Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Gift
"Damian, nama keluarga kamu itu... sebenarnya membuat saya merasa sedikit segan."
Papa Fraya baru saja menyesap kopi hitamnya setelah sesi makan malam penuh kehangatsn sekaligus candaan dengan menu bakso buatan Mama—sebuah kekontrasan yang hampir terasa aneh bagi seseorang dengan nama belakang seperti Damian—ketika ia melempar tanya yang membuat Damian langsung mengernyitkan dahi. Ada suasana yang mendadak berubah di ruangan itu.
"Memangnya ada apa dengan nama belakang saya, Sir?" tanya Damian. Suaranya terdengar tenang, namun dalam hatinya ia praktis merapalkan doa, berharap asumsi pria di hadapannya tidak menuju ke arah yang paling ia hindari.
"Kalau kamu pernah dengar nama Richard Harding, kamu pasti tahu kalau dia adalah salah satu orang tersukses di Inggris yang lini bisnisnya sudah merajai pasar ekonomi dunia," jawab Papa Fraya dengan gamblang. Sama sekali tidak sadar pada perubahan air muka Damian.
Damian terpaku. Reaksi yang paling ia takuti akhirnya terjadi juga. Ia tidak berani bereaksi terlalu mencolok karena sejak awal niatnya bukan ingin menyombongkan diri. Namun seperti yang sudah ia duga juga, kemanapun Damian pergi, pasti ada saja yang akan mengenali nama belakang keluarganya yang lebih seperti kutukan ini.
Sialnya, Fraya yang duduk tak jauh darinya bisa melihat perubahan raut wajah Damian. Cowok yang beberapa detik lalu tampak santai dengan sweter hitam yang lengannya digulung asal hingga siku itu, mendadak jadi kikuk.
"That’s... my father, Sir," ujar Damian lirih. Sangat lirih, tapi cukup untuk membuat Papa Fraya sampai berhenti menyeruput kopi.
Wajah pria itu berubah drastis. Ia tertegun sejenak sebelum akhirnya meloloskan rasa keterkejutannya, "Kamu tidak bercanda, kan?"
Sejujurnya, Damian ingin sekali berteriak, 'Tentu saja aku sedang bercanda', tapi nama Richard Harding dalam hidupnya memang tidak pernah bisa disingkirkannya begitu saja. Ke mana pun Damian pergi, sekalipun Damian bersembunyi, nama itu seolah sudah memaku pada identitas nya, mendikte siapa dia bahkan sebelum Damian sempat memperkenalkan diri.
Sebuah nama keluarga yang sarat akan identitasnya sebagai pewaris kerajaan bisnis ayahnya sekaligus menjadi penjara juga untuk Damian.
Papa Fraya memekik kaget sambil menaruh cangkir kopinya ke meja dengan denting yang cukup keras.
"Astaga! Setelah saya lihat, kamu memang mirip Richard Harding si kaya dari Eropa itu. Mama! Seharusnya tadi kita tidak cuma menyuguhkan bakso!"
Suara menggelegar Papa Fraya memenuhi ruangan, namun Damian hanya bisa terenyak. Ia merasa sesak. Dari sudut matanya, ia melihat Fraya yang sejak tadi diam, kini menatapnya dengan intens. Fraya menyadari satu hal yang luput dari perhatian ayahnya: Damian sedang merasa sangat tidak nyaman.
"What did I miss?" Mama muncul membawa beberapa piring camilan yang Mama letakkan diatas meja.
"Kamu tahu Richard Harding, kan? Pemilik Harding Global yang baru saja memberi investasi miliaran dolar untuk perusahaan Papa?" Papa menunjuk Damian tanpa memedulikan ekspresi diam seribu bahasa cowok itu. "Damian ini anaknya. Pewaris takha Harding Global."
Sekarang bukan hanya Papa yang terkejut, Mama juga tampak sangat kaget. Sambil duduk di sebelah Damian, mata Mama memancarkan binar bangga yang luar biasa. "Ya Tuhan, kalau tahu tadi kita kedatangan anak dari atasan Papa, Mama siapkan menu yang lebih layak!"
