Chantika Anastasya gadis berusia 17 tahun yang meninggal karena rem mobilnya blong yang menyebabkan ia menabrak truk yang ada di depannya.
Bukannya mencari pertolongan, ia malah tersenyum senang karena ia pikir setelah ini ia akan pergi ke surga dan melepaskan semua beban yang sudah ia pikul selama ini.
"Syurgaa.....I'm coming"
Tapi bukannya ke surga, chantika malah terjebak di tubuh gadis culun yang ternyata memiliki masalah hidup yang cukup berat dan rumit.
Lalu apakah Chantika kuat menjalani kehidupan barunya dengan semua masalah yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chryssa_Dike, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Bel istirahat pertama pun berbunyi, Chaca dengan segera beranjak menuju ke taman belakang sekolah untuk menenangkan pikirannya dan mengobati luka yang ada di dahinya.
Ia memilih taman belakang untuk tempat beristirahat, karena disana sangat tenang dan jarang ada orang.
Di saat seperti ini, ia selalu berdoa agar semua siksaan yang ia dapat segera berakhir. Semoga saja setelah lulus nanti ia terbebas dari semua siksaan Mina. Dan bisa hidup dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.
Saat sedang asik melamun, tiba-tiba seorang laki-laki duduk disebelahnya sambil menyodorkan sebotol air mineral dan roti.
Chaca yang mendapati itu pun langsung menoleh, "Eh, kak Jevan" kaget Chaca sambil sedikit menggeser duduknya.
"Iya, kenapa ada di belakang dan tidak ke kantin?" Tanya laki-laki itu.
"Chaca sedang tidak lapar kak, jadi Chaca milih ke sini saja lebih tenang dan sejuk" ucapnya sambil menoleh kearah Jevan.
Betapa kagetnya Jevan saat melihat dahi Chaca yang terdapat bekas darah yang mengering, dan tertutup dengan poni miliknya.
"Lalu kenapa dengan dahimu? Apakah Mina menyiksamu lagi?" tanya laki-laki itu sambil menyingkirkan poni milik Chaca.
"Ahh....tidak kak, itu hanya karena Chaca terbentur meja saja tadi pagi" ucapnya sambil sedikit menepis tangan laki-laki itu.
"Oh" ucap laki-laki itu.
Jevan tak sepenuhnya percaya dengan ucapan Chaca barusan, karena ia bisa menebak, pasti itu semua benar ulah Mina. Ia sering melihat Mina membully Chaca, tapi ia hanya bisa diam saja karena ia tidak memiliki kuasa sebesar Mina.
***
Sesudah pulang dari sekolah Chaca pun langsung menuju kamarnya untuk bersih-bersih badan, tadi sebelum pulang ia sempat mampir ke salah satu klinik terdekat untuk memeriksakan dan mengobati luka di dahinya, dan berakhirlah dahinya harus mendapatkan 3 jahitan.
Setelah bersih-bersih, Chaca menuju meja belajarnya untuk mengerjakan beberapa tugas rumahnya. Chaca mengerjakan dan mempelajari hampir semua pelajaran untuk besok.
Tak terasa sudah hampir 3 jam Chaca belajar, setelah dirasa cukup ia pun langsung merapikan buku-buku dan semua perlengkapan sekolahnya, lalu memasukkannya kedalam tas. Setelahnya, ia pun turun ke lantai bawah untuk makan malam.
Di meja makan, semua makanan terlihat masih tertata rapi, yang menandakan orang tuanya belum melaksanakan makan malam, atau bahkan pulang.
Melihat itu pun Chaca hanya bisa tersenyum getir dan memutuskan untuk makan malam sendirian seperti beberapa hari ini.
Selesai itu, Chaca pun menuju kamarnya dan mengambil sebuah kotak.
'Semoga saja ini semua cukup untuk nanti' ucapnya sambil memandangi semua barang yang ada di dalam kotak tersebut dan mulai mengembalikan semuanya ke tempat semula.
Setelah menyembunyikan itu semua ke tempat yang aman, Ia pun langsung berlalu ke kamar mandi untuk menyikat gigi dan bersiap untuk tidur. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Chaca bisa tidur, karena memang ia tipe orang yang gampang sekali ketiduran kapan pun dan dimana pun.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, kedua orang tua Chaca baru saja pulang, dan mengganti pakaian mereka menjadi pakaian rumahan biasa.
"Bi Ani, Chaca mana ya?" tanya Tannia saat tidak mendapati sang anak.
"Itu nyonya, Non Chaca sedang tidur di kamarnya"
Bahkan saking sibuknya bekerja, ia sampai tidak tahu kapan jam tidur anaknya itu.
"Ahh...seperti itu, kalau begitu tolong bibi panaskan makanannya dulu ya, saya mau ke kamar Chaca sebentar"
"Baik nyonya" ucap Bi Ani sambil berjalan kearah dapur.
Setelah mengucapkan itu Tannia dan Johnny pun langsung berjalan menuju ke lantai atas, lebih tepatnya ke kamar sang anak. Sesampainya diatas mereka pun langsung masuk kedalam kamar sang anak, dan mendapati sang anak yang sudah tertidur pulas.
Mereka pun memilih duduk dipinggir ranjang sang anak dan mengelus rambut halus sang anak dengan penuh sayang, tanpa mereka sadari bahwa di dahi tersebut terdapat luka.
Mereka berdua menatap lamat wajah cantik sang putri yang tengah tertidur pulas itu. Wajah yang sangat mirip dengan Tannia.
Wajah yang jarang mereka perhatikan dan mereka belai, karena terlalu sibuk akan dunia mereka. Di lubuk hati keduanya, terbesit rasa bersalah yang sangat dalam, karena terlalu mementingkan pekerjaan dan berakhir mengabaikan sang putri.
'Maafkan daddy, karena daddy terlalu sibuk dan kurang memperhatikanmu sayang.' batin Johnny sambil terus mengelus rambut itu sayang.
'Maaf sayang, karena mami selalu sibuk dan kurang memperhatikanmu" batin Tannia sambil ikut mengelus rambut sang anak seperti yang sang suami lakukan barusan.
Setelah dirasa cukup, mereka pun keluar dari kamar sang anak, dan menuju kelantai bawah untuk makan malam.
***
Di hari minggu sore ini Chaca sedang bersantai diruang keluarga sendirian, sambil memakan camilan.
Kedua orangtuanya saat ini sudah dapat dipastikan berada di kantor dan butik sedari pagi, jadi ia di rumah hanya dengan para maid dan penjaga.
Sebenarnya ingin sekali Chaca melakukan family time dengan kedua orang tuanya, tapi berhubung kedua orang tuanya selalu sibuk dengan pekerjaannya, jadi ia urungkan saja niatnya tersebut.
Saat sedang asik menonton tv, tiba-tiba suara pintu depan terbuka dan menampakkan kedua orangtuanya yang berjalan masuk ke dalam rumah.
Melihat itu Chaca hanya menatap sekilas dan kembali pada kegiatan menontonnya.
"Chaca, nanti malam kita dinner bareng keluarga calon suami kamu, jadi tolong nanti siap-siap ya" ucap Tannia sambil duduk di sebelah sang anak.
Chaca terdiam sebentar dan segera mengangguk patuh, "Baik mi, kalau begitu Chaca ke kamar dulu ya mau siap-siap"
Saat sampai di kamar, Chaca memutuskan untuk langsung mandi dan bersiap untuk nanti. Ia akan dandan secantik mungkin agar tidak mempermalukan keluarganya, terutama oma nya.
Di sisi lain.....
"Mas apakah tak seharusnya kita batalkan saja perjodohan ini?" tanya Tannia.
"Aku juga berfikir seperti itu, aku merasa anak kita masih terlalu kecil untuk merasakan bagaimana sulitnya membangun rumah tangga, tapi aku tidak bisa menolak keinginan ibu" ucap Johnny sambil memeluk istrinya.
"Aku merasa jika Chaca semakin menjauhi kita mas, apakah kita terlalu jahat ya terhadap dia?"
"Aku juga merasa seperti itu sayang, kita terlalu sibuk dengan pekerjaan kita, sampai kita lupa mempunyai anak yang harus kita jaga dan didik bersama" ucap Johnny.
"Bagaimana kalau setelah ini kita lebih mendekatkan diri pada Chaca? Kita kurangi porsi kerja kita, dan kita perbanyak waktu bersama Chaca. Bagaimana?" tanya Johnny
"Aku setuju mas" ucap Tannia sambil memeluk sang suami.
"Ya sudah, kalau begitu ayo segera siap-siap, sebentar lagi sudah masuk jam makan malam" ucap Johnny sambil menggiring sang istri menuju ke kamar mereka berdua.