Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.
Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?
Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Olivia terduduk di sofa ruang kerja Juna. Tangannya memeluk cangkir cokelat panas yang sudah mulai mendingin. Napasnya kini lebih teratur, meski sisa ketakutan masih terasa di ujung-ujung jarinya.
Ruang kerja itu luas, didominasi warna gelap dan kaca. Dari lantai atas, pemandangan mall terlihat jelas. Di kejauhan, Juna berdiri di depan monitor besar yang menampilkan rekaman CCTV basement.
Wajahnya serius. Ia memutar ulang rekaman van hitam itu. Memperbesar bagian plat nomor. Menghentikan frame. Menghela napas kasar.
“Sial.”
Olivia mengangkat wajahnya sedikit.
“Plat palsu,” gumam Juna pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Ia mematikan layar, lalu berbalik menatap Olivia. Tatapan itu tidak lagi santai seperti di parkiran tadi.
“Kok bisa lu ketemu orang itu?” tanyanya langsung. “Dia yang hubungi lu?”
Olivia terdiam. Pikirannya berputar. Haruskah ia jujur? Kalau ia bilang soal telepon misterius, soal ancaman, soal peringatan untuk tidak percaya siapa pun… termasuk Juna? Ia menunduk, membuka ponselnya lagi. Nomor Olin masih tidak aktif. Kosong.
Juna melangkah mendekat. “Olive.” Nada suaranya tegas sekarang. “Jawab gue. Lu janjian sama dia?”
Olivia mendongak. Ada sesuatu dalam dirinya yang tiba-tiba terasa panas. Semalaman ia diputuskan jadi pengganti. Semalaman tak ada yang benar-benar bertanya apa ia mau atau tidak. Dan sekarang Juna seolah berhak menginterogasinya.
“Bukan urusan lu kak,” jawabnya tajam.
Juna terdiam. Mungkin ia tak menyangka jawaban itu. Olivia sendiri terkejut dengan nadanya, tapi ia tak menarik kembali kata-katanya.
“Semua orang mutusin hidup gue semalam tanpa nanya pendapat gue,” lanjutnya, suaranya bergetar marah. “Sekarang gue harus laporan juga tiap gue ketemu siapa?”
Juna menghela napas pelan. Ia tidak membalas dengan emosi.
“Gue nggak niat ngatur lu,” katanya lebih tenang. “Gue cuma mau tahu siapa yang berani nyentuh lu di area kerja gue.”
Olivia mendengus pelan, tapi tak menjawab. Beberapa detik hening. Lalu Juna berjalan kembali ke mejanya, bersandar sebentar sebelum akhirnya berkata pelan,
“Terakhir kali gue ketemu Olin… dua hari lalu.”
Olivia menoleh cepat.
“Dia ke kantor.”
Juna membuka laci meja, mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah sedikit terlipat di sudutnya.
“Dia bawain makan siang,” lanjutnya. “Biasanya dia selalu temani gue makan. Tapi hari itu… dia bilang ada urusan.”
Juna menatap amplop itu beberapa detik sebelum menyerahkannya pada Olivia.
“Dia ninggalin ini.”
Tangan Olivia terasa berat saat menerima amplop itu. Di dalamnya, hanya ada selembar kertas. Tulisan tangan Olin. Olivia mengenalnya seketika. Tulisan miring rapi yang selalu dipakai kakaknya saat menulis kartu ulang tahun. Ia membaca pelan.
Juna,
Maaf.
Aku nggak bisa menikah.
Bukan karena kamu.
Tapi karena aku ternyata belum siap.
Tolong jangan cari aku.
— Olin
Olivia mengangkat wajahnya perlahan.
“Itu aja?” tanyanya lirih.
“Iya.”
“Dia nggak bilang apa-apa lagi?”
Juna menggeleng.
“Tapi ini nggak masuk akal,” gumam Olivia. “Kak Olin nggak mungkin kabur cuma karena ‘nggak siap’. Dia bukan tipe orang yang tiba-tiba nyerah.”
Juna terdiam. Ada sesuatu di sorot matanya yang sulit dibaca.
“Gue juga merasa ada yang aneh,” katanya akhirnya.
Olivia menatapnya.
“Seminggu terakhir dia sering kelihatan cemas,” lanjut Juna. “Beberapa kali dia nanya soal bisnis keluarga lu.”
Olivia mengernyit. “Bisnis keluarga?”
Juna mengangguk pelan.
“Dia nanya soal saham. Soal kerja sama lama. Soal proyek yang hampir bangkrut lima tahun lalu.”
Jantung Olivia berdegup lebih cepat. Ia tidak terlalu paham urusan bisnis keluarganya, tapi ia tahu satu hal—Papinya jarang sekali membahas masa lalu. Terlalu jarang.
Ponselnya tiba-tiba bergetar lagi. Olivia dan Juna sama-sama menoleh ke layar. Pesan baru. Nomor tidak dikenal. Olivia membukanya perlahan.
Surat itu bukan alasan sebenarnya.
Napasnya tercekat.
Pesan kedua langsung menyusul.
Dia nggak kabur karena nggak siap menikah.
Tangannya mulai dingin.
Pesan ketiga muncul.
Dia kabur karena tahu sesuatu tentang keluarga kalian.
Olivia perlahan mengangkat wajahnya menatap Juna.
Di ruangan itu hanya ada mereka berdua, Olivia merasa mereka tidak benar-benar sendirian. Karena jika pesan itu benar…Maka yang menghilangkan Olin bukan cuma masalah cinta. Tapi rahasia keluarga yang selama ini terkubur rapi. Dan mungkin—seseorang di dalam rumahnya sendiri terlibat.
...***...
Malam turun pelan di kamar Olivia. Lampu utama dimatikan. Hanya lampu meja yang menyala redup, memantulkan bayangan samar di dinding. Olivia berbaring terlentang di atas kasur, menatap langit-langit kamar yang terasa semakin sempit.
Satu pertanyaan terus berputar di kepalanya. Kenapa pria asing itu selalu tahu? Ia tahu Olivia masih di mall bersama Juna, Ia tahu soal surat Olin. Ia tahu hal-hal yang seharusnya hanya diketahui orang dalam.
Dengan ragu, Olivia membuka kembali pesan terakhir. Tangannya mulai mengetik.
Lu siapa sebenarnya?
Terkirim. Tak ada balasan. Beberapa menit berlalu.
Lu ngikutin gue?
Sunyi. Tidak ada tanda-tanda pesan dibaca. Olivia mendengus kesal. Ia melempar ponselnya ke samping, lalu bangkit dari kasur. Kepalanya terasa penuh. Ia butuh udara. Ia melangkah ke balkon kamarnya.
Malam cukup tenang. Angin bertiup lembut, menggoyangkan tirai tipis di belakangnya. Dari lantai atas rumah itu, lampu-lampu kompleks terlihat seperti titik-titik kecil yang jauh.
Olivia bersandar di pagar balkon, melamun. Apakah ada seseorang yang benar-benar mengawasinya? Atau ia hanya terlalu takut?
Ponselnya bergetar. Olivia langsung menoleh cepat. Pesan masuk. Nomor tidak dikenal. Tangannya terasa dingin saat membuka layar.
Jangan terlalu banyak berpikir.
Napasnya tercekat. Ia refleks melihat sekeliling. Jalanan di bawah terlihat normal. Tak ada mobil mencurigakan. Tak ada orang berdiri mengawasi.
Pesan kedua masuk.
Temui aku besok di sekolahmu.
Jantungnya berdegup keras. Sekolah? Ia sedang di rumah. Di balkon. Tidak memberi tahu siapa pun. Bagaimana pria itu tahu ia sedang di luar? Perlahan, rasa merinding menjalar dari tengkuk ke punggungnya.
Olivia mundur selangkah. Ia cepat-cepat masuk kembali ke kamar dan menutup pintu balkon rapat. Mengunci gagangnya. Memastikan benar-benar terkunci. Tangannya gemetar.
“Dia ngawasin gue…” bisiknya pelan.
Belum sempat ia mencerna ketakutannya—
Tok.
Tok.
Pintu kamar diketuk. Olivia menoleh cepat.
“Masuk.”
Ratna membuka pintu pelan. Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap tegas seperti biasa.
“Besok kamu ikut Mami ke butik.”
Olivia mengernyit. “Ngapain?”
“Fitting baju pengantin.”
Seolah dunia berhenti satu detik.
“Ukuran kamu dan Olin beda,” lanjut Ratna datar. “Gaunnya harus disesuaikan.”
Olivia berdiri perlahan.
“Aku udah bilang aku nggak mau nikah.”
Ratna menarik napas panjang. “Ini bukan cuma soal mau atau tidak, Olive.”
“Ini soal hidup aku!”
Suara langkah terdengar di luar kamar. Oma Dewi muncul di ambang pintu. Tatapannya tajam.
“Tidak ada penolakan,” ucapnya tegas. “Kamu bagian dari keluarga ini. Mau tidak mau kamu harus mau.”
Olivia menatap Oma dengan mata membara.
“Kenapa sih? Kenapa harus aku?!” suaranya meninggi. “Kenapa nggak tunggu Kak Olin? Kenapa nggak cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi?”
“Karena keluarga tidak bisa dipermalukan!” potong Dewi keras. “Kamu pikir ini cuma urusan perasaan kamu?”
Olivia merasa dadanya sesak.
“Aku bukan alat untuk nutupin malu keluarga!” teriaknya frustasi.
Tak ada yang membalas. Tak ada yang mencoba memahami. Ratna hanya menunduk. Dewi tetap berdiri tegak tanpa goyah. Olivia merasa benar-benar sendirian di rumahnya sendiri.
“Aku nggak akan datang fitting,” ucapnya pelan tapi penuh tekanan.
“Kita lihat saja besok,” jawab Dewi dingin.
Mereka keluar. Pintu tertutup. Sunyi kembali memenuhi kamar. Olivia berdiri beberapa detik, lalu tubuhnya melemas dan ia terduduk di lantai.
Air matanya akhirnya jatuh. Bukan karena takut menikah. Tapi karena tak satu pun orang di rumah itu peduli pada apa yang ia rasakan.