jeda, ia langsung menambahkan dengan nada penuh keyakinan, “Sekarang bayangkan cilok.”
Adrian berkedip. “…Apa?”
“Cilok,” ulang Alya mantap, seolah itu adalah solusi paling logis di dunia.
Ia mengangkat satu jari, ekspresinya serius seperti sedang memberikan kuliah filsafat. “Bulat. Seperti kehidupan. Kadang kenyal, kadang alot, tapi tetap enak kalau dikasih bumbu.”
Adrian menatapnya cukup lama, cukup untuk membuat suasana menjadi absurd dengan cara yang anehnya… menyenangkan. Lalu tanpa ia sadari, sudut bibirnya bergerak naik sedikit.
Alya langsung menunjuk layar dengan penuh kemenangan. “Nah! Kamu senyum!”
Adrian segera kembali memasang wajah datar. “Aku tidak tersenyum.”
“Bohong,” balas Alya sambil tertawa kecil, lalu menyandarkan dagunya di tangan dengan santai.
“Direktur,” panggilnya lagi dengan suara yang lebih lembut.
“Ya?”
“Kalau kamu mimpi buruk lagi… telepon aku saja,” katanya sambil tersenyum kecil, matanya yang setengah mengantuk kini terlihat lebih hangat.
Adrian menatapnya beberapa detik tanpa berkata apa-apa. Namun kali ini, keheningan di antara mereka tidak terasa canggung. Justru sebaliknya, ada sesuatu yang ringan, sesuatu yang tidak ia rasakan sebelumnya.
Alya menguap lebar, menutup setengah wajahnya dengan bantal sambil bergumam, “Sekarang aku mau tidur lagi. Besok kita nikah, jangan lupa.”
“Iya,” jawab Adrian pelan.
Alya menatapnya sekali lagi, matanya hampir tertutup sepenuhnya. “Tidur yang nyenyak ya, Direktur,” katanya sebelum akhirnya menutup panggilan.
Layar kembali gelap.
Adrian masih memegang ponselnya beberapa detik, menatap pantulan samar dirinya di layar hitam itu. Ruangan tetap sunyi, tidak ada yang berubah dari sebelumnya, namun entah bagaimana suasananya terasa berbeda. Tidak lagi menekan, tidak lagi berat, seolah sesuatu yang tadi menghimpit dadanya perlahan mengendur.
Ia meletakkan ponsel, lalu kembali berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit sejenak sebelum memejamkan mata. Kali ini, yang muncul di pikirannya bukan lagi langit London atau bayangan yang memudar, melainkan suara nyaring yang penuh semangat.
“BAYANGKAN CILOK!”
Adrian mengembuskan napas pelan, dan tanpa ia sadari, senyum tipis kembali muncul di wajahnya. Untuk pertama kalinya malam itu, tidurnya datang tanpa perlawanan, perlahan dan tenang, membawa serta rasa ringan yang sebelumnya terasa mustahil.