Sifa tidak pernah menyangka dengan nasib nya, ia harus menjadi Pengantin Pengganti, Kakak kandung nya sendiri yang tiba-tiba kabur di hari pernikahan nya sendiri.
Bagaimana Kisah nya.. hanya di Novel Pengantin Pengganti
Follow Me :
Ig : author.ayuni
Tiktok : author.ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Acara resepsi Sifa dan Revan berjalan lancar, seperti nya Pak Bendy harus benar-benar berterima kasih kepada Sifa putri bungsunya, kalau seandainya Sifa bersikeras untuk menolak menjadi pengantin pengganti Kakaknya, kemungkinan acara hari ini akan kacau, hubungan antara dirinya dengan Pak Tony pun mungkin akan memburuk.
Ia masih tidak habis pikir dengan sikap Sita, yang jelas-jelas ia ingin mempermalukan nya di depan keluarga Pak Tony, bukan tanpa alasan, memang benar sebelumnya Sita seolah menerima perjodohan ini, dan ia berjanji untuk menyudahi hubungannya dengan Leon, namun entah mengapa, sepertinya Sita berubah pikiran.
Hingga detik ini pun Sita, kakak Sifa belum juga ditemukan, entah ia berada dimana, bersembunyi atau bersama Leon kekasihnya.
Pak Bendy masih menunggu kabar dari orang suruhannya, mereka masih mencari keberadaan Sita, setelah acara resepsi pernikahan ini, rencananya Pak Bendy akan fokus untuk mencari Sita.
Krek
Pintu kamar terbuka, terlihat Revan masuk kedalam kamar Sifa.
Sifa sedikit terhenyak. Ia sudah berganti pakaian dengan pakaian rumahan.
" Ada apa ? Kenapa masuk ke kamarku ? " tanya Sifa.
" Lalu ? Menurutmu aku harus kemana ? " Revan bertanya balik.
" Kenapa tidak tidur di kamar Kak Sita saja, itu kan kamar pengantin kalian " balas Sifa.
" Saya menikah denganmu bukan dengan Sita " susul Revan.
Sifa berjalan lalu duduk di Sofa, ia duduk menyender lalu melipat kedua tangannya.
Revan pun berjalan menghampiri Sifa, ia duduk tepat di samping Sifa namun cukup berjarak.
" Jangan kamu pikir aku menerima pernikahan ini, pernikahan ini terjadi demi kedua orangtuaku, karena bukan kamu yang aku inginkan, tapi Sita " ucap Revan.
Jag
" Kenapa kamu tidak menolak disaat bukan Kak Sita yang akan menjadi istrimu ?! " tanya Sifa.
" Kamu juga kenapa tidak menolak disaat tahu Kakak kamu kabur ? " Revan bertanya balik.
Sifa terdiam, Revan pun terdiam.
Benar, keduanya dirundung dilema. Mereka larut kedalam pikirannya masing-masing.
Disaat yang bersamaan pintu kamar diketuk.
Tok Tok Tok
Cukup membuyarkan lamunan Sifa, ia tersadar lalu bangkit dari duduknya, untuk membuka pintu kamar.
Klek
" Sifa " Ibu sudah berada di ambang pintu dengan senyum khas nya.
" Iya Bu "
" Suami mu ada di dalam ? " tanya Ibu lagi.
" A.. Ada bu.. "
Ibu lalu tersenyum.
" Ayo makan malam dulu, Ibu lihat dari tadi pagi, saat acara resepsi pun kamu tidak makan, ayo makan dulu " ajak Ibu.
" Nanti aja Bu, aku lagi gak nafsu makan "
" Kok gitu sih, ayo makan dulu, ajak suamimu ya " ajak Ibu lagi.
" Kalau Ibu mau, masuk aja, ajak Mas Revan makan, aku gak laper Bu " ucap Sifa berlalu kembali masuk kedalam kamar.
Ibu hanya menghela nafas dalam melihat sikap Sifa. Ibu memahami sikap putri bungsunya yang sekarang, mungkin Sifa belum sepenuhnya bisa menerima, jauh di dalam lubuk hatinya ia pun cukup merasa pedih, pedih karena Sita yang kabur dari rumah, pedih karena ia harus merampas kebahagiaan Sifa.
" Ya Tuhan.. Aku memohon kebahagiaan untuk anak-anakku " batin Ibu Sifa.
***
Sifa mengeluarkan bantal dan selimut baru dari dalam lemarinya, ia berniat untuk tidur di sofa, karena ia tidak ingin berbagi kasur bersama Revan, walaupun mereka berdua sudah sah sebagai suami istri secara negara dan agama, namun sepertinya Sifa belum bisa menerima Revan sebagai suaminya begitupun Revan.
Revan sudah sangat jatuh cinta kepada Sita, namun seakan ia sedang diajak terbang tinggi, tiba-tiba ia langsung dihempaskan ke bumi begitu saja, sakit.. Ya, Revan pun cukup sakit jika menghadapi kenyataan bahwa wanita yang ia cintai pergi dihari pernikahan mereka.
" Mau tidur dimana ? " tanya Revan yang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur.
" Sofa " jawab Sifa singkat.
" Hmm " balas Revan.
" Walaupun ini kamarku dan itu kasurku, jangan harap aku akan berbagi kasur denganmu, lebih baik aku tidur di sofa " susul Sifa.
Tanpa berkata lagi, Sifa langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa, menyelimuti dirinya sampai kepala, begitupun Revan ia sudah terlelap di atas kasur, ia sudah tidak peduli dengan keadaan sekitar untuk saat ini ia sangat lelah, lelah fisik, lelah pikiran, lelah juga perasaan.
Sifa benar-benar tidak bisa tidur, ia kembali bangun dengan membuka sedikit selimut yang menutupi kepalanya, ia mengedarkan pandangan nya terlihat pria yang sekarang sudah menjadi suaminya lelap tertidur di tempat tidur yang biasa ia tempati.
Ia perlahan bangun, menyibakkan selimut, lalu ia duduk menyender ke senderan sofa.
" Kak Sita kamu dimana ? Laki-laki yang mencintaimu sekarang berada di hadapanku, dia menikahiku karena kamu malah pergi dengan Leon ! " gumam Sifa sedikit menggerakkan giginya.
Masih terasa bergemuruh dadanya, hubungannya dengan Novan sudah tidak mungkin diselamatkan, ia sudah menjadi istri dari seorang Dokter, ia baru tahu profesi Revan saat tadi pagi pada saat mencocokan data sebelum akad nikah di mulai.
" Aku masih heran, kenapa dulu Kak Sita awal nya menolak tapi menerima perjodohan ini namun ujungnya, dia kabur, padahal kalau dipikir ya lebih baik Mas Revan dong dibanding kan Leon, laki-laki urakan, gak jelas.. Kasian juga ya Mas Revan.. Cintanya untuk Kak Sita sudah tumbuh namun secara tidak langsung Kak Sita menyakitinya " gumam Sifa berbicara sendiri.
Sifa tersadar dengan gumaman nya sendiri.
" Bilang apa aku barusan ? Kasian ? Kasian sama laki-laki di depanku yang gak punya sikap ini.. Lebih kasian diriku sendiri lah.. Ck.. Aku harus berbicara dengan Mas Novan, aku gak bisa begini, aku sudah menyakitinya " gumam Sifa lagi.
Ia beranjak dari duduknya, berjalan menuju nakas, ia akan mengambil ponselnya yang seharian tadi mati karena kehabisan baterai.
🌺🌺🌺
Jangan lupa dukung author ya ❤️