NovelToon NovelToon
Terjerat Obsesi Tuan Muda

Terjerat Obsesi Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Wanita Karir / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Be___Mei

Sepucuk surat mengundang Syaheera untuk kembali ke kota kelahirannya. Dalam perjalanan ke kota tersebut, dia bertemu Gulzar Xavier, pria baik hati yang menolongnya dari pria mesum di kereta.

Kedatangan Syaheera disambut baik oleh ayahnya dan keluarga barunya. Namun, siapa sangka, ternyata sang ayah berniat menjodohkan dirinya dengan Kivandra Alistair, Tuan Muda lumpuh dari keluarga Alistair.

Cinta Syaheera pada ayahnya membuat gadis ini tak ingin membuatnya kecewa. Namun, pada malam pertemuannya dengan Kivandra, takdir kembali mempertemukan dirinya dengan Xavier, dan sejak itu benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.

Xavier yang hangat, atau Kivandra yang dingin, akan kepada siapa Syaheera menjatuhkan pilihan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Be___Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Syaheera part 2

...🫀 Ternyata kita cinta 🫀...

...-Angin menjadi saksi ketika benih cinta kita berkecambah-...

...***...

Pagi berkabut di kota Viola, sudah sejak dini hari Kansya bersama dua pelayan barunya tiba kemarin, mempersiapkan segala keperluan Syaheera.

"Kata Ayah, Heera akan menginap seminggu di sana. Tidak perlu membawa banyak barang. Pakaian dan semua keperluan sudah tersedia."

"Tidak! Aku tidak yakin mereka akan memperlakukanmu dengan baik. Apalagi semua urusan di rumah itu dalam kendali Celia, aku khawatir dia memberikan pakaian tidak layak untukmu."

Nena dan Raina, dua pelayan utusan Peter yang dipilih Celia saling berpandangan.

"Kenapa? Kalian tidak terima dengan perkataanku?" Kansya menatap mereka berdua bergantian.

"Tidak, Nyonya," sahut Nena dan Raina serempak.

"Nenek, berhenti bersikap begitu pada Nena dan Raina, mereka akan jadi teman Nenek mulai sekarang."

Tidak perlu mereka! Kita sudah punya Tomi, Roy dan Remo. Mereka bahkan lebih dari sekadar teman bagi Nenek," dengkus Kansya.

Sejak mengetahui bahwa Nena dan Raina adalah orang pilihan Celia, Kansya bersikap dingin pada mereka. Tak dapat dipungkiri, meski ia menyayangi Rhea, rasa bencinya terhadap Celia tidak akan terobati. Orang tua mana yang menyukai wanita saingan putrinya, terlebih sang putri kini telah tiada.

Melangkah ke hadapan Kansya yang sedang duduk di sudut ruang keluarga, sembari berjongkok Syaheera mencoba membujuk sang nenek agar bersikap baik pada dua pelayan itu. "Nenek, biarpun mereka orang pilihan tante Celia, sekarang mereka sudah menjadi pelayan Nenek. Mereka harus patuh dan berpihak pada Nenek."

Manik mata Kansya berkedip cepat, "Jadi, bisa dikatakan mereka adalah komplotan kita?"

Syaheera tertawa, "Komplotan? Memangnya kita mau melakukan apa?"

"Melakukan misi merebut jerih payah Ibumu yang kini ada di tangan wanita rubah itu!" ketus Kansya. Sorot matanya menyimpan amarah yang tertahan.

Sejenak berdiam diri, Syaheera tentu sangat tahu apa yang dimaksud sang nenek.

"Ya ..., aku akan mengambilnya kembali. Aku janji, Nek," gumamnya dengan tangan mengepal.

"Demi kelancaran rencana kita, kita harus bisa memanfaatkan siapa saja, termasuk Nena dan Raina," bisik Heera pada Kansya.

Kedua alis sang nenek berkerut.

"Mereka sudah lama berada di kediaman Ayah, tentu mereka sangat tahu apa saja yang telah terjadi di sana sejak kita pergi. Nenek harus menggali informasi dari mereka, siapa tahu akan bermanfaat untuk kita nanti."

Kali ini pupil Kansya membesar, sepertinya ucapan Syaheera berhasil meredakan emosinya terhadap Nena dan Raina.

"Baiklah. Karena kalian sudah menjadi orangku, apa saja yang kami perlukan, apa saja yang ingin kami ketahui, kuharap kalian akan bekerja sama dengan baik!" tegas Kansya pada Nena dan Raina.

"Iya, Nyonya," sahut mereka bersamaan lagi.

"Ya sudah, panggil Remo kemari, juga Roy," titahnya.

Raina segera melaksanakan perintah Kansya, sementara Nena melanjutkan pekerjaannya, mengemas bekal untuk Syaheera.

Memerlukan waktu kurang lebih 1 jam untuk tiba di kota Lumina jika menaiki kereta cepat, berbeda halnya jika menaiki kendaraan pribadi, butuh waktu lebih dari 2 jam barulah sampai di kota Lumina. Sebab itulah mengapa Syaheera memilih menggunakan transportasi umum alih-alih langsung diantar oleh Roy dan Remo.

Meski hanya sebentar di perjalanan, Kansya bersikeras untuk memasak makan siang sang cucu, jelas sekali ia tidak benar-benar percaya pada Peter dan Celia. Siapa yang tahu cucunya akan keracunan makanan di sana! Siapa yang tahu cucunya akan kelaparan di sana! Siapa yang tahu cucunya akan teraniaya di sana!

Jika tidak demi kebahagiaan Syaheera, bisa jadi Kansya tidak akan mengizinkannya pergi ke Lumina. Baginya tidak ada kebahagiaan untuknya dan Heera di kota itu, yang ada hanya rasa sesak, kehilangan dan penyesalan yang mendalam.

Diantar oleh Roy sebagai supir keluarga Guzel, Remo yang bertugas mengawal Kansya selama ini juga diutus sang nenek untuk mengantarkan Syaheera sampai ke Lumina.

Di stasiun Syaheera sudah ditunggu oleh Saul dan Jani. Senyum dua sahabatnya merekah saat ia tiba.

"Kau akan pergi berapa lama? Besar sekali kopermu," ujar Saul mendapati koper besar sang sahabat.

"Seminggu," sahut Syaheera. Wanita bergaun putih dengan motif bunga-bunga kecil ini mengeratkan syalnya.

Saul membulatkan mata, baginya koper itu sangat besar untuk ukuran tinggal seminggu di kediaman orang tua sendiri.

"Ini saja, 'kan?" tanya Syaheera pada Roy tentang kopernya.

Pria berusia 35 tahun ini menggelengkan kepala, ia membuka bagasi dan ... masih ada satu koper juga satu tas kecil.

"Ini bekal Anda, Nona. Dan ini tambahan keperluan Anda." Roy membawa koper dan tas itu ke hadapan Remo.

"Apa Nenek Kansya mengusirmu? Kau seperti akan pindah dari kota ini," ejek Jani tersenyum miring.

Sebelah alis Syaheera menatap Roy dan Remo.

Supir dan pengawal itu hanya bisa mengendikkan bahu. Semua yang mereka lakukan tentu atas perintah Kansya.

Beruntunglah ia bepergian bersama Remo, setidaknya ia tidak sendirian membawa koper dan tas itu.

Lambaian tangan Saul, Jani dan Roy mengantarkan kepergian Remo dan Syaheera.

Menuntun sang Nona untuk duduk pada kursi yang telah ia pesan, Remo pamit untuk mengurusi barang bawaan mereka.

Gadis berkulit putih dengan mata besar nan indah ini mengeluarkan perangkat jemala tanpa kabel dari tas, kemudian memasangnya di telinga.

Di luar sana pemandangan yang semula ramai oleh manusia perlahan berganti dengan gunung nan hijau juga hutan rimbun nan asri. Meski terhalang kaca, Syaheera menarik napas seolah dapat menghidu aroma alam semesta.

Mentari masih mengintip di balik mega, namun, secercah cahayanya mampu mengantarkan rasa hangat saat Syaheera menyentuh kaca jendela kereta. Seulas senyum terbit di bawah cantik itu, ia sungguh menyukai suasana damai saat ini.

Remo datang dengan secangkir kopi dan kue, ia meletakkannya di atas meja kecil di hadapan Syaheera kemudian meminta sang nona melepaskan perangkat jemalanya sejenak.

"Ya?"

"Urusan barang bawaan Nona belum selesai, saya akan kembali secepatnya."

"Hem." Syaheera mengangguk kemudian memasang sepasang benda kecil itu lagi ditelinga. Betapa rasa syukur memeluk hatinya saat ini, ia dapat menikmati secangkir kopi dan kue di pagi hari seraya menikmati indahnya lukisan illahi.

Kereta mulai berjalan, dan ia hanyut dalam kesibukan sendiri menikmati waktu luang. Alunan musik relaksasi seolah membelai pucuk kepalanya, perlahan ia merasakan kantuk meski telah meminum kopi.

Ia melipat kedua tangan di dada. "Aku akan tidur sebentar," gumamnya usai menguap.

Selang beberapa menit terlelap, gadis ini dibuat terkejut. Tubuhnya ketumpahan kopi!

"Maaf, Nona! Aku akan membantumu membersihkannya."

Entah sejak kapan pria itu duduk di sebelahnya, kini ia tengah sibuk membantu Syaheera membersihkan pakaiannya dengan tanggannya sendiri.

Dalam rasa terkejut karena tidurnya terusik, Syaheera semakin terkejut sebab pria asing ini meraba pahanya.

"Hei!! Jaga sikapmu!" hardik Syaheera.

"Aku akan membantumu!" sorot mata si pria asing begitu menjijikan, ia tersenyum seolah dirinya begitu tampan.

"Hei! Pergi dari sini!"

"Nona, aku akan pergi setelah membereskan kekacauan ini," bisik si pria asing.

Jelas ini pelecehan, Syaheera dengan berani menampar wajah pria itu. Boleh jadi tubuhnya kecil, tapi tenaganya cukup kuat. Hantaman jemari lentik Syaheera cukup membuat pipi dan bibir pria itu terasa perih.

Pria asing nampak gusar, ia hendak membalas tamparan Syaheera, namun ...

"Lepaskan!" teriak pria itu.

Seorang pria lagi hadir di hadapan Syaheera, ia memegangi tangan pria asing yang hendak menamparnya.

Saat itu Remo datang dan langsung meninju perut si pria menjijikan. "Kau berani mengganggunya!" sentak Remo beringas.

"Aku hanya menolongnya!" balas pria asing berteriak.

Kejadian ini menarik perhatian penumpang lain, bisik-bisik mulai terdengar saat ini.

"Kau memegang pah___" Syaheera tak kuasa melanjutkan kata-kata, ia malu jika semua orang tahu dia telah dilecehkan. Wajahnya tertunduk, spontan kedua tangannya menutup wajah.

Remo mencekik pria asing itu. "Apa yang kau pegang? Kau sudah bosan hidup? Kau tidak tahu siapa dia?"

"Sudahlah, Remo. Ada banyak orang melihatku," lirih Syaheera.

"Memangnya apa yang dilakukan pria itu hingga dipukuli seperti itu? Kasihan sekali dia."

"Dia sudah tua, siapa yang tau dia benar-benar hanya ingin membantu Nona itu."

"Iya, lihatlah pakaian Nona itu kotor karena minumannya tumpah. Ia pasti hanya ingin menolongnya."

Beberapa penumpang berkomentar dan memihak pada si pria asing.

"Lihat, Tuan. Aku tidak bersalah, mereka semua saksinya. Nona ini saja yang berlebihan," pungkas pria itu pada Remo.

"Mereka hanya berkomentar tanpa melihat kejadian sebenarnya. Yang aku lihat kau sengaja menumpahkan kopi itu saat dia sedang tertidur. Dan kau pura-pura membantunya padahal berniat jahat."

"Bohong!"

"Oh ya? Bagaimana dengan bukti ini? Apa kau bisa menjelaskan?" pria itu menunjukkan rekaman bagaimana pria menjijikan itu melancarkan aksinya.

"Bedebah!!" Kembali Remo melancarkan tinju dan kali ini di wajah pria itu. Saat ia hendak kembali berkelit, petugas keamanan datang, tanpa basa-basi pria hina ini langsung diamankan.

"Maaf, Nona. Kami tertipu wajah polosnya."

"Iya, maafkan kami, Nona."

Kakinya bagai tak berpijak di bumi, degup sang jantung seperti genderang pertanda perang dimulai, begitu hebat debarannya. Dalam keadaaan menahan rasa takut dan malu, Syaheera mengangguk tanpa kata-kata, menanggapi permintaan maaf penumpang lainnya. Perlahan ia bersandar di jendela dan membuka syal untuk menutupi wajah.

"Terima kasih sudah menolong majikanku, Tuan," tutur Remo pada sang pria penolong.

"Sudah seharusnya. Apa dia membawa pakaian ganti? Pakaiannya kotor dan basah."

"Karena membawa banyak barang, semua barang bawaan kami berada di ruang bagasi, jadi hanya pakaian itu yang dia punya," sahut Remo.

Pria itu mengambil kopernya di atas tempat duduk, membukanya dan memberikan kemeja yang cukup besar jika Syaheera kenakan.

"Dia bisa berganti pakaian dengan kemeja ini. Itu kemeja baru."

"Ah, terima kasih, Tuan. Kalau boleh tau siapa nama Tuan? Bisa jadi Nona akan menanyakan nama Anda."

"Namaku Gulzar Xavier, dia bisa memanggilku Vier ...."

...To be continued ......

1
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
ZasNov
Gimana keadaan Oza.. Duh semua kena.. 😭
ZasNov
Ah sediiihh.. Kasian Luke.. 😭😭😭
ZasNov
Tuh kan bener, Luke jadi tumbal.. 😭
Mana Xavier sama Syaheera juga belum tentu berhasil kabur..
ZasNov
Wah kepo nih..
ZasNov
Wah Jack udah beneran insyaf nih? tapi baku hantam masih ga bang? 😆
ZasNov
Hmm, ternyata target Kiv itu Zeter property, karena tujuan utamanya Syaheera..
ZasNov
Kiv berusaha menyelesaikan masalah setenang dan sesantai mungkin, tp kayaknya hatinya ga baik2 aja..
ZasNov
Coba nanti Xavier bilang didepan Kiv.. 😂🤣
ZasNov
Iya bener.. 🥺 Aku jd inget Luke. Dia pasti dapet hukuman..
ZasNov
Aduh Syaheera, kalian lg melarikan diri bukan piknik.. 😂🤣
ZasNov
Apa Xavier dan Syaheera berhasil kabur ya? Kiv kayaknya ga bakalan tinggal diam..
ZasNov
Xavier sama Syaheera udah mulai nekad nih.. Apa bisa Xavier bawa Syaheera pergi ya? Kalau iya, Luke bisa2 kena hukuman berat.. 😖
ZasNov
Aduh Luke, cari perkara aja nih. Aku khawatir Luke yang kena.. Meskipun Syaheera bisa bersama Xavier..
ZasNov
Mukbang kersen ternyata hanya mengalihkan kesedihan Syaheera sebentar saja.. 🥺 dia bneran kangen Vier..
ZasNov
Waduh Luke, berani banget.. Kalau sampe kedengeran Peter, Celia atau Rhea bisa kena hukuman itu.. 😖
ZasNov
Semua orang yang terlibat kena imbasnya.. 😖
ZasNov
Luke dan Syaheera memiliki keinginan yg sama, karena itulah mereka bisa saling mengerti.. 🥺
ZasNov
Astaga Kiv.. benar2 alasan yang sangat masuk akal untuk mempercepat pernikahan.. 😑
ZasNov
Sedih.. maunya mencintai dan memiliki.. 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!