Pandangan Mama beralih ke Fraya. "Fay, kok kamu nggak cerita?"
Fraya sendiri sebenarnya tidak tahu—atau lebih tepatnya, tidak peduli—dengan siapa ayah Damian atau bagaimana latar belakang tutor Bahasa Jermannya yang lebih sering jadi bahan puja-pujaan seluruh murid di Milford.
Tapi melihat Damian yang tampak ingin menelan dirinya sendiri, Fraya memutuskan untuk melakukan sesuatu.
"Ma, Pa, Fraya mau diskusi soal ujian Bahasa Jerman Fraya buat minggu depan. Boleh ya Fraya bawa Damian ke dapur dulu sebentar?"
Damian mengangkat wajahnya. Binar lega tak terbendung saat ia menatap Fraya yang kini berdiri dan memberi kode untuk mengikutinya. Sambil pamit dengan sopan, Damian segera mengekor di belakang Fraya, meninggalkan kehebohan di ruang tengah tentang 'tamu kehormatan' mereka.
"You want a glass of water?" Fraya menawarkan begitu mereka sampai di dapur.
"Thank you, I guess," jawab Damian lirih. Ia menerima gelas itu dan meneguk isinya sampai habis dalam satu tarikan napas. Ia tidak sadar bahwa Fraya sedang mengamatinya sambil menahan senyum.
Damian menyadari dirinya nyaris ditertawakan. Ia menurunkan gelas sambil mengusap sisa air di bibirnya.
"What?"
Fraya mengangkat kedua bahu, mencoba terlihat cuek meski bibirnya merekah karena tawa samarnya. "Kamu kelihatan tegang sekali tadi. My parents get too excited sometimes over someone new. Maafin mereka, ya."
Seumur hidup, Damian selalu dilingkupi oleh orang-orang yang memuja sosoknya. Entah karena fisiknya yang memang nyaris sempurna, atau mungkin karena latar belakang keluarganya yang luar biasa kaya.
Damian selalu mendapat sorotan utama yang membuatnya jadi pusat perhatian begitu mereka tahu bahwa nama Harding di belakang namanya adalah Harding yang membawa arus perputaran perdagangan dunia melambung tinggi dalam dunia perekonomian.
Dan Damian sungguh membenci dirinya yang harus selalu bersembunyi balik topengnya yang dikenal pongah sekaligus angkuh, agar Damian dapa menyingkirkan orang-orang yang hanya memujanya karena Damian adalah pewaris utama kerajaan bisnis Harding Global.
Tapi dengan Fraya... gadis itu sangat gamblang menunjukkan kepada Damian kalau dia tidak peduli sama sekali dengan harta Damian.
Justru yang mengejutkan, kenyataan bahwa rasa tidak nyaman Damian yang muncul tanpa kentara pun tetap disadari oleh Fraya.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mampu menarik Damian dari jeratan ekspektasi tinggi orang-orang disekeliling Damian. Seorang gadis di hadapannya ini telah menyelamatkannya dengan cara yang tak dapat dilakukan oleh siapapun.
"Anyway," Fraya menunjuk kotak besar di atas meja. "What's in the box? Kamu bawa itu memang untuk diberikan ke seseorang di rumah ini atau bagaimana?"
Damian membalikkan badan dan menyadari kebodohannya yang sejak tadi lupa memberikan kotak tersebut untuk Fraya.
"I forgot to give you this. This is for you."
Damian meraih kotak tersebut dan memberikannya kepada Fraya. Untuk sejenak, ada keraguan dalam diri Fraya untuk menerima apa pun pemberian dari seseorang kepadanya.
"Is it a bomb? Because if it's a bomb, I don't want to accept it."
Damian terkekeh pelan, rasanya ingin sekali ia mencubit gadis manis di hadapannya ini.
"Just take the damn box and open it immediately, Ace."
Wajah Fraya cemberut saat Damian berkata begitu, tapi tanpa protes lagi akhirnya ia menerima kotak berukuran besar di tangannya itu.
Dengan hati-hati, Fraya membuka tutup kotak dan apa yang ada di dalamnya praktis membuat tubuhnya membeku. Satu paket lengkap buku Oxford Preparatory lengkap dengan semua volume berjejer rapi di dalamnya.
