MARVA RAVARA adalah seorang pemuda miskin yang hidup di dunia yang memuja status dan kekayaan. Berkat jalur beasiswa, ia dapat bersekolah di sebuah sekolah elit berskala internasional—tempat yang seharusnya membuka jalan untuk masa depannya, justru berubah menjadi neraka baginya.
Di sana, Marva dipandang sebagai noda: dihina, dikucilkan, dan menjadi sasaran perundungan oleh mereka yang merasa lebih “Layak”.
Segalanya berubah ketika Portal Misterius muncul dan menyeret semuanya ke dunia lain. Di hadapan mereka berdiri sebuah Menara Tinggi dan sebuah suara misterius menggema: Siapa pun yang mencapai puncak menara ini akan memperoleh kekuasaan serta keabadian.
Di dalam menara, para siswa dipaksa memilih peran—menjadi Seorang Player yang bertarung demi naik ke puncak, atau menjadi Seorang Guardian yang terikat pada sistem. Demi meraih kebebasan, Marva memilih jalan paling berisiko: Menjadi Seorang Player.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rein.Unknown, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai 6, Part 2 [TERPECAH NYA GUILD RRX]
Malam datang begitu cepat, mereka kini berkumpul kembali. Makan malam bersama terasa hangat, obrolan santai tapi serius. Setelah melepaskan lelah dan rindu, Marva lalu berbicara pribadi dengan Kaela.
Mereka duduk berdampingan. Sunyi sejenak.
"Ternyata berpisah denganmu, walaupun hanya sesaat sudah buat aku kangen," kata Kaela pelan.
Marva menoleh. "Baru dua hari Key."
"Tapi kan, aku juga khawatir."
"Maaf sudah buat khawatir. Btw, kota ini bagus ya?" tanya Marva sambil menikmati pemandangan kota.
"Iya Va, ini seperti kehidupan kita dibumi. Hanya beda situasi saja dan juga banyak monster disini," jawab Kaela dengan sedikit candaan.
Marva tertawa ringan. "Hehehehehe, iya juga. Ada yang menarik bagimu dikota ini Key?" lanjut Marva bertanya.
"Oh iya, disini, kita bisa membeli bangunan atau salah satu gedung megah ini Va, " respon Kaela.
Marva kaget. "Serius? Mungkin dilantai 6 gedungnya murah-murah kali ya."
"Ah, aku punya ide menarik. Besok kita harus menjelajahi kota ini dan satu lagi, kamu harus mengambil job secepatnya Va," lanjut Kaela.
"Red sempat membahas soal job itu, makanya dia sampai nyasar ke lantai 5. Dasar anak ceroboh," singgung Marva.
Mereka pun tertawa bersama dan terus bercerita hingga larut malam.
"Sepertinya kita sudah terlalu lama bercerita, besok kita mau berkeliling kota kan?" ucap Marva menutup percakapan.
Kaela lalu mengangguk, dia memeluk Marva dan mereka pun beristirahat malam itu di penginapan yang mereka sewa.
Proyeksi Matahari telah muncul dan menyinari seluruh First City. Cahaya nya begitu hangat, walaupun itu hanya efek sihir yang berasal dari lantai. Marva bangun lebih awal, duduk di teras sambil memandangi keramaian kota.
"Pagi, Lead!" sapa Meriel dengan ceria.
"Lead kita nggak jalan-jalan nhe? Mumpung udah ngumpul lagi," ucap red penuh semangat.
"Iya..... udah kami omongin semalam dengan Kaela. Kita tunggu dia dulu," jawab Marva.
"Nha itu dia. Okkie Dokkie Bos!"
Kaela pun keluar, kali ini penampilannya sangat cantik. Biasanya, dia menggunakan pakaian tempurnya tapi karena tahu akan jalan bersama dengan Marva, maka dia membeli baju spesial dengan diam-diam untuk dipakai hari ini.
Mata Marva berbinar-binar. Hari itu Kaela terlihat sangat cantik, Red mulai mengejek mereka. "Cie yang mau jalan bareng!"
Meriel membela Marva dan Kaela. "Emank kamu, jomblo. Udah biarin Leader bersama dengan Kaela."
Mereka lalu berjalan menyusuri gang-gang kota, deretan toko yang menjual berbagai barang. Mulai dari makanan, pakaian, perlengkapan petualang, hingga barang-barang antik. Beberapa NPC melambaikan tangan dari kejauhan, sebagai tanda untuk menawari mereka mampir.
Mereka lalu sampai ditaman kota, terlihat air mancur besar dengan patung mewah menghiasi taman itu. Anak-anak berlarian di sekitar mereka sambil tertawa riang. Kota itu begitu hidup dan tenang.
Tidak jauh dari situ, mereka menemukan sesuatu yang tidak terduga.
KARNAVAL sedang berlangsung.
