NovelToon NovelToon
Reborn For Revenge

Reborn For Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kelahiran kembali menjadi kuat / Dijodohkan Orang Tua / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Violetta Gloretha

⚠️Warning⚠️

Cerita mengandung beberapa adegan kekerasan


Viona Hazella Algara mendapatkan sebuah keajaiban yang tidak semua orang bisa dapatkan setelah kematiannya.

Dalam sisa waktu antara hidup dan mati Viona Hazella Algara berharap dia bisa di beri kesempatan untuk menembus semua kesalahan yang telah di perbuatnya.

Keluarga yang dicintainya hancur karena ulahnya sendiri. Viona bak di jadikan pion oleh seseorang yang ingin merebut harta kekayaan keluarganya. Dan baru menyadari saat semuanya sudah terjadi.

Tepat saat dia berada di ambang kematian, sebuah keajaiban terjadi dan dia terbawa kembali ke empat tahun yang lalu.

Kali ini, Viona tidak bisa dipermainkan lagi seperti di kehidupan sebelumnya dan dia akan membalas dendam dengan caranya sendiri.

Meskipun Viona memiliki cukup kelembutan dan kebaikan untuk keluarga dan teman-temannya, dia tidak memiliki belas kasihan untuk musuh-musuhnya. Siapa pun yang telah menyakitinya atau menipunya di kehidupa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

    Selesai membersihkan dirinya, Viona mengeringkan rambutnya dan menatap pantulan dirinya sendiri di cermin kamar mandi. Gadis itu tersenyum senang, mengagumi kulitnya yang putih bersih dan tubuhnya yang ramping. Waktunya hampir tiba dan ia bertanya-tanya apakah semua foto-foto Leo yang menyebalkan di kamarnya sudah di bersihkan. Ia tidak sabar untuk keluar dari kamar mandi dan melihat penampilan kamarnya yang jauh dari kesan Leo.

    Namun, sebelum Viona sempat melangkah keluar dari kamar mandi, ia mendengar suara pertengkaran yang berasal dari kamarnya.

    "Lo itu makin nyebelin ya seiring tambah tua bukannya tambah ngerti. Siapa yang ngasih lo hak buat bersihin kamar ini?!." Teriak seorang gadis.

    "Yang menyuruh saya--"

    "Siapa? Siapa yang udah nyuruh lo? Viona, iya? Jangan lo pikir gue bodoh ya?! Semua orang tau kok kalo dia itu tergila-gila banget sama Leo. Beraninya lo bilang kalo semua ini karena perintahnya!."

    "Saya--"

    "Heh... Ida! Cuma karena lo lebih tua bukan berarti lo boleh mengabaikan peraturan di sini! Setelah gue keluar dari kamar ini, gue akan aduin lo ke sepupu sama Tante gue! Biar kalian semua tau rasa dan di pecat dari sini." Ancamnya lalu tertawa terbahak-bahak. "Selamat jadi pengangguran di kampung, ya."

    Gadis yang berani berteriak-teriak pada pelayan tertua di mansion ini bernama Maya Natasya Belle yang merupakan keponakan dari Erina Audyn Mahesta— Ibu tiri Viona.

    Erina telah menyakinkan Arga untuk memperkerjakan Maya sebagai pembantu setelah gadis itu putus sekolah SMP dan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Arga biasanya tidak melibatkan diri dalam hal-hal seperti itu, jadi pria itu menyetujui permintaan Erina begitu saja.

    Maya yang tahu statusnya di keluarga ini, bertingkah seperti gadis yang suka memerintah, tidak melakukan apa pun selain pamer kepada pelayan yang lain. Di kehidupan yang sebelumnya, Viona sama sekali tidak menyadari keburukan Maya dan bahkan mengangkat Maya sebagai pelayan pribadinya. Jika di pikir-pikir, Maya seperti mata-mata yang di kirim oleh Ziya untuk mengawasi apa pun yang Viona lakukan.

    Tatapan mata Viona berubah dingin dan ia berjalan keluar dari kamar mandi. Begitu keluar, ia melihat Maya yang menunjuk ke arah Bik Ida dan memaki-makinya dengan kasar.

    Bik Ida sudah berusia empat puluh tahun dan telah bekerja untuk keluarga Algara dari usianya masih muda. Namun meskipun Maya memarahinya, Bik Ida tidak berani mengatakan sepatah kata pun.

    Kilatan tajam melintas di mata Viona..

    "Ehem." Viona berdehem. "Menurut lo... elo siapa? Berani teriak-teriak di kamar gue dan lo juga ngga ngikutin perintah gue!." Viona masih berdiri di depan pintu dan berbicara dengan tenang pada Maya.

    Beberapa pelayan yang ada di kamar Viona ikut menoleh saat mendengar suara Viona.

    Ketika mereka melihat Viona yang mengenakan gaun putihnya, mereka semua tercengang. Tak menduga jika Viona akan terlihat sangat cantik dengan penampilan barunya. Tatapan mereka kosong ketika menatap Viona hingga akhir suara Bik Ida yang gemetaran terdengar, menyadarkan mereka dari lamunannya.

    "Nona Viona, nona terlihat sangat cantik."

    Mereka yang berada di dalam kamar Viona ternganga. Mereka takjub dengan kecantikan Viona, meskipun tanpa memakai riasan apa pun!

    Maya juga terkejut dengan penampilan Viona, tetapi dia lebih terkejut dengan cara bicara Viona padanya.

    "V-Viona? Kenapa kamu... Kenapa kamu pake baju kayak gini?." Tanya Maya terbata-bata

    Viona mengernyitkan dahinya. "Lo ngga punya sopan santun ya? Di sini, gue majikan lo!."

    Viona menatap Maya sembari berjalan dan duduk. Ia menatap Maya dari atas ke bawah, membuat Maya merasa tidak nyaman. Viona tampak berbeda kali ini, seperti orang yang berbeda dan tatapannya tidak nyaman.

    Maya berdehem. "Viona, aku cuma mau bantuin kamu loh... kasih pelajaran ke wanita tua ini. Aku tadi liat dia nyobek semua foto-foto Leo  yang paling kamu suka dan aku--"

    "Gue belum selesai ngomong." Sela Viona. "Lo seorang pelayan. Siapa yang kasih lo izin masuk ke kamar gue dan ganggu kerjaan Bik Ida?."

    Ekspresi Maya langsung berubah, ia sangat benci ketika di panggil seorang 'pelayan'. Maya hampir lupa bahwa dirinya hanyalah seorang pelayan di rumah ini yang berkerja di bawah asuhan Erina dan Ziya.

    Tetapi mengapa Viona tiba-tiba berkata seperti itu?.

    "Viona, ada apa? Kenapa kamu--"

    "Lo ngga bud£k, kan?." Viona menyipitkan matanya dan tatapan dingin dari matanya membuat Maya menggigil.

    "Nona Viona." Maya segera mengoreksi perkataannya sendiri.

    Viona dingin saat mendengar koreksi dari Maya. "Itu baru bener. Sebagai seorang pelayan, lo harus tahu dimana tempat lo dan ngga boleh lupa. Baju-baju lo yang mahal itu bahkan lebih mencolok dari yang make dan itu menganggu. Cepetan lepas!."

    Maya tercengang. Ia menunduk ke bawah menatap dress rancangan desainer yang dikenakannya dan bertanya-tanya apa yang telah merasuki pikiran Viona. Maya belum pernah mendapatkan perlakuan kasar di rumah ini sebelumnya dan ia merasa sulit menerima ketika Viona tiba-tiba bersikap seperti itu padanya.

    "Aku harus lepas baju ini? Tapi, baju ini hadiah dari kamu buat aku, jadi itu sebab aku pakai baju ini!." Tolak Maya

    "Hmm... jadi ini baju hadiah dari gue ya?." Kata Viona sembari menopang dagunya dan tampak tenang seperti baru menyadari sesuatu.

    Tepat saat Maya menghela napas lega, Viona menyeringai dan kembali buka suara. "Sekarang gue nyesel. Gue pengen semua yang udah gue kasih ke lo di balikin lagi. Dan mulai hari ini, Lo akan pakai seragam yang sama kayak pelayan lainnya di rumah ini."

    "A-apa?!" Maya membelalakkan matanya. "Kamu udah kasih ke aku, kenapa aku harus balikin semuanya ke kamu? Aku ngga mau!."

    "Lo ngga mau?." Viona menoleh dan menunjuk dua pelayan yang berdiri tak jauh darinya. "Kalian berdua, buka bajunya!."

    Para pelayan saling berbagi pandangan dengan tatapan tak percaya. Apakah Viona benar-benar memerintahkan hal seperti itu? Bukankah Viona selalu memperlakukan Maya seperti saudaranya sendiri?.

    "Apa kalian bisa mendengar perintah Nona Viona?." Bentak Bik Ida, yang akhirnya membuat kedua pelayan itu segera bergerak maju dan  mencekram ke dua lengan Maya.

    Maya meronta dan berteriak-teriak. "Lepas! Lepasin gue! Kalo kalian berani nyentuh gue... gue akan laporin kalian ke Tante Erina!."

    Mendengar ancaman Maya, para pelayan itu menjadi ragu-ragu. Bagaimana pun, Erina adalah nyonya di rumah ini dan yang mereka tahu selama ini, Viona selalu berhubungan baik dengan Maya dan Ziya.

    Mungkin Viona melakukan ini pada Maya hanya karena luapan emosi sesaat. Jika mereka mendapat masalah nanti, tidak ada yang akan membela mereka dan itu akan menjadi kesalahan mereka sebagai pelayan. Apalagi dengan kepribadian Maya yang pendendam, gadis itu pasti akan balas dendam pada mereka.

    Viona menyadari kekhawatiran mereka dan mengetikkan jarinya di meja yang berada di sampingnya. "Kalau terjadi sesuatu, gue akan bertanggungjawab. Lepasin aja bajunya!." Kata Viona, nada dinginnya memberikan keberanian pada para pelayan itu. "Kalau dia teriak-teriak, kalian langsung tampar aja dia!."

    Mendengar perkataan Viona, semua pelayan itu menghela napas lega dan bersemangat untuk mulai menanggalkan pakaian Maya.

    Maya selalu menindas mereka, jadi sekarang mereka merasa keadilan sudah ditegakkan dan mereka tidak menunjukan belas kasihan dalam tindakan mereka. Beberapa pelayan bahkan mengambil kesempatan untuk mencubit Maya.

    Sementara Maya memegang erat bajunya seperti orang gila. "Berhenti! Lo semua udah kelewatan! Ahh- sakit t0l0l!".

    Namun, karena kalah jumlah, tak butuh waktu yang lama dan Maya sudah dalam keadaan tel4nj4ng.

    Awalnya, Maya bersumpah dan mengumpat, tetapi kemudian dia menangis dan memohon agar mereka mau melepaskannya. "Viona? Apa yang kamu lakuin? Bukannya kamu udah anggep aku seperti saudara kamu? Tolong, bilang ke mereka buat stop lakuin ini ke aku!."

    Viona tetap tidak tergerak hatinya, membiarkan Maya di tel4nj4ng! hingga hanya mengenakan pakaian dalamnya.

    Melihat Maya duduk di lantai, berantakan dan tampak seperti baru saja dirampok, Viona merasa sangat puas dan tak kuasa menahan tawa.

    "Apa lo masih pengen duduk? Gue mau semua barang-barang yang gue kasih di balikin secepatnya, Maya."

    Meski pun Maya merasa terhina dan marah, dia baru saja merasakan kekuatan Viona dan sekarang dia tidak berani mengatakan sepatah kata pun. Ekspresi kebencian terpancar di mata Maya saat dia perlahan bangkit dan meninggalkan kamar Viona. Maya bertekad untuk memberitahu kelakuan Viona pada Tantenya setelah Tantenya itu pulang.

    Viona menarik napasnya dalam-dalam, saat ini dia sedang dalam suasana hati yang baik.

    Ini baru permulaan.

    Erina dan Ziya, hutang-hutang mereka di kehidupan sebelumnya, Viona akan menagihnya satu persatu.

    Tiba-tiba, suara mobil parkir di lantai bawah terdengar.

    Kedua Maya Viona berbinar. "Yey! Papa pulang!." Ia segera menyisir rambutnya dan bergegas turun.

    Sementara itu, Gio yang menunggu di lantai bawah segera berdiri dan terlihat gugup. Adegan yang paling dikhawatirkannya akhirnya akan terjadi. Menurut temperamen ayahnya, jika Viona tidak mengakui kesalahannya kali ini, adik kecilnya itu mungkin benar-benar akan ditampar oleh ayah mereka.

    Suara beberapa langkah kaki terdengar dan Arga-lah orang yang pertama kali memasuki ruang tamu. Pria paruh baya itu mengenakan setelan abu-abu gelap dan memiliki ekspresi tegas di wajahnya. Saat itu, raut wajahnya tidak begitu baik, dan ada sedikit kemarahan di matanya. Berdiri di samping Arga adalah seorang wanita elegan dan berpakaian mewah, penuh dengan permata dan mutiara, ibu tirinya, Erina.

    "Papa." Panggil Gio pelan.

    "Mana adek?." Sebelum Arga buka  suara, seorang remaja laki-laki muncul dari belakang Arga. Wajahnya mirip dengan Gio, tetapi raut wajahnya bahkan lebih dingin, dan dia memancarkan aura dingin dan anggun yang memungkiri usianya. Dia adalah Raysa Elzion Algara— Kakak ke-tiga Viona..

    "Dia ada diatas, baru aja pulang dari rumah--" Gio langsung terdiam, ia ingat bahwa Viona tidak mengizinkannya untuk memberitahukan hal ini pada Rasya

    "Tenang kak, aku udah tau kalau Adek kecelakaan mobil. Kalian semua malah mau bohongin aku... kayak aku masih bocah aja. Gimana keadaan adek sekarang?." Nada bicara Rasya terdengar penuh kecemasan.

    "Rasya, lo ngga perlu khawatir. Karena Viona udah boleh pulang dari rumah sakit berati dia baik-baik aja, kan?." Seorang gadis seumuran dengan Viona tiba-tiba berjalan mendekat, dia adalah Ziya mengenakan dress biru bermotif bunga-bunga, tampak lembut dan menawan.

    Rasya mengernyitkan dahinya dan mengabaikan gadis itu.

    "Gimana lo bisa yakin kalau gue baik-baik aja? Padahal keliatannya lo sama sekali ngga peduli sama gue." Sebuah suara, yang tidak terlalu keras atau terlalu kecil, datang dari sudut tangga.

Mereka menoleh dan melihat seorang gadis ramping dan anggun berdiri di sana.

Dia mengenakan gaun putih, rambut hitamnya diikat dengan santai, memperlihatkan leher yang ramping dan halus. Bibirnya merah, giginya putih, dan wajahnya halus, seperti lukisan yang indah. Semua orang terkejut.

    Gio adalah orang pertama yang berseru. "Viona?!."

    Viona tersenyum tipis. "Kak, diem dong!." Kata Viona pada Gio. Lalu menoleh ke arah Arga dan Rasya, yang sama-sama menatapnya dengan tatapan terkejut, menahan kegirangannya, Vania kembali buka suara. "Papa, Kak Raysa, kalian udah pulang?."

    Hening cukup lama. Kemudian Rasya buka suara. "Dek, kenapa kamu tiba-tiba pakai baju kayak gini? Kakak hampir ngga mengenali kamu.."

    Viona terkekeh kecil. "Apa aku keliatan cantik?." Senyum cerah Viona terlihat sangat menawan.

    "Perfect! Dek kamu cantik banget!." Imbuh Gio.

    "Ehem." Arga berdehem dua kali, menahan rasa keterkejutannya. Dia menatap Viona dengan tatapan tajamnya. "Syukurlah, kamu akhirnya tahu cara berpakaian dengan benar!."

    Arga sudah berencana akan memarahi Viona, tetapi ketika dia melihat putri kecilnya tiba-tiba berubah dari penampilan dan  berperilaku baik, setengah dari kemarahannya menghilang.

    Sementara itu, Ziya menutupi keterkejutannya dan menundukkan kepalanya dengan sedikit kecemburuan di matanya. Sebuah gaun sederhana dikenakan dengan sangat memukau oleh Viona. Dia terkejut.

     Apa yang terjadi pada Viona? Mengapa dia tiba-tiba berpakaian seperti dulu sebelum dia menghasutnya?

    Berbeda dengan Erina, wanita itu tersenyum lembut. "Viona terlihat sangat cantik memakai gaun itu, seperti peri kecil. Kalau keluarga Varell melihat mu, mereka pasti sudah memaafkan kamu."

    Viona mengangumi cara Erina. Hanya dalam beberapa patah kata, Erina dengan sempurna menunjukkan apa artinya tersenyum dengan pisau yang tersembunyi di dalamnya.

    Memang, saat nama Varell di sebut, raut wajah Arga langsung berubah muram. "Viona, cepat turun!." Perintahnya dengan marah.

    Melihat hal itu, Gio dan Rasya langsung berdiri di hadapan Arga. "Papa, Viona baru aja pulang dari rumah sakit dan tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Jangan terlalu kasar sama dia."

    "Viona masih kecil, kalau papa mau marah, marah aja ke kita. Jangan ke Viona." Imbuh Rasya.

    

    Mendengar hal ini, Arga mendengus dingin. "Papa belum lakuin apa pun sama adek kalian. Tapi kalian udah ngga sabar pengen melindungi dia. Kalian bertiga selalu manjain Viona dan sekarang dia jadi bersikap kurang ajar! Papa mau dia tau kesalahannya hari ini!."

1
Devi Sri lestari
bgs
R@3f@d lov3😘
takut Billy 🤣🤣🤣Padahal cuma diisengin Viona
R@3f@d lov3😘
udah kalah juga masih sombong 😏😤billy"
R@3f@d lov3😘
🤣🤣🤣dikerjain habis" an itu Leo
R@3f@d lov3😘
kasihan kamu Freya 😏punya teman kayak ziya sampah dan penghianat
R@3f@d lov3😘
lanjut kak
R@3f@d lov3😘
padahal ceritanya bagus,,malah gak ada yang baca🙄tenang ja kak aq sukaaaaaaaa 🤗 ceritanya
Violetta Gloretha: maaciww kak😘🤭
total 1 replies
R@3f@d lov3😘
cinta varell sangat tulus sama Viona 😍
R@3f@d lov3😘
buat viona lebih tegas kak
R@3f@d lov3😘
emang enak dicuekin 😂🤣
R@3f@d lov3😘
ternyata ada benalu dan sampah 😏 dirumah Viona
R@3f@d lov3😘
menarik
R@3f@d lov3😘
menarik 🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!