Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
lalu Dimin pun kembali ke meja dimana teman temannya duduk.
"gimana No, kamu sudah siap?" kata Dimin menanyakan kesiapan Peno.
"ya sudah siap dari tadi Min, tinggal kita mulai saja!" jawab Peno dengan entengnya.
"oke, ayo kita ke mejanya pak Supri!" ucap Dimin mengajak teman temannya geser kemeja pak Supri.
"gimana paka Supri, sudah siap untuk melawan temanku ini?" tanya Dimin setelah mereka mendekat kemeja pak Supri.
"ya wis, ayo kita mulai, sini kenalan dulu, namanya siapa?" ucap pak Supri.
"saya Peno pak!" jawab Peno lalu duduk dihadapan pak Supri.
"aku Supri, mari kita mulai saja, kalau kau bisa mengalahkanku nanti aku kasih hadiah lima ratus ribu buat jajan, dan karena kamu masih muda jika bisa menang nanti aku rekomendasikan ikut kejuaraan ditingkat kabupaten!" ucap pak Supri.
Permainan pun dimulai, papan sudah digelar, Dimin dengan lincah menata bidak catur sesuai tempatnya, Kali ini Peno kebagian bidak warna hitam, jadi yang jalan duluan adalah pak Supri dengan bidak warna putih.
Pak supri langsung agresif menekan stelah beberapa langkah, Peno dengan santai membuat formasi serangan dengan sekali langkah, pak Supri sedikit kaget dengan apa yang Peno lakukan, sebenarnya ia menyerang hanya untuk memancing agar lawannya mundur bertahan tapi yang dilakukan Peno malah terbalik dengan harapan pak Supri, alhasil ia sekarang menjadi bingung dengan strateginya sendiri.
Teman pak Supri dan tiga teman Peno yang menonton kini diam seperti patung menunggu apa langkah selanjutnya yang akan pak Supri lakukan, sebab kini menteri pak Supri terancam oleh gajah milik Peno dan jika menteri itu pergi maka kuda dari pak Supri yang akan dimakan gajah Peno.
"Min, belikan rokok dong!" ujar Peno meminta Dimin untuk membeli rokok.
tanpa menjawab Dimin langsung ke arah etalase rokok dan meminta pada yu Warni untuk mengambilkannya lalu segera kembali ke meja tempat permainan digelar.
kini pak Supri sudah melangkah dengan melarikan menterinya, dalam pikirannya biarlah kudanya ia korbankan untuk nanti akan menyerang balik dengan gajah miliknya, namun dugaannya lagi lagi meleset, bukanya menggerakan gajah memakan kuda pak Supri, Peno malah menggerakan kudanya disisi kiri untuk kembali mengancam menteri pak Supri lagi.
Sontak saja itu membuat pak Supri kelimpungan dan konsentrasinya menjadi buyar, perhitungan langkah yang sudah ia pikirkan matang kini malah dipatahkan oleh anak muda yang baru ia kenal, alhasil pak Supri menjadi salah langkah beberapa kali, dan membuat Peno dengan tanpa ampun mempreteli bidak milik pak Supri, dan hanya dengan waktu setengah jam Peno berjasil mengalahkannya.
"skak mat!" ucap Peno sambil menggerakan menterinya tepat disamping raja milik pak Supri.
"horeeeeeeeee, yeeessss, mantaaaappp!" pekik ketiga teman Peno bersamaan.
"ah, sial, kamu hebat juga No, ayo lagi, masih dua sesi!" ucap pak Supri mulai mengakui kehebatan Peno.
Dimin pun sigap menata kembali bidak catur dipapan dengan Peno sekarang memegang bidak putih.
Permainan dimulai, Peno melangkah duluan, pak supri dengan cepat melangkahkan bidaknya, rasa percaya dirinya kini sedikit turun, makanya sekarang ia melangkah dengan begitu hati hati, tak jarang ia berfikir sampai memakan waktu satu menit lebih.
Orang orang yang sedang ngopi diwarung yu Warni menjadi penasaran dengan pertandingan itu, satu persatu orang orang mulai mendekat mengelilingi meja tempat Peno dan pak Supri bermain catur, adajuga yang memindahkan kursinya ke samping kanan kiri meja sehingga kini meja mereka terkepung oleh penonton yang ingin melihat.
Pak Supri muali gerah, ia lepaskan dua kancing kemejanya, matanya tetap fokus menatap papan, jari tangan kirinya menjepit sebatang rokok yang sesekali ia hisap untuk membantunya berfikir, sedangkan Peno dengan gaya duduk santainya asik makan gorengan yang tadi dipesan pak Supri sebelum bertanding.