Fraya secara refleks kembali menutup kotak tersebut dengan cepat dan langsung mengulurkannya kembali ke arah Damian yang kaget melihat reaksi Fraya.
"Aku tidak bisa menerima ini, Damian," ujar Fraya tegas, membuat kening Damian berkerut dalam.
"Why, Ace? You said you need it. Itu alasan kamu kemarin ada di perpustakaan saat pertandinganku, kan? Ace, aku hanya khawatir melihat kamu sampai harus memanjat tangga kayu perpustakaan yang kemarin kulihat sudah rapuh dan nyaris rusak itu. Dan aku juga tahu kalau tes kamu ini harus disiapkan untuk beberapa minggu lagi."
Fraya menghela napas dalam sambil menatap manik mata Damian seraya menahan diri agar tangannya yang mulai terkepal tidak dilayangkannya ke wajah tampan pemuda itu.
"Damian, hanya karena aku butuh, bukan berarti itu jadi tugas kamu untuk memenuhi kebutuhanku yang tidak pernah ku minta dari kamu."
Damian ingin sekali berdecak atas keras kepalanya Fraya yang memang juara.
"Kamu memang tidak pernah meminta, Ace. Tapi ini murni karena aku ingin memberikannya untuk kamu."
Fraya menghela napas panjang, diam-diam memanjatkan doa supaya dirinya tidak sampai berteriak menyuruh Damian pergi ke laut saja.
"I can't, Damian. Aku tidak mau ke depannya ini malah akan jadi hutang budi."
Damian langsung tertegun mendengar ucapan Fraya soal hutang budi. Sepenggal kata itu efeknya seperti sebuah palu besar yang baru saja dijatuhkan tepat di tempurung kepalanya. Membuka bagian memori yang sempat Damian tutup dan sekarang kembali menganga, memberitahu Damian akan fakta bahwa alasan kakinya bisa sampai sejauh ini mengenal Fraya adalah karena rencana pembalasan dendam yang diperintahkan Axel Rosewood kepada Damian atas dasar... hutang budi.
Dengan sangat mati-matian, Damian menahan diri agar wajahnya tidak memperlihatkan emosi yang berkecamuk. Tidak, emosinya sama sekali bukan untuk Fraya. Seluruh emosi yang menelanjangi perasaan Damian saat ini hanya ditujukan untuk Richard Harding dan keluarga Rosewood yang brengsek itu.
"Fraya..." Damian menaruh kotak yang sejak tadi menjadi penghalang di antara dirinya dan Fraya ke atas meja makan.
"Kamu boleh tidak mau menerima pemberianku ini, tidak apa-apa. Aku tetap akan menaruhnya di sini, setelahnya terserah buku-buku ini mau kamu apakan. Mau kamu bakar, boleh. Kamu jadikan untuk ganjalan pintu juga boleh. Terserah, Ace. Tapi yang jelas, aku tidak mau memaksa lagi, sama seperti aku tidak akan memaksa kamu lagi untuk menonton pertandingan final ku lusa. Karena terakhir kali aku memaksa seorang perempuan yang sangat ku pedulikan kehadirannya, dia membuatku sangat tersiksa dengan mendiami ku sampai berhari-hari."
Damian tidak tahu dari mana datangnya kekuatan yang berhasil membuat kata-katanya tadi menjadi pencair suasana, karena reaksi Fraya saat ini adalah menyemburkan tawa tertahan sampai ia harus menutupi bibirnya sendiri.
Mendung di wajah Damian pun kembali tersingkir begitu saja. Ia melanjutkan, masih dengan tampang seserius mungkin, "Dan sepanjang yang bisa kuingat, untuk dapat maaf dari gadis keras kepala yang satu ini, sungguh tidak mudah. Aku sampai harus datang ke rumahnya, makan masakan ibunya yang sangat, sangat enak itu, dan juga harus duduk dengan ayahnya yang ternyata pecinta bola liga Inggris, sama seperti orang ini. Hanya untuk sebuah maaf. Dan semua usahaku ini, akhirnya berubah manis juga. Karena orang yang sangat ku pedulikan itu sekarang tersenyum secerah matahari di London yang lebih seringnya mendung ini."
