"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3.
Seminggu setelah kematian kedua orang tuanya, Sonia ikut bersama Tomi ke rumah orangtua Tomi. Ya, untuk sementara waktu Tomi berencana tinggal di rumah orang tuanya, hingga mendapat tempat tinggal baru yang pas untuknya dan Sonia.
Sudah seminggu menjadi pasangan suami-isteri namun jarang sekali Tomi dan Sonia berkomunikasi intens. Tomi hanya akan mengajaknya bicara jika ada yang menurutnya penting, selebihnya Tomi lebih banyak diam. Bahkan selama seminggu menjadi pasangan suami-isteri, Tomi dan Sonia belum pernah tidur sekamar sebab setelah pemakaman kedua orang tua Sonia, Tomi harus berangkat ke luar kota untuk urusan pekerjaan.
Sonia di antarkan oleh ibu mertuanya ke kamar Tomi, sedangkan Tomi menemui ayahnya di ruang kerja.
"Ini kamar Tomi, Sonia, dan mulai sekarang kamar ini juga milik kamu, nak." Tutur ibu mertua dengan lembut. Ibunya Tomi bisa merasakan kesedihan Sonia setelah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Hancur, sudah pasti hati menantunya itu hancur. Hingga ibunya Tomi berjanji pada diri sendiri untuk memperlakukan menantunya itu layaknya anak kandung sendiri.
"Jika butuh sesuatu, jangan sungkan untuk bilang ke mamah, nak!."
"Terima kasih, aunty." Meskipun ibu mertua telah berpesan untuk tidak perlu sungkan, namun sebagai menantu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah mertua, Sonia tetap saja merasa sungkan.
"Kok manggilnya aunty sih, panggil mamah dong! Sekarang kamu kan sudah menjadi menantu mamah, jadi sudah seharusnya kamu memanggil mamah dengan sebutan mamah, sama seperti suami kamu!." ibunya Tomi mengusap lembut punggung Sonia, dan tindakan ibu mertuanya tersebut terasa begitu hangat dihati Sonia.
"Terima kasih sudah menerima Sonia sebagai menantu dirumah ini, mah." Balas Sonia dengan kedua bola mata yang sudah berkaca-kaca. Ya, Perlakuan lembut ibu mertua mengingatkan Sonia pada mendiang mommy-nya.
"Kasihan kamu, Sonia... Semoga kedepannya Tomi bisa membuka hatinya untukmu, nak." Dalam hati ibunya Tomi. Wanita itu berharap putranya bisa menerima keberadaan Sonia sebagai istrinya.
"Kalau begitu mamah tinggal dulu ya." Pamit ibu mertua dan Sonia mengiyakannya.
Sungguh, kehilangan kedua orang tuanya serta menikah dengan Tomi Andrean bagaikan mimpi bagi Sonia. Hingga detik ini Sonia masih bertanya-tanya mengapa Daddy-nya sampai mengetahui tentang perasaannya terhadap Tomi. Sonia memang sudah jatuh cinta pada Tomi sejak pandangan pertama, namun Sonia tidak pernah mengharapkan pernikahan seperti ini, lebih tepatnya Sonia tidak ingin Tomi menikahinya hanya karena tertekan oleh keadaan. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur kini ia telah menyandang status sebagai istri Tomi.
"Mas..." seru Sonia menyadari kedatangan Tomi di kamar. Awalnya Sonia masih memanggil Tomi dengan sebutan Tuan, mengingat pria itu merupakan bosnya di kantor dan Sonia sudah terbiasa dengan panggilan tersebut. Namun, Tomi memintanya mengubah panggilannya itu dengan alasan aneh jika Sonia memanggilnya dengan sebutan seperti itu dihadapan keluarga mereka.
Tak ada respon dari Tomi, pria itu justru berlalu begitu saja. Seolah keberadaan Sonia tak terlihat olehnya, hingga Sonia hanya bisa menghela napas panjang. Jujur, hingga detik ini Sonia masih bingung akan dibawa kemana rumah tangganya bersama Tomi, jika faktanya berkomunikasi pun mereka jarang.
"Apa aku boleh bicara sebentar, mas?."
"Penerbangan dari Jambi ke jakarta cukup melelahkan." Tanpa menoleh, Tomi menjawab.
Jawaban itu terdengar ambigu, namun Sonia tak bodoh untuk menyimpulkan. Suaminya itu menyiratkan penolakan untuk berbicara dengannya.