Setengah jam lebih permainan berjalan, namun pak Supri belum bisa menemukan celah untuk membatasi ruang gerak bidak Peno, padahal sebagian pion milik Peno dan beberapa bidak penting sudah ia tumbangkan, namun pertahanan Peno memang selalu saja membuat ia bingung, barulah beberapa menit kemudian ia bisa mengalahkan Peno dengan menggiring raja peno ke sudut.
"skak mat!" ucap pak Supri lantang, ia merasa puas sekarang.
"skor imbang satu satu!" ucap Dimin kembali menata bidak dipapan.
"kita break dulu sepuluh menit No, buat ngrokok dan ngopi, kalian semua kalau mau pesan kopi lagi silahkan, nanti aku yang bayar!" ujar pak Supri, kali ini ia merasa dapat lawan yang seimbang, jadinya ia dengan senang hati mentraktir semua yang nongkrong diwarung yu Warni.
Hal itu pun disambut meriah oleh semuanya, lumayan nonton catur sambil minum kopi gratis, yu Warni dan suaminya malam ini dibuat sibuk dengan pesanan kopi sebanyak dua puluh gelas lebih, tapi sibuk yang menyenangkan karena warungnya laris.
"kalau rokok gimana pak?" tanya salah satu penonton.
"rokok ya beli sendiri, kecuali rokok buat Peno aku yang bayar, kamu mau rokok apa No, ambil saja!?" jawab pak Supri.
"ini masih ada pak, gampang nanti kalau sudah habis!" jawab Peno menunjukan bungkus rokok miliknya.
Setelah sepuluh menit jeda permainan pun dimulai kembali, ini adalah babak penentuan, siapa yang menang dibabak ini akan menjadi pemenang sebenarnya.
Pak Supri dengan bidak putih memulai jalan duluan bergantian dengan Peno, kali ini jedanya tidak begitu lama, pak Supri tidak mau kecolongan dan fokusnya hilang lagi, dengan konsentrasi penuh ia mengamati setiap langkah bidak Peno, menghitung segala kemungkinan yang akan Peno lakukan dengan bidaknya.
Sementara Peno masih dengan gaya santai menjalankan satu demi satu bidak miliknya, sedikit demi sedikit muali mengancam pertahanan pak Supri.
Kali ini pak Supri benar benar melindungi semua bidaknya dari ancaman bidak Peno, satu bidak dengan yang lain berkaitan saling melindungi agar Peno tidak berani untuk memakannya, semua penonton pun saling berbisik mengakui pertahanan pak Supri begitu rapi.
Namun lagi lagi pak Supri dan penonton dibuat melongo, dengan beraninya Peno menggerakan gajahnya memakan kuda pak Supri yang ada didepan raja, hal itu menjadikan pak Supri terpancing, ia menggerakan kudanya yang satu lagi untuk memakan gajah milik Peno yang menerobos masuk, alhasil terciptalah celah untuk satu lagi gajah milik Peno mengancam menteri pak Supri yang tanpa pengawalan lagi, dengan satu langkah gajah Peno sudah mengancam menteri pak Supri.
"menteri terancam pak!" ucap Peno santai.
"lah, kok jadi kaya gini!" ujar pak Supri agak panik.
Pak Supri pun berfikir sedikit lama untuk mencari solusi agar menterinya selamat dari ancaman gajah Peno, perhitungannya kali ini harus benar benar tepat agar nanti setelah melangkah menteri dan rajanya benar bemar aman.
"saya pamit ke toilet dulu ya pak!" ucap Peno yang sudah menahan pengin buang air kecil dari tadi.
"iya No!" jawab pak Supri singkat dengan matanya masih fokus pada papan catur dimeja, sambil menunggu Peno ia harus sudah menemukan japan keluarnya saat Peno kembali.
"giliran siapa sekarang pak?" tanya Peno yang sudah kembali dari toilet.
"aku No, sebentar!" jawab pak Supri dengan masih fokus berfikir.
Dengan terpaksa akhirnya pak Supri mengorbankan menterinya dimakan gajah milik Peno, pak Supri malah melangkahkan kudanya lagi memakan pion milik Peno.
Dan dengan tak terduga Peno malah melangkahkan pionnya satu langkah ke depan.
"skak!" ucap Peno.
"lah, menteriku ga dimakan No?" tanya pak Supri.
"engga pak, dagingnya kurang empuk, he he he......!" jawab Peno ngawur.
"ha ha ha ha ha...........!" para penonton pun jadi ikut tertawa mendengar jawaban Peno.
Dan dengan terpaksa pak Supri menggeser rajanya ke kotak didepan pion Peno yang tadi mengancam, dengan sangat yakin Peno pun mengangkat menterinya dan langsung diletakan di samping raja pak Supri.
"skak mat!" ucap Peno.
"memang hebat kamu No!" ucap pak supri sambil bertepuk tangan memuji kehebatan Peno.