Damian menunjuk hidung Fraya, yang seketika membuat tawa tertahan Fraya kini pecah. Damian akhirnya melebur juga dalam tawa gadis itu.
"You should see your face when you're said that," ujar Fraya di sela tawanya yang belum bisa berhenti.
Selama semenit penuh mereka sibuk terbahak-bahak, menertawakan kejadian beberapa hari yang lalu yang jika diceritakan lagi sekarang memang rasanya sangat konyol. Lalu ketika akhirnya mereka sudah dapat menguasai diri, Fraya dan Damian saling berpandangan tanpa kata.
Ada perasaan hangat yang untuk pertama kalinya membuat Fraya tidak ingin marah-marah saat Damian berada dalam jarak pandangnya. Ia menyadari bahwa pemuda congkak ini sebenarnya punya hati yang sama seperti kebanyakan orang. Hanya saja, sekarang sedikit banyak Fraya sudah bisa menduga bahwa latar belakang keluarganya menuntut Damian harus terlihat dingin dan keras dari luar.
"I'm sorry too. For being too emotional over you," dengan suara nyaris berbisik, Fraya mendengar dirinya berkata demikian.
Damian yang biasanya akan menggunakan berbagai kesempatan untuk meledek atau menggoda Fraya, kali ini malah tersenyum sambil mengangguk pelan.
Seperti biasa, hatinya menggerakkan tangannya untuk terangkat dan mengusap puncak kepala Fraya dengan sayang. Dan seperti biasanya juga, Fraya langsung berusaha menepis tangan Damian yang kini malah mengacak-acak rambutnya sampai kusut.
"Kamu jadi bangga ya, dapat nilai 60 untuk tes hari ini?" Damian menuding dengan dagunya ke arah lembar jawaban yang ditempel ibunya di pintu kulkas tadi.
Fraya yang sekilas memandang nilainya—yang sebenarnya ingin ia bakar saja sejak sore tadi—hanya bisa menghela napas.
"Big joke, huh? Mamaku yang menempelkan itu di pintu kulkas," jawab Fraya sambil berlalu menuju pintu kulkas untuk mengambil sebotol air minum dingin.
Damian mengangkat alisnya lagi. "Mama kamu marah karena kamu dapat nilai 60? Tell your Mama later, we're gonna work our ass off to fix that damn number on your German. I'll make sure you'll get what you want."
Fraya nyaris tersedak mendengar Damian bicara seperti itu. Raut wajah pemuda itu tampak sangat serius, membuat Fraya jadi ingin menjahilinya.
"Memangnya kapan aku setuju mau belajar Bahasa Jerman lagi sama kamu?"
Wajah Damian langsung berubah kaku.
"Ace, come on, we're not having this kind of conversation anymore."
Fraya tidak kuasa menahan tawanya lagi. Tawa yang entah bagaimana mencairkan setiap kekakuan di dalam diri Damian yang menatapnya lekat-lekat, membuatnya jadi ikut tersenyum.
"This, my friend, is somehow, as my mother said to me earlier, a set to remind me that I'm still an ordinary human," kata Fraya sambil menunjuk lembar kertas di daun pintu kulkas. Ia menutup botol minuman di tangannya dan meletakkannya ke atas meja dapur.
"Kata Mama, nilai ini harus jadi pengingat kalau aku itu masih manusiawi. Kalau duniaku di sekolah tidak hanya berpusat untuk belajar dan mengejar nilai saja. Nilai ini harus jadi kendali atas diriku sendiri kalau hidupku tidak melulu harus diisi dengan mengejar Oxford."
Damian sudah tidak bisa menghitung berapa kali ia dibuat tertegun oleh Fraya dan apa pun yang keluarga ini lakukan kepadanya secara tak kasat mata. Untuk kesekian kalinya, Damian dapat merasakan secercah harapan untuk kembali menjadi manusia biasa juga.
Tanpa ambisi ayahnya.
