NovelToon NovelToon
Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Romansa
Popularitas:847
Nilai: 5
Nama Author: BOCCI

Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐

baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Besoknya di jam istirahat.

Ya terpaksa selena ke kantin jalan biasa.

Tapi dia gk fokus dan ....

Brukk....

"Lo punya mata gk sih, jalan tuh liat depan"sentak zeus.

"Lo... ya mana gue tau! Lagian lu ngapain berdiri di tengah jalan kayak tugu monas?!"

Begitu kalimat itu keluar dari mulut Selena, Rora hampir saja pingsan di tempat. Beberapa murid di meja pojok bahkan ada yang sampai menutup mulut, kaget ada anak kelas 1 yang berani "nyolot" ke **Zeus**.

Zeus perlahan menunduk, menatap noda kopi di jaket bomber abu-abu kesayangan nya, lalu beralih menatap mata Selena. Matanya hitam pekat, tajam, dan dingin. Dia tidak berteriak, tapi auranya membuat oksigen di sekitar Selena terasa menipis.

"Tugu monas, ya?" Zeus mengulang kalimat Selena dengan nada rendah yang berbahaya. Dia melangkah satu tapak lebih maju, membuat Selena terpaksa mundur hingga punggungnya menabrak pinggiran meja kantin.

"Eh, udah Sel, minta maaf aja..." bisik Rora sambil menarik-narik ujung seragam Selena. Rora yang biasanya bar-bar dan hobi loncat-loncat sambil dengerin lagu rock pun mendadak ciut kalau berhadapan sama Zeus.

Tapi dasar Selena, si gadis egois yang lagi di masa pertumbuhan, dia malah melipat tangan di dada. "Apa? Mau minta ganti rugi? Oke, gue cuciin! Atau gue beliin yang baru, tapi cicil ya, soalnya uang jajan gue dipotong Mamah gara-gara bangun kesiangan!"

Zeus tertegun sejenak. Belum pernah ada yang berani menatap matanya sambil mengomel soal uang jajan dan Mamahnya. Cowok itu tiba-tiba menyeringai tipis—tipe seringai yang bikin orang mikir antara dia mau maafin atau mau bikin rencana jahat.

"Gue nggak butuh uang cicilan lo, Anak Kecil," ucap Zeus sambil melepas jaket bomber abu-abu kesayangan nya itu yang basah, lalu tanpa aba-aba, dia menyampirkan jaket kotor itu ke bahu Selena.

"Jaket ini nggak boleh dicuci pakai mesin. Harus pakai tangan. Besok balikin ke kelas gue, kelas 3A. Kalau ada satu serat pun yang rusak..." Zeus menggantung kalimatnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Selena, "Lantai kelas 1A bakal jadi tanggung jawab lo selama satu semester. Paham?"

Setelah itu, Zeus pergi begitu saja meninggalkan kantin dengan kaos hitam polosnya yang menunjukkan otot lengannya, membuat seisi kantin heboh berbisik.

---

### Malam yang Panjang

Malamnya, di rumah, Selena memandangi jaket besar itu dengan frustrasi. Bau parfum Zeus yang maskulin bercampur aroma kopi memenuhi kamarnya.

Malam itu, kamar Selena berubah jadi zona perang. Jaket *bomber abu-abu* milik Zeus tergeletak di atas kasur sprei bunga-bunganya, tampak sangat asing dan "mengancam". Ukurannya yang besar membuat jaket itu terlihat seperti raksasa yang sedang tidur di kamar gadis remaja.

"Gila ya si Zeus-Zeus itu," gerutu Selena sambil menusuk-nusuk jaket itu dengan telunjuknya. "Nama doang keren kayak Dewa Yunani, tapi kelakuan kayak penagih utang. Mana bau kopinya nggak ilang-ilang lagi!"

Selena menarik napas panjang, dan tanpa sengaja, aroma parfum Zeus terhirup olehnya. Bau kayu manis bercampur maskulin yang dingin. Wangi orang kaya, batin Selena kesal.

Baru saja ia mau mengangkat jaket itu ke kamar mandi, pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan.

"Selena! Kamu belum tidur? Ini udah jam sebelas, besok kalau telat lagi Mamah nggak mau bangunin—" Ucapan Mamah terhenti. Matanya yang tajam langsung menangkap pemandangan benda asing berwarna abu-abu di atas kasur putri tunggalnya.

"Loh? Itu jaket siapa, Sel? Gede banget. Kamu nyolong ya?" tuduh Mamah dengan gaya khasnya, tangannya sudah nangkring di pinggang.

Selena memutar bola matanya. "Ya ampun, Mah! Selena emang bar-bar, tapi nggak kriminal juga kali. Ini... ini titipan temen."

Mamah mendekat, mengambil jaket itu dan mencium aromanya. "Temen? Temen kamu si Rora itu badannya mungil, ini mah bisa buat bungkus dua Rora. Bau parfum cowok lagi. Kamu pacaran ya? Ngaku!"

"Nggak, Mah! Tadi Selena nggak sengaja numpahin kopi ke jaket ini. Orangnya serem, Zeus yg aku bilang kemarin. Dia bilang kalau nggak bersih, Selena disuruh ngepel sekelas satu semester. Mamah mau liat anak Mamah yang cantik ini jadi babu sekolah?" Selena mulai mengeluarkan jurus drama andalannya, matanya dibuat berkaca-kaca.

