Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Maya
Ketika waktu hampir pagi, barulah Bryan dan teman-temannya berhenti melakukan aksi kejinya tersebut.
Bryan yang sudah merasa puas dan masih menikmati sisa-sisa kepuasannya itu, memberikan perintah pada Lucas dan Joe untuk membawa tubuh Vello keluar dari ruangan itu.
"Bawa dia keluar dari sini, letakkan dia tepat di depan rumahnya agar memudahkan dia di temukan orang lain. Tapi ingat, jangan sampai ada yang melihat kalian!" Perintah Bryan.
"Baiklah! Tapi, bagaimana kalau sampai dia melaporkan kita ke polisi? Vello melihat kita dengan jelas dan kau juga tahu, Maya memiliki watak keras dan pemberani. Jika sampai dia tahu, dia pasti tidak akan diam dan tidak akan membiarkan hal ini begitu saja?" tanya Rishi.
"Kalian tidak perlu khawatir, gadis miskin seperti mereka tidak akan bisa berbuat apapun apalagi pada keluarga Lewis," senyum miring tercetak di bibir Bryan, membayangkan apa yang akan terjadi.
"Bryan benar, kita pasti masih ingat dengan kasus gadis yang merupakan anak petinggi sebuah partai bukan? Mereka saja tidak bisa membuat keluarga Lewis dalam masalah, apalagi hanya keluarga miskin seperti Vello dan kakaknya!" Joe membenarkan ucapan Bryan.
"Sudah! Sebaiknya sekarang kalian bawa Vello keluar dari sini dan buang dia didepan rumahnya. Ingat, berikan suntikan yang ada didalam laci dashboard padanya!" tegas Bryan yang langsung di jawab anggukan kedua temannya.
-
Mobil yang membawa Vello sudah tiba didepan sebuah rumah sederhana, yang berada di kawasan padat penduduk.
Rishi memindai sekelilingnya, mencoba memastikan bahwa tidak ada orang yang kemungkinan bisa melihat mereka saat ini.
Setelah dirasa aman, Lucas turun dari mobil dan membantu Rishi menggotong Vello keluar. Mereka meletakkan tubuh Vello yang masih tidak sadarkan diri setelah sebelumnya di berikan cairan obat yang dimaksud Bryan, didepan pagar rumahnya tepat disamping bak sampah.
Setelah meletakkan Vello, keduanya segera meninggalkan tempat tersebut sebelum ada orang yang melihatnya.
***
Sementara itu di kediaman keluarga Fernand. Maya, kakak dari Vello merasakan perasaan cemas dan tidak tenang yang luar biasa. Bahkan sampai hampir pagi seperti ini, Maya masih belum bisa memejamkan matanya karena sang adik sama sekali belum oulang.
Vello memang sudah biasa menginap di rumah temannya jika sedang ada tugas kuliah, tapi entah kenapa kali ini Maya merasa tidak tenang dan terus memikirkan Vello.
Bukan tanpa sebab Maya seperti ini, itu semua karena semenjak Vello berpamitan membuat tugas kuliah di rumah salah satu temannya, Vello sama sekali tidak memberikan kabar pada Maya.
Sejak sore tadi, Maya terus berusaha menghubungi ponsel Vello tapi tidak bisa tersambung karena ponsel Vello selalu mati.
"Kenapa aku bisa tidak tenang seperti ini. Ada apa denganmu, Vello?" gumam Maya dengan resah.
Vello seperti menghilang tanpa jejak, ia sama sekali tidak diketahui dimana keberadaannya. Setiap nomor ponsel teman Vello yang maya kenal, berusaha maya hubungi satu per satu untuk menanyakan keberadaannya.
"Ya tuhan!! Kau dimana Vello? Kenapa kau masih belum pulang?? Setidaknya tolong berikan kabar pada kakak! Kemana kau sebenarnya Vello. Kakak mohon, pulanglah!" Maya melihat kearah jam dinding, saat ini waktu menunjukan pukul 3 pagi.
Fernand, ayah Vello dan Maya yang merupakan petugas kebersihan jalanan, tengah bersiap untuk pergi ketempat kerjanya agar tidak kesiangan.
Lokasi kerja yang cukup jauh, membuat Fernand harus berangkat dipagi buta bahkan dini hari, demi menghindari keterlambatan.
Ketika ia melihat Maya yang mondar-mandir di ruang tamu, membuatnya mengerutkan kening dan menghampiri putri sulungnya tersebut.
