anak seorang tukang becak
Nisa adalah seorang anak sangat baik, namun sayangnya dia memiliki kehidupan keluarga yang sangat miskin, sehingga keluarga dari ibunya pun tak mau mengakui mereka karena merasa malu jika memiliki keluarga miskin seperti Nisa hingga dia harus di paksa dewasa oleh keadaan di kala usianya menginjak angka sebelas tahun Di usia yang terbilang masih sangat muda itu dia harus di paksa dewasa oleh keadaan di kala usianya menginjak angka sebelas tahun harus mengurus kedua adiknya yang masih kecil, dan merelakan masalah kecilnya yang tak seindah teman-teman yang lain, bapaknya hanyalah seorang pria tua yng bekerja sebagai tukang becak Namun kehidupan Nisa berubah setalah bertemu dengan seorang pria kaya raya tempat Nisa mengikuti sebuah kompetisi, akan kah hubungan mereka mendapat restu dari keluarga sang pria ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliyah Ramahdani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Aku sangat kecewa pada mbak Dewi, aku pikir dengan kepergiannya merantau bisa membuatnya sadar namun tetap saja sifat angkuhnya tidak pernah berubah
Aku sangat ingat waktu itu mbak Dewi marah besar pada bapak dan padaku sebab aku dan bapak memanggilnya saat bertemu di jalan sementara mbak Dewi sedang berkumpul dengan teman-teman nya
" Sudah berapa kali aku bilang jangan pernah memanggil atau mengenalku jika bertemu di luar sana, aku mau sama teman-teman aku, bagaimana kalo mereka tau kalo bapakku hanyalah seorang tukang becak? Dan kamu juga nisa jangan pernah mengaku adikku di depan teman-temanku, kecuali jika kamu terlihat sangat bersih dan cantik"
" Kenapa kamu mesti malu nak? "
" Bapak gak tau teman-teman aku tuh semua anak orang kaya, aku gak mau mereka menghidariku jika mereka tau kalo bapakku hanya seorang tukang becak yang sudah tua dan miskin"
" Astaghfirullah aladzim Dewi...!!!"
" Sudahlah pak pokoknya kalian harus ingat jangan pernah memanggilku jika bertemu di jalan " ucap mbak Dewi kesal
*******
Setelah kejadian malam itu, bapak jadi banyak diam dan lebih banyak mendekatkan diri lagi kepada Tuhan. Kadang aku melihat bapak yang sedang menangis ketika berdoa untuk kesadaran anaknya dari perilaku yang sangat tidak baik. Hatiku sakit sekali tapi aku tak bisa berbuat apa apa. Memang benar harta bisa membutakan seseorang.. dan itu terjadi pada mbak Dewi yang telah di butakan oleh harta dunia, Sampai lupa diri dan lupa sopan santun yang sering bapak terapkan kepada kami
Aku akui mbak dewi telah banyak berubah, terlihat berbeda dari wajah nya yang sangat putih mulus, pakaian nya dan penampilan nya yang sekarang menandakan dia sebagai wanita yang kaya raya, terbukti dari tangan nya yang di penuhi gelang emas, bahkan cincin dan kalung emas tak luput dari tubuhnya
*******
Singkat cerita, hari ini adalah hari kelulusan ku dari bangku sekolah menengah atas. Alhamdulillah aku mendapat nilai terbaik, Sama seperti adik ku Arya, hari ini dia juga telah lulus dari sekolah dasar, Sedangkan adik bungsuku Aulia kini tengah duduk di kelas tiga Sekolah dasar
Bapak memintaku melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, tapi aku menolak, Bukan karna tak mau, tapi aku kasihan karna bapak harus membiayai sekolah Arya, kalau aku juga lanjut kuliah maka bapak akan membiayai uang semester yang tak sedikit, Aku tak mau membuat bapak terlalu banyak mengeluarkan tenaga di usianya yang tak lagi muda. Biarlah aku yang mengalah untuk masa depan kedua adikku
Setelah lulus aku mencoba bekerja di rumah makan makan milik keluarga Bu haji, tugasku hanyalah membantu memasak dan melayani pelanggan yang datang di rumah makan, setiap pagi aku berangkat setelah kedua adikku berangkat sekolah, dan juga setelah bapak berangkat menarik becak, Setiap jam lima sore aku pun kembali ke rumah dengan upah tiga puluh ribu yang aku terima, terkadang membawa lauk jika ada sisa yang tak habis terjual
Aku sangat bersyukur karna mereka mau menerima ku bekerja dan mengajarkan ku memasak di tempat mereka. Bahkan mereka lebih menganggap kami keluarga di bandingkan keluarga kami sendiri. Jika waktu liburan tiba mereka Selalu mengajakku dan kedua adikku ikut serta, entah itu ke pantai, atau kemana saja mereka tak pernah keberatan akan hadirnya kami
*****
" Mbak Nisa, aku minta sepatu baru boleh gak? Sepatu aku sudah bolong mbak". Ucap aulia memperlihatkan sepatu nya yang bolong sedikit menganga
" Sabar ya dek, nanti kalo mbak sudah ada uang pasti mbak belikan buat kamu, tapi gak sekarang ya dek, nanti mbak coba tahan pakai lem ya dek, barangkali bisa". Ucap ku memberinya pengertian
" Kalo aku minta di bapak boleh gak mbak?"
" Jangan dulu ya dek, bapak juga belum ada uang, kasihan bapak, kita gak boleh mengeluh di hadapan bapak, nanti bapak pikiran trus sakit, emang kamu mau kalo bapak sampai jatuh sakit? Gak mau kan?" Tanyaku
"Gak mau lah mbak. Trus kenapa gak minta di mbak dewi aja, kan mbak dewi uangnya banyak mbak?"
" Mbak dewi tuh sibuk dek, jadi gak gampang kita bisa hubungi mbak Dewi, Ya udah sekarang lebih baik kamu mandi, kan bentar lagi mau ngaji kan?"
" Oke mbak ku" .. aku hanya tersenyum melihat tingkah adikku bungsuku itu
*****
Hari ini warung tempat ku bekerja sedang libur, karna ada acara keluarga, Jadi aku bisa belajar memasak masakan yang biasa aku pelajari di warung dan yang pasti Tak membutuhkan bahan yang banyak
Sore itu Bapak baru saja pulang kerumah dengan wajah yang tampak sangat kelelahan, Aku segera mengambil air minum untuk bapak
" Kamu gak kerja Nisa?" Tanya bapak
" Gak pak, warung nya lagi libur hari ini"
"Gimana kerja di sana? Betah gak nak?"
" Alhamdulillah aku betah pak, pemiliknya baik banget sama aku"
" Bapak minta maaf ya nak, karna bapak kamu jadi gak bisa melanjutkan pendidikan kamu, padahal sayang sekali otak kamu itu nak, Bapak juga minta maaf Karna bapak gak mampu jadi kamu yang harus membantu bapak untuk memenuhi ekonomi keluarga kita nak"
" Bapak gak usah minta maaf, itu semua bukan salah bapak, itu semua kan kemauan aku pak, lagian dengan kerja aku bisa menabung sedikit demi sedikit pak, bisa belajar memasak juga" ucapku setelah itu akupun masuk ke dapur dan mengambil hasil masakan ku tadi
" Pak, coba deh masakan Nisa" bapak pun mencoba masakan ku
" Enak banget Nisa, ini bener kamu yang masak nak?, Belajar darimana kamu nak?"
" Kan aku udah bilang pak, aku di ajarin masak di warung Bu Rina itu pak"
" Alhamdulillah kamu memang pinter cepat bisa melakukan sesuatu nak"
" Iya pak" aku tersenyum melihat senyuman di wajah bapak ku
Malam pun tiba, kedua adik ku telah pulang dari tempat mereka mengaji, di sebuah rumah besar yang di tempati oleh ustadz dan imam di kampung kami, dan anak-anak yang mengaji hanya membayar seikhlas nya
Tapi untuk kedua adikku dan beberapa anak yang tak mampu membayar, mereka hanya meminta anak anak untuk mengangkat air sebanyak dua ember di sumur yang ada di di kampung kami sebagai ganti air wudhu mereka
" Pak, makan dulu, aku udah laper banget nih" ucap aulia mengajak bapak makan
" Sabar nak, kamu udah lapar banget ya nak?"
" Iya pak "
" Ya sudah kita makan yuk, jangan lupa baca doa".. iya pak, teriak kami serempak dan Malam itu kami makan dengan hasil masakan ku yang apa adanya dan syukur mereka menyukai nya
" Enak banget ini mbak, siapa yang ngasih?" Tanya Arya begitu menikmati masakanku
" Itu buatan mbak Nisa sendiri nak " jawab bapak
" Enak banget masakan mbak Nisa, benarkan dek?" Ucap Arya pada Aulia
" Iya mbak enak banget " jawab Aulia tersenyum
" Alhamdulillah kalo kalian suka"
" Nanti lain kali buatin yang enak kayak gini lagi ya mbak" ucap aulia
" Insyaallah ya dek, doakan mbak biar mbak punya uang supaya mbak bis masak enak lagi buat kita semua"
" Aamiin" ucap bapak, dan kedua adikku sembari tersenyum