NovelToon NovelToon
Bosku Cinta Pertamaku

Bosku Cinta Pertamaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Kehidupan di Kantor / Dokter / Romantis / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

Leah merupakan seorang fresh graduate jurusan kedokteran. Ia pun langsung memutuskan untuk bekerja. Bukannya bekerja di instansi kesehatan seperti teman-temannya, ia memilih untuk bekerja di perusahaan. Ia bekerja sebagai dokter perusahaan.

Ia jatuh hati kepada sang atasan pada pertemuan pertama. Tak peduli jarak umur mereka. Leah menyukai atasannya tersebut tulus dari hati.

Tetapi, takdir tak berjalan sesuai harapan. Sang atasan memiliki garis takdir yang sudah ditentukan semenjak ia lahir. Hingga suatu hari, ada hal yang membuatnya begitu patah hati. Ia memutuskan untuk meninggalkan perusahaan itu dan melupakan sang atasan.

"Aku sakit, Dok."

Hingga pada suatu hari, Leah terkejut melihat sosok laki-laki yang begitu dikenalnya itu kini berdiri di hadapannya. Apalagi sikap seseorang tersebut yang sangat berbeda dari saat dulu mereka bertemu.

Jantungnya semakin berdegup kencang melihat lelaki itu menggenggam tangannya kemudian meletakkan di dadanya.

"Di sini."

"P-pak?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian di bar: Kamu menolongku

Leah berjalan cepat menuju apartemennya. Kakinya melangkah lebar menapaki jalan penuh tanah tersebut. Suara ketukan hak nya terdengar nyaring di antara lalu lalang orang yang tengah berjalan dengan kesibukannya masing-masing itu.

Leah berjalan. Tapi pikiran gadis itu tetap pada sang atasan, yakni Alfren.

Apa ini? Dunia sesempit inikah? Laki-laki yang ia kagumi itu ternyata adalah bosnya? Ralat, calon bosnya.

Leah samasekali tak berpikir sejauh itu. Apalagi..

Gadis itu kini memelankan langkah kakinya. Memikirkan segala hal terkait laki-laki bernama Alfren tersebut. Mulai dari senyum, yang sedari tadi tampak tak terlihat. Dari raut hangatnya yang entah pergi ke mana. Hari ini laki-laki itu terlihat sangat berbeda sekali dengan kemarin.

"Hah.."

"Leah, apa yang kau harapkan sih?" monolognya sendiri.

Ia berharap apa pada laki-laki yang baru dua kali ditemuinya itu? Yah, tentu saja wajar jika ia tak tahu seluk beluk kehidupan laki-laki itu. Ia kan juga sama sekali tak mengenalnya. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang menariknya menuju laki-laki bernama Alfren itu.

Akhirnya Leah tak melanjutkan perjalanannya ke apartemennya. Ia berbelok ke suatu tempat. Tempat yang sangat jarang ia datangi.

Bar.

Ya, Leah mulai memasuki bar yang bernuansa gelap itu. Mulai memasuki ruangan, Leah dihadapkan dengan lampu warna-warni yang bergoyang ke sana ke mari. Leah pun memutuskan duduk di pojok ruangan sendirian. Membiarkan suara musik memasuki gendang telinganya dengan ia yang tengah memejamkan matanya bersandar pada dinding sofa yang empuk.

"Cantik, sendirian aja nih?"

Satu hal yang jarang diketahui orang-orang. Meskipun Leah adalah gadis yang tak pernah main-main selama perkuliahannya, tetapi tak jarang ia akan datang ke bar seperti ini. Ia akan duduk diam seperti ini tanpa minum dan tanpa mengikuti orang-orang itu bergoyang. Benar-benar hanya duduk saja.

"Pergi."

Ia melakukan ini karena dengan mendengarkan musik yang begitu keras seperti ini, ia biasanya akan sedikit melupakan masalahnya. Dan itu pun tujuan ia datang saat ini.

"Jangan sok judes seperti itu."

Leah mulai melotot kan matanya melihat tangan laki-laki itu yang kian akan menggapainya.

Dengan cepat ia menghindar kemudian berdiri di hadapan laki-laki yang tak ia kenal itu.

"Apa kau tidak mengerti?" bersamaan dengan itu, suara tamparan keras terdengar di antara musik nan keras itu. Tapi suara itu tak sampai membuat orang-orang itu menengok, mungkin hanya beberapa orang saja yang memperhatikan karena lewat di dekat mereka.

Leah terengah-engah dengan tatapan tajam yang mengarah ke pria tidak sopan itu.

"Sialan!"

Pria itu tidak terima diperlakukan seperti itu oleh seorang gadis di hadapannya itu. Dengan tangan yang masih memegang pipinya itu ia mengangkat salah satu tangannya yang tidak memegang pipi kanannya. Pria itu pun mengangkat tangan kirinya hendak menampar gadis itu.

Namun, Leah yang cepat menangkap situasi segera berlari dari sana. Menjauhi pria itu di antara kerumunan orang-orang yang bergoyang.

"Mau lari kemana kau?!"

"Lihat saja saat aku berhasil menangkap mu!"

Leah yang masih berlari itu kini sedikit menolehkan kepalanya melirik pria di belakangnya. Pria itu masih terus mengejarnya hingga sekarang. Melihat itu, Leah jadi sedikit takut. Bagaimana jika ia nanti tertangkap? Apa yang akan terjadi dengan dirinya?

Kedua mata Leah mulai membendung air mata. Dengan wajah yang takut itu ia sering melirik ke belakang kemudian fokus ke depan lagi untuk mempercepat larinya. Seseorang tolonglah Leah..

