Aarav Elias Kayler terbangun di sebuah dunia yang tak dikenal, tanpa ingatan apapun tentang dirinya. Semua yang dia tahu adalah bahwa dunia ini dipenuhi dengan sihir, dan dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Ketika mencoba menggunakan sihir, tak ada hasil yang muncul, membuatnya merasa terjebak dalam kebingungannya.
Namun, tak lama setelahnya, Aarav menemukan sebuah rumah tua yang misterius, yang mengarah pada sebuah kejadian tak terduga yang mengubah segalanya. Di dunia yang penuh dengan rahasia dan kekuatan yang belum ia pahami, Aarav harus menghadapi takdir yang tersembunyi di balik masa lalunya yang terlupakan.
Dengan tekad untuk menguasai dunia sihir dan meraih kekuatan yang selama ini hilang, Aarav harus menavigasi sebuah dunia yang penuh dengan bahaya, misteri, dan konflik. Apakah dia akan menemukan jalan menuju kekuasaannya, atau justru terjerumus dalam kekuatan yang tak dapat ia kendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Apakah Aarav Hanya Seorang Budak?
Tiga hari setelah kejadian di hutan itu, Aarav terlihat tergeletak tak sadarkan diri di dekat aliran sungai. Pakaiannya bukan pakaian lusuh yang terakhir kali dia gunakan, tapi pakaian seperti para penyihir lainnya.
Rambut Aarav berantakan, angin sepoi-sepoi berhembus membuat daun di pohon bergerak dengan anggun. Suara aliran air juga sangat menenangkan hati. Kicauan burung juga ikut terdengar, burung-burung itu saling bertukar kicauan satu sama lain.
Beberapa saat kemudian, seorang pemuda perempuan tidak sengaja lewat, dan menemukan Aarav yang tergeletak tak sadarkan diri di dekat sungai.
Perempuan itu sepertinya hanya seorang penyihir biasa, bahkan sepertinya dia hanya bisa melakukan sihir tingkat E. Pakaiannya pun hanya pakaian sederhana.
Perempuan itu berhenti berjalan saat melihat Aarav, "Tunggu... Itu siapa yah? Apa jangan-jangan.... ORANG MATI!!!" ujarnya.
Perempuan itu lalu berlari kecil ke Aarav. Dia berlutut di dekat Aarav, memperhatikan pakaian dan juga wajah Aarav.
"Laki-laki.... Dari pakaiannya, pasti penyihir tingkat A atau S!!" ucapnya.
Tangannya mulai menyentuh Aarav, mencoba membangunkan Aarav dengan cara mencubit tubuhnya. Tapi, cara itu tidak berhasil.
Perempuan itu membenarkan rambutnya yang menutupi keningnya, "Belum bangun juga, ahhh... Aku tau caranya!!" ujarnya.
Perempuan itu berdiri, mendekat ke sungai. Mencoba mengambil air dengan kedua tangannya, dan langsung membuang airnya tepat ke wajah Aarav.
Cara itu dilakukannya beberapa kali, hampir sepuluh kali dia melakukannya secara terus-menerus. Sampai akhirnya.
"AHH!!" seru Aarav yang baru sadar.
Perempuan itu langsung mendekat ke Aarav, "Ehh... Udah bangun!!" ucapnya dengan santai.
Aarav duduk, dia mengusap matanya, "Tunggu... Kamu siapa?" ucapnya. Lalu matanya berpindah ke pakaian yang dia kenakan, "TUNGGU!! KENAPA PAKAIAN KU BERUBAH?!!' ujarnya.
Perempuan itu berpikir, "Kalau pakaian... Aku nggak tahu yah, sebelumnya. Kenalin, namaku Nuril!!" ujarnya sambil mengulurkan tangan kanannya.
Aarav melirik ke tangan yang diulurkan Nuril, "Kenalin, aku Aarav Elias Kayler. Panggil aja Aarav!!" serunya sambil menerima tangan Nuril.
Nuril sedikit memiringkan kepalanya, terus tersenyum dengan manis, "Salam kenal yah, omong-omong. Kamu penyihir tingkat berapa?!" tanyanya.
Aarav menurunkan tangannya, "Penyihir? Bukannnn... Aku seorang budak," ucap Aarav.
Nuril sangat tidak percaya dengan omongan Aarav, "Nggak... Mana ada budak pakaiannya rapi, bersih, kayak kamu. Apalagi pakaian kamu mirip-mirip sama penyihir tingkat S!!" ujar Nuril.
Aarav juga berpikir sejenak, "Iya, aku seorang budak. Terakhir itu aku ada di padang rumput, menggembala kambing milik majikan aku. Terus aku masuk hutan, terus tiba-tiba ada di sini!!!" ucapnya.
"Okey... Okey... Mending kamu ikut ke rumah aku dulu, kayaknya kamu agak ling-lung yah!!" ujar Nuril.
Aarav bangkit, dia berjalan mengikuti Nuril dari belakang. Sambil terus berpikir soal semuanya, soal semua yang dia alami beberapa hari lalu.
"Astaga... Apa karena lukisan bola mata di rumah tua itu?!" batin Aarav yang penasaran sekaligus bingung.
Saat dia terus berpikir, sesuatu lewat di dalam kepalanya, "Jika aku seperti penyihir... Apa aku bisa sihir?!" batinnya.
Sambil terus berjalan mengikuti Nuril, dia sedikit mencoba salah satu mantra sihir yang dia tahu.
"ALAKAZAM!!" ucapnya pelan.
Dan tiba-tiba secercah cahaya muncul di depannya, lalu menghilang lagi dengan cepat.
Aarav terheran-heran dengan yang dia lihat, "Tunggu? Ini artinya... Aku bisa sihir!!!" batinnya.
"Yesss!!" tambahnya dengan cukup keras.
Nuril berhenti berjalan, lalu berbalik badan untuk melihat ke Aarav, "Ada apa sih? Brisik banget suara kamuhh!!" ucapnya.
Aarav berhenti berjalan, "Nggak... Udahh, cepet katanya mau bawa aku ke rumah kamu!!" ucap Aarav.
"Ishhhh..." Nuril lanjut berjalan memandu Aarav.
Setelah beberapa saat berjalan untuk keluar dari hutan, di depan mereka langsung terlihat sebuah desa yang cukup besar dengan penduduk yang sudah sangat ramai.
Nuril berhenti berjalan, "Selamat datang di desa... Fortuner!!!" ujarnya ke Aarav.
Aarav sedikit terkesima dengan desa yang dia lihat, karena banyaknya rumah dan juga para penduduknya.
"Kamu tinggal di desa itu?!" tanya Aarav yang penasaran.
Nuril mengangguk pelan, "Iya, aku tinggal di sana dengan ibuku!!"
Nuril lanjut berjalan masuk ke dalam desa, mereka berdua berjalan melewati orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tapi, para penduduk langsung menatap ke Aarav. Membicarakan Aarav juga.
"Apa yang dilakukan penyihir tingkat S di sini? Apa jangan-jangan perempuan itu budak miliknya?!" suara-suara para penduduk yang membicarakan mereka berdua.
"Pasti dia utusan kerajaan, pasti dia ke sini untuk meminta upeti!!"
"Apa dia sedang mencari budak lain untuk dirinya sendiri?!"
Aarav mendekat ke Nuril, lalu berbisik sesuatu, "Nuril, mereka semua kenapa?!" tanya Aarav.
Nuril tersenyum manis ke Aarav, "Biarkan, itu karena di desa ini belum ada penyihir tingkat S. Dan jika kamu di sini, otomatis kamu jadi tuan mereka!!"
Aarav sedikit bingung, "Apa? Tapi, aku nggak mau jadi tuan mereka!! Apalagi aku juga budak!!" seru Aarav pelan.
"Udah, nggak usah dipikirin!!" seru Nuril.
Aarav mencoba tidak terlalu memikirkan itu semua, tapi saat mereka memasuki area dagang para penduduk.
"JANGANN!!!!! JANGAN!!!" teriak seorang wanita.
Aarav dan Nuril yang mendengar suara itu, mereka berdua sepakat untuk mencari dan langsung menuju ke sumber suara.
Saat mereka tiba di tempat asal suara, mereka melihat sudah banyak sekali orang yang berkurumun di sana. Mereka semua menyaksikan seorang pria menggunakan mantra sihir untuk mengambil buah-buahan yang dimiliki wanita itu.
"JIKA ADA YANG BERANI MENGGANGGU, KALIAN AKAN MATI!!!" seru sang pria penjahat itu.
Dan terbukti, tak ada satu orang pun yang terlihat membantu wanita itu. Mereka semua hanya berkurumun dan menyaksikan kejadian itu.
Nuril dan Aarav coba mendekat, dan mereka dapat tempat di baris depan. Dengan mata kepala mereka sendiri, mereka melihat wanita tua itu terduduk lemas sambil terus memohon. Sedangkan pria itu terus melakukan mantra sihir untuk mengambil dan memasukkan buah-buahan yang dimiliki wanita itu.
Saat wanita itu menoleh, "TUAN!! TUAN!! Tuan!!! Tuan penyihir tingkat S!! Tolong aku!!! Aku mohon!!!" ucap wanita itu ke Aarav.
Nuril langsung menoleh ke Aarav yang ada di sampingnya, dan Aarav pura-pura tidak tahu. Karena dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aarav!! Bantu wanita itu!!!" ujar Nuril yang ada di sampingnya.
Aarav melirik ke Nuril, "Aku? Aku nggak bisa apa-apa!!" ujarnya pelan.
Pria itu berhenti melakukan mantra, lalu melirik ke Aarav, "Ada penyihir tingkat S? Majulah ke sini!!! Agar kamu bisa jadi seorang pahlawan!!"
Pria itu menjulurkan tangannya, lalu membaca mantra sihir. Dan langsung saja tubuh Aarav diselimuti cahaya berwarna hijau.
"Apa ini?!" ucap Aarav yang bingung.
Dan cahaya itu dengan paksa menarik Aarav untuk maju ke depan, maju ke depan pria itu. Saat Aarav sudah di depan pria itu, cahaya itu menghilang.
Aarav merasa ketakutan, "Jangan... Jangan sakiti aku!!" ucap Aarav.
Pria itu tertawa dengan keras, lalu mengangkat tangannya, "Ayo serang aku, wahai penyihir tingkat S!!" ucapnya yang seperti mengejek itu.
Aarav ketakutan, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Aarav menelan ludahnya sendiri, dan pada akhirnya dia mencoba melakukan sesuatu.
Aarav mengangkat tangan kanannya, dia belum sempat membaca satu mantra pun. Tapi, saat tangan kanannya terangkat. Tubuh pria itu langsung terpental jauh, jauh sekali.
Bahkan sampai melewati beberapa kios pedagang, dan baru berhenti terbang saat sudah menabrak sebuah rumah yang terbuat dari batu.
Tatapan Aarav kosong, lalu matanya melihat ke tangan kanan yang dia gunakan itu tadi.
"Apa yang terjadi? Aku bahkan belum sempat membaca mantra!!" batinnya yang kebingungan.
Beberapa saat kemudian, tepuk tangan dan sorak sorai terdengar dengan keras.
Tangan kanan Nuril diletakkan di dadanya, "Aarav?!" ucap Nuril yang heran.
Bersambung....