novel ini sedang direvisi.
Menceritakan kisah Nana yang tumbuh di tengah keluarga yang berantakan.
Membuatnya hidup tanpa aturan, menjadi gadis yang liar mencari kebahagian.
Namun, suatu hari Nana harus menerima kenyataan bahwa dirinya memiliki Ibu tiri. Siapa sangka Nana yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu, kini mendapatkannya dari wanita simpanan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MARAH PART 2 (KECEWA)
Selvi dan Melinda sedang menyeruput teh hangatnya, Selvi mendatangi Melinda karena ada hal penting yang ingin Selvi tanyakan.
"Mel, kalau Brian tetep nggak mau balik gimana?" tanya Selvi.
"Aku mau mereka hancur, Sel."
"Jangan lupa kamu harus menang harta gono gini, jangan sampai pelakor itu senang diatas penderitaanmu," hasut Selvi.
"Tenang saja aku akan memiliki harta suamiku," ucap Melinda dengan yakin.
Seperti biasa, Selvi menaik turunkan alisnya dengan senyum yang licik, "Tunggu kejutan dariku Mel," batin Selvi.
"Mel, hari ini kita selesai bermain dengan pemotretan. Jangan lupa yakinkan Brian untuk datang kerumahmu hari ini." ucap Selvi.
"Baiklah, takkan habis seribu caraku Sel," sahut Melinda.
Setelah itu Selvi pergi dari rumah Melinda dan menuju ke butik Melinda untuk mengurusnya
________________
Tara dan Sofi pergi meminum kopi di minimarket apartemen Brian. Sofi yang mengajaknya.
"Lebih baik kita pergi meminum kopi dibawah, aku rasa mereka akan lama," ucap Sofi.
"Baiklah, lo yang traktir," kata Tara.
"Ck, buru," timpal Sofi kemudian keduanya berjalan menuju tempat yang mereka tuju.
Sementara itu didalam kamar, Amara sedang mendengarkan semua cerita tentang Brian yang harus pergi meninggalkan rumahnya dan mulai berjuang dengan istrinya, namun kehidupan rumah tangganya harus berantakan saat istrinya berubah dan anak satu-satunya pergi untuk selamanya.
Lalu Brian menemukan Amara, Brian mengatakan seperti menemukan hidupnya kembali, Brian mengeratkan pelukannya meminta pada Amara untuk bersabar menunggu Brian mengurus perceraiannya dengan istri pertanya.
"Om masih mencintainya?" tanya Amara.
"Tidak," jawab Brian.
"Bohong."
"Tidak, om tidak bohong," ucap Brian.
"Masih melakukan hubungan suami istri?" Amara memberanikan bertanya seperti itu karena ingin mengetahuinya, Amara berfikir Brian telat pulang kerumah karena harus menafkahi batin istri pertamanya.
Brian tak menjawab karena baru saja semalam dirinya telah melakukannya dengan Melinda.
"Ck," decak Amara yang tak kunjung mendapat jawaban dari Brian.
Amara melepaskan pelukan Brian dan bangun dari sisinya.
"Entahlah om, Amara merasa tidak baik-baiksaja. Entah Mara harus percaya atau tidak sama om," gumam Amara yang sekarang sudah berdiri ditepi jendela kamarnya.
Air matanya menetes, Amara berfikir kalau dirinya telah menjadi orang ketiga yang hadir diantara Brian dan Melinda.
Brian mendekat dan menghapus air mata Amara, "Percayalah, om tidak menipumu," ucap Brian.
Amara menelusupkan wajahnya didada bidang Brian dan kembali menangis.
Brian mengusap punggung Amara dan melepaskan pelukan Amara, Brian mengangkat dagu Amara agar menatapnya, Brian meminta pada Amara untuk mencari kebohongan dari sorot matanya dan Amara tak menemukannya.
Amara menggelengkan kepalanya, setelah itu Brian mengecup bibir Amara dan Amara memejam matanya.
Berkali-kali Brian mengecup sehingga kecupan itu menjadi ******* namun Brian tak mendapatkan balasan dari Amara. Brian melihat air mata Amara dan menyudahi apa yang sedang dilakukannya.
Brian memeluk Amara dan Amara membalas pelukannya.
Ponsel Brian yang berada diatas nakas bergetar membuat keduanya tersadar kalau hari sudah menjelang siang.
Brian menerima panggilan dari asisten rumah tangganya bersama Melinda yang mengatakan kondisi Melinda sedang drop.
Amara meminta pada Brian untuk pergi menemuinya, "Kamu yakin nggak papa?" tanya Brian.
Amara mengangguk, "Iya," dibibirnya mengucapkan kata iya namun lain dengan hatinya yang tak rela membagi suaminya namun Amara sadar kalau Amara yang hadir diantara mereka.
_______________
"Kamu baik-baik aja Ra?" tanya Tara yang sedang menyetir mobil Amara.
Tara melihat Amara yang memejamkan matanya, kepalanya menyender dikaca mobil.
Amara masih mencoba memahami semua ucapan Brian.
"Bagaimana mungkin gue baik-baik aja Ra, kalau ternyata gue emang bener simpanan om...om."
"Apaah," Tara terkejut mendengar jawaban Amara.
Selama perjalanan menuju studio Amara menceritakan semuanya pada Tara, dan Tara meminta pada Amara untuk menyelidikinya benar atau tidaknya ucapan Brian.
"Iya gue bakal cari tau kok," ucap Amara.
Sesampainya di studio Amara langsung mendapatkan semprotan dari Joy, Joy memarahi Amara yang telat datang dan bagaimana mungkin akan melakukan pemotretan dengan mata yang sembab.
Lalu Joy meminta Amara mengirim paket untuk pemilik butik yang menggunakan jasanya.
Joy memberikan alamatnya pada Amara dan Tara mengantar Amara kealamat tersebut.
Diperjalanan Tara melihat Rindu sedang bersama pria selingkuhannya yang baru saja keluar dari caffe, kali ini Tara melihat dengan jelas wajah pria itu dan didalam hatinya Tara ingin membalas dendam dan harus mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Tara melanjutkan laju mobilnya tidak lama kemudian Tara sudah sampai didepan rumah Melinda dan mulai memasuki halaman rumah Melinda.
Dan Amara melihat mobil Brian yang sedang terparkir, "Itukan mobil om Brian," lirih Amara.
Amara merasa heran dengan keberadaan mobil itu lalu Amara membawa paket itu untuk diserahkan pada pemiliknya.
Amara mendapat sambutan dari ART Melinda yang sudah Melinda perintahkan untuk mempersilahkannya masuk.
Amara dan Tara masuk kedalam rumah yang mewah dan megah bak istana, mata Amara melihat pada sebuah foto yang terpajang didinding, foto yang tak pernah ingin Amara lihat yaitu foto pernikahan Melinda dan Brian.
Amara terhuyung dan hampir terjatuh untung saja Tara dengan sigap menangkapnya, "Kita balik aja Ra," ajak Tara.
"Tidak," lirih Amara.
"Aku ingin melihat dan memastikan bagaimana keadaan rumah tangga om Brian dengan istri pertamanya," ucap Amara dalam hati.
Amara memberanikan diri untuk masuk kedalam ruang keluarga namun tak menemukan siapapun, mata Amara melihat sebuah alat tes kehamilan yang terletak di meja depan televisi.
Lagi, kenyataan pahit yang Amara harus terima bahwa Brian akan memiliki anak bersama istri pertamanya, "Pembohong," gumam Amara.
Kemudian Amara mencium wangi masakan yang berasal dari dapur Amara mengikuti asal aroma itu, sedangkan Tara menahan lengan Amara, Tara takut Amara akan tersakiti lebih dalam lagi.
Amara menatap wajah Tara dan melepaskan tangannya dari lengannya.
Amara melanjutkan langkah kakinya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya, dadanya terasa sesak harus menerima kenyataan ini.
Amara melihat Brian sedang membuatkan makan siang untuk seorang wanita yang sedang duduk di kursi meja makan.
Keduanya terlihat sangat romantis, Melinda yang berhasil membujuk Brian untuk membuatkan Melinda makanan untuk terakhir kalinya dan Brian menurutinya asalkan Melinda mau menandatangani surat cerai itu.
Amara memberikan paket yang berada ditangannya kepada ART Melinda yang sedari tadi mengekori Amara dan Tara.
"Tidak, ini memang untuk anda, Nyonya berpesan padaku untuk itu," ucap ART tersebut.
Tanpa sepatah katapun Amara pergi meninggalkan keromantisan Brian dan Melinda.
Amara berlari meninggalkan Tara, Amara berlari keluar dari rumah Melinda dan hampir terserempet oleh sebuah mobil yang sedang melaju.
Tak menghentikan dirinya yang hampir celaka, Amara kembali berlari sampai dirinya bertemu Lian yang sedang mengendarai motornya.
Bersambung...
Terimakasih kak sudah membaca.
soalnya ini kenapa tiba2 si nana meninggal? trus melinda sakit? sama amara berhubungan sma brian? dan brian tiba2 udah cerai sma melinda?
ini apa gue yang ngelengkah2 bacanya apa gimna sii😭
tapi perasaan gue liat ulang kagak salah bacanya🥲