Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Truk Parfum Tumpah Di Pagi Hari
Dengan laptop di satu tangan dan segelas es kopi di tangan lainnya, Jennie melangkah menuju balkon apartemennya. Ruang kerja yang penuh dengan tumpukan buku terasa menyesakkan, jadi dia memilih untuk mengetik di balkon.
Dia duduk di kursi rotan kecilnya dan meletakkan laptop di meja kayu lipat. Udara pagi Jakarta yang biasanya gerah terasa sedikit lebih bersahabat karena hembusan angin sepoi-sepoi di lantai lima.
"Baiklah, Jennie. Mari kita selesaikan adegan sarapan yang menggoda ini," gumamnya pada dirinya sendiri.
Baru saja jarinya menyentuh keyboard, sebuah gelombang aroma menyengat tiba-tiba menerjang indra penciumannya. Jennie mengerutkan hidungnya dan refleks menoleh ke arah balkon unit sebelahnya yang hanya berjarak beberapa meter.
Dia menutup hidungnya dengan punggung tangannya. "Aduh, bau apa nih? Masa ada truk parfum kecelakaan di sebelah?"
Belum sempat dia memulihkan diri dari serangan aroma tersebut, sebuah suara melengking tinggi memecah ketenangan, memantul diantara dinding-dinding beton.
"Johan sayang! Kamu kok tega banget sih nggak angkat telponku?"
Jennie tersentak, jarinya menekan tombol backspace tanpa sengaja, menghapus satu kalimat deskripsi tentang roti panggang yang ia susun susah payah.
Tanpa sadar dia memiringkan tubuhnya ke arah balkon Johan, menyibak rambut yang menutup telinga kirinya. Radar mengupingnya sangat kuat pagi itu.
Tapi bisa dikatakan dia tidak berniat menguping, salahkan saja pintu balkon sebelah yang terbuka lebar dan juga suara itu yang terlalu keras hingga suaranya sampai balkon unitnya.
"Johan, aku bawain croissant dari toko kesukaan kamu. Aku tau kamu pasti belum sarapan, aku sangat perhatian, kan?"
Itu adalah suara seorang wanita, dari nada bicaranya yang dibuat-buat manja dan sedikit mendesah itu Jennie bisa langsung membayangkan sosoknya.
Riasan tebal, gaun yang terlalu ketat untuk jam 9 pagi, dam sepasang mata yang haus perhatian.
"Letakkan saja di meja, aku sedang sibuk," balas Johan dengan datar.
Jennie menyeringai tipis, "Mampus, pagi-pagi sudah menggatal," bisiknya puas.
Imajinasinya kembali terbuka, wanita yang baru saja datang ini cocok dijadikan tokoh antagonis di novelnya, kebetulan dia belum memiliki gambaran yang tepat.
Entah kenapa ada rasa sedikit cemburu yang menghampiri, padahal secara teknis dia dan tetangganya itu belum pernah bertukar sapa secara layak. Namun melihat ada wanita lain yang masuk ke dalam unit Johan dan mengganggu subjek fantasinya dia merasa terusik.
"Tapi kita kan sudah lama nggak jalan bareng, Papa udah tanya terus kapan kamu main ke rumah. Kamu tau kan kalau proyek pembangunan di pusat kota itu butuh izin dari Papa?"
"Ajeng, aku sudah bilang berkali-kali," suara Johan kembali terdengar, kali ini lebih tajam dan penuh penekanan.
"Urusan pekerjaan itu antara aku dan ayahmu, tidak hubungannya dengan sarapan, jalan bersama atau masalah pribadi lainnya. Sekarang silahkan pergi, aku ada rapat 10 menit lagi," usir pria itu.
"Kamu kok kasar banget sih, Jo! Aku ini kan----"
"Keluar, Ajeng! Sekarang juga."
Setelah kalimat terakhir dari Johan, suara langkah kaki terburu-buru terdengar disusul oleh dentuman pintu yang ditutup dengan keras.
Keheningan segara menyelimuti area balkon, hanya menyisakan sisa-sisa bau parfum yang mulai memudar ditiup angin.
Jennie menegakkan tubuhnya dan menghembuskan napas lega. Rasanya dia ingin memberikan tepuk tangan heboh untuk tetangganya, mengapresiasi ketegasan mengusir wanita yang sepertinya anak orang penting itu.
Seolah teringat sesuatu, Jennie berdiri pelan dan mengintip lewat pagar balkonnya ke arah parkiran di bawah. Benar saja, beberapa menit kemudian dia melihat seorang wanita dengan gaun merah menyala menuju salah satu mobil yang terparkir di sana. Setiap langkahnya sama sekali tidak santai dengan wajah cemberut maksimal.
Jennie kembali ke laptopnya begitu wanita itu sudah benar-benar pergi. Rasa kesalnya akibat gangguan konsentrasinya tadi kini berubah menjadi sumber energi yang meledak-ledak
Dia mulai merombak bab terbarunya, karakter utama pria kini mendapatkan sifat baru. Dan untuk wanita gatal tadi dia akan membuatnya nasibnya tragis di dalam naskah.
Sambil mengetik, Jennie membayangkan Johan. Mengapa pria dengan aura kuat sepertinya masih melajang? Apa dia memang sedingin itu karena pernah terluka? Sudah pasti wanita yang datang tadi bukanlah tipenya, kalau begitu apakah dirinya masuk kategori tipe Johan?
Dia menepuk kedua pipinya agar tidak melantur. "Sadar, Jennie! Kau mulai gila karena terlalu banyak berimajinasi!"
Tiba-tiba dari balkon sebelah terdengar suara musik klasik yang mengalun pelan. Jennie menyandarkan punggungnya di kursi dan memejamkan matanya membiarkan suara musik itu masuk ke nadinya.
Dia membayangkan di sebelah sana Johan sedang duduk di meja kerjanya, menyesap kopi tanpa gula dengan kerah kemeja yang sedikit terbuka.
Tanpa sadar dia tersenyum, pagi ini dia mendapatkan hadiah plot karena memilih menulis di balkon. Jika dia masih di dalam ruang kerjanya yang lebih mirip kandang babi itu mungkin dia tidak akan mendapatkan hiburan gratis seperti ini.
Jennie membuka matanya dan menyeruput es kopinya yang terasa lebih nikmat dari biasanya. "Besok aku harus mencari cara agar bisa berbicara padanya," gumamnya.
Bersambung