NovelToon NovelToon
Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Biby Jean

"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 3 - Ruang yang Tidak Memberi Tempat

Ruangan Setya Pradana benar-benar mempresentasikan pria itu, gelap, misterius dan mahal. Maura bisa melihat bagaimana mahalnya setiap barang yang ada di ruangan utama ini.

Begitu pintu tertutup di belakang mereka, Maura langsung menyadari satu hal bahwa tidak ada satu pun sudut di ruangan ini yang terasa hangat. Dinding berlapis kayu gelap, rak buku tinggi dengan isi buku-buku yang bisa diperkirakan seputar bisnis dan hukum, meja kerja besar dari kayu solid dengan permukaan bersih nyaris tanpa apapun yang bersifat pribadi.

“Duduk,” kata Setya singkat sambil berjalan ke balik mejanya.

Maura menurut dan duduk di kursi di hadapan Setya dengan dibatasi oleh meja besar. Tangannya masih memegang map undangan dan kini diletakkan rapi di pangkuannya. Setya duduk berhadapan dengannya, menyilangkan satu tangan di atas meja dengan tatapan mengarah lurus pada Maura.

“Apa yang ingin kamu sampaikan, Miss Maura? Harus bagaimana saya memanggil kamu?” suara itu begitu dingin.

“Maura saja tidak apa-apa, Pak. Atau Miss Maura, sesuai kenyamanan Bapak,” jawabnya hati-hati.

Setya mengangguk tipis dengan tatapan tidak berpindah barang sedetik pun. Maura merasa seperti objek yang sedang dipindai, bukan tamu yang datang untuk menyerahkan undangan.

“Baik, Maura. Sekarang jelaskan tentang undangan yang universitas kamu kirimkan,” katanya akhirnya.

Maura menggeser map di pangkuannya, lalu meletakkannya di atas meja dengan gerakan pelan. Ia segera membuka map itu dan mengeluarkan sebuah kartu undangan berdesain elegan.

“Saya datang untuk menyampaikan undangan resmi, Pak. Universitas kami akan mengadakan acara amal tahunan. Dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk beasiswa mahasiswa riset dan pengembangan pendidikan,” jelasnya dengan sedikit menunduk sopan.

Maura menggeser undangan itu ke tengah meja untuk bisa Setya jangkau dalam pandangannya.

“Nama Bapak direkomendasikan langsung oleh pihak rektorat sebagai tamu kehormatan.”

Setya tidak langsung mengambil undangan itu, tetapi hanya memandang kartu tersebut seolah benda itu tidak memiliki urgensi apa pun. Lalu, perlahan, tatapannya kembali naik berhenti tepat di wajah Maura.

“Acara amal,” ulangnya pelan.

Nada suaranya memang tenang, tapi entah bagaimana membuat Maura gugup. Si perempua mengangguk kecil.

“Iya, Pak. Kehadiran Bapak tentu akan memberi dampak besar. Baik secara donasi maupun-”

“Berapa banyak undangan seperti ini yang kamu antar hari ini?” potong Setya.

Maura terdiam. Pertanyaan itu tidak ada dalam skenario kepalanya dan jelas Maura tetap mencoba tenang.

“Hanya satu, Pak. Untuk Bapak Setya Pradana,” jawabnya jujur.

Setya akhirnya mengambil undangan itu. Tapi bukannya membacanya, ia memutar kartu tersebut di antara jemarinya sambil menatap Maura. Maura benar-benar terpaku dengan wajah tampan bak pahatan patung yang nyaris sempurna dari pria di hadapannya.

“Kamu dosen?” tanyanya datar.

“Iya, Pak. Dosen tetap. Saya memang bukan dari dunia korporasi, tapi-”

“Umur kamu berapa?” potong Setya.

Pertanyaan itu membuat Maura sedikit terkejut dan ragu sepersekian detik sebelum menjawab, “dua puluh lima.”

Ada jeda. Setya bersandar di kursinya, menautkan jari-jarinya. Ekspresinya tetap tenang, tapi sesuatu berubah dan semakin sulit ditebak.

“Universitas kamu mengirim dosen 25 tahun untuk mengantar undangan acara amal yang seharusnya diurus oleh pihak humas?” katanya pelan.

Bukan bernada merendahkan, justru Setya merasa heran dengan kehadiran dosen yang jelas bukan ini ranah dan pekerjaannya.

Maura menarik napas dalam-dalam. “Saya dipilih berdasarkan apa yang bisa saya tunjukkan pada Bapak.”

“Apa yang bisa kamu tunjukkan pada saya?” pertanyaan itu membangkitkan ambisi dari Maura.

“Ketenangan saya untuk tidak memaksa Bapak menyetujui undangan ini. Saya dipilih karena saya yang paling terlihat netral agar tidak memprovokasi pilihan Bapak. Mengingat sejak dulu Bapak Setya Pradana selalu menolak undangan semacam ini.”

Impressive. Setya benar-benar terpukau dengan perempuan yang masih terbilang masih muda ini.

“Lalu apa yang kamu harapkan dari pertemuan ini?”

“Saya hanya menjalankan tugas saya. Keputusan tetap sepenuhnya milik Bapak,” jawab Maura tenang.

Hening jatuh di antara mereka.  Detik itu, Setya meletakkan undangan tersebut di atas meja, tepat di tengah dan di antara mereka.

“Kamu tahu berapa banyak orang yang duduk di kursi itu setiap bulannya hanya untuk meminta saya hadir di acara mereka?” tanyanya tiba-tiba.

Maura menggeleng.

“Puluhan. Mereka datang dengan senyum terbaik, kata-kata paling halus, dan alasan paling mulia. Semua ingin satu hal yaitu kehadiran saya,” lanjut Setya.

Pria itu berhenti sejenak, lalu menatap Maura lurus.

“Kamu berbeda karena kamu tidak memintanya dan justru itu yang membuat saya ragu,” tambah Setya

Maura menelan ludah. Ia tidak tahu apakah itu pujian atau peringatan.

Ragu?

Kata itu membuat jantung Maura berdegup lebih cepat.

“Kenapa, Pak?” tanyanya, refleks.

Setya menahan tatapannya beberapa detik lebih lama, lalu untuk pertama kalinya membuka undangan itu untuk membaca sekilas.

“Saya tidak akan memberikan jawaban hari ini,” katanya datar.

Maura mengangguk, mencoba menyembunyikan rasa kecewa yang tiba-tiba menyusup.

“Tapi,” lanjut Setya, matanya kembali terangkat, “saya ingin kamu yang datang lagi. Minggu depan.”

Maura terperanjat. “Saya?”

“Iya.” Setya menutup undangan itu.

“Untuk apa, Pak?”

“Untuk memastikan, apakah kamu bisa memandu saya selama acara amal itu berlangsung,” ucap Setya pelan.

Apakah ini artinya pria itu menerima? Atau justru hanya menguji?

 Maura terdiam.

“Memandu... Bapak?” ulang Maura hati-hati, “maksud Bapak, sebagai guide selama acara amal di universitas?”

Ia berdiri dari kursinya, membuat Maura refleks ikut menegakkan punggung. Setya berjalan ke jendela besar di sisi ruangan, menatap pemandangan gedung-gedung tinggi di bawah sana. Tangan dimasukkan ke saku celana, bahunya tetap tegap.

“Acara amal seperti itu penuh basa-basi. Pidato kosong, jabatan, dan orang-orang yang berpura-pura peduli. Saya tidak suka itu. jadi, setidaknya ada satu orang yang berada di samping saya untuk menyenangkan saya selama acara berlangsung,” lanjutnya tanpa menoleh.

Maura menelan ludah. Menyenangkan? Maura tidak suka pemilihan kata itu.

“Menyenangkan?” ulang Maura yang mulai terdengar jengkel dan Setya menangkap nada itu.

Setya berbalik perlahan. Tatapannya turun tepat ke wajah Maura, tenang dan seolah ia sengaja menunggu reaksi itu.

“Tenang. Bukan dalam pengertian yang kamu pikirkan,” katanya datar.

Maura tidak langsung menjawab tapi Setya melihat ada gurat tegang di wajah mungil itu.

“Maksud saya,” lanjut Setya, kini berjalan kembali ke arah meja, “kamu tidak berbicara berlebihan, tidak berusaha membuat saya terkesan, dan tidak mencoba menjual acara itu seolah saya memang wajib hadir.”

“Mungkin Bapak bisa memilih kata yang lain bukan kata yang seolah merendahkan saya secara personal.”

Keheningan menyapu keduanya dalam ruang sunyi ruangan CEO utama Setya Pradana.

1
Anita Optik Agung Riana
cerita yg bagus.alur yg jelas dan tidak menye menye
Anita Optik Agung Riana
aduhhh jgan lama lama Thor update nya.makin seru.semoha sukses thor
Karrr
baguss👍👍
Siti Jul
kejam ih
Siti Jul
setya emang sebegitu dinginnya ya. jangan dingin dingin atuh
Siti Jul
ini baguss bett
Siti Jul
sukaaa
Maulida Ana
awwww
Maulida Ana
uhhh udah mulai dag dig dug nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!