Mamah menghela napas, tapi kemudian ekspresinya melembut. Ia mengusap rambut hitam panjang Selena yang berantakan. "Makanya, kalau jalan tuh matanya dipake, jangan mulutnya aja yang jalan terus. Sini, biar Mamah ajarin cara nyuci bahan begini. Kalau pakai mesin cuci, bisa hancur seratnya."

Akhirnya, malam itu dihabiskan di kamar mandi. Selena jongkok di depan ember, sementara Mamah duduk di kursi kecil sambil memberikan instruksi seperti jenderal perang.

"Pelan-pelan nyikatnya, Sel! Jangan kayak lagi ngerontokin aspal jalanan," tegur Mamah saat melihat Selena menyikat bagian lengan dengan penuh emosi seolah-olah sedang menyikat muka Zeus.

"Abisnya kesel banget, Mah! Dia itu sok berkuasa banget di sekolah. Semua orang takut sama dia. Emangnya dia siapa? Anak kepala sekolah juga bukan!"

"Orang kalau ditakuti itu biasanya karena dia punya rahasia atau luka yang nggak mau dibagi, Sel," ucap Mamah pelan, nada suaranya berubah jadi lebih bijak. "Sama kayak kamu. Kamu bar-bar begini kan karena nggak mau orang tahu kalau kamu sebenarnya sedih soal Papah, kan?"

Selena terdiam. Gerakan tangannya berhenti di dalam air sabun yang berbusa. Mamah selalu tahu cara "menembak" tepat di ulu hati.

"Udah, jangan bengong. Bilas yang bersih. Terus jangan dijemur langsung di bawah matahari, nanti warnanya pudar. Angin-anginkan aja," tambah Mamah sambil berdiri dan mengecup kening Selena sebelum keluar dari kamar mandi. "Jangan telat tidur, Bulan-nya Mamah."

Keesokan harinya, Selena berangkat dengan tas tenteng berisi jaket yang sudah wangi bunga mawar (karena dia pakai pelembut pakaian Mamah terlalu banyak). Di gerbang sekolah, Rora sudah menunggu dengan wajah cemas.

"Sel! Lo bawa? Gue semalem nggak bisa tidur gara-gara kepikiran lo bakal dikulitin sama Zeus," bisik Rora sambil memakai kacamata bulatnya yang melorot.

"Bawa nih. Wangi bunga lagi. Semoga dia nggak bersin-bersin pas make," jawab Selena ketus, meski sebenarnya hatinya deg-degan parah.

Mereka berdua berjalan menuju area kelas 3 yang biasanya dihindari anak kelas 1. Suasana di sana jauh lebih tenang, tapi terasa lebih berat. Begitu sampai di depan kelas 3A, Selena menarik napas dalam-dalam.

"Ror, kalau dalam sepuluh menit gue nggak keluar, telpon ambulans atau pemadam kebakaran ya," canda Selena.

"Nggak lucu, Sel! Udah buruan masuk!" Rora mendorong Selena pelan.

Selena melangkah masuk. Di pojok kelas, dekat jendela, ia melihat Zeus. Cowok itu sedang duduk dengan satu kaki di atas kursi, sedang asyik mendengarkan musik lewat *headphone* besar—mirip kebiasaan Rora, tapi auranya jauh lebih gelap.

Selena berjalan mendekat, lalu **BRAK!** Ia menggebrak meja Zeus (kebiasaan bar-bar-nya keluar kalau lagi gugup).

Zeus melepas *headphone*-nya perlahan, menatap Selena dengan tatapan malas. "Mana?"

Selena menyodorkan tas tentengnya. "Nih! Udah bersih, udah wangi, udah gue setrika pakai perasaan. Jangan tagih gue lagi soal lantai kelas!"

Zeus mengambil jaket itu, mengeluarkannya, dan tiba-tiba dia mengendus jaketnya. Alisnya bertaut. "Bau mawar? Lo mau gue diketawain satu sekolah karena bau taman bunga?"

Selena melotot. "Heh! Masih mending gue cuciin! Daripada bau kopi basi, emang lo mau?!"

Tepat saat itu, seorang cowok lain dari kelas 3 menghampiri mereka sambil tertawa. "Woi Zeus! Tumben amat lo wangi cewek? Eh, siapa nih? Adek lo? Lucu juga."

Tangan Zeus tiba-tiba bergerak cepat, menarik kerah seragam temannya itu dengan satu tangan, sementara mata tajamnya masih tertuju pada Selena. "Jangan ganggu dia. Dia... urusan gue."

"Weh santai bro gue bercanda kok"ucap cowok itu.

"Pergi sana!"titah zeus yg marah.

"Oke oke"ucap cowok itu langsung pergi.

Nah selena mau pergi eh ada tangan besar yg menarik nya balik.

"Mau kemana hah!"tanya zeus sambil nyentak.

"Kelas"jawab selena.

"Gk, gue belum selesai ama lo"

"Apa lagi?"

"Karena gara-gara lo gw jadi dikatain, jadi, lo bakal jadi babu gue selama seminggu"ucap zeus.

"Hah! Apa"

Bersambung

1
aytysz
Semangat yaa kak-- kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku -- di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka ♡
bochi to the light: thanks suportnya ya 😊 btw cerita kamu bagus banget loh
total 1 replies
bochi to the light
minta dukungan nya ya biar aku lebih banyak up nya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!