"Maya, apa kau tidak tidur semalaman, nak? Kenapa masih pagi buta seperti ini kau sudah mondar mandir d ruang tamu, bahkan wajahmu tampak lelah?" tanya Rusel Fernand, melihat putrinya yang benar-benar terlihat cemas.
"Tidak ayah, aku tidur sebentar tadi. Hanya saja aku tidak bisa tidur dengan tenang.Vello masih belum pulang dan tidak memberikan kabar, aku merasa tidak tenang! Aku merasa bahwa sudah terjadi sesuatu padanya. Aku takut ayah," ucap Maya penuh ke khawatiran.
Fernand menghampiri Maya, dan mengusap rambut putri sulungnya itu dengan penuh sayang. Ia memahami bagaimana perasaan Maya saat ini. Ia tahu, kalau Maya begitu menyayangi adik satu-satunya itu.
Apalagi semenjak sang ibu meninggal ketika Vello berusia 4 tahun, Vello adalah prioritas utama bagi Maya.
"Kita berdoa agar Vello baik-baik saja!! apa kau sudah menghubungi teman-temannya. Mungkin, Vello tidak memberikan kabar karena ponselnya mati?"
"Sudah ayah, sudah beberapa orang teman Vello yang Maya hubungi. Tapi tidak ada satupun yang tahu keberadaan Vello!"
"Lalu teman yang di sebutkan Vello itu siapa namanya?? Apa dia sudah kau hubungi?"
"Dia Zeryn, aku sudah mencoba menghubungi ponselnya. Pertama ponselnya bisa di hubungi, tapi tidak di angkat! Saat aku mencoba menghubunginya lagi, ponsel itu mati yah!" Maya semakin merasa tidak tenang memikirkan keadaan adiknya.
"Ya tuhan!! Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada adikmu," lirih Rusel. "Maya, maafkan ayah Nak. Ayah harus pergi saat ini, tapi bukan berarti ayah tidak perduli dengan keadaanmu dan juga Vello. Tapi tolong kabari ayah jika adikmu sudah kembali, andai ayah bisa... ingin rasanya hari ini ayah tidak bekerja demi mencari Vello. Tapi kau tahu sendiri, kita masih memiliki hutang yang cukup besar dan ayah harus segera melunasinya! Kalaj ayah tidak bekerja meskipun satu hari, bisa-bisa ayah tidak mendapatkan gaji untuk membayar hutang itu!" lirih Rusel.
"Tidak apa-apa, ayah bekerja saja. Biarkan Vello aku yang urus, Maya yakin dia akan baik - baik saja. Kalau ada apa-apa, Maya pasti menghubungi ayah!" Maya mencoba menenangkan ayahnya dengan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Yasudah. Ayah berangkat dulu, kau berhati-hatilah di rumah!"
"Iya ayah!" Maya melihat kepergian ayahnya dengan hati yang masih di liputi perasaan cemas, belum lagi dia masih memikirkan keadaan adiknya.
Selang satu jam dari kepergian sang ayah, tiba-tiba terdengar suara pintu di gedor dari luar dengan kencang.
Maya mengerutkan kening, siapa yang menggedor pintu di pagi buta seperti saat ini. Jelas Maya yakin itu bukan Vello, karena jika itu Vello, dia tidak mungkin menggedor pintu, dia pasti membawa kunci cadangan.
Tidak ingin membiarkan orang yang berada diluar menunggu terlalu lama, Maya segera membuka pintu.
Ketika pintu terbuka, terlihat beberapa orang pria, tengah menggotong tubuh seorang gadis dengan wajah yang tertutupi rambut dan membuat Maya tidak bisa melihat wajahnya.
"Permisi nona, kami tidak sengaja menemukan adik anda tergeletak di dekat bak sampah depan rumah!"
"Ya tuhan! Jadi itu Vello? A-ayo pak, tolong bawa dia masuk kedalam kamar saya, tolong bawa kedalam sini!"
"Iya, nona."
Maya mengarahkan beberapa pria yang membawa tubuh Vello, lalu meminta mereka membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
"Pak, apa anda melihat siapa atau apa yang terjadi sebelum dia ditemukan di depan?" tanya Maya khawatir.
Orang-orang yang membawa Vello masuk, seketika terdiam saat mendengar pertanyaan Maya.
"Itu... Emmm.."