Segalanya yang telah ia hasilkan dengan susah payah dan kerja keras. lenyap begitu saja. kerja keras dan masa muda yang ia tinggalkan dalam menghasilkan, harus berakhir sia-sia karena orang serakah.borang yang berada di dekatnya dan orang yang ia percayai, malah mengkhianatinya dan mengambil semua hasil jerih payahnya.
Ia pun mulai membentuk sebuah tim untuk menjalankan rencana. dan mengajak beberapa orang yang dipilihnya untuk menjalankan dengan menjanjikan beberapa hal pada mereka. Setelah itu, mengambil paksa harta yng dikumpulkan nya dari mereka.
"Aku akan mengambil semuanya dari mereka, tanpa menyisakan sedikitpun!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vandelist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Selamat membaca
Ketakutan yang seharusnya tidak terjadi, ketakutan yang seharusnya tidak di inginkannya. Harus kembali mendera tubuhnya, karena berita yang dibawa sekretaris nya.
Ketakutan yang sudah lama ia hilangkan dari dirinya, harus kembali lagi karena berita tentang neneknya. Nenek Amita yang begitu ia sayangi dan cintai melebihi keluarga kandungnya.
Nenek yang begitu ia hormati dengan segenap jiwa, dan nenek yang selalu ada untuknya ketika dirinya mengalami penderitaan.
Nenek Amita bukanlah anggota keluarga kandungnya, namun rasa kasihnya kepada nenek itu melebihi cinta yang ia miliki untuk siapapun semasa hidupnya. Berkat nasihat-nasihat yang diberikan oleh nenek Amita, hatinya yang keras ini menjadi lebih lembut. Meskipun neneknya sering berbicara dengan suara yang keras dan sedikit kasar, ia tahu betul bahwa nenek Amita bukanlah sosok yang seperti dipikirkan orang-orang.
Sesampainya di tempat kejadian, Erica segera menghampiri petugas pencarian untuk menanyakan keberadaan nenek Amita. Rasa cemas, panik, dan ketakutan bercampur aduk di dalam dirinya. Ia cemas akan keadaan nenek Amita, panik karena berita yang begitu mendadak, dan ketakutan akan kehilangan sosok yang sangat dicintainya. Erica merasa tidak siap jika harus menghadapi kenyataan pahit itu saat ini.
Dirinya belum sepenuhnya mampu untuk berdiri sendiri di tengah keadaan yang seringkali menyiksa batinnya. Ia tak sanggup membayangkan kehilangan orang yang paling dihormati dan disayangi dalam hidupnya. “Nenek…” gumamnya pelan, seolah mengharapkan suara itu dapat menyentuh hati nenek Amita di suatu tempat.
Dengan penuh harapan, ia berusaha membelah kerumunan ribuan orang yang menyaksikan tragedi ini. Keramaian dan keberadaan beberapa petugas keamanan yang menjaga situasi membuatnya kesulitan untuk menjangkau tim SAR.
Butuh beberapa menit bagi mereka untuk sampai di lokasi. “Pak, saya adalah salah satu anggota keluarga dari korban. Apakah ada kabar tentangnya?” tanya Erica dengan nada yang penuh harap. Salah satu anggota tim SAR yang ditanya oleh Erica tidak langsung menjawabnya. Melihat situasi tersebut, Fyneen yang datang bersamaan dengan Erica berusaha menjelaskan dengan jelas.
“Pak, kakak ini adalah anggota keluarga dari korban. Dia menanyakan tentang pencarian orang yang jatuh dari jembatan. Apakah ada informasi terbaru?” jelas Fyneen dengan pelan agar anggota tim SAR itu dapat memahami situasinya.
“Untuk saat ini, pencarian korban masih berlangsung mbak. Kami dan tim sedang berusaha untuk mencari korban yang jatuh ke bawah”jelas anggota tim SAR.
“Bukankah sudah berjam-jam pencarian ini dilakukan? Apakah hingga sekarang masih belum ada hasil?! Nenek saya sudah berumur, Pak. Tolong, carilah dengan serius! Bagaimana mungkin belum ditemukan?!” sentak Erica dengan nada penuh emosi kepada petugas tersebut.
“Maaf, saat ini kami sedang mencari dengan penuh ketelitian. Karena waktu sudah malam dan kondisi cuaca kurang mendukung, pencarian menjadi sedikit lambat. Kami mohon kerja samanya,” ucap petugas itu.
“Bukankah kalian adalah ahli yang berpengalaman dalam pencarian? Mengapa dalam kondisi seperti ini kalian jadi lambat! Apakah kalian tidak kompeten dalam bekerja?!” seru Erica dengan nada tinggi.
“Tolong, mas, ditenangkan dulu kakaknya,” ujar petugas itu kepada Fyneen. Melihat situasi tersebut, Fyneen menganggukkan kepala dan membawa Erica ke tempat yang lebih sepi untuk menenangkannya.
Namun, Erica tetap melawan dan berteriak kepada anggota tim SAR. Ia tidak terima dengan respon petugas itu. Sudah berjam-jam lamanya, tetapi nenek Amita belum juga ditemukan. Dengan penuh emosi, ia terus meneriaki dan memarahi anggota tim SAR yang sedang bertugas, bahkan melontarkan kata-kata kasar untuk mengumpati mereka.
“Bos, tenang!!” seru Fyneen kepada Erica. “Dengan keadaan bos seperti ini, mereka tidak akan peduli. Mereka sedang mencari nenek Amita sekarang, dan situasi saat ini sangat tidak kondusif untuk mencari nenek!”
“Nenek sudah tua, Fyn. Gue takut nenek kenapa-kenapa, gue takut nenek kedinginan di sana!!”
“Tapi kalau bos terus seperti ini, masalah tidak akan selesai begitu saja! Bos harus tenang!” Erica duduk di trotoar dan memeluk tubuhnya sendiri. Dalam kedinginan dan gerimis yang terus mengalir, semua itu terasa samar di tengah kepanikan yang melandanya. Dia takut dengan keadaan neneknya yang tidak baik-baik saja. Dia takut karena sampai sekarang belum ada kabar tentang neneknya.
“Bos sebaiknya kita ke rumah sakit dahulu buat menjenguk orang tua bos. Bos harus mengetahui keadaan mereka sekarang”ajak Fyneen.
“Tapi gimana dengan nenek?”tanya Erica dengan khawatir.
“Kita percayakan nenek Amita pada mereka bos”ucap Fyneen. Dua berita duka yang membuatnya begitu panik dan khawatir. Adalah hal yang tak pernah terjadi dalam hidupnya. Dua berita yang membuatnya begitu terkejut dan panik sekaligus.
Membuat seorang Erica harus kembali mengalami trauma yang sudah lama menghilang. Dulu dirinya pernah mengalami trauma yang begitu menyakitkan akibat perlakuan orang tuanya. Tidak seperti perlakuan orangtua pada anaknya.
Trauma yang sering kali muncul ketika sendirian dan membuatnya mengalami depresi, hingga dirinya menjadi lepas kendali setiap bertemu dengan seseorang. Ia sangat membenci kondisinya saat itu, dimana dirinya benar-benar sendirian dalam menyembuhkan traumanya.
Tak ada yang menemani dan mendampingi, semua orang-orang terdekatnya menjauh darinya saat itu termasuk adik kandungnya.
Hingga dirinya bertemu dengan nenek Amita. Wanita tua yang begitu ia hormati dan sayangi melebihi keluarga kandungnya. Wanita tua dengan nada keras namun mengandung kelembutan di setiap tutur katanya. Wanita tua yang selalu menasehatinya untuk tidak terlalu membenci keluarganya.
“Nona tenang saja ya, kita berdoa semoga nenek Amita bisa ketemu dalam keadaan baik-baik”tenang Arga supir pribadinya.
Erica tidak mendengarkan ucapan supirnya, ia malah fokus dengan jalanan. Raut wajah khawatir yang masih terlihat, dan juga kegelisahan yang terus mendera dirinya tak mampu ia tenangkan begitu saja. Dirinya, benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan nenek Amita.
Dia sangat khawatir dengan keadaan neneknya sekarang. Kepedulian dan kegelisahan yang terjadi sekarang, ia curahkan pada wanita tua itu. Dirinya benar-benar khawatir dengan keadaan wanita tua itu sekarang.
“Kita sudah sampai nona”ucap Arga. Erica pun keluar dari mobilnya dan berjalan menuju ke ruangan kedua orangtunya bersama Fyneen. Wajahnya yang khawatir tadi, berubah menjadi datar.
Perubahan yang selalu ia tunjukkan ketika berurusan dengan kedua orangtuanya. Tak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapnya dengan aneh padanya. Yang jelas dirinya akan melakukan hal ini ketika berurusan dengan kedua orangtuanya.
"Kakak ke mana saja? Kenapa kakak lama sekali?" tanya Ranum, nada khawatirnya tak bisa disembunyikan.
"Apa yang terjadi dengan mereka berdua?" Erica menatap adiknya dengan cemas, tak langsung menjawab pertanyaannya.
"Enyak dan Babeh, kak," suara Ranum bergetar pelan, seolah berat untuk diucapkan. "Mereka... sudah tiada," lanjutnya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Dia melangkah mundur dengan terkejut. Ucapan yang baru saja dilontarkan oleh adiknya membuatnya tak mampu menerima kenyataan yang ada. Semua peristiwa yang terjadi begitu mendadak dan menyakitkan. Neneknya yang masih belum ditemukan, ditambah lagi dengan kehilangan orang tuanya yang meninggal dunia saat dirinya baru saja tiba di rumah sakit.
Dengan langkah pelan, dia menuju kursi yang disediakan di rumah sakit. Bahunya membungkuk, dan kepalanya tertunduk, merenungi setiap kejadian yang baru saja menimpanya.
“Setelah ini, apa yang akan terjadi lagi?” tanyanya dalam hati, menyelami kedalaman kesedihan yang menggerogoti jiwanya.
μμ
Hari yang begitu melelahkan dan menguras banyak tenaga. Dimana dirinya harus menyalami banyak orang sebagai perwakilan dari anggota keluarga yang sudah meninggal. Berita tentang kematian kedua orangtuanya yang begitu menghebohkan beberapa pengusaha.
Sekaligus menjadi berita utama dalam satu hari ini. Membuat dirinya harus berjalan kesana-kemari untuk mengurusi semuanya. Dikarenakan dia adalah anggota dari orang yang meninggal, dan dirinya adalah anak pertama.
Dia harus mengemban tanggung jawab semua yang terjadi sekarang. Dan ia tidak merasakan apapun ketika kedua orangtuanya meninggal.
Kesedihan yang dirasakan beberapa orang, sama sekali tak berefek padanya untuk saat ini. Kelelahan yang seharusnya terjadi sedari tadi, sama sekali tak ia rasakan ketika dirinya sedang melayani beberapa pelayat yang mengucapkan bela sungkawa.
Kematian kedua orangtuanya, seperti rasa yang menghilang dari dalam dirinya. Bukan kesedihan akibat ditinggal mereka berdua, melainkan rasa bebas dari belenggu ikatan yang dilakukan orang tuanya selama ini padanya. Ada sedikit rasa bahagia dan kebebasan yang ia idamkan selama ini ketika dirinya tak pernah merasakan itu.
Selama ini ketakutan yang terjadi sesekali menderanya, atau tidak rasa was-was setiap saat ketika dirinya harus menghadapi kemarahan dari kedua orangtuanya.
Ada rasa kelegaan darinya setelah kedua orang tuanya tiada. Mungkin hal ini terdengar kurang ajar sebagai anak, ketika mayat orang tuanya yang masih berada di rumah dan belum dikebumikan. Dirinya harus mengalami kelegaan yang tak pernah dirasakannya. Dan sedikit bahagia.
Tapi itulah Erica, dia hanya ingin mengungkapkan sesuatu yang tak pernah berani ia ucapkan di depan orangtuanya. Ia memandangi mayat kedua orang tuanya dengan tatapan kelegaan.
Senyum tipis yang terbit dari bibirnya, dan raut wajah lelah karena dia tidak beristirahat sama sekali sedari kemarin. “Terima kasih sudah merawatku selama ini. Dan juga mengajarkan banyak hal kepadaku tentang bertahan hidup.”
“Mungkin ini terdengar kurang ajar untuk di dengar, tapi yang jelas. Aku… membenci kalian berdua.”
“Tapi untuk sekarang, aku akan mulai memaafkan kelakuan kalian terhadapku dulu. Seperti kata nenek Amita ‘seburuk apapun orang tuamu, mereka tetaplah orangtua yang membuatmu ada’ untuk itulah aku akan berusaha memaafkan kalian.”
“Tapi maaf, ini akan membutuhkan waktu yang lama dan mungkin bertahun-tahun. Karena… kalian berdua terlalu banyak menorehkan penyakit yang begitu dalam.”
Ungkapan yang terpendam selama ini, akhirnya ia keluarkan di depan orangtuanya. Meskipun sekarang mereka berdua sudah menjadi jenazah. Namun hal itu tak menyurutkan niatnya untuk mengungkapkan isi hatinya.
Ucapan yang begitu pelan agar tidak terdengar oleh para peziarah. Dan juga, agar tidak terlalu kentara bahwa ia sama sekali tidak bersedih dengan kejadian hari ini.
“Kak udah waktunya Babeh dan Enyak dimakamkan”ucap Ranum padanya yang sedang duduk di tengah jenazah kedua orangtuanya. Ia menganggukkan kepalanya. Dia pun berdiri dari tempat duduknya dan ikut serta dengan anggota keluarga nya yang lain untuk mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
Suasana duka yang sangat terasa, dan sebagian orang yang menangisi kepergian orang tuanya. Termasuk anggota keluarga besarnya sendiri, entah itu air mata kedukaan atau air mata palsu untuk mendapat perhatian. Dia tidak tahu itu.
Yang jelas menurutnya tangisan dari keluarga terdekatnya itu, hanyalah tangisan cari perhatian agar mereka tersorot dengan kedekatan mereka kepada orangtuanya.
Begitu banyak hal yang selalu ia ikuti bersama orangtuanya dalam perjalanan bisnis. Dan ia menjadi tahu tentang beberapa orang yang menjadi palsu ketika ingin bekerja sama. Babehnya selalu bilang padanya bahwa “Akan banyak pengkhianat yang ada di sekitar kita tanpa disadari. Termasuk keluarga sendiri”kata Babeh padanya saat itu.
Untuk itulah dirinya tahu, bahwa sebagian orang-orang yang menangisi kematian orang tuanya itu, hanyalah kamuflase untuk mendapat perhatian dari media. Bahwa mereka sangat dekat dengan kedua orangtuanya.
Helaan napas selama pemakaman terjadi ia lakukan sepanjang nya. Begitu banyaknya orang-orang munafik yang berkamuflase, dan juga begitu banyaknya orang-orang yang memberi ucapan duka cita dengan rasa tidak ikhlas.
Dia tak menampik bahwa, saat ini dirinya sangat lelah dengan suasana sekitar.
Dirinya harus menanggapi setiap ocehan orang tentang keluarganya yang begitu baik pada mereka. Padahal kalau mereka paham lebih dalam lagi, itu hanyalah keuntungan yang dimanfaatkan orang tuanya untuk diri sendiri.
“Kita sudah sampai rumah nona”ucap Arga. Erica pun turun dari mobilnya dan langsung memasuki rumahnya. Dirinya sangat lelah hari ini, dan ingin mengistirahatkan tubuhnya di
“Erica, bisa kita bicara sebentar?” suara Nurlaela, kakak dari Enyak, memecah keheningan. Erica mengikuti langkah Nurlaela dengan rasa penasaran yang menggelayuti pikirannya. Mereka melangkah ke ruang tamu, dan Erica merasa tatapan heran dari orang-orang di sekitarnya.
Setibanya di ruang tamu, ia melihat seluruh anggota keluarganya berkumpul. Di samping Haris, suami Nurlaela, duduk seorang pengacara keluarga, Pak Bagas. Erica mengambil tempat di samping Ranum, adiknya, sambil bertanya, “Ada apa? Mengapa semuanya berkumpul di sini? Dan juga, mengapa ada Pak Bagas?”
Semua mata yang hadir di ruang tamu kini tertuju pada pengacara yang duduk di samping Haris.
“Pak Bagas yang akan menjelaskan semuanya padamu,” ucap Haris dengan nada datar, seolah tak ada beban di hatinya.
Erica menatap Bagas dengan tajam. “Jadi begini, nona Erica. Seperti yang sudah nona ketahui, kedua orang tua nona baru saja meninggal dunia. Saya turut berduka cita untuk kehilangan yang mendalam ini," kata Bagas, suaranya tenang namun terkesan dingin. “Namun, kedatangan saya hari ini bukan hanya untuk melayat. Saya memiliki pesan penting terkait pemindahan beberapa aset yang diwariskan oleh orang tua nona sebelum mereka tiada.”
Bagas mengeluarkan sebuah lembar kertas dari dalam amplop hitam yang terlihat usang. Ia menyodorkannya kepada Erica, matanya tajam meneliti reaksi gadis itu. “Ini adalah pesan warisan yang harus nona baca,” lanjutnya, suaranya tegas namun ada nada menyindir di baliknya.
Erica meraih kertas itu dengan tangan bergetar. Ia membaca setiap kata yang tertulis, merasakan beratnya makna di balik kalimat-kalimat tersebut. Setiap huruf seolah mengejek rasa duka yang menggelayuti hatinya, mengingatkan akan kehilangan yang tak tergantikan. Dalam keraguan dan ketidakpastian, ia bertanya-tanya: apa sebenarnya yang ingin disampaikan orang tuanya, dan mengapa semuanya terasa begitu misterius dan menakutkan?
“Apakah surat ini benar-benar tulisan Babeh? Mengapa tulisan ini sangat berbeda dari biasanya?” tanya Erica dengan nada sinis, matanya menyempit penuh keraguan.
“Tulisan itu dibuat ketika bapak nona Erica berkunjung ke rumah saya. Saya adalah saksi ketika surat tersebut ditulis,” jawab pria itu, suaranya tegas meski hatinya bergetar.
“Kapan tepatnya?” Erica menuntut, nada suaranya semakin tajam.
“Lima hari yang lalu, mbak,” jawabnya, berusaha tetap tenang di bawah tatapan tajamnya.
Erica meletakkan kertas itu kembali di meja, suara kertas yang terjatuh terdengar nyaring, seolah menggema di ruangan yang hampa. Dia menyilangkan kakinya dan melipat tangan di dada, sikapnya menuntut penjelasan lebih lanjut.
“Lalu, apa hubungannya dengan saya?”
“Menurut isi surat ini, bapak nona Erica berniat mewariskan semua bisnisnya kepada adik nona Erica, yaitu nona Ranum. Karena beliau yakin, nona Ranum lebih mumpuni dalam menjalankan bisnis ini.”
“Lalu apa hubungannya dengan saya?” Erica bertanya lagi, suaranya kini mengandung nada tantangan.
“Seperti yang tertulis di sini, nona Erica sudah tidak berhak untuk memegang kendali dalam perusahaan ini. Semua itu akan diambil alih oleh adik nona sendiri, yaitu nona Ranum.”
Kebencian mulai membara di mata Erica, seolah dia tidak bisa menerima kenyataan pahit yang terhampar di depannya. “Jadi, saya hanya akan menjadi penonton dalam permainan ini?” tanyanya, nada suaranya mencerminkan kepahitan yang mendalam.
Pria itu menatapnya dengan tegas, “Itulah yang tersirat dalam surat ini, nona. Dan sepertinya, itu adalah keputusan yang tak terhindarkan.”
Suasana di antara mereka semakin menegang, seakan ada percikan api di udara yang bisa membakar segalanya.
“Apakah Bapak pernah melihat Ranum bekerja di kantor?! Apakah Bapak pernah melihat Ranum memegang kertas kerja yang berada di ruangan Babeh? Apakah Bapak pernah melihat Ranum memenangkan tender?!”
“Erica, jaga ucapanmu!!” sergah Dian dengan nada tegas, matanya melotot penuh amarah ke arah Erica. Erica membalas tatapan itu dengan tajam, seolah ingin menembus jiwa Dian, anak sulung Nurlaela dan Haris yang baru saja kehilangan orang tua.
“Saya hanya menyampaikan apa yang seharusnya nona ketahui! Jika pun nona tidak menerima kenyataan ini, semua keputusan ada di tangan nona Ranum. Saat ini, beliau yang lebih berhak untuk memutuskan!” ucap Bagas dengan nada final, berusaha menegaskan posisinya tanpa mau bertele-tele lebih jauh.
“Kak, tenang dulu,” suara Ranum terdengar lembut, namun ada ketegangan yang tak bisa disembunyikan. “Kenapa? Kamu senang dengan situasi ini? Baru saja orang tua kita meninggal dunia, kuburannya bahkan masih basah, tapi kalian sudah berbicara tentang pemindahan harta!”
“Pak Bagas hanya ingin menjelaskan semuanya! Beliau pasti memiliki kesibukan lain. Makanya, beliau ingin membahas ini sekarang,” jawab Ranum, berusaha meredam ketegangan yang semakin membara.
Ranum terdiam, hatinya terombang-ambing antara rasa kehilangan dan tanggung jawab. Dalam keheningan itu, pertarungan batin pun dimulai, menyisakan satu pertanyaan yang menghantui: siapa yang benar-benar layak mengambil alih semua ini?
“Lalu? Apakah kesibukannya itu tidak menghormati orang yang baru saja pergi? Apakah pengacara keluarga ini tidak memiliki etika saat melayat?!” Erica mengerahkan semua emosinya, melihat adiknya yang seolah tidak mau membela.
“Lalu, kakak mau apa? Beliau hanya ingin menyampaikan apa yang harus disampaikan!” Adiknya menjawab dengan nada defensif, namun tatapan tajam Erica membuatnya mundur.
Dengan langkah cepat, Erica meninggalkan ruang tamu, amarahnya membara seperti api yang tak tertahan. Harapannya untuk mendapatkan waktu beristirahat sejenak sirna, terhempas oleh kenyataan yang menyakitkan.
“Erica!” panggil Fauzan, pamannya, suaranya menggema dengan nada dingin. “Kamu sudah tidak bisa tinggal di rumah ini lagi. Semua barang-barangmu telah kami keluarkan dari kamarmu.” Kata-kata itu seperti sembilu yang menancap di hati Erica. Ia menatap Fauzan dengan mata penuh kebencian, seolah mampu membakar pria itu dengan pandangannya.
“Apa yang kalian lakukan pada barang-barangku?!” tanyanya, suaranya meninggi, menggema dalam keheningan yang mencekam. Amarahnya bukan hanya untuk melindungi dirinya, tetapi juga untuk melawan ketidakadilan yang dirasakannya, seolah seluruh dunia bersatu untuk merenggut haknya.
“Kamu sudah tidak bisa tinggal di sini lagi. Rumah ini bukan lagi tempatmu, dan harta apapun yang ada di sini bukan milikmu!” ucap Fauzan dengan nada menekan.
“Siapa yang memberi hak kepada kalian untuk mengusirku dari rumahku sendiri?” Erica membalas dengan suara bergetar, penuh kemarahan.
“Aku!” jawabnya dengan senyuman dingin, matanya berkilat tajam.
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