"Aku tahu, mas sangat tertekan dengan pernikahan ini. Mas boleh mengakhiri pernikahan ini jika tak sanggup melanjutkannya!." Meskipun mendapat penolakan secara halus dari Tomi, Sonia tetap mengutarakan apa yang sudah seminggu menjadi buah pikirannya.
Sontak saja Tomi memalingkan pandangannya pada Sonia.
"Mengakhiri pernikahan ini?." Cicit Tomi dengan dahi berkerut. "Apa kamu pikir hubungan persahabatanku dengan Abil akan baik-baik saja jika secepat ini mengakhiri pernikahan kita?." Walaupun sebelumnya Abil pernah berpesan untuk mengembalikan Sonia dengan cara baik-baik padanya jika memang Tomi tak sanggup menjalani pernikahan tersebut, Akan tetapi Tomi tidak pernah berpikir mengakhiri pernikahannya dengan Sonia secepat itu. Bukannya takut, Tomi hanya tak ingin melukai perasaan sahabat baiknya itu.
Sonia terpaku, rupanya Abil adalah alasan Tomi sampai bersedia mewujudkan keinginan terakhir Daddy-nya. Kini Sonia paham, mengapa Tomi ingin cepat-cepat pindah dari kediaman Pamannya, Abimana. Rupanya Tomi tidak ingin sampai Abil mengetahui sikap dinginnya terhadap Sonia.
"Kalau memang tidak ingin menyudahi pernikahan ini, lalu apa yang ingin mas lakukan sekarang?." Tanya Sonia dengan nada putus asa.
"Tidak ada pilihan lain, jalani saja! Kalau memang pada akhirnya pernikahan ini tidak bisa dipertahankan, maka mari berpisah!."
Deg.
Seharusnya Sonia siap mendengar kalimat perpisahan sebab ia sendiri yang mulai membahasnya di awal, tetapi tetap saja hatinya terasa nyeri mendengar Tomi mengatakan soal perpisahan.
"Kamu tidak boleh lemah, Sonia! Sejak awal mas Tomi memang tidak menginginkan pernikahan ini, maka tegarkan hatimu! Persiapkan dirimu untuk menyambut saat-saat itu!." Batin Sonia, mengingatkan diri sendiri.
"Baiklah. Aku setuju." Balas Sonia setelah terdiam cukup lama.
"Bersikaplah layaknya seorang istri pada umumnya dihadapan keluargamu dan juga kedua orang tuaku! Tunjukkan keharmonisan rumah tangga kita dihadapan mereka, jangan sampai mereka menaruh curiga pada hubungan kita!."
"Baik, mas." Balas Sonia. Ya, Sonia tak punya pilihan lain, selain mengiyakan perintah Tomi.
"Apa boleh aku menyerah dengan semua takdir ini, Tuhan....." Sonia bergumam setelah tubuh Tomi menghilang dibalik pintu kamar mandi. Gadis itu terduduk lemas di tepi tempat tidur, sorot matanya pun nampak kosong.
Tiga puluh menit kemudian, Tomi terlihat keluar dari kamar mandi. Menyadari itu, Sonia berpura-pura fokus pada ponselnya. Bukan apa-apa, ia tak ingin sampai Tomi berpikir yang bukan-bukan jika dirinya memandang ke arah pria itu.
Tomi melintas di hadapan Sonia, menuju ruang ganti.
Bukannya tidak ingin menyiapkan pakaian suaminya, Sonia hanya tak ingin dianggap lancang membuka lemari pakaian Tomi tanpa izin.
Tak lama berselang, Tomi kembali dari ruang ganti dengan berpakaian lengkap.
"Saya mau keluar, ada urusan." Pamit Tomi sebelum memutar handle pintu kamar.
Sonia hanya mengangguk saja. Walaupun faktanya Tomi pasti tidak akan melihat responnya itu, mengingat saat ini posisi Tomi membelakangi keberadaannya.
Sebagai istri yang mungkin tidak akan pernah dianggap oleh Tomi, Sonia hanya bisa mengiyakan apapun yang dikatakan oleh pria itu tanpa boleh protes.
Sonia memang sangat mencintai Tomi, tetapi menjalani pernikahan seperti ini bersama pria itu membuat batin Sonia tersiksa. Jika boleh memilih, Sonia mungkin akan lebih memilih terus mencintai Tomi dalam diam, ketimbang menikah tetapi menjalani pernikahan yang tak tentu arah seperti ini.