Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.
Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.
Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.
"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo
"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beda Jauh
Seolah tak gentar oleh ancaman Candy, Ranti membalas tatapannya dengan sorot mata yang lebih tajam. Namun kali ini Candy justru membalasnya dengan senyum licik di sudut bibir—senyum yang membuat kesabaran Ranti akhirnya runtuh.
"Sa—"
"Ranti," potong Adrian cepat. Ia tak ingin menambah rasa bersalah di hatinya. Pria itu menoleh pada putrinya. "Apa syaratmu, Sayang?"
Candy meringis saat mendengar panggilan itu keluar dari bibir ayah kandungnya. Dulu, kata sayang sering ia dengar. Namun sejak Adrian menikah dengan Ranti, panggilan itu menghilang begitu saja—hingga Candy nyaris lupa bagaimana rasanya dipanggil demikian.
"Setelah menikah nanti," ucap Candy tenang, "Mbok Sarah ikut Candy."
"Tidak bisa," jawab Ranti tegas, nyaris refleks.
"Ke—kenapa?" tanya Candy dan Adrian nyaris bersamaan.
Ranti tampak salah tingkah, lalu tersenyum dibuat-buat. "Sayang, siapa yang akan mengurus rumah ini?" ujarnya lembut. "Mbok Sarah sudah lama bekerja dengan keluarga kita, jauh sebelum aku ada. Dia lebih hafal rumah dan segala kebutuhannya dibanding aku."
Candy memutar bola matanya. Ia sudah menyampaikan pendiriannya dengan jelas. Kupingnya sedang malas mendengar ocehan remeh Ranti. Tanpa berkata apa-apa lagi, Candy berbalik hendak pergi.
Melihat putri pertamanya melangkah menjauh, Adrian mulai gusar.
"Baik," ucapnya singkat.
"Sa—"
"Cukup, Ranti!" potong Adrian tegas. "Kita sudah meminta terlalu banyak dari Candy. Apa salahnya meloloskan permintaannya?"
Candy tersenyum penuh kemenangan.
"Makasih, Pa," ucapnya ringan sebelum benar-benar berlalu pergi.
Ranti menatap tajam punggung anak sambungnya yang menjauh. Benci. Ya, jauh sebelum Candy lahir, kebencian itu sudah lebih dulu tumbuh—ditujukan pada ibu kandung gadis itu, Monica.
Monica selalu terasa begitu beruntung. Terlahir di keluarga kaya, disayang semua orang. Lalu menikah dengan pria yang benar-benar ia cintai. Sementara Ranti—
Meski sama-sama lahir dari keluarga berada, urusan cinta selalu berpihak buruk padanya. Ia dijodohkan dengan pria berusia jauh lebih tua dan harus rela menjadi istri kedua. Beruntung, pernikahan itu hanya bertahan lima tahun. Suaminya meninggal, meninggalkan harta yang cukup untuk membuat hidupnya nyaman.
Namun Ranti tak pernah benar-benar puas.
Kebenciannya pada Monica sudah terbentuk sejak Adrian memilih gadis itu sebagai kekasihnya. Padahal, dialah yang lebih dulu mengenal pria itu. Lalu, seolah keberuntungan jatuh dari langit, Monica meninggal saat Candy baru berusia lima tahun.
Ranti melihatnya sebagai kesempatan emas.
Adrian memang ditakdirkan untuknya. Kehadiran Clara di antara mereka membuat Ranti merasa hidupnya akhirnya lengkap. Namun keberadaan Candy—anak itu—selalu menjadi ganjalan.
Segala yang telah ia pendam selama bertahun-tahun kini berubah menjadi kemarahan yang kental. Dan apa pun akan ia lakukan untuk melampiaskannya.
Candy harus merasakan hal yang sama.
Dipaksa menikah dengan pria yang usianya terpaut jauh— seperti takdir yang dulu pernah menjerat Ranti sendiri.
Ranti menarik napas panjang, berusaha menenangkan denyut di pelipisnya. Ia bukan perempuan jahat—setidaknya begitu yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri. Ia hanya ingin keadilan versi miliknya. Jika dulu ia dipaksa menerima nasib, maka Candy pun harus belajar melakukan hal yang sama.
Bukankah hidup memang begitu?
---
Sementara itu, di kediaman keluarga Luneth, para tetua sibuk mengurus segala keperluan pernikahan putra—sekaligus cucu pertama—keluarga itu.
Meski ini bukan pesta pernikahan pertama yang pernah mereka selenggarakan, kesibukan tetap terasa berbeda. Ada semangat tersendiri. Bagaimanapun, sang pewaris akhirnya bersedia menuruti keinginan keluarga besar.
"Akhirnya Revo menikah juga, ya, pi," ucap Berlian sambil memilah undangan di tangannya.
Marco mengangguk pelan, namun kerutan di dahinya tak sepenuhnya menghilang.
"Cuma Papi heran," ujarnya. "Dari sekian banyak gadis yang kita pilihkan, kenapa kali ini dia justru mau dijodohkan? udah gitu sama gadis yang usianya masih sangat muda?"
"Mungkin Revo memang suka gadis muda, pi," jawab Berlian santai. "Lagipula yang muda itu lebih segar. Kayak mangga muda," lanjutnya sambil tertawa kecil.
"Tapi ini terlalu muda, mi," bantah Marco. "Usia Revo jelas terpaut jauh dengan…" Ia berhenti sejenak, berusaha mengingat. "Siapa tadi nama calon menantu kita?"
"Candy, pi" jawab Berlian ringan.
Marco mendengus. "Namanya kayak permen."
"Makanya cocok sama Revo," sahut Berlian tanpa ragu.
"Di bagian mana cocoknya, mi?"
Berlian tersenyum lebar. "Candy masih muda, manis lagi. Cocok sama Revo yang sudah tua dan kecut. Biar hidupnya nano-nano," jelasnya sambil terkekeh puas.
Marco menggeleng heran mendengar jawaban polos dari istri tercintanya itu. "Iya sih, mi. Cuma usia mereka itu bedanya sampai delapan belas tahun."
Berlian memutar bola matanya. "Ya ampun, pi. Kita aja bedanya dua belas tahun."
"Itu masih ngga terlalu jauh, mi," bela Marco.
"Artinya peningkatan dong, pi."
"Lho! Kok peningkatan, mi?"
Berlian menghentikan tangannya lalu menatap lekat suaminya, "Jelas peningkatan dong, pi. Kita berdua bedanya dua belas tahun. Revo dan Candy bedanya delapan belas tahun. Dua belas ke delapan belas kan naik angkanya bukan menurun, pi. Jadi, peningkatan."
Mata Marco membulat saking terkejutnya. Pria itu tak habis pikir dengan pola pikiran istri tercintanya itu.
Dari balik lemari pajangan, Revo yang sejak tadi mendengar percakapan kedua orang tuanya langsung terbatuk.
Seingatnya, ia masih tergolong muda—belum terlalu tua untuk menikah di usia tiga puluh tujuh tahun. Revo melirik pantulan dirinya di kaca, lalu meremas otot lengannya yang terlihat jelas di balik kaus polo yang dikenakan.
Tubuhnya masih atletis dan kencang.
Jadi, bagian mana dari dirinya yang disebut tua dan kecut oleh maminya?
Merasa tidak terima difitnah seperti itu, Revo hendak menegur maminya. Namun baru selangkah, ia berhenti.
Revo meraih ponsel di saku celananya, lalu dengan cepat menekan tombol panggilan keluar.
[Iya, Tuan.]
"Periksa kembali data calon istri saya."
[Ba—]
Belum sempat suara di balik ponsel menyelesaikan kalimatnya, Revo sudah memutus panggilan.
Usai menghubungi sekretarisnya, Danny, Revo memilih kembali ke kamarnya untuk menunggu informasi. Seingatnya, calon yang ia pilih bukan gadis muda—apalagi sampai terpaut usia delapan belas tahun.
---
Danny baru saja selesai mandi saat Revo menghubunginya.
"Bisa-bisanya si bos nelpon pas-pas gue selesai mandi," gumam Danny.
Dengan tubuh yang masih dililit handuk putih setinggi pinggang, Danny segera mengutak-atik laptopnya. Data yang diminta bosnya berjalan lambat—sangat lambat—seolah sengaja menguji kesabarannya. Danny mengambil secangkir kopi yang ia buat tadi.
Pufft
Air kopi yang baru masuk ke mulutnya langsung menyembur.
"Shit!"
Danny buru-buru meletakkan cangkir, lalu meraih tisu untuk mengelap layar dan keyboard laptop yang terkena cipratan kopi. Handuk putih yang melilit pinggangnya pun tak luput dari noda, menciptakan motif unik di sana.
"Kenapa bisa begini?" Danny memijat keningnya. "Siapa yang mengganti calon si bos?"