Tanpa bayang-bayang latar belakang keluarganya.
Tanpa tuntutan dari orang-orang di sekitarnya.
Bertemu dengan Fraya seolah telah membukakan jalan bagi Damian menjadi manusia biasa yang bisa bernapas kapan saja tanpa harus memikirkan setiap tuntutan.
"Kamu benar, Ace. Kamu masih bisa kejar Oxford. Dan aku bisa pastiin kalau jalan itu akan aku bukakan semuanya untuk kamu, sekalipun syaratnya lebih dari sekadar menaklukkan tes itu di sesi kuis berikutnya nanti."
Fraya dan Damian kembali tertawa. Tawa ringan yang entah bagaimana mengangkat beban di kedua pundak Damian.
Malam ini, harapannya benar-benar melambung tinggi melebihi apa yang diinginkannya. Bertemu Fraya adalah takdirnya. Ia semakin yakin bahwa kehadiran Fraya di Milford Hall adalah takdir yang sudah direncanakan Tuhan hanya untuk Damian seorang.
"It's getting late. You need to rest for your big game," Fraya memecah keheningan sesaat di antara mereka berdua.
Sambil tersenyum, Damian mengangguk dan berbalik untuk mengenakan mantel yang tadi ia sampirkan di dekat dinding ruang tengah. Setelah berpamitan kepada Mama dan Papa Fraya, serta dengan sok akrabnya Damian memberikan janji kepada Papa Fraya untuk mencarikan tiket pertandingan Chelsea—yang dengan girang langsung disambut deru bahagia Papa Fraya.
"You can't bribe everyone in your life just like that, you know. Including my dad," ujar Fraya saat mengantarkan Damian ke halaman depan rumahnya.
Damian berbalik sebelum membuka pintu mobil. Untuk kesekian kalinya, yang sepertinya akan menjadi kebiasaan favoritnya terhadap Fraya, Damian mengusap kepala cewek itu dengan sayang.
Damian membuka pintu mobil dan matanya langsung jatuh pada kotak hitam di dalam tas kertas yang tadi sempat ditinggalkannya.
Perlahan, Damian mengambil kotak tersebut dan memberikannya kepada Fraya, membuat gadis di depannya kembali mengernyitkan dahi pada setiap benda yang Damian arahkan padanya.
"Ini apa lagi?" Fraya berdecak kesal tanpa menerima pemberian Damian.
"Take it. Believe me, it's not like what you think it is," ujar Damian dengan nada yakin, membuat Fraya mau tidak mau akhirnya menerimanya juga.
Ketika Fraya membuka kotak di dalam tas kertas tersebut, ia tertegun sebentar melihat benda di sana. Sebuah Walkman berikut dengan kaset berwarna merah muda yang sudah terlihat usang.
"Ini kaset apa?" Fraya mengangkat wajah untuk menatap Damian dengan pandangan tidak mengerti.
"Kaset itu untuk kamu dengarkan supaya kamu bisa pelajari lagu-lagu Jerman di dalamnya. Hitung-hitung untuk latihan. Semua yang ada di dalam kaset itu adalah tugas kamu. Kamu bisa dengarkan baik-baik dan tulis setiap lirik lagu yang kamu dengarkan, berikut dengan artinya."
Fraya sempat melongo mendengar penjelasan Damian yang belum apa-apa sudah memberinya tugas. Fraya sudah nyaris protes, ketika Damian tidak memberikan kesempatan sedikit pun dan dengan cepat masuk ke dalam mobil. Ketika Damian sudah berada di dalam dan hendak menyalakan mesin, Fraya mengetuk jendela, membuat Damian menurunkan kaca mobilnya.
"Is it for me, or you just borrow it for me?"
Sambil tersenyum, Damian menjawab dengan nada lembut. "
"It's yours now, Ace."
Dengan kerlingan nakal, Damian membawa mobil Range Rover-nya berlalu dari hadapan Fraya.
Meninggalkan cewek itu terdiam cukup lama sambil memandangi kaset berwarna merah muda serta Walkman yang usianya bisa diperkirakan jauh lebih tua dari usia Fraya maupun Damian.
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit