Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 : Ternyata kau!
Rio sangat terkejut saat melihat kepala sekolahnya ternyata ada di dalam sana sedang duduk bersama bosnya sendiri, dan sang kepala sekolahnya pun tak kalah kaget dari Rio. Mata keduanya membelalak lebar, memastikan mereka sedang tak salah lihat.
Wanita itu langsung berdiri dengan ekspresi tak percaya saat melihat Rio masuk ke ruangan.
"Nona Risa, dia adalah pekerja kami yang bertugas pada malam itu, namanya Mario," ucap sang bos menjelaskan.
"Ja-jadi orang itu kau...!?" Bibir wanita itu bergetar, tangannya menunjuk ke arah Rio, dan wajahnya memucat seketika.
'Ini, ada apa sih? Kenapa kayaknya heboh begini?' Rio membatin kebingungan sekaligus kaget.
"Rio, Nona Risa ini kehilangan tas saat dia terlalu mabuk, dan--" Ucapan si boss yang bernama Marvel itu terputus karena Risa menyelanya tiba-tiba.
"Jangan diteruskan!" Sanggah Risa cepat. "Biar masalah ini aku selesaikan langsung dengannya," ucap Risa yang langsung bergerak mendekati Rio yang masih berdiri di sana dengan wajah polos tak mengerti situasi. "Saya pinjam dia sebentar! Ayo Rio, ikut saya!"
Rio tak bisa berkelit saat tangannya langsung ditarik oleh Risa keluar ruangan dengan terburu-buru. Dia bahkan gak sempat untuk bertanya, sebenarnya ada masalah apa dan kenapa dia sampai dipanggil ke sana sama bosnya? Lalu apa hubungannya sama kepala sekolahnya? Otaknya benar-benar berputar keras.
Mereka akhirnya berhenti sejenak di lahan parkir. Risa membuka pintu mobil belakang dan sedikit memaksa Rio untuk masuk. Entah kenapa, dia jadi ngerasa de ja vu. Peristiwa sekarang seperti mengingatkannya akan sesuatu....
BRAKH
Lamunan Rio buyar saat mendengar suara pintu mobil yang ditutup cukup keras. Ia melihat Risa sudah masuk ke mobil bagian depan.
"Ehm, Bu kita mau kemana?" Rio panik saat melihat sang kepala sekolah menyalakan mesin mobil.
"Sudah diam dulu!" Perintah wanita itu.
Rio hanya bisa pasrah membiarkan dirinya dibawa pergi melaju oleh mobil sedan milik Risa yang ugal-ugalan.
"Bu, Bu! Jangan ngebut, Bu! Hati-hati!" Rio menepuk-nepuk kursi pengemudi sambil berusaha menjaga keseimbangan.
Ckiiiittt...!
Pada akhirnya mobil itu berhenti di sebuah gang sepi. Rio hampir saja terjatuh ke bagian depan kalau saja tangannya sedang tidak berpegangan erat.
Risa saat itu langsung menoleh ke arah belakang dengan tatapan serius.
"Rio, apa kamu pernah merasa mengantar seorang wanita mabuk ke parkiran satu bulan lalu?"
Degh...!
Pertanyaan itu entah mengapa membuat Rio teringat kembali akan kejadian di malam itu. Tapi, bagaimana mungkin Bu Risa bisa mengetahuinya? Atau jangan-jangan, dia....
Rio berusaha menepis prasangka terburuknya sendiri. Gak mungkin 'kan kalau cewek yang dia antar itu Bu Risa...?
"Rio, jawab, kenapa kamu diam!?" Suara Risa yang terdengar tak sabar mengagetkan Rio yang sedang berpikir.
"Emm, memangnya kenapa ya, Bu...? Kok, Bu Risa bisa tahu soal itu?" Rio bertanya dengan sopan.
"Jadi benar??? Apa kamu bisa sebutkan ciri wanita itu atau bagaimana kamu menolongnya?" Tanya wanita itu lagi, kali ini seperti seseorang yang sedang menyelidiki suatu kebenaran.
"Saya gak terlalu jelas ingat wajahnya sih karena tertutup rambut, tapi dia pakai mantel bulu halus warna cokelat, dan menyebut-nyebut nama seseorang, Dion...."
Kedua-mata Risa membelalak setelah mendengar Rio menyebut nama Dion. Itu adalah nama mantan pacarnya!
"Saya mengantarkan wanita itu karena terlalu banyak minum dan sulit berjalan ke mobilnya...," lanjut Rio yang sekarang sikapnya berubah canggung. Dia kayaknya enggak pengen lanjutin ceritanya.