Mata Red langsung berbinar. "SERIUS! DISINI ADA KARNAVAL???!!!"
Dia segera berlari ke komidi putar—yang digerakkan oleh sihir. Dengan palu besarnya, Red naik ke salah satu kuda-kudaan dan hampir membuatnya rubuh komidi putar itu.
"Red, hati-hati! Komidi putar nya bisa rusak itu!" teriak Marva.
"Oh iya. Kebawah suasana sampai lupa taruh palu ini!"
Belum sempat menaruh palunya, tiba-tiba: CRAAK! Benar saja, kuda-kudaan nya rusak.
Red jatuh dengan pantat menghantam tanah.
Kaela langsung tertawa terbahak-bahak. Meriel juga, meski berusaha menutup mulut. Bahkan Marva terkikik.
Red mengusap pantatnya sambil ikutan tertawa. Mau tidak mau mereka harus ganti rugi kerusakannya. Tapi tidak masalah, mereka semua merasa senang.
Mereka lanjut berkeliling. Ada Pasar Rakyat—beberapa tenda besar berjajar lurus. Pedagang menjual mainan, perhiasan murah, makanan ringan, dan minuman manis.
Meriel membeli semacam permen kapas berwarna biru. "Ini enak! Rasanya... seperti sesuatu yang pernah aku makan di dunia kita sebelumnya."
Mereka lalu duduk di bangku, beristirahat sejenak sambil berbagi permen kapas, mereka tertawa dan juga bercanda. Untuk pertama kalinya sejak masuk Menara, mereka tidak memikirkan pertarungan, level, atau monster.
Mereka merasa... hidup.
Saat sore hari tiba, mereka lagi-lagi menemukan sesuatu yang menarik. Terlihat ada sebuah rumah, yang memiliki dua lantai dengan halaman kecil. Di depannya tertulis:
[PRICE: 250.000 XILO]
Red membaca keras-keras. "Dua Ratus Lima Puluh Ribu?! Mahal Banget!"
"Tapi itu 2 lantai, Red," ucap Kaela.
Mereka lalu masuk, melihat-lihat. Rumah itu sederhana—lantai bawah ada ruang tamu, dapur kecil, dan kamar mandi. Lantai bawah dua kamar, lantai atas ada dua kamar juga. Halaman belakang cukup luas, bisa untuk berkumpul atau latihan.
"Ini.....bisa jadi basecamp kita," Kaela bergumam.
"Basecamp?" ulang Marva.
"Iya. Tempat kita istirahat, nyimpan barang dan berkumpul."
"Tapi duitnya darimana?" tanya Red ragu.
Marva lalu membuka inventory dan menghitung total seluruh Xilo yang mereka miliki.
Total: 84.430 Xilo
Masih jauh dari 250.000.
"Yah..." Red menghela napas.
Tapi Merial memberi solusi. "Kenapa kita tidak farming saja? Di lantai enam pasti ada dungeon kecil atau monster yang bisa diburu. Kita kumpulin uangnya sampai cukup."
"Ide yang bagus Meriel," tanggap Marva.
Mereka akhirnya sepakat. Mulai besok, mereka akan farming.
Tidak terasa, Dua bulan pun berlalu. Setiap hari mereka bangun, makan, lalu pergi ke Dungeon Kecil yang berada di pinggiran kota dengan monster berlevel rendah. Hasil farming mereka kumpulkan. Sedikit demi sedikit.
Setiap mereka kembali, makan malam bersama, tertawa bersama, cerita bersama. Red jadi langganan tetap taman bermain dan karnaval—meski dilarang untuk naik komidi putar lagi. Kaela menemukan kedai teh langganan. Meriel suka membaca buku di perpustakaan kota. Marva... hanya menikmati suasana bahagia itu.
Tapi setiap malam, dia duduk diatas atap sambil memandangi bintang virtual, dan bertanya pada dirinya sendiri:
"Apakah kami akan melanjutkan perjalanan lagi?"
Dua bulan waktu yang cukup lama, beberapa player mulai berdatangan dan telah mencapai lantai 6. Mereka juga terheran-heran dengan suasana disini.
Marva lalu memanggil mereka. "Sepertinya uang kita, sudah cukup."
Dia membuka inventory. Total Xilo mereka sekarang:
254.140 Xilo
Red bersorak. "Yeh! Kita punya Rumah!"
Tapi Marva belum selesai. "Tapi sebelum kita membeli rumah itu... aku mau ngomong sesuatu."
Suasana berubah serius. "Kita di sini udah dua bulan. Nikmatin waktu bersama kalian tentu adalah hal terbaik yang pernah kumiliki. Tapi..." Marva menunduk. "...aku nggak bisa tinggal di sini selamanya."
Suasana seketika Sunyi.
"Aku harus lanjut. Ke lantai tujuh. Mencapai Puncak adalah tujuan awalku!"
Red terdiam. Kaela juga...
Kaela lalu menatap lama Marva, dengan pandangan penuh makna. Dengan berat hati, dia mulai berbicara:
"Va... aku tahu, saat ini bahkalan datang." Suaranya pelan. "Tapi... aku mau tanya sesuatu."
Marva menunggu.
Kaela berdiri. Matanya langsung berkaca-kaca.
"Apakah kamu bisa terus melanjutkan perjalanan tanpa diriku?"
Marva tersentak. Pertanyaan itu menusuk sekaligus menghanyutkan hatinya.
"Apa maksudmu, Kaela? Kami ingin meninggal Guild ini dan juga Leader kita?" bantah Meriel.
Airmata Kaela mulai terjatuh. Pipinya dipenuhi tetasan air mata terus menetes.
"Aku tidak akan pernah ingin meninggalkan Guild ini, apalagi orang yang aku cintai. Tapi, berada disini, buat aku ngerasain hidup normal. Hidup tanpa takut. Tanpa melihat darah. Tanpa khawatir sedetik pun." Suaranya bergetar. "Dan aku... aku nggak sanggup, kalau harus kembali pada situasi yang dulu."
"Key..." panggil Marva dengan lembut.
"Maaf Va, bukan berarti aku nggak sayang sama kamu. Aku sangat sayang. Banget. Makanya..." air matanya semakin deras keluar, "...makanya aku berharap kita tetap tinggal disini karena aku nggak akan pernah sanggup kalau melihatmu mati dimedan pertarungan."
Marva lalu memeluknya. Suasana tangis pecah diantara mereka. Tidak hanya Kaela dan Marva, tapi Red dan juga Meriel merasakan hal yang sama.
"Aku nggak minta kamu milih, Va. Aku cuma... cuma.... mau kamu tahu. Kalau kamu harus pergi, aku akan tetap di sini untuk menunggumu kembali."
Marva memejamkan mata. Air matanya juga jatuh.
"Aku tahu, Key. Aku tahu."
Red yang larut dalam suasana itu, lalu bersuara.
"Lead... aku juga minta maaf kalau tidak bisa ikut. Aku akan jaga Kaela disini."
Marva tersenyum haru. Dia tahu harus berbuat apa. "Tolong jaga basecamp kita. Aku titip Kaela padamu Red, mulai saat ini kalian berdua adalah Second dan Third Leader di Guild ini."
Tangis Red pecah. "Aku nggak tahu harus ngomong apalagi Lead, tapi akan ku pengang semua janjiku."
Setelah suasana cukup reda, Meriel lalu berdiri. Semua menatapnya.
"Karna aku anggota termudah di Guild ini. Tidak adil rasanya kalau ikut meninggalkan Leader. Biar aku yang ikut bersamanya."
Kaela terkejut. "Meriel?!"
"Meriel, kamu nggak harus ikut. Kalau kamu nyaman disini, kamu bisa tinggal bersama Kaela dan Red," tegas Marva.
"Aku hampir sama sepertimu Lead. Dan aku juga sudah lihat bagaimana caramu memimpin kami. Dan yang terpenting aku penasaran dengan apa yang ada di atas."
Mereka akhirnya menemui kata sepakat, Kaela dan Red akan tinggal di basecamp sambil terus mengumpulkan uang. Sementara Marva dan Meriel akan melanjutkan perjalanan untuk menancapkan nama Guild mereka hingga ke puncak menara.
Keesokan paginya, Kaela dan Red pergi mendampingi Merial dan juga Marva menuju gedung Administration Center. Seperti biasa petugas administrator menyambut mereka dengan kristal birunya.
Secara mengejutkan Meriel yang selama ini bertarung dengan gaya Tanker, malah memilih job sebagai Support. Semua itu dia lakukan untuk menopang Marva yang memilih Job Warrior.
Red dan Kaela akhirnya mengantar mereka sampai gerbang.
"Oke, seperti nya ini perpisahan yang menarik," ucap Marva.
Kaela tersenyum—tapi matanya berkaca-kaca.
"Aku akan selalu menunggumu Va. Kalian selalu punya tempat untuk pulang... di sini."
Red mengangguk. "Yups, bener bangets Wakil Komandanku. Tenang kok Lead, aku bakal jagain Kaela juga."
"Seperti nya terbalik deh, lv. Kaela kan lebih tinggi," sindir Meriel.
Tawa pun pecah diantara mereka. Marva lalu memeluk mereka berdua. Lama. Tanpa kata-kata.
Meriel deluan berjalan untuk membiarkan moment itu sejenak. Saat mereka berpisah, Kaela dan Red terus melambaikan tangan kearah mereka.
Semakin jauh melangkah, mereka semakin tidak terlihat, hingga jarak benar-benar membuat kehadiran mereka hilang sepenuhnya.
[BERSAMBUNG]