"Ah!"

Leah menabrak seseorang dan kini ia terjatuh di atas tubuh pria itu. Leah yang masih terduduk di depan dada pria itu pun bergegas akan berdiri.

"Dasar gadis sialan!"

Namun ia mendengar suara pria itu yang mulai mendekat. Meskipun ia membelakangi arah preman itu, ia tahu bahwa tak jauh dari sana mereka berada.

Dengan pikiran yang buntu ia tiba-tiba memeluk erat pria yang baru saja ditabraknya itu. Tak peduli pria seperti apa yang ia peluk saat ini. Tak memikirkan jika ia keluar dari kandang singa dan masuk kandang buaya. Ia tak peduli itu. Sebentar saja. Maka setelah ia mengatasi pria itu, ia akan mengatasi pria yang tengah dipeluknya ini.

"Kau kira bisa berlindung di balik pelukan pria lain? Heh, jangan konyol!"

Leah memejamkan matanya erat dengan jantung yang mulai berdebar keras. Takut apabila pria itu berhasil menangkapnya. Apalagi kini ia ada di pelukan pria asing yang sama sekali tak dikenalnya. Bisa saja pria ini akan memberikannya dengan mudah kepada pria itu lantaran tak mau ikut campur. Sebenarnya ia berbuat seperti ini juga seperti mempertaruhkan dirinya sendiri. Apakah ia akan ditangkap oleh pria itu karena ia tertangkap? Atau ia akan ditangkap karena tidak berdaya seperti ini. Leah kini mengeratkan kepalannya pada kemeja pria itu tanpa sadar.

"Hei, kau."

"Jangan ikut campur dan berikan gadis itu."

Leah mendengar dengan sangat jelas ucapan pria itu, namun ia sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi selain memasrahkan nasibnya pada pria yang tengah dipeluknya saat ini.

Tiba-tiba tangan pria yang dipeluknya itu kian membalas pelukannya. Memberikan tepukan pelan menenangkan gadis itu. Tangan kirinya terangkat. Jarinya bergerak tampak menggerakkan suatu isyarat. Dengan itu, beberapa pria seperti penjaga tampak keluar mulai berdiri di hadapan tuannya yang terduduk itu.

"Gadis ini sekarang milikku."

Leah mendengar itu. Jantungnya semakin berdebar kala mendengar suara itu. Ia perlahan mengangkat kepalanya dan mulai melihat sosok yang tengah memeluknya ini. Dan benar saja!

"Ck, kau bahkan tidak mengenalnya!"

Pria itu tersenyum miring kemudian menatap Leah yang kini tengah menatapnya. Menatap sayu gadis yang tengah tak berdaya itu. Dan bulu kuduk Leah merinding seketika.

"Sebentar lagi kita akan menjadi orang yang paling mengenal satu sama lain."

"Iya kan, Sayang?"

Kalimat serta perilaku Alfren begitu asing di mata Leah. Leah berdebar karena ia berinteraksi seperti ini dengan Alfren, tapi ia juga takut dengan sisinya yang seperti ini. Leah pun menelan ludahnya pelan.

"I-iya, haha."

Alfren tampak puas mendengar jawaban yang keluar dari mulut Leah. Meskipun suaranya terdengar gugup dan bergetar. Alfren kini mengalihkan pandangannya dari Leah dan menatap kembali pria yang tampak marah di hadapannya itu.

"Tunggu apalagi?"

"Kau mau menonton kami terus seperti itu?"

Dengan kesal dan terpaksa akhirnya pria itu angkat kaki dari sana. Tentu saja dengan umpatan-umpatan yang tidak enak di telinga. Tidak munafik, pria itu pun takut dengan bodyguard yang berdiri melindungi laki-laki itu. Ia tentu saja tak berani menyentuhnya.

Leah dengan segera melepaskan diri dari pelukan bosnya itu. Dengan cepat ia berdiri kemudian menunduk sempurna di hadapan sang bos yang masih terduduk itu.

"Ma-maafkan saya, Pak. Dan juga terimakasih sudah menolong saya."

Alfren pun kini kembali ke setelan awalnya, yakni pria datar tanpa ekspresi. Cukup lama ia menatap Leah yang menunduk itu, kini ia pun mulai berdiri juga. Tanpa sepenggal kata pun, ia pergi meninggalkan Leah dan diikuti oleh para bodyguardnya.

Jantung Leah berdebar semakin tak karuan. Tetapi dengan kepergian Alfren membuatnya sedikit lega. Akhirnya ia mengangkat kepalanya kemudian melirik kepergian sang bos yang mulai menghilang dari pandangannya.

Ting!

Ia mengambil ponselnya lantaran mendengar notifikasi sesuatu. Ketika membukanya, jantungnya kian semakin berdebar. Melihat pesan yang memanggilnya untuk mulai bekerja. Ia senang tapi ia juga merasa canggung. Itu artinya ia akan kembali bertemu dengan Alfren setelah insiden tak mengenakkan ini.

1
Anonymous
Nyesek thor😭
Baca dari awal sampe sini yang meledaknya rasanya nyess banget😭😭
Azia_da: Novel memang dibuat menonjolkan emosi karakter. Tipe slow burn yang jalannya pelan tapi konfliknya masuk pelan-pelan ke hati🥹
Omong-omong, terima kasih ya atas dukungannya! 🥰🙏
total 1 replies
Anonymous
Nenek memang paling lembut💪
Azia_da: Terima kasih sudah membaca🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!