"Wanita itu adalah aku."
'Hah? Gimana-gimana? Gua ga salah denger?'
"Ma-maaf Bu Risa, tadi bilang apa ya???"
"Wanita yang kau antar ke area parkir itu adalah aku." Risa mengulang kembali ucapannya kali ini lebih jelas dan tegas.
JEDER...!
Rio terdiam, seperti mematung di tempat.
"Sekarang kau harus tanggung-jawab."
'Haaaaah? Tanggung jawab apaan? Jangan bilang kalau....'
Rio menelan ludah. Dia kelihatan ragu-ragu untuk bertanya, tapi pada akhirnya dipaksakan juga.
"Bu Risa, hamil...?"
Pertanyaan Rio terjawab dengan satu anggukan dari Risa dengan ekspresi serius.
"Lalu, sekarang aku harus bagaimana?" Tanya Rio secara reflek.
"Bagus kau bertanya!"
Rio melihat wanita itu segera mengambil sesuatu dari dalam tas tangannya yang berwarna hitam dengan merk brand terkenal.
"Datanglah ke alamat itu nanti malam, ingat kau harus rapih dan bawa seikat bunga mawar merah!" Risa menyodorkan secarik kertas kepada Rio.
"Ini alamat siapa, Bu?" Rio mengamati alamat rumah yang tertera dikertas tersebut.
"Itu alamat rumahku! Pokoknya kau harus datang dan melamarku, kalau tidak aku akan mencoret namamu dari penerima beasiswa tahun ini!" Jawab Risa yang seenaknya saja memberi ancaman.
"Lho kok gitu? Enggak bisa begitu dong, Bu! Masa dihubungkan dengan beasiswa?" Rio protes. Sial betul, padahal dia benar-benar sedang membutuhkan beasiswa untuk biaya kuliahnya nanti.
"Itu sih terserah kamu, mau atau enggak? Kalau keberatan juga gak masalah, ibu tinggal coret nama kamu da--"
"Gak usah diterusin Bu, saya paham dan saya akan datang!"
Rio memotong kalimat dari Risa dengan perasaan agak kesal karena merasa wanita itu seperti sengaja memberi tekanan dengan kekuasaannya saat ini sebagai kepala sekolah.
"Kamu pintar memilih keputusan yang tepat!" Risa tersenyum puas.
"Tapi ingat ya Bu, aku datang bukan karena beasiswa, tapi karena itu adalah anakku." Rio menatap lekat ke arah perut Risa
Wanita itu tersentak saat mendapati muridnya mengucapkan hal itu dan pandangannya terpaku pada bagian perutnya. Seolah-olah ia sudah bisa merasakan janin yang sedang bersemayam dan perlahan akan tumbuh di sana.
"Yah, apapun alasannya, intinya kamu harus datang, tidak boleh tidak," balas Risa setelah mampu mengontrol diri dari keterkejutannya sesaat lalu.
"Aku pasti datang, Ibu tidak perlu khawatir." Rio terlihat memang serius dan penuh tekad.
"Sekarang pergilah." Risa memencet tombol otomatis untuk membuka pintu belakang bagian penumpang.
Rio yang paham kalau dia sudah diusir secara halus oleh sang kepala sekolah langsung bangkit dan keluar dari dalam mobil.
"Kita ketemu lagi nanti malam, ingat berpakaian yang sopan dan rapih, juga bawakan seikat bunga mawar merah." Sebelum pergi Risa kembali memperingati Rio seperti seorang ibu yang sedang memberikan wejangan kepada putra solonya.
Rio tak menjawab, dirinya hanya mengangguk cepat setelah mendengar semua yang ingin diucapkan oleh Marisa.
Setelah itu mobil pun melaju kembali dengan cepat, meninggalkan area gang sempit tersebut.
"Hah, kenapa nasib gua jadi begini sih?" Rio bergumam kecil kepada dirinya sendiri.
Pemuda itu pun akhirnya berjalan keluar gang untuk kembali ke gedung bar Izone dengan tubuh lunglai dengan begitu banyaknya pertanyaan yang sedang ia pikirkan saat ini.
Contoh saja, dia mulai memikirkan siapa nama anak itu nanti, apakah dia benar-benar harus menikah? Lalu bagaimana dengan sekolahnya??? Apa dia akan tetap bersekolah atau mulai mencari penghasilan tetap untuk nanti? Hal yang terpenting gimana nanti sama masa depannya? Tapi dia juga gak bisa menelantarkan anak itu dengan gak mengakuinya....
.
.
.